Bercerita tentang seorang perempuan yang membuat janji kepada dua orang sahabatnya. Janji itu cukup tidak masuk akal dan mereka membuat penjanjian itu di umur yang masih kecil. Akankah janji itu terus berjalan hingga mereka beranjak dewasa? atau justru mereka melupakan semua dan menjadikan perjanjian itu tak berkisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifizulfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kritis
Malam ini di RS. Cahaya Medika, tepat di depan ruang ICU banyak orang tengah menanti kabar baik dari apa yang tengah terjadi di dalam sana. Nita terus saja berdiri memandang dari luar kaca, menampakkan seorang laki-laki berbaring dengan banyaknya alat yang menempel pada tubuhnya. Lelaki itu tentu saja Dami, di dalam sana ia sedang berjuang menentang maut untuk tetap bisa menghirup udara segar nantinya.
Kedua orang tua Dami duduk dengan Reni yang bersandar pada pundak Brata. Sedangkan Kayla sedang pergi ke toilet dan Daniel keluar mengambil sesuatu yang tertinggal di mobilnya. Setelah itu ada dua orang datang mendekati ruang ICU, Monica bersama Ardan yang mengikutinya dari belakang.
Monica mendudukkan tubuhnya di samping Tantenya. Reni yang sadar menoleh dan menerima uluran tangan Monica untuk bersalaman, diikuti Ardan sambil menundukkan tubuhnya.
“Siapa ini, Ka?” tanya Reni dengan wajah terlihat bingung begitupun dengan Brata di sampinya.
“Ini Tante, namanya Ardan dia kekasihnya Monica.” Jujurnya sambil mengulas senyum dengan malu-malu. Ardan juga membalas tatapan kedua orang tua itu dengan senyumannya.
“Ouh ini ya, yang diceritain sama ayah kamu, kalau kamu ke sisi buat pengen nemuin dia.” goda Reni.
“Iya Tante ... Emm Daniel sama Kayla nggak kesini, Tan?” ucap Monica coba mengalihkan pembicaraan.
“Kesini kok, Kayla masih ke kamar mandi kalau Daniel tadi keluar sebentar nggak tau deh kemana.”
Monica mangut-mangut mendengar penjelasan Reni.
“Nak Ardan ... sini-sini duduk, kok berdiri aja di situ.” Ujar Reni sambil bergeser memberi duduk untuk Ardan, akan tetapi dengan sopan Ardan menolak karena akan segera pulang. Dia berpikir mungkin waktu yang tepat untuk dia pergi sebelum Kayla dan Daniel datang, jujur dia belum siap jika mereka harus tahu tentang hubungan dirinya dan Monica.
“Emm iya tante terimakasih, ini saya mau pamit langsung, soalnya ada Ibu sendirian di rumah.”
“Ouh gitu, yaudah gapapa. Tapi lain kali main ke rumah tante ya.”
"Iya tante, saya usahakan."
Reni tersenyum mendengarnya, lalu menerima uluran tangan Ardan. Setelah mereka semua saling berpamitan, Ardan pun melangkah menjauh pergi dari sana.
...
Kayla baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan melewati lorong Rumah Sakit untuk kembali ke ICU. Selama berjalan Kayla sibuk membenahi lengan baju yang ia gulung saat buang air kecil tadi, oleh sebab itu matanya tidak terlalu fokus pada jalanan. Setelah itu Kayla belok ke kanan setelah lorong yang ia tempuh telah habis.
Kayla berhenti saat merasa melihat seseorang dari ekor matanya, seseorang yang mungkin ia kenal. Ia membalikkan tubuhnya, namun nihil sama sekali tidak ada orang yang dia kenal. Kayla mengkerutkan keningnya bingung, akan tetapi setelah itu ia berlalu bersikap bodo amat apa yang di lihat tadi.
Di tempat Daniel ia sedang mencari tas milik bundanya yang sempat tertinggal di mobil. Ketika sudah dapat dia balik masuk ke dalam. Langkahnya terhenti kala matanya menangkap seseorang yang ia kenal berjalan keluar Rumah Sakit.
'Ardan? Habis ngapain dia kesini.' Daniel yang kehilangan akal sesaat hanya bisa menatap setiap gerak Ardan hingga lelaki itu maemasuki mobil dan pergi. Padahal jarak Ardan melewatinya tak cukup jauh, namun entah mengapa mulutnya bungkam dan hanya batinya yang berbicara.
Barulah saat mobil yang Ardan tumpangi menghilang dari pandangan, Daniel mulai bersuara. "Ngapain ya kira-kira, alah Lo pakek bego sih tadi ngapain ngga dipanggil coba."
"Ngapain sih Gue pikirin." acuh Daniel melenggang masuk ke dalam.
Di tengah perjalanan ia melihat Kayla sedang berjalan dengan pelannya. Daniel berlari kecil dan langsung menyambar kepala Kayla untuk ia rangkul. Alhasil Kayla yang awalnya merasa tenang dengan pikiran fokus harus buyar dan menjerit kaget.
"Aaaaaaaamp."
Daniel langsung membungkam mulut Kayla dengan tangannya. "Suka banget sih teriak-teriak, orang aku nggak ngagetin kok." ucap Daniel dengan raut wajah kesal.
Dan dari arah belakang mereka didatangi oleh perawat yang tak sengaja akan lewat. "Maaf ... Mbak sama Mas minta tolong untuk tidak berbicara dengan suara keras ya, takut mengganggu ketenangan para pasien di dalam."
"Ah, ya. Maaf ya Sus, teman saya ini memang mulutnya suka kerasukan setan jadi gini." celetuk Daniel ngawur membuatnya harus mendapat cubitan di perut dari wanita yang masih ia bungkam mulutnya.
Sedangkan Mbak perawat yang menegur mereka hanya menggelengkan kepala heran sambil tersenyum, lantas pergi meninggalkan dua makhluk itu.
Daniel segera membawa Kayla pergi dengan posisi yang sama tanpa melepas tangannya dari mulut gadis itu. Dan Kayla sungguh tersiksa di sana, karena seakan Daniel hanya menyeret kepalanya sedangkan tubuhnya hanya bisa mengikuti.
Hingga mereka sampai tepat didepan ruang ICU dan langsung mendapati tatapan aneh dari semua orang yang berada di sana, tak terkecuali Nita yang awalnya hanya fokus pada Dami juga ikut menoleh menatap mereka.
Daniel dan Kayla hanya bisa membeku sampai Daniel lah yang sadar segera melepas kedua tangannya dari tubuh Kayla. Monica yang melihat kejadian itu tertawa kecil sedangkan Nita, Reni dan Brata hanya mengindahkan. Mereka sudah sering melihat kehebohan Kayla dan Daniel bahkan dulunya selalu bersama Dami.
Akhirnya Kayla mencoba mengajak bicara Monica untuk mengalihkan tatapannya. "Kok udah di sini, Ka?"
"Iya, baru aja sampai."
"Ouhh ... "
Daniel menghampiri Bundanya yang sedari tadi tidak bergeming dari posisi depan kaca. Ia mengusap pundak Ibunya itu. "Bun, udah ya kita duduk aja, dari tadi Bunda terus berdiri lho."
Nita tersenyum menatap anaknya dan mengangguk mengiyakan. Dituntunlah Bundanya untuk duduk.
Monica bertanya pada Kayla setelah melihat interaksi Daniel dengan orang yang belum ia ketahui siapa. "Kay, itu Ibunya Daniel ya?"
"Iya." jawab Kayla
"Samperin gih, kenalan dulu, namanya Tante Nita." celetuk Reni yang mendengar percakapan Monica dan Kayla.
"Eh, Iya Tante." jawab Monica tanpa ragu mendekati Nita.
Nita tersenyum melihatnya karena memang sekilas dia mendengar percakapan orang-orang di depannya.
"Tante ... kenalin saya Monica keponakannya Tante Reni." ucap Monica dengan sopannya mencium punggung tangan Nita.
"Dari malang ya? anaknya Pak Harsuto."
Monica tercengang dengan jawaban Nita, bagaimana bisa orang yang baru saja ia kenal ini sudah tahu nama ayahnya. Walaupun ayahnya seorang dokter yang mungkin memang banyak orang tahu, namun ayahnya itu selalu menggunakan nama depan Reno. Sedangkan nama Harsuto adalah nama belakang jarang dipakai oleh ayahnya.
"Emm ... Iya, kok Tante bisa tahu?"
"Ayah kamu itu kenal sama Tante, karena Tante Reni itu temannya Tante dari dulu." jelas Nita yang dijawab anggukan oleh Monica.
"Gimana Ayah kamu kabar nya?"
"Alhamdullilah ... Baik."
"Sukses jadi dokter ya? soalnya dari dulu Ayah kamu itu impiannya jadi dokter hebat."
"Iya Tante. Sekarang Ayah kerja di RSUD Dr. Saiful Anwar di Malang."
"Ouh iya iya."
Mereka pun saling mengobrol satu sama lain mengenai banyak hal. Monica memang termasuk wanita yang mudah bergaul dengan siapa saja, membuat orang akan nyaman berbicara dengan gadis itu.
Malam pun mulai larut dan satu persatu dari mereka yang menunggu Dami mulai tertidur. Mulai dari Reni yang tidur menyenderkan kepalanya di bahu Kayla, begitupun dengan Kayla yang sedikit demi sedikit juga memejamkan matanya. Lalu disusul Nita dan Monica yang berada di samping Daniel juga ikut tertidur, mungkin karena sudah lelah mengobrol. Ditambah Brata yang mencoba menutup matanya untuk istirahat sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Sedangkan Daniel hanya mengamati satu persatu orang disekitarnya. Dia mulai merasa bosan, namun matanya sama sekali belum menandakan kantuk. Hingga Daniel memutuskan untuk melangkah ke Ruang ICU. Ia hanya bisa melihat dari luar dengan penghalang kaca tebal membuatnya temaram melihat sahabatnya yang terbaring lemah di dalam sana.
"Sadar, Dam. Banyak orang di sini yang nunggu kesembuhan Lo. Semangat ya di dalam sana, Gue yakin Lo bisa." lirih Daniel menyemangati berharap Dami mendengarnya.
Jgn lupa mampir dan dukung karya ku Thor! Rahsia dibalik tirai.😁
"Rahasia dibalik tirai" 😘