Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang tidak pernah hilang
Malam itu, setelah menunaikan salat Isya, Bu Ratmini masih duduk di atas sajadahnya.
Matanya tampak sembab.
Sejak beberapa hari terakhir, dia semakin sering menangis saat berdoa.
Terutama setelah cerita Pak Nanang yang mengaku bertemu Sekar kembali mengusik harapan di dalam hatinya.
Di tengah lamunannya, Dila masuk ke dalam kamar.
Gadis kecil itu berjalan pelan lalu duduk di samping ibunya.
Bu Ratmini mengusap wajahnya dan berusaha tersenyum.
"Ada apa, Nduk?" Tanyanya lembut.
Dila tampak ragu-ragu.
Seolah tidak yakin apakah dia harus menceritakannya atau tidak.
Namun akhirnya dia memberanikan diri.
"Bu..."
"Iya?"
"Kabar tentang Kak Sekar yang diceritakan si mbah sekarang sudah tersebar ke seluruh desa."
Bu Ratmini terdiam.
Dila melanjutkan,
"Orang-orang membicarakan Kak Sekar."
Bu Ratmini menatap putrinya.
"Kamu tahu dari mana?"
"Tadi teman Dila yang cerita."
"Apa katanya?"
Dila menunduk.
"Katanya, ibunya sama ibu-ibu yang lain hampir setiap hari membahas Kak Sekar."
Hati Bu Ratmini terasa sesak mendengarnya.
Dila kembali melanjutkan dengan suara yang semakin pelan.
"Mereka bilang, kak Sekar pasti malu pulang."
Bu Ratmini diam.
"Malu karena ditinggal sama laki-laki yang kabur sama Kak Sekar."
Kalimat itu membuat Dila ikut menunduk. Dia tidak sepenuhnya mengerti.
Namun dia tahu ucapan itu membuatnya tidak nyaman.
Beberapa saat ruangan itu dipenuhi keheningan.
Lalu Bu Ratmini menghela napas panjang. Dia meraih tangan Dila dan menggenggamnya erat.
"Dila."
"Iya, Bu."
"Kamu nda usah mendengarkan omongan orang."
Dila mengangkat wajahnya.
"Tapi mereka ngomongnya setiap hari."
"Biarkan saja."
Suara Bu Ratmini terdengar tenang meski hatinya terluka.
"Orang-orang itu nda tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Dila terdiam.
Bu Ratmini menatap Dila.
"Mereka cuma menebak-nebak."
"Karena mereka juga nda punya jawaban."
Dila mengangguk pelan.
"Lalu menurut Ibu?"
Pertanyaan itu membuat Bu Ratmini terdiam cukup lama.
Jujur saja, sampai saat ini dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sekar.
Dia tidak tahu di mana anaknya berada. Namun ada satu hal yang selalu diyakininya.
Dia mengenal anaknya lebih dari siapa pun.
"Ibu juga nda tahu apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Bu Ratmini akhirnya.
"Tapi Ibu yakin satu hal."
Bu Ratmini menatap wajah putri bungsunya itu.
"Kakakmu bukan perempuan seperti yang mereka katakan."
Dila mendengarkan dengan saksama.
"Kakakmu itu anak yang sayang keluarga."
"Dia sayang sama Ibu."
"Sayang sama kamu. Dan sayang sama almarhum bapak."
Suara Bu Ratmini mulai bergetar.
"Jadi Ibu sulit percaya kalau dia rela meninggalkan semuanya hanya demi seorang laki-laki."
Dila menatap ibunya, melihat keyakinan yang begitu kuat di mata wanita itu.
"Kalau begitu kenapa Kak Sekar belum pulang, Bu?"
Pertanyaan polos itu membuat hati Bu Ratmini kembali terasa perih.
Dia menunduk sesaat, lalu mengusap kepala Dila dengan lembut.
"Ibu nda tahu, Nduk."
"Tapi Ibu yakin kakakmu pasti pulang."
Dila ikut terdiam.
Sementara Bu Ratmini memandang ke arah pintu rumah.
Entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu setiap hari.
Seolah menunggu seseorang datang dan mengetuk pintu.
Atau mungkin memanggil namanya dari luar.
"Kita doakan saja Kak Sekar baik-baik saja."
Dila mengangguk.
"Iya, Bu."
Bu Ratmini lalu memeluk putrinya erat dengan harapan, jika pengharapannya akan di kabulkan.
****
Pagi itu, cuaca terlihat cerah.
Langit biru membentang tanpa awan gelap seperti beberapa hari sebelumnya.
Pak Nanang sudah bersiap sejak pagi.
Dia mengenakan baju lengan panjang lusuh yang biasa dipakainya ke kebun lengkap dengan caping barunya yang dia beli kemarin di pasar.
Di teras rumah, pria tua itu sedang memeriksa tangki semprot yang akan dibawanya.
Melihat ayahnya bersiap seperti biasa, anak Pak Nanang langsung menghampiri.
"Mau ke mana, Pak?" Tanyanya.
Pak Nanang mengangkat kepala.
"Mau ke kebun."
"Ngapain lagi?"
"Mau meracun rumput."
Anaknya langsung menghela napas.
"Pak..."
"Mumpung cuaca cerah."
Pak Nanang menunjuk ke langit.
"Hari ini pasti panas."
"Justru karena panas itu Bapak nda usah ke kebun."
Anaknya mendekat.
"Usia Bapak sudah tujuh puluh tahun."
Pak Nanang hanya tersenyum.
"Tujuh puluh tahun bukan berarti nda bisa kerja."
"Bapak itu keras kepala."
"Kalau nda keras kepala, kebun kita sudah jadi hutan." Ucap Pak Nanang tertawa kecil.
Anaknya menggeleng-gelengkan kepala.
Sudah berkali-kali dia melarang ayahnya turun ke kebun.
Namun hasilnya selalu sama. Pak Nanang tidak pernah mau mendengarkan.
"Pak, istirahat saja di rumah."
"Ada aku yang bisa urus kebun."
Pak Nanang langsung mengibaskan tangannya.
"Nda bisa."
"Kenapa nda bisa?"
"Karena kalau cuma duduk di rumah, badan malah sakit semua."
Anaknya mendesah.
"Itu cuma perasaan Bapak."
"Bukan."
Pak Nanang menggeleng mantap.
"Kalau sehari dua hari nda ke kebun, punggungku malah pegal."
"Pinggang sakit."
"Kaki juga rasanya berat."
Anaknya hanya bisa menatap pasrah.
"Memangnya Bapak nda capek?"
"Capek."
"Lalu kenapa masih memaksa?"
Pak Nanang tersenyum tipis.
Karena sejak muda, hidupnya memang tidak pernah jauh dari tanah dan kebun.
Puluhan tahun dia menghabiskan waktunya di sana.
Melihat tanaman tumbuh.
Membersihkan rumput.
Menanam dan memanen.
Semua itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.
"Kalau cuma duduk diam di rumah, aku malah bingung mau ngapain. Lagipula, cuaca sedang bagus-bagusnya, sudah sebulan lebih kebun itu tidak di racun karena musim hujan."
Anaknya tertawa kecil.
"Kebiasaan memang susah dihilangkan."
"Nah, itu kamu tahu."
Pak Nanang ikut tertawa.
"Tapi jangan lama-lama di kebun."
"Iya."
"Kalau matahari sudah tinggi langsung pulang."
"Iya."
"Jangan lupa bawa air minum."
"Iya."
Anaknya kembali mengingatkan seperti biasa.
Pak Nanang hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Setelah memastikan semua perlengkapan sudah siap, dia mengangkat tangki semprotnya.
Lalu melangkah meninggalkan halaman rumah.
Sementara anaknya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepergian ayahnya.
Meski sering mengomel dan melarang, dalam hatinya dia tahu satu hal.
Selama Pak Nanang masih sanggup berjalan ke kebun dengan kakinya sendiri, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan pria tua itu untuk bekerja.
Sesampainya di kebun miliknya, Pak Nanang langsung menuju ke sumur yang berada tidak jauh dari sana.
Sumur galian itu sudah ada sejak bertahun-tahun lalu.
Biasanya air dari sumur itu digunakan untuk berbagai keperluan di kebun, termasuk untuk mengisi tangki semprot saat meracun rumput liar.
Pak Nanang meletakkan tangki semprotnya di dekat bibir sumur.
Lalu mengambil timba yang tergantung pada seutas tali.
Seperti biasa, ia menurunkan timba itu ke dalam sumur.
Suara air terdengar saat timba menyentuh permukaan.
Tak lama kemudian dia menariknya kembali ke atas.
Namun saat timba itu sampai di bibir sumur, Pak Nanang tiba-tiba mengernyit.
"Hm?"
Dia mendekatkan wajahnya.
Lalu mencium aroma yang keluar dari air di dalam timba tersebut.
Seketika dahinya berkerut.
"Bau apa ini?"
Pak Nanang mengangkat timba itu sedikit lebih dekat.
Benar saja.
Ada bau busuk yang menyengat.
Bau busuk yang sangat kuat, yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Pria tua itu kembali mengendus pelan.
"Bukan bau lumpur." Gumamnya.
Biasanya air sumur itu memang memiliki aroma tanah yang khas.
Namun kali ini berbeda. Bau yang tercium lebih mirip sesuatu yang membusuk.
Pak Nanang lalu menuangkan kembali air itu ke dalam sumur.
Setelah itu ia menurunkan timba sekali lagi.
Beberapa saat kemudian dia menariknya ke atas.
Bau busuk itu masih ada. Bahkan, bau busuk itu seperti melekat di timbanya.
Pak Nanang mulai merasa heran.
"Kenapa bisa begini?"
Dia berdiri di bibir sumur sambil memandang ke dalam.
Permukaan air di dasar sumur terlihat gelap.
Karena dalam, dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di bawah sana. Apalagi air sumur itu keru kecoklatan.
"Ini pasti ada binatang yang mati di dalam sana." Ujarnya.