Zora pulang ke kampung halaman Setelah sekian lama tinggal di kota, kepulangan dia kali ini tentu untuk merawat orang tua yang sudah begitu lanjut usia dan hanya Dia anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
Rumah yang begitu besar dan terkesan begitu menyeramkan sekali bila hanya dilihat dari luar, tapi ternyata bukan hanya di luar dan di dalam telah menyimpan misteri yang begitu mengerikan sekali, bahkan Zora sama sekali tidak menyangka bahwa itu semua bersangkutan dengan dirinya.
Apa yang terjadi dengan rumah itu?
Apa kah Zora bisa bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kematian
Devano sibuk mencari keberadaan sang istri karena sejak tadi dia tidak melihat di mana saat ini Zora berada, sudah berusaha untuk dia cari Namun ternyata wanita itu menghilang begitu saja dari tempat ini dan Devano memutuskan untuk naik ke lantai atas karena dia berpikir bahwa Zora sedang bersama dengan mama.
Namun ketika sudah sampai di lantai atas dia juga tidak melihat keberadaan Zora dan mama Susi sedang mengobrol dengan Tante Rika, Oleh sebab itu Devano segera turun kembali karena dia tidak ingin mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang tersebut karena nanti terkesan sangat tidak sopan sekali untuk dia.
Meski ada rasa penasaran dengan obrolan itu namun tetap saja Devano memutuskan untuk tidak mendengar, saat dia akan pergi meninggalkan rumah ini karena berpikir mungkin saja Zora ada di bagian depan halaman sana dan mengobrol dengan para tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah tua milik mereka ini, namun langkah Devano terhenti karena mendengar suara aneh dari bagian belakang.
''Apa itu?'' Devano tertegun sesaat karena ragu juga untuk mendekat atau tidak.
Hingga Devano mau tidak mau Akhirnya dia berjalan mendekati suara itu dan dari arah dapur juga terlihat kosong Kapan sekali tidak ada orang, tapi suara itu masih saja terdengar seperti orang yang sedang mengiris daging sehingga perasaan Devano semakin marah sama merinding.
Sreeeeek.
Sreeeeek.
''Mbak, Mbak Paini?'' Panggil Devano karena mengira itu adalah pembantu mereka.
''Tidak ada orang, kadang aku juga Curiga dengan dia ini seperti menyimpan sesuatu.'' Devano kesal sendiri.
Claaaak.
Claaaak
''Potong daging apa sih dia dan di mana sekarang?'' Devano kebingungan karena tidak menemukan keberadaan pembantu itu.
Byuuuuuur.
Suara air yang tertumpah juga membuat Devano merasa heran, hingga akhirnya mata pria ini menatap gudang yang selama ini untuk penyimpanan alat-alat berkebun di taman belakang itu, terlihat juga air mengalir dari sela pintu sehingga Devano yakin bahwa pembantu tersebut ada di dalam ruangan.
''Mbak!'' teriak Devano untuk memastikan dulu.
''Huhuhuuuu sakit sekali.'' isak Mbak Paini.
''Mbak kenapa?'' Devano berusaha untuk membuka pintu ruangan tersebut.
Braaaaak.
''Astaga malah terkunci rapat seperti ini.'' keluh Devano karena dia tidak bisa membuka secara langsung.
''Hentikaaaaan, tolong hentikan tangan ini.'' isak Mbak Paini.
Meski agak ragu dan menyimpan rasa takut juga namun tetap Devano akhirnya mendobrak pintu tersebut untuk melihat apakah memang ada sesuatu yang tidak beres di dalam sini, dan ternyata bagian pundak terasa sangat menyakitkan sekali karena berulang kali menghantam pintu kayu yang ternyata sangat kuat itu.
Broooooolll.
''Ya allah sakit nya.'' keluh Devano sembari memegang pundak dia.
Namun ketika dia sudah sampai dalam ternyata ruangan ini kosong dan tidak ada sosok yang sedang menangis itu, perasaan Devano mulai tidak enak karena dia merasa ini hanya jebakan saja karena tadi jelas ada suara orang yang sedang memotong daging di sertai suara tangis di dalam ruangan tersebut.
''Mbak Paini?!'' panggil Devano sambil berjalan mencari.
''Mbaaaaak!'' agak keras Devano berteriak memanggil pembantu rumah.
''Sakiiiiittt, sakit sekali.'' suara itu kembali terdengar.
''Mbak kamu kenapa? aku di sini untuk melihat kamu!'' kesal Devano.
''Dia tidak akan pernah membiarkan kalian selamat! kalian semua akan mati, mati dalam keadaan mengerikan.'' pekik Mbak Paini.
Devano mematung karena dia melihat sendiri Mbak apa ini yang sedang duduk berjongkok di sudut ruangan sambil memegang sesuatu, tubuh wanita itu juga berlumuran dengan air dan Devano merasa itu bukan air biasa karena terlihat pada bagian yang menetes seperti lendir menjijikkan sekali.
''Tidak bisa pergi, kalian akan mati.'' geram Mbak Paini.
''Apa yang Mbak lakukan?'' tanya Devano karena Mbak Paini membuat gerakan seperti sedang sikat gigi.
''Eeeeeghhh, groooook.'' Mbak Paini mengeluarkan suara seperti mengorok.
''Mbak! jangan main main seperti itu.'' bentak Devano dan menarik pundak wanita yang sedang melakukan sesuatu itu.
''Ya allah!'' Devano tersurut mundur karena ketakutan.
Bagaimana mungkin Devano tidak ketakutan karena saat pembantu itu menoleh maka pemandangan yang sangat mengerikan dia lihat, Mbak Paini merobek pipi dia sendiri menggunakan pisau yang ada di tangan sehingga dia merasakan ketakutan tidak terhingga dan darah itu menetes dari luka yang sudah dia buat tersebut.
''A.. apa
Jleeeeeeep.
''Allahu Akbar!'' Devano semakin menjerit keras karena dia melihat pembantu itu melakukan aksi bunuh diri dengan cara menusuk bagian leher.
''Tidaaaaaak, ya allah.'' segera Devano melarikan diri dari dalam ruangan tersebut karena dia memang tidak sanggup.
''Devano!'' Tante Rika mendadak saja datang dan membentak Devano yang histeris itu.
''Tante, Mbak Paini merobek pipi dia sendiri dan sekarang melakukan aksi bunuh diri.'' Devano langsung mengadu.
''Ini semua adalah kesalahan dari dirimu yang berani membantah iblis ini.'' geram Tante Rika.
''Ap.. apa maksud nya?'' tanya Devano yang kebingungan dengan maksud Tante Rika itu.
''Kau adalah keluarga pendatang tapi sudah membuat masalah besar!'' bentak Tante Rika.
Devano tentu saja terdiam kebingungan karena dia tidak paham kenapa Tante Rika bicara seperti itu dan iblis Apa yang sedang dibicarakan oleh wanita setengah baya ini, Mungkinkah memang terjadi sesuatu sehingga membuat wanita tersebut merasa sangat marah ketika Devano memutuskan untuk memanggil ustad.
''Cepat bangun dan kuburkan dia!'' Tante Rika bergegas menuju gudang itu.
''Kita harus memberitahu keluarga dia terlebih dahulu.'' Devano mengusap lengan yang terasa sangat dingin.
''Lalu semua orang akan tahu bahwa kita yang sudah membunuh dia? Paini hidup Sebatang Kara dan tidak memiliki keluarga!'' tegas Tante Rika.
''Tante, kita bisa bicara dulu dengan Pak RT atau Pak Lurah yang ada di desa ini.'' ujar Devano.
''Hei bangsat, kuburkan sekarang dan aku tidak peduli apapun itu.'' Tante Rika sama sekali tidak ingin dibantah.
Kini Devano baru sadar bahwa wanita ini ingin menguburkan pembantu itu tanpa memberitahu orang-orang bahwa telah terjadi kematian, tentu saja batin Devano menolak karena dia merasa ini sebuah kejahatan dan nanti justru akan membuat malapetaka besar untuk hidup mereka.
''Bawa dia!'' bentak Tante Rika sembari mengacungkan senapan besar.
''Tante?!'' Devano amat tidak menyangka bahwa kekejaman Wanita itu sudah tidak terbatas.
''Bawa dia sekarang!'' pekik Tante Rika yang sudah tidak sabar lagi.
Sebab dia tidak mau bila nanti sampai ada orang yang mengetahui tentang kematian pembantu menyebalkan itu, Devano baru tahu bahwa Tante Rika seolah menganggap ini semua menjadi beban ketika ada seseorang yang meninggal di dalam rumah ini dan dia terlihat juga tidak ingin memberitahu tentang kematian tersebut kepada orang lain.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.
Zora ,Devano ,kenapa lah ga cepat cepat pergi dari rumah yang jadi sarang iblis ?