Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Terima kasih yang sudah vote yang belum silahkan vote ya.
🌸🌸🌸
Tiga bulan berikutnya.
Giwang terlihat sangat semangat bekerja di Restoran Zero. Ilmunya semakin bertambah dan diam-diam dia selalu mempraktekkan di rumah.
Setiap hari libur Restoran Zero selalu mempromosikan makanan baru untuk para pengunjung. Biasanya hanya pada saat hari libur ataupun hari besar. Asisten Chef Robi jauh hari telah menyiapkan menu andalannya dan menyerahkan ke Chef Robi. Jika tekstur dan rasanya nikmat akan masuk ke dalam promosi dan keuntungan akan di berikan lima puluh persen dari penjualan menu baru itu. Untuk minggu ini yang menang adalah Chef Tanti yang merupakan asisten Chef Robi.
Chef Tanti menang dengan menyajikan makanan penutup yang di beri nama Custard, hampir mirip dengan puding terbuat dari krim gula, kuning telur gelatin dan sebagainya. Menu itu telah bertengger di papan promosi baik di media sosial maupun media cetak. Dan akan di sajikan hanya malam hari sehingga pengunjung harus memesan tempat jauh hari untuk menikmati makanan lezat itu.
Chef Robi terlihat fokus di dalam ruangannya sampai ponselnya berdering. Ketika dia mengangkat panggilan itu wajahnya terlihat menegang dan tidak berapa lama panggilan terputus. Chef Robi buru-buru keluar dari ruangannya dan menghampiri timnya.
"Perhatian semuanya," ujar Chef Robi. Semua memberhentikan kegiatannya termasuk Giwang.
"Chef Tanti berhalangan datang, orang tuanya sakit," ujarnya. Dan terdengar suara riuh dari para koki dan pelayan.
"Tenang, saya tau menu sudah terpasang di depan restoran dan pengunjung akan memadati Restoran malam ini," ujar Chef Robi yang mengerti kegundahan timnya.
"Chef Tanti sudah mempraktekkan ke kalian cara membuat custard?" tanya Chef Robi ke tim yang membuat makanan penutup.
"Sudah Chef," sahut mereka bersamaan.
"Baik," Chef Robi melihat jam di tangannya. "Masih ada waktu untuk kalian menduplikasi masakan Chef Tanti. Saya beri waktu empat puluh lima menit untuk kalian membuat masakan yang sama dan cita rasa yang sama," ujar Chef Robi dan kembali ke ruangannya.
Giwang memperhatikan kesibukan para tim, dia melihat kompor yang tidak bahkan jarang di pakai. Diam-diam Giwang membuat Custard seperti yang di buat Chef Tanti.
Sibuknya para koki membuat mereka tidak memperhatikan Giwang yang sedang memasak. Dan waktu empat puluh lima selesai Chef Robi dan Lusi menuju dapur dan mencicipi semua Custard yang di buat timnya. Chef Robi menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang sempurna bahkan teksturnya berbeda," ujar Chef Robi sembari menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Ulangi lagi!" titah Chef Robi dengan intonasi tinggi. Giwang kaget mendengar suara pria itu yang biasanya lembut tapi sekarang keras. Terlihat Chef Robi mulai panik.
"Chef yang ini belum di coba," ujar pelayan wanita menyerahkan Custard yang tidak jauh dari Giwang berdiri.
Chef Robi menatap pelayan itu, dan dia mulai mencicipi Custard sembari memejamkan matanya. "Siapa yang buat ini?" tanyanya ke pelayan wanita itu. "Kamu?" tanya Chef Robi lagi.
"Bukan tapi Giwang," sahut pelayan itu sembari menunjuk Giwang. Dari tadi pelayan itu memperhatikan Giwang memasak tapi Giwang tidak berani menyerahkan hasil olahannya.
Chef Robi mendekati Giwang menatap tajam wajah gadis itu.
"Apa benar yang buat ini kamu?" tanya Chef Robi. Tidak jauh dari situ Lusi tersenyum penuh kemenangan, menurutnya Giwang akan di pecat karena dengan lancang memasak tanpa seizin pemilik restoran yang merupakan bukan bagiannya.
Giwang menganggukkan kepalanya sembari menunduk. "Enak sekali," puji Chef Robi. Hal itu membuat Lusi bengong.
"Menurut saya cita rasa yang kamu berikan dari Custard Chef Tanti berbeda dan saya suka dengan rasa baru dari kamu," puji Chef Robi lagi.
"Mulai sekarang kamu akan menjadi koki di sini," ujar Chef Robi.
Giwang mengangkat kepalanya tidak percaya dengan pendengarannya. Dan pelayan datang mendekati Chef Robi dengan membawa seragam berwarna putih seperti koki lainnya.
"Pakailah, kamu memang berbakat," ujar Chef Robi sembari menyerahkan seragam itu.
"Ini benar Chef?" tanyanya lagi. Chef Robi menganggukkan kepalanya dan hal itu membuat Giwang senang. Dia menyalami pria itu dengan cukup lama terus mengucapkan terima kasih kepada Chef ganteng itu.
"Tim ikuti arahan Giwang!" titah Chef Robi. Semua tim bertepuk tangan menyambut koki baru yaitu Giwang yang ternyata mempunyai bakat terpendam.
"Berikan yang terbaik," ujar Chef Robi ke Giwang sembari berlalu. Lusi mengikuti Chef Robi ke dalam ruangannya.
"Kenapa kamu mengizinkan dia memasak?" tanya Lusi tidak terima.
"Masakannya enak bahkan lebih enak dari Tanti," sahut Chef Robi santai.
"Kalau dia melakukan kesalahan bagaimana?" tanya Lusi khawatir Giwang merusak nama baik Restoran Zero.
"Beri kesempatan untuknya," sahut Chef Robi. Lusi mendengus kesal, dia ingin menyingkirkan Giwang tapi ternyata gadis itu semakin dekat dengan Chef Robi. Terbukti mereka akan sering berkomunikasi mengenai masakan dan itu membuat Lusi kepanasan.
***
Agung stres hampir satu tahun tapi tidak ada kejelasan tentang kasusnya.
"Kamu ke mana Giwang," gerutu Agung. "Menghilang tidak jelas," gerutunya sembari memukul meja kerjanya. Dari ruangannya dia melihat Paijo yang sibuk membersihkan lantai perusahaan.
Agung menarik kawannya ke ruangannya.
"Ada apa?" tanya Paijo dengan wajah tidak suka.
Agung mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan meletakkan di telapak tangan Paijo.
"Untuk apa ini?" tanya Paijo bingung.
"Aku tau kamu butuh uang itu dariku," sahut Agung.
"Aku enggak butuh uangmu!" Paijo meletakkan uang itu kembali ke telapak tangan Agung.
"Jangan kamu sogok karena aku tidak akan mengatakan di mana Giwang!" Paijo menuding Agung sembari berlalu.
"Aaaaa!" Agung memukul tembok dengan cukup keras. Dia tidak tau harus pakai cara apa menemukan istrinya.
***
Malam hari
Restoran telah di padati pengunjung. Rata-rata pengunjung yang berkantong tebal yang makan di Restoran Zero. Mereka tidak sungkan untuk mengeluarkan uang sampai puluhan juta untuk menikmati makan dari Restoran Zero. Untuk Custard yang di buat Giwang di hargai satu juta lima ratus dan jika tidak hari libur Custard itu berharga dua kali lipat dari sekarang.
Giwang dengan cekatan dapat membuat berpuluh-puluh Custard. Chef Robi menghampiri para pengunjung Restoran Zero dan menanyakan pendapat tentang hidangan penutup yang bernama Custard dan semua pengunjung memberikan dua jempol untuk hidangan baru itu.
Chef Robi menghampiri sepupunya yang sedang duduk di kursinya.
"Apa kamu mau mencoba menu baru kami?" tanya Chef Robi.
"Aku tidak suka manis-manis," sahut Adlan sembari menikmati makanannya tapi Chef Robi melambaikan tangannya dan pelayan menghampirinya.
"Iya Chef," ujar pelayan.
"Suruh Gigi membuat satu lagi Custard spesial untuk sepupu saya," ujar Chef Robi.
"Baik Chef," pelayan pergi ke dapur dan menghampiri Giwang yang baru saja selesai dengan puluhan Custard.
"Giwang," ujar pelayan.
"Iya," sahut Giwang. "Chef Robi minta kamu membuat satu Custard lagi untuk sepupunya," ujar pelayan.
"Baik," Giwang mulai memasak Custard yang terakhir. Dengan cita rasa yang sama dengan yang di buatnya di awal. Pelayan membawa Custard itu kehadapan Adlan.
"Silakan," ujar pelayan.
Adlan melihat makanan manis yang menurutnya tidak akan membuatnya tertarik.
"Aku tidak suka makanan manis," ujar Adlan.
"Kamu cicipi dulu," sahut sepupunya.
"Kalau tidak enak aku tidak akan membayar semua makanan ini," ujar Adlan sembari menunjuk makanan yang ada di mejanya.
"Iya," sahut Chef Robi singkat.
Adlan mulai memotong Custard dengan potongan kecil ketika dia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya wajahnya langsung berbinar.
"Wow lezat," ujar Adlan dan mencicipi makan itu sampai habis.
"Aku kan sudah bilang kalau yang ini berbeda," sahut Chef Robi. "Aku tau kamu terlalu detail dalam soal makanan makanya aku ingin kamu mencicipi ini," ujar Chef Robi sembari menunjuk Custard yang sedang di lahap sepupunya.
"Kadang aku heran kenapa kamu tidak jadi Chef saja," ujar Chef Robi yang mengetahui kritikan Adlan melebihi para Chef.
"Aku suka makan dan tentunya tidak makan sembarangan tapi aku tidak suka masak hanya suka mengkritik," sahut Adlan sembari tersenyum.
"Ya dan aku beruntung karena kamu tidak jadi Chef kalau kamu jadi Chef pasti kita akan bersaing," ujar Chef Robi.
Adlan menganggukkan kepalanya setuju. "Bersaing untuk hal itu tidak apa-apa asalkan jangan bersaing dalam hal wanita," ujar Adlan.
"Kalau soal wanita aku tidak akan mau mengalah denganmu," sahut Chef Robi sembari tertawa.
Adlan ikut tertawa dan mengambil dompetnya dari balik saku celananya. "Berikan ini ke koki yang memasak Custard ini, aku suka cara dia memasak," Adlan menitipkan tip untuk Giwang ke Chef Robi.
"Akan aku sampaikan," ujar Chef Robi. Adlan keluar dari restoran itu dengan perasaan bahagia.
Bersambung...
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!