*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].
SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.
[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]
⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.
*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*
✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Di Malam Yang Putih. (Part 2.)
Bersama udara yang mengalun lembut, ajudan Karu serta Nerta maju melesat 'Woush'. Pun dua tentara militer Mata Pingai maju dengan berani.
'Buak' 'Tap' 'Buk', pertempuran jarak dekat dengan seni beladiri Energi berkutat di sana. Tendangan maupun pukulan secara maksimal dari masing-masing pribadi ditunjukan.
Sedangkan Karu diam di tempat dalam kelesah. Dirinya diam membiarkan seluruh presensi para pribadi itu bertempur untuknya.
Karu tipikal pria penuh kalkulasi, enggan terlibat pada suatu masalah bila tendensius pada kegagalan dan kini mata kelabunya mengobservasi jalannya pertempuran ini. Spekulasinya untuk saat ini imbang, sehingga menanti dalam waspada adalah tindakan terbaik saat ini baginya.
Hanya 31 menit momen pertarungan beladiri Energi antara Nerta serta seorang anggota militer itu berlangsung dan sudah bermeter-meter jarak direnggut, sebelum akhirnya sang tentara berparas galak menyemburkan kobaran api yang panas tepat pada roman berkarisma Nerta.
'BRUUFFFFFFH'.
“GAH ...!” Nerta berhasil menjauh dengan salto beberapa kali ke belakang, namun dengan tubuh yang sempat kepanasan serta sayap yang agak hangus terkena semburan tersebut.
Sementara ajudan Karu pun terus bertarung dengan anggota militer dalam segenap kemampuan mereka. Tembakan energi dilancarkan, sekaligus serangan jarak dekat dipergunakan.
Menjadikan hamparan salju itu panggung pertempuran. Menciptakan hawa ketegangan yang berkantaran dan emosi meningkat. Energi terbebar, udara bersiur.
Sadar bila lawan di depannya memiliki level ilmu kesaktian yang sedikit di atasnya. Nerta kali ini hendak mengandalkan serangan jarak jauh.
Tangan kanannya memanifestasikan tongkat kujangnya. Terbang dalam jarak 10 meteran dari lawan dan tubuhnya dilimbur energi merah setebal 5 senti layaknya terbakar api, 'Swoush'.
'Bouff' 'Bouff' 'Bouff', bola-bola energi merah nan panas tertuju pada sang lawan. Tapi hebatnya 'Buaff', sang lawan sanggup menepis segala bola-bola energi.
Nerta kembali lagi menembakkan bola-bola energi merah dengan kecepatan yang lebih dari sebelumnya. Tapi 'Buaf-Buaf' sang tentara tak kalah tangkas menangkis segala bola energi.
Belum selesai, sang lawan yang notabene anggota militer terlatih, mendadak memanifestasikan dua bilah kapak dan berlari berkeliling dalam jarak aman.
'Syut-Syut' dua bilah kapak dilontarkan pada Nerta. Sedetik selepasnya tentara itu melempar lagi dua kapak pada Nerta dan sambil berlari berkeliling, dirinya melempar lagi dua kapak pada Nerta dan terus demikian secara kontinuitas.
Kecepatan tentara tersebut cukup membuat Nerta tercengang. Kendati untungnya, Nerta memutarkan tongkat kujangnya di depan tubuhnya, menangkis segala kapak yang berdatangan. Atas kegesitannya pula, dirinya sanggup bertahan dari serangan balasan jarak jauh itu.
Terlebih sambil terus menangkis, Nerta pun berputar searah jarum jam mengikuti gerak lari sang lawan. Serangan itu cukup cepat, sampai-sampai 30 putaran penuh telah dilakukan sang tentara.
Hingga secara mengagumkan, tentara itu melompat jauh pada Nerta, ke dua tangannya telah mengarahkan dua katana pada target dan 'Syut-Syut' dua katana tersebut dilesatkan pada Nerta.
Satu katana sanggup Nerta hindari dengan memiringkan kepala, satu lagi katana Nerta tangkis oleh tongkat kujangnya sampai berefek bunyi 'Tang' disertai percikan api. Tapi sayang, berkat kecepatan lawan, satu pukulan telak dalam limbur energi pingai berhasil tentara itu daratkan pada dada Nerta 'Buak'.
Nerta terhempas jauh 25 meter ke belakang, sementara sang tentara mendarat selamat di atas salju. Tak butuh satu detik. Dirinya memacu kakinya berlari jauh menghampiri Nerta.
Nerta dengan wajah meringis dan darah hangat keemasan yang telah membasahi sudut bibirnya. Di ketinggian dua meter dari tanah, mengamati derap langkah tentara yang berlari pesat ke arahnya.
Cukup cepat hingga Nerta tak menyangka diserang kembali oleh beberapa kapak. Memaksanya memutar-mutar lagi tongkat kujangnya secara lihai.
Hingga kala kapak hilang, kesadaran Nerta spontan menggerakkan kepalanya menengadah pada langit.
Terkejut saat sang tentara telah melompat di udara seraya mengarahkan sebilah pedang pada kepala dingin Nerta.
'Wush' lalu 'Tang' sebilah pedang tertahan gegara tongkat kujang Nerta diangkat dengan dua tangan melindungi dirinya. Hebatnya, kecepatan sang tentara tak butuh satu detik untuk melesatkan tendangan pada hulu hati Nerta 'Buk'.
4 meter Nerta terdorong ke belakang. Sementara sang tentara kembali mendarat, kemudian melompat cepat lagi pada Nerta, menebaskan pedangnya secara horizontal menuju leher kuat Nerta.
Bukan itu saja, sang tentara menggandakan serangannya oleh semburan api ke arah Nerta.
'Tang' tongkat kujang Nerta mampu menangkis, selaras dengannya 'Bruuuffff', api besar menyembur dan tiba-tiba Nerta jatuh menuju salju, dibakar oleh semburan api yang tak dipadamkan begitu saja oleh sang tentara.
Detik demi detik mengiringi pembakaran hidup-hidup itu. Udara bertiup kencang ke sekitar. Api yang membara hingga menutupi sekujur tubuh Nerta, sayapnya yang lebar pun terhalang oleh jingganya api yang berkobar.
'BRRUUUUFFFFFH'.
Ketika segala tempo memanas, tatkala salju telah bersublim jadi air lalu air jadi uap, sampai 4 menit waktu habis, secara ajaib, Nerta telah melimbur dirinya dengan energi pingai kemampuan spesial tongkat kujang berliannya. Energi yang mampu membuat suhu di sekitarnya mendingin.
Kemudian Nerta maju begitu saja bersama tongkat kujang yang dihunjamkan pada wajah galak sang tentara, 'Woush'.
Maka pertempuran sengit nan mencekam meliputi suasana malam yang putih.
'Trang' 'Klang'.
'BUAFF'.
Serangan dari ilmu Hikmah (Jarum Seribu Warna) (Napas Asap Kelabu) (Tornado Kilat Superioritas) sang tentara disuguhkan supaya Nerta cepat mati. Semburan api masih mampu Nerta tahan karena tubuhnya diliputi energi pingai.
'DHUAR'.
Serangan jarum-jarum sanggup Nerta tahan oleh perisai energinya.
'Blaarrr'.
Tiupan asap beracun pun sanggup Nerta tahan walau sedikit hidungnya menyenguk hingga agak lunglai.
'Krzzzzrrrt'.
Atau tornado petir yang mencabik-cabik tubuhnya sampai dua sayapnya putus, namun dirinya bisa selamat.
Dilanjut kembali oleh tiap serangan sang tentara yang dahsyat dan ditahan secara cekatan oleh kemampuan defensif Nerta.
Tak lupa, Nerta pun hanya sanggup menyerang dengan tiga tembakan energi; merah, pingai dan putih.
Energi merah sempat membakar bagian tubuh kiri lawannya, hanya saja, regenerasi kulitnya pesat, membuatnya nampak bugar kembali.
Selaras bersama gemuruhnya pertarungan itu, hari tanpa terasa berganti. 24 jam sudah terlewati.
Satu pribadi tentara militer sukses dilumpuhkan oleh penyihir. Sementara sisanya, terus berjibaku tanpa malu-malu.
Karu mulai menemukan titik terang observasinya. Kemenangan mulai mendekati pihaknya dan bersiap membantu bila keadaan genting mendesak.
Kendati dua sayap Nerta putus, dirinya tetap kokoh menembakkan energi merah dan kuning pada target. Lawan Nerta kini diselimuti angin tornado (Tornado Kilat Superioritas), membuat setiap tembakan energi dari Nerta percuma belaka.
Udara mendesau-desau seakan angin mengamuk, awan kelabu di puncak tornado bergulung-gulung agak spiral, serpihan salju atau kepingan es berputar deras, petir nampak menyambar membabi buta, setiap benda di sekitar terangkat seolah-olah tornado itu sangat kelaparan, tornado yang begitu besar dan mengerikan. Langit saat itu bergemuruh, beresonansi bagaikan bencana alam.
Sebuah rumah mewah mungkin bisa saja hancur karenanya, atau jangankan sebuah hunian, sebuah perumahan pun bisa saja diratakan.
Satu hal yang menakutkan, adalah tornado itu bukan sebatas melindungi sang penggunanya, melainkan demi melibas setiap lawan di hadapannya.
Untuk itulah tongkat kujang Nerta ditancapkan pada tanah, ke dua tangannya mengepal erat dengan tubuhnya mengambil ancang-ancang. Nerta hendak menggunakan tinjuan energi secara masif dan dengan dua energi sekaligus.
Sontak, energi pingai meliputi tangan kirinya dan energi merah meliputi tangan kanannya. Selama berdetiknya waktu, pancaran dua energi itu semakin pekat benderang, terus berpancar semakin lama, semakin membesar.
Matanya yang hitam pun menajam pada tornado lawan di hadapannya. Nerta bersiap mengadu dua tinjuan masif energinya dengan tornado dahsyat itu.
______________________________________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)