Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendu
El yang geram melihat kebersamaan Anin dan Rais itu memutuskan untuk menemui Anin dirumah Papanya, karena ia tahu Anin akan kembali pulang kesana, sementara Pak Hendra sedang tak ada dirumah.
Benar saja Anin pulang di antar oleh Rais.
El dengan sengaja memarkir mobilnya disebuah mini market dekat rumah Anin, agar Anin tidak pergi darinya, dan El juga sembunyi di halaman samping rumah Anin itu.
Anin turun dari motor Rais, lalu Rais ikut turun dan membukakan helm Anin. Anin terlihat begitu bahagia, kali ini walau sedang menghadapi masalah berat baginya.
"Rais.. Makasih banyak yaaa.. Makasih udah balikin mood aku." ucap Anin dengan senyum tersungging manis diwajah cantiknya itu
"Sama-sama.. Aku seneng bisa bikin kamu bahagia gini" jawab Rais dengan membalas senyum manis ke arah Anin
"Sampai ketemu lagi ya.." lanjut ucap Rais pada Anin
"Iya Bye.." jawab Anin sembari melambaikan tangannya ke arah Rais
Rais melajukan motornya menjauh dari rumah Anin, untuk kembali bekerja ke kantornya.
Anin terlihat senyum-senyum mesem, setelah pergi bersama Rais. Perasaan Bahagianya tak bisa ia bendung, jujur saja kali ini Rais bisa membuat hatinya tenang dan cepat kembali pulih.
Anin mengeluarkan kunci rumah dari dalam tasnya, lalu hendak membuka pintu. Tiba-tiba El muncul di belakang Anin, membuat Anin terkesiap.
"Pria itu siapa?" tanya El tanpa berbasa-basi
"Teman.." jawab Anin singkat sembari terus memutar kunci rumahnya hendak masuk kedalam rumah
Wajah Anin seketika kembali berubah menjadi bad mood setelah kemunculan El dihadapannya itu.
"Jawab Aku, Nin! Hargai aku, aku suami kamu!" ucap El dengan emosi yang sudah menumpuk, sembari menahan lengan Anin agar tak segera masuk kedalam
"Terus kamu menghargai aku sebagai istri kamu?" ucap Anin dengan ketus, ia berharap tak mau melihat wajah suaminya itu
Anin melepaskan lengan yang di genggam kuat oleh El, sampai merah berbekas. Anin berusaha masuk ke dalam rumahnya, lalu berharap bisa menutup pintu rumah itu untuk El. Namun tenaga El jauh lebih kuat, El mampu menahan pintu itu agar tidak tertutup, El ikut masuk kedalam rumah orangtua Anin itu.
"Aku gak mau bicara sama kamu dulu buat sekarang! Selesaikan saja urusan mu dengan istri pertama kamu! JANGAN TEMUI AKU!" ucap Anin penuh penekanan
El tak mau pergi, El bersujud di kaki Anin. Tiba-tiba tubuhnya merasa lemas, kakinya tak mampu menopang tubuhnya lagi.
"Maafin aku Nin.. Maaf.." ucap El dengan air mata yang mengalir perlahan membasahi pipinya
Anin terdiam, seakan terpaku. Ia tak menghiraukan El yang berlutut di kakinya itu, Anin hanya menahan air matanya agar tidak kembali jatuh.
"Kamu selesaikan saja urusan mu dengan istri pertama kamu!" lagi-lagi ucap Anin, nadanya masih ketus
Anin meninggalkan El yang masih berlutut di lantai, Anin dengan cepat segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Air matanya langsung kembali mengalir deras membasahi pipinya.
El masih berlutut di lantai, air matanya masih saja mengalir, ia menyesali semuanya.
Anin menangis di balik pintu kamarnya, ia merasa tak tega melihat El sampai menangis, ia tahu El merasa bersalah, tapi ia juga sangat kecewa.
El bangkit, menyeka air matanya. Menghampiri kamar Anin, dan berdiri di hadapan pintu kamar itu.
"Aku sayang kamu Nin.. Maafin aku, aku janji akan memperbaiki semuanya.." ucap El sedikit berteriak agar di dengar oleh Anin
Namun Anin diam membisu, ia mendengar ucapan suaminya itu, sembari menahan sesegukannya agar tak terdengar oleh El.
"Aku juga sayang kamu, El.." ucap Anin pelan dengan bibir yang bergetar
El berjalan meninggalkan rumah orangtua Anin, menutup pintunya rapat. Lalu berjalan kembali ke mobilnya, sembari terus menyeka-nyeka wajahnya.
El segera menuju kembali ke Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, El langsung mengunjungi Elvira dan Erina yang sengaja di tinggal di apartement.
"Aku mau ngomong.." ucap El pada Elvira
Elvira terlihat kebingungan, karena El terlihat tak bersahabat bahkan di depan Erina.
"Papi, kapan ajak aku jalan-jalan?" tanya Erina yang sedang menikmati camilannya itu
"Sebentar ya, nanti kita bicarakan lagi.." jawab El sembari memaksakan senyum pada Erina
El lalu mengajak Elvira untuk berbicara di balkon luar, agar tak terdengar oleh Erina.
"Sebentar ya Mami bicara dulu sama Papi.." ucap Elvira pada putrinya itu.
El sudah menunggu di balkon, dengan duduk di kursi yang ada disana.
Elvira berdiri dan menyandarkan punggungnya di pagar pembatas balkon itu.
"Ada apa El? Bagaimana dengan Anin?" tanya Elvira penasaran
"Semua sudah tahu tentang kedatangan mu, tentang Erina. Bahkan mertua ku juga tahu.." ucap El tetap dengan pandangan kosongnya
"Lalu? Pasti mereka kecewa bukan?" tanya Elvira semakin penasaran
"Tentu saja.. Mereka berpikir bahwa Anin jadi istri kedua. Tapi tidak buat aku, dia tetap istri satu-satunya" ucap El dengan penuh keyakinan
Elvira menatap dalam kewajah El. Ia tak menyangka bahwa El, yang masih juga suaminya itu akan berkata seperti itu.
"Ucapan itu menggores hati ini, El.." ucap Elvira dalam hatinya, ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kamu sudah pergi meninggalkan aku, sangat lama, dan pernikahan kita sudah berakhir.." lanjut ucap El pada Elvira
"Aku tahu El.." jawab Elvira merasa tak ingin mendengar lebih jauh
"Kamu datang kemari untuk mengakhiri segalanya bukan?" tanya El memastikan
"Iya El, aku tahu kamu sangat mencintai istri kamu yang baru. Aku sadar, pernikahan kita harus segera di akhiri.." jawab Elvira dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya
"Benar.." jawab El singkat tanpa menghiraukan Elvira yang mulai sendu
"Cinta kamu buat aku pasti sudah mati bukan? Bahkan kehadiran Erina yang tak kau harapkan.." ucap Elvira tiba-tiba air matanya mengalir deras, jatuh ke pipinya tak mampu lagi ia tahan
El menoleh ke arah Elvira, ia menyadari bahwa Elvira mulai meneteskan air matanya. Bagaimanapun Elvira pernah mengisi hari-harinya, pernah ia cintai.
"Kamu boleh mengakhiri pernikahan kita, tapi aku mohon sama kamu, sayangi Erina.. Sayangi dia layaknya kamu menyayangi anak kamu sendiri.." lanjut ucap Elvira dengan air mata yang terus membasahi pipinya, dan sesegukan yang tak bisa di tahan
"Andai saja waktu itu kamu tidak pergi.. Cinta ini tak mungkin mati begitu saja.. Kita bisa hidup menjadi keluarga yang utuh untuk Erina.." ucap El dalam batinnya, sembari terus menatap dalam ke arah Elvira.
Elvira menyeka air matanya, mencoba menenangkan dirinya agar tidak di dengar oleh Erina. Ia tak ingin membuat Erina cemas dengan semua ini.
El langsung mengambil ponselnya yang berdering, dan di lihatnya panggilan dari Reno, asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Halo Pak.. Pengacara yang Bapak minta sudah siap" ucap Reno dengan formal karena memang masih dalam jam kerja
"Baik.. Nanti atur jadwal untuk pertemuan kembali, setelah saya siap" jawab El dengan cepat
Sambungan telepon itu berakhir, El kembali memasukan ponselnya kedalam saku jasnya.
Ia kembali berpikir, tentang nasib rumah tangganya itu. Sebenarnya ia merasa berat untuk menceraikan Elvira karena memang adanya Erina yang juga perlua kasih sayang dan perhatian seorang ayah, tapi di sisi lain juga ada Anin yang sudah ia cintai.
"El.. Aku ingin bertemu Ibu dan Bapak, apa boleh? Aku ingin meminta maaf pada mereka, aku juga ingin Erina untuk mengenal Kakek juga Neneknya.." ucap Elvira pada El
"Boleh, besok pagi kita berangkat kesana.. Sekalian ajak Erina berlibur.." jawab El singkat
El langsung kembali masuk kedalam, melihat Erina yang masih duduk asik dengan camilan, buku gambar juga beberapa pensil warnanya.
El menghampiri Erina, mengelus lembut rambut gadis kecil yang ada di hadapannya itu sembari memperhatikannya dengan tersenyum.
"Papi bagus gak gambarnya?" tanya Erina dengan polosnya sembari menunjukan gambar yang ia buat
"Bagus sayang.. Ini gambar siapa?" jawab El dengan tersenyum, lalu mencoba menanyakan gambar yang dibuat oleh Erina
"Ini Papi.. " jawab Erina sembari menunjukan gambar pria berjas biru
"Ini Mami, dan ini Erina.." lanjut ucap Erina sembari menunjukan gambar yang lainnya
El tersenyum manis ke arah Erina, yang menggambar apa yang ia inginkan.
"Aku ingin setiap hari kita bisa bersama, Aku, Papi, dan Mami.." ucap Erina mengungkapkan keinginannya
El tak mampu berkata-kata, senyum itu berubah menjadi sendu. Elvira datang menghampiri El dan Erina.
"Kita tidak bisa bersama terus seperti itu sayang.." ucap Elvira mencoba menjelaskan kondisi kedua orangtua bagi Erina
"Tapi kenapa?" tanya Erina yang merasa kecewa
"Gak bisa sayang, nanti Erina pasti akan mengerti kalau sudah waktunya.." ucap Elvira lagi-lagi air matanya menggenang dengan cepat di pelupuk matanya.
"Papi harus kerja di Jakarta, di Indonesia.. Mami di Singapur, Erina juga harus sekolah disana bukan?" ucap El mencoba menjelaskan yang mampu Erina terima
"Erina ngerti Papi.." jawab Erina dengan cepat sembari menebar senyum manisnya
El membalas senyuman itu, sembari mengacak rambut Erina dengan lembut.