NovelToon NovelToon
CLBK Couples

CLBK Couples

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ichageul

Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan

Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.

Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.

Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.

Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.

Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Complicated Couple (16) Rahasia

Kehidupan pernikahan Poppy dan Irzal memasuki babak baru. Kini mereka tengah merasakan manisnya cinta kasih. Poppy memilih untuk mempercayai apa yang dirasakan dan dilihatnya, bahwa Irzal mencintai dan menyayangi dirinya. Dia tak mau terbebani oleh keraguan dan kecurigaan tentang apapun, temasuk Della.

Poppy menghitung di kalender, hari genap ini tujuh bulan usia pernikahan mereka. Semakin lama perasaannya pada Irzal makin tumbuh dan berkembang. Poppy memandang lama pada foto pernikahannya yang terpajang di dinding kamar. Lalu melihat ke arah perutnya, merabanya sambil berdoa agar segera hadir calon bayi dalam rahimnya.

Sementara itu di kantornya Irzal sedang membereskan laporan evaluasi kinerja karyawan. Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Ruslan. Teman alhamarhum abi yang saat ini bertanggung jawab mengelola usaha dan yayasan yang dirintis oleh abi. Irzal segera menjawab panggilan. Ruslan mengabarkan kalau sudah berada di Coffie Shop. Setelah menerima panggilan, Irzal bergegas menuju Coffie Shop.

Irzal masuk dan melihat Ruslan sedang duduk menikmati kopi. Dia duduk di hadapan Ruslan.

“Udah lama om?”

“Baru aja, maaf ya kalau mengganggu jam kerja kamu.”

“Ngga pa pa om, santai aja. Ada apa nih?”

Ruslan mengeluarkan sebuah map lalu menyerahkan padanya. Irzal membaca isi map tersebut, sebuah penawaran kerjasama dari sebuah NGO (Non Government Organization) di Jerman.

“Rencananya om akan terima tawaran itu karena visi misinya sejalan dengan yayasan kita. Selain itu mereka juga menawarkan untuk memberi pelatihan penggunaan teknologi ramah lingkungan untuk pengelolaan sampah. Kamu tahu kan, masalah sampah masih jadi PR buat kita, makanya om tertarik, menurut kamu gimana?”

“Hmm.. bagus tuh om, boleh dicoba.”

“Baguslah kalau kamu setuju. Jadi kapan nih kamu mau gabung? Terus terang ya, kalau urusan yayasan om ngga ada masalah. Tapi soal perusahaan beda lagi, itu bukan bidangnya om. Jadi om harap kamu sudah bisa turun tangan. In Sya Allah tahun depan perusahaan sudah beres, sudah bisa running.”

Irzal terdiam, mendirikan perusahaan dan yayasan adalah impian abi sejak dulu. Perusahaan yang dapat membuka lapangan kerja dan yayasan yang dapat memberikan manfaat untuk orang banyak. Namun dia masih ragu apakah sekarang waktu yang tepat untuknya mengelola perusahaan.

“Kamu pikirkan dulu aja, tapi tolong berikan jawaban secepatnya. Bulan depan om berencana ke Jerman, setelah itu ke Dubai, ada dana hibah yang bisa kita gunakan untuk yayasan,” tutur Ruslan.

“Oh iya, kalau bisa Poppy mulai bantu-bantu ummi di yayasan. Sekarang ummi lagi banyak kerjaan,” imbuhnya.

“Boleh om, tapi nanti kalau dia sudah beres skripsi. In Sya Allah sebentar lagi om.”

“Bagus deh, om seneng dengernya.”

Mereka terus melanjutkan percakapan. Ruslan menerangkan lebih detil tentang proyek kerjasama dan juga soal dana hibah. Tak terasa sudah satu jam lebih mereka berbicara, Ruslan pun pamit.

Irzal berjalan kembali ke ruangannya, ponselnya berdering. Kali ini panggilan dari Dimas.

“Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.. kak,” suara Dimas terdengar serak.

“Ada apa Dim?”

“Mama kak.. mama pingsan.. aku takut kak,” Dimas mulai menangis.

“Ada siapa di sana, coba kakak mau ngomong,” tak lama terdengar suara seorang pria.

“Hallo mas Irzal, saya Bambang ketua RT di sini. Ibu Dewi tiba-tiba pingsan.”

“Maaf pak, bisa tolong bawa mama saya ke rumah sakit terdekat. Saya langsung menyusul ke sana.”

“Baik-baik.”

“Terima kasih pak.”

Irzal segera mematikan ponselnya. Buru-buru masuk ke ruangannya, menitipkan pekerjaan pada anggota timnya. Setelah itu bergegas pergi menuju rumah sakit.

❤️❤️❤️

Sesampainya di IGD, Irzal segera mencari Dimas. Sebuah tangan menepuk bahunya, dia berbalik dan melihat pak Bambang.

“Mas Irzal.”

“Oh pak Bambang. Gimana mama pak?”

“Masih diperiksa dokter,” pak Bambang menunjuk tempat Dewi diperiksa.

“Maaf nih, saya permisi pulang dulu ya mas.”

“Oh iya pak, makasih banyak ya.”

Setelah pak Bambang pergi, Irzal segera menuju tempat Dewi diperiksa. Dimas nampak menunggu pemeriksaan dengan cemas.

“Dimas.”

Dimas langsung menghambur ke arah Irzal.

“Kak.. mama kak.”

“Tenang ya.. kamu udah telpon teh Poppy?”

“Hp nya ga aktif kak.”

Irzal mengambil ponselnya hendak menelpon Poppy saat dokter menghampirinya.

“Dengan walinya ibu Dewi?” tanya dokter itu pada Irzal.

“Iya dok, saya anaknya. Bagaimana keadaan mama saya?”

“Kalau dilihat dari hasil USG ada masalah dengan ginjalnya. Tapi untuk lebih pastinya kita harus melakukan serangkaian test dan sepertinya bu Dewi harus dirawat.”

“Ya dok, tolong lakukan yang terbaik.”

Selesai berbicara dengan dokter, Irzal segera mengurus administrasi agar Dewi bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan. Selesai mendaftar dia kembali pada Dimas. Dewi sudah sadar. Dimas duduk di dekatnya sambil memegang tangannya.

“Ma,” Irzal mencium punggung tangan Dewi.

“Kamu sendiri Zal?” suara Dewi terdengar lemah.

“Iya ma.”

“Dimas kamu beli minuman atau makanan dulu ya, Mama mau bicara sama kak Irzal.”

“Iya ma.”

Dimas menuruti ucapan mamanya, pergi menuju kantin. Irzal duduk di dekat Dewi.

“Mama udah boleh pulang?”

“Belum ma, mama harus dirawat. Nanti Irzal telepon Poppy.”

“Ngga usah, mama mau pulang aja.”

“Ma, kondisi mama ngga memungkinkan untuk pulang, jadi sebaiknya ikuti apa kata dokter. Mama dirawat dulu.”

“Mama ngga apa-apa, udah sering mama kaya gini. Nanti abis minum obat juga baikan,”

Irzal terkejut mendengarnya.

“Mama udah sering sakit kaya gini? Kenapa ngga bilang ma? Kalau Poppy tahu dia pasti khawatir.”

“Mama ngga mau ngerepotin kamu lagi. Semenjak Poppy berhenti kerja kamu yang menangggung biaya hidup mama dan Dimas.”

“Mama ngomong apa sih, itu udah kewajiban Irzal ma. Mama harusnya bilang sama Irzal dan Poppy. Pokoknya mama harus dirawat sampai sembuh.”

“Zal.”

“Apa Irzal bukan anak mama? Atau mama masih nganggap Irzal orang asing? Irzal suami Poppy ma, berarti anak mama juga.”

Airmata mama menetes mendengarnya. Dia bersyukur anaknya mendapatkan seorang suami yang baik dan mau memperhatikan dirinya.

“Mama jangan banyak pikiran, yang penting sekarang kesehatan mama. Irzal akan lakukan apapun supaya mama cepet sembuh.”

“Makasih ya Zal, kamu memang anak yang baik,” mama mengelus tangan menantunya ini.

“Tapi mama minta kamu jangan kasih tahu Poppy keadaan mama.”

“Kenapa ma?”

“Sekarang Poppy lagi menyelesaikan skripsinya. Mama ngga mau membuatnya cemas dan pikirannya bercabang. Mama mau lihat dia menyelesaikan kuliahnya, tolong rahasiakan kondisi mama dari Poppy, mama mohon Zal.”

Irzal terdiam, tak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana mungkin dia merahasiakan hal ini dari Poppy. Kalau Poppy tahu pasti akan merasa kecewa, marah dan sedih. Irzal melihat mama, ucapan dokter tadi kembali terngiang di telinganya.

“Baik ma, Irzal akan merahasiakannya sampai Poppy menyelesaikan skripsinya. Tapi mama juga harus mau mengikuti semua yang dokter katakan.”

Mama mengangguk. Berat sebenarnya bagi Irzal merahasiakan hal ini dari istrinya. Tapi dia harus melakukannya agar mama mau menjalani perawatan.

Suster datang dan memberitahukan kalau Dewi sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Tak lama suster membawanya menuju lantai lima. Irzal dan Dimas mengikuti dari belakang.

Selesai mengantarkan mama ke ruangan, suster menerangkan tindakan yang nanti akan dilakukan dan memberitahukan dokter yang akan menanganinya nantinya. Setelah itu dia pamit.

“Ma, Irzal pulang dulu ya, nanti ke sini lagi.”

“Kamu ngga usah ke sini lagi, nanti Poppy curiga. Biar Dimas aja yang temenin mama.”

“Tapi ma.”

“Mama bener kak, biar Dimas aja yang di sini. Kakak pulang aja, nanti kalau ada apa-apa Dimas pasti hubungin kakak.”

Dengan berat hati Irzal menuruti keinginan mama, dia pun pamit pulang.

Irzal sampai di rumah. Sesaat dia masih belum turun dari mobilnya. Setelah menenangkan diri, dia turun dan masuk ke dalam rumah. Irzal tak langsung ke kamarnya. Dia memutuskan untuk berbicara dengan ummi. Irzal mengetuk pintu kamar ummi, terdengar suara ummi menyuruhnya masuk.

Irzal duduk di samping ummi, kemudian mulai menceritakan apa yang terjadi dengan mama Dewi juga permintaannya merahasiakan penyakitnya dari Poppy.

“Irzal harus gimana mi?”

“Untuk sementara kamu turuti saja dulu kemauan mama Dewi, yang penting dia dirawat dulu. Sekarang siapa yang jaga di rumah sakit?”

“Dimas.”

“Kasihan Dimas. Ya sudah malam ini biar ummi yang temani mama Dewi di rumah sakit. Kamu ke atas aja, Poppy udah nungguin kamu.”

“Iya ummi.”

Irzal pun keluar dari kamar. Ummi segera bersiap, tak lupa dia membawa baju hangat dan juga selimut kecil. Ummi menelpon pak Anton, memintanya datang ke rumah.

Irzal masuk ke dalam kamar. Terlihat Poppy sedang serius mengetik di meja kerjanya. Irzal menghampiri.

“Eh udah pulang a,” Poppy terkejut karena tak mendengar kedatangan Irzal.

“Cape ya,” Poppy melihat wajah suaminya begitu lesu. Irzal tak menjawab, dia hanya menatap Poppy dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Mau dibikinin apa? Teh manis apa susu?”

“Ngga usah.”

Poppy melihat ada yang aneh dengan suaminya, seperti ada yang disembunyikannya. Wajahnya tak hanya terlihat lesu tapi juga sedih.

Apa ada masalah di kantor ya.

Poppy menebak-nebak. Dia mendekat lalu memeluknya. Irzal balas memeluknya.

“Ada apa a?”

“Ngga ada apa-apa, cuma cape aja.”

Irzal mengeratkan pelukannya sambil sesekali mencium puncak kepala istrinya.

❤️❤️❤️

Irzal duduk termenung di depan meja kerjanya, memikirkan kondisi mama Dewi. Kemarin dia sudah diperbolehkan pulang. Namun dari hasil pemeriksaan, Dewi divonis gagal ginjal. Agar kondisinya tak bertambah buruk, dia harus melakukan haemodialisis (cuci darah) semingu sekali. Kemungkinan terburuk dari penyakitnya adalah kedua ginjalnya tak dapat berfungsi lagi dan harus mendapatkan transplantasi ginjal.

Terdengar ketukan di pintu, lamunan Irzal langsung buyar. Pintu kamar terbuka, ummi masuk dan duduk di dekatnya.

“Kamu lagi mikirin apa?”

“Banyak ummi, soal mama Dewi, soal om Ruslan yang minta Irzal mulai menangani perusahaan, juga soal Poppy.”

“Lalu keputusan kamu gimana?”

“Sepertinya aku bakal resign dari kantor dan bantu om Ruslan mendirikan perusahaan juga mengurus yayasan. Dengan begitu aku punya cukup waktu luang buat mengurus mama Dewi, karena minggu depan sudah mulai cuci darah. Keputusan Irzal tepat kan ummi?”

“Kalau kamu sudah memutuskan seperti itu, ummi akan dukung kamu.”

“Ummi ngga marah?”

“Kenapa ummi harus marah, ummi justru bangga sama kamu. Sekarang kamu sudah lebih dewasa dan bertanggung jawab. Kalau abi masih ada, dia juga akan mengatakan hal yang sama,” ummi menjeda sebentar ucapannya.

“Abi pernah bilang ke ummi, kamu harus kerja di bawah orang lain supaya tahu bagaimana cara menjalankan perusahaan nanti. Dan kamu harus menikah supaya belajar bertanggung jawab karena nantinya kamu akan bertanggung jawab atas nasib semua karyawan kamu. Ternyata ucapan abi benar, melihat kamu seperti ini ummi bener-bener bahagia. Apapun keputusan kamu, ummi akan dukung dan terus mendoakan kamu.”

“Makasih ummi.. tapi soal Poppy itu yang bikin Irzal cemas. Kalau nanti dia tahu, dia pasti bakal marah dan kecewa.”

“Dia mungkin saja marah dan kecewa sama kamu, tapi ummi yakin dia akan mengerti nantinya.”

Irzal terdiam, berharap apa yang dikatakan ummi benar. Namun tak dapat dipungkiri dia merasa tak tenang menyembunyikan sesuatu yang penting dari istrinya.

❤️❤️❤️

Semenjak Irzal mengundurkan diri dari perusahaan, kesibukannya tidak berakhir. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, mengurus yayasan dan perusahaan. Dia juga harus mengantar mama Dewi untuk cuci darah. Sudah dua bulan mama menjalani perawatan, dan selama itu pula Irzal menyembunyikan kondisi Dewi dari Poppy.

Poppy sedang membersihkan kamar ketika ponsel Irzal boedering. Dia melihat ke layar ponsel, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Panggilan berhenti dan tak berapa lama ponsel berdering kembali, Poppy menjawabnya.

“Halo.”

“Halo bisa bicara dengan bapak Irzal?” terdengar suara perempuan.

“Maaf ini dengan siapa?”

“Saya Nindi dari rumah sakit Mitra Medika bu. Bapak Irzalnya ada?”

“Bapak sedang keluar, ada pesan?”

“Bapak ditunggu kedatangannya hari ini di rumah sakit.”

“Oh ya nanti saya sampaikan.”

“Terima kasih bu.”

Panggilan berakhir, Poppy terdiam.

“Pop,” suara Irzal mengejutkannya.

“Ada apa?” lanjutnya.

“Aa sakit?”

“Ngga.”

“Tadi ada telepon dari rumah sakit Mitra Medika, katanya aa ditunggu di rumah sakit hari ini. Siapa yang sakit a?”

Irzal terkejut mendengarnya. Poppy melihatnya dengan penuh curiga.

“Itu soal yayasan, rencananya kita akan kerja sama dengan pihak rumah sakit untuk cek kesehatan gratis khusus lansia,” Irzal berbohong.

“Oh kirain ada yang sakit. Aku ikut ya a.”

“Ngga usah.. katanya hari ini kamu mau latihan nyetir sama pak Anton.”

“Besok juga bisa. Rencananya nanti aku bantu ummi di yayasan, jadi aku juga mau tau lebih banyak soal yayasan.”

“Nanti aja, sekarang kamu fokus beresin skripsi aja dulu. Kalau udah selesai baru bantu ummi di yayasan, hmm.”

Setelah berpikir sejenak Poppy akhirnya setuju, leganya perasaan Irzal.

“Ya udah aku berangkat ya, assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Irzal keluar kamar. Poppy diam memandangi kepergian Irzal. Sebenarnya dia kecewa karena Irzal tak mengijinkannya ikut ke rumah sakit. Poppy merasa akhir-akhir ini Irzal tak memperhatikan dirinya, selalu sibuk dengan pekerjaan.

Irzal sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruangan dokter Ibrahim. Suster mengatakan dokter Ibrahim sedang melakukan visit, dia pun menunggu di dalam ruangan. Tak lama dokter Ibrahim datang.

“Aduh maaf ya pak Irzal, sudah lama nunggu?”

“Baru dok.. bagaimana perkembangan mama saya dok?”

“Saya mohon maaf, ternyata kondisi bu Dewi tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Kondisi ginjalnya memburuk dengan cepat. Jadi mulai minggu ini bu Dewi harus melakukan cuci darah seminggu dua kali,”

Irzal menghela nafas panjang, ternyata bukan kabar baik yang didengarnya.

“Kalau keadaan bu Dewi tetap menurun, maka jalan satu-satunya adalah transplantasi ginjal. Pendonor bisa dari mana saja, lebih utama bila melakukan pemeriksaan pada anggota keluarga terlebih dahulu. Tapi saya dengar bu Dewi menolaknya.”

“Berapa persen kemungkinan kesembuhan mama jika harus transplantasi?”

“Kalau ginjalnya cocok dan organ lainnya bisa menerima, maka kesebuhannya bisa di atas lima puluh persen.”

“Baik dok, saya akan bicarakan hal ini dengan mama.”

“Kalau pak Irzal tak keberatan, saya akan memasukkan nama bu Dewi dalam daftar penerima donor.”

“Ya dok, terima kasih banyak.”

Selesai konsultasi, Irzal meninggalkan rumah sakit. Kali ini dia menuju rumah mama Dewi. Rumah tampak sepi, beberapa kali Irzal mengetuk pintu dan mengucap salam. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu rumah terbuka.

“Maaf ya Zal, tadi mama di kamar mandi.”

Mama mempersilahkan Irzal masuk. Mereka lalu duduk di ruang tamu. Wajah Dewi tampak pucat, kondisinya semakin lemah saja.

“Ma, barusan Irzal dari rumah sakit. Mulai minggu ini mama akan cuci darah seminggu dua kali.”

“Ya Allah.”

Irzal terdiam, dia mengerti ini pasti berat untuknya. Irzal memegang tangan mertuanya ini.

“Mama harus kuat ya, demi Poppy, Dimas dan aku,” Mama mengangguk.

“Ma,” Irzal tak meneruskan kata-katanya, mendadak menjadi ragu.

“Ada apa?” Irzal masih diam.

“Apa masih ada yang yang harus mama tahu Zal? Tolong jangan sembunyikan apapun.”

“Soal kemungkinan transplantasi ginjal..” belum selesai Irzal berbicara, mama sudah memotong.

“Mama ngga mau.. kamu, Poppy atau Dimas jangan pernah melakukan tes apapun, mama ngga akan mengijinkannya. Kalaupun ada salah satu dari kalian yang cocok mama tetap ngga akan mau, mama lebih baik mati!”

“Ma.”

“Mama ngga mau Zal, ngga mau,” mama mulai menangis, Irzal mencoba menenangkannya.

“Kita bicarain ini nanti lagi ya ma.. sekarang mama istirahat dulu aja, Irzal pulang dulu ma.”

Irzal bangun dari duduknya dan keluar rumah. Mama mengantar sampai ke teras. Irzal mencium punggung tangan mama, setelah itu masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi.

❤️❤️❤️

Aku up lagi nih. Jangan bosen ikutin kisah mereka ya. Bab selanjutnya bakal lebih seru. Tinggalkan jejak kalian ya dengan like, comment dan vote😉

1
aurora
otw sah ini🤭🤭
aurora
kalau yang muncul part Ega udah auto cengar cengir 🤣🤣
Lina Suwanti
keren Poppy,anaknya nakal lsg bicara ma orang tuanya
Lina Suwanti
tuh kan part ini tentang kepergian ummi😭😭
Lina Suwanti
iyalah bukan Ega,,kayaknya Ega dikasih obat tidur nah klo Soraya baru dikasih obat perangsang
Lina Suwanti
kak author bikin laper iih bahas nasi liwet dkk😁
Lina Suwanti
pasti Sarah yg kena,,ya Allah kak author jgn pisahkan Regan dgn Sarah baru jg mereka menikah kembali
Lina Suwanti
Alhamdulillah.....ga perlu buka google translate 🤣
Lina Suwanti
akhirnya Ega n Alea akan segera menikah dgn restu para ayah
Lina Suwanti
ternyata Adit n Rizal orang yg sama😁
Lina Suwanti
secret admirer Debby itu bisa jd Adit atau Afrizal....
Lina Suwanti
dibikin penasaran sm author tentang siapa pelaku sebenarnya 🤔
Lina Suwanti
klo menurut saya bagus kok kak alurnya,,nyambung....jd tau kisah awal persahabatan antara Regan,Irzal n Ega jg Sarah,Poppy,Alea n yg lain walau suka greget klo ada couple yg mist komunikasi jd salah faham
Lina Suwanti
apakah orang yg sama yg modus merampok Sarah?
Lina Suwanti
kurang deh kayaknya kak🤣
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Lina Suwanti
beginilah klo blm kenal maka jd salah faham antara Poppy n Alea😄
Lina Suwanti
awal hubungan persahabatan ya kak
Lina Suwanti
awal mula pertemanan antara Regan,Irzal n Ega nih karena seringnya pertemuan tak sengaja
Lina Suwanti
lah kenapa pada berpisah ini kak....😭
CORTIS
tahun 2026 ad yg mampir thor🗿😄
CORTIS: wah combo gitu ya bagus, kreatif banget author ny💞
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!