Abiyasha Harsha Pranacipta kehilangan ingatannya lima tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan hebat. Selama itu pula ia berusaha mengembalikan ingatannya mengenai wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruknya.
Yasmine Abichara, seorang sekretaris direktur baru sebuah perusahaan besar di Jakarta merasa kaget ketika mengetahui bosnya adalah pria dimasa lalu yang ingin ia lupakan. Timbulnya benih-benih cinta di hati Yasmine membuatnya bertanya-tanya, mampukah ia mencintai Abiyasha saat pria itu memiliki hubungan erat dengan masa lalunya? Dan bagaimana hubungannya dengan Rio saat Yasmine tahu sejak awal tidak ada cinta untuk pria itu sedikitpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuanitaaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Bagian 22|
Abiyasha masuk ke dalam ruang auditorium, dan mendapati ruangan itu kosong melompong. Ia berlari cepat menuju lift dan tidak sabar menuju lantai di mana ruangannya berada. Ia semakin gelisah ketika tidak melihat Yasmine di manapun. Di mana wanita itu?
Abiyasha membuka pintu ruangannya. Dan pandangannya terpaku pada sesosok tubuh mungil yang sedang duduk sambil menaruh kepalanya di atas meja kerjanya. Abiyasha mendekati wanita itu dan menyadari kalau ia sedang terlelap. Semua keluh kesahnya hilang ketika mendapati wajah tenang itu sedang tertidur. Abiyasha memutari meja kerja Yasmine dan menyeret kursi dengan begitu pelan dan duduk di samping wanita itu tanpa menimbulkan suara apapun yang bisa membangunkannya.
Ia memandangi wajah teduh itu. Kalau dipikir-pikir, Yasmine memang cantik. Ia memiliki bulu mata yang panjang dan lentik, rona kemerahan pada pipinya membuat wanita itu terlihat menggemaskan. Dan bibirnya...
Mata Yasmine terbuka tiba-tiba dan langsung melotot padanya. Membuat Abiyasha kaget dan nyaris jatuh dari kursi.
"Astaga, kaget aku!" ucap Abiyasha memegangi dadanya yang berdebar-debar tidak karuan.
Yasmine juga terkejut. Ia belum sepenuhnya terlelap, saat ia membuka mata, ia begitu terkejut dengan wajah Abiyasha yang tepat ada di depan wajahnya. "Pak Abi? Sedang apa anda di sini?"
Abiyasha menggaruk tengkuknya. "Astaga! Aku bisa terkena serangan jantung kalau begini caranya!"
Mata Yasmine yang mengantuk berkedip-kedip. "Lagipula siapa suruh anda ada di sini?"
Abiyasha pura-pura memasang wajah meremehkan. "Jangan kepedean. Aku tadi sedang melihatmu tidur. Kau tidak sadar ya kalau ada nyamuk besar yang sedang mengintai dirimu sejak tadi?"
Yasmine mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Di sini? Ada nyamuk besar? Mungkinkah?" katanya ragu. Ia melirik Abiyasha. "Ya sepertinya memang ada nyamuk buesaaar di sini."
"Apa?" Abiyasha merasa Yasmine sedang menyindirnya.
"Ya, ada nyamuk besar yang mengintaiku. Dan gara-gara nyamuk besar itu aku benar-benar mendapat banyak masalah!"
Teringat dengan meeting tadi, ekspresi Abiyasha berubah. "Ah, bagaimana dengan meetingnya? Kenapa tidak ada orang di ruang auditorium? Apa mereka terlambat datang?"
Yasmine menggeleng. "Aku sudah mengatasi semuanya. Anda jangan khawatir!"
Abiyasha mengernyit. "Apa maksudmu?"
Yasmine mengangkat buku notes bersampul biru tersebut dan tersenyum riang. "Semua berjalan baik karena anda meninggalkan catatan yang sangat lengkap di dalam sini. Presentasinya berjalan baik, Pak. Untungnya saya menemukan ini!"
Masih tidak mengerti dengan kalimat Yasmine, Abiyasha memilih duduk dan mendengarkan wanita itu bicara.
Dua jam yang lalu, Yasmine berpikir kalau ia tidak memiliki kemampuan apapun untuk presentasi ini. Ia adalah sekretaris baru yang tidak paham tentang laporan kemajuan perusahaan satu bulan belakangan. Ia hanya menyiapkan presentasi seperti yang Abi minta tapi tidak dengan materi yang akan ia bawakan.
Yasmine menatap audien yang mendengarkan pemamaparannya dengan seksama. Ia ingin meminta bantuan kepada siapa saja. Tapi tidak ada yang membantunya. Semua orang takut mengambil resiko. Pintu auditorium terbuka. Maya maju tergopoh-gopoh untuk mendekatinya. Wanita itu memberikan notes kecil berwarna biru dan membisikkan kalimat pada Yasmine. "Ini catatan pribadi Pak Biyash. Anda bisa menggunakannya. Maaf karena tadi nyaris tidak mempercayai anda."
Yasmine merasa begitu berterima kasih. Ia tidak tahu kalau Maya akan menemukan catatan itu dan memberikannya padanya.
"Karena kau menulis laporannya dengan sangat rapi dan mudah kupahami, aku bisa menyelesaikan meetingnya dengan baik dan menggantikan anda!"
Abiyasha tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk wanita itu. "Benarkah? Terima kasih banyak. Terima kasih, kau sudah meringankan masalahku. Terima kasih banyak," kata Abiyasha tulus.
Yasmine merasa dadanya berdesir hangat. Ia tersenyum tipis. Semua kekhawatirannya akan pria itu dan Amara sudah tidak lagi ada. Entah apa yang terjadi di antara mereka barusan dan entah apa yang sudah mereka lakukan, Yasmine senang Abiyasha tidak mendapatkan masalah.
Aku sudah menimbulkan satu masalah besar. Dan aku berjanji tidak akan menimbulkan masalahh lain, Bi. Aku berjanji...
"Sama-sama. Saya senang bisa membantu anda," kata Yasmine tulus. "Awww!" Yasmine merasa sikunya tanpa sengaja tertekan.
Abiyasha buru-buru melepaskan pelukannya. Pria itu bingung. "Ada apa?"
Yasmine meringis. Ia melepaskan jasnya. Lalu menyingkap bajunya yang sudah ternodai darah. Abiyasha membekap mulutnya ketika melihat sebagian lengan putih Yasmine sudah berubah warna menjadi merah. "Kau... Kenapa dengan tanganmu?"
"Siku saya terluka saat jatuh tadi. Tapi tidak apa-apa. Hanya luka kecil."
"Luka kecil katamu?!" Abiyasha berdiri. "Apa kau tidak bisa melihat betapa banyak darah yang ada pada pakaianmu?"
"Hanya sobek sedikit. Tidak perlu sampai dijahit." Yasmine tertawa kecil. Masih sempat bercanda. "Jangan khawatir, saya akan mengobatinya sendiri!"
"Kau terlalu banyak omong." Abiyasha meraih kotak P3K dalam lemari kacanya. Ia duduk di samping Yasmine dan menatap luka tersebut. Bagaimana mungkin dia menahan sakit saat meeting tadi?
Abiyasha membuka kotak tersebut. Mengeluarkan antiseptik, perban, dan obat merah.
"Pak, saya baik-baik saja. Anda tidak perlu repot-repot. Saya bisa mengobatinya sendiri," tolak Yasmine. Ketika Abiyasha meraih tangannya, Yasmine mencoba menariknya dan hal itu membuat luka pada sikunya semakin terasa sakit.
"Kau diam saja. Aku akan mengobatinya dengan pelan-pelan," katanya.
Abiyasha mulai membersihkan luka Yasmine. Berulang kali ia merintih karena menahan sakit. "Ah sakit, tolong pelan-pelan sedikit!"
"Kau bawel sekali. Telingaku bisa tuli, kau tahu?" meskipun mengatakan hal itu, tapi Abiyasha berusaha pelan-pelan membersihkan lukanya. Ia mencoba sepelan mungkin melakukan hal tersebut.
Sepanjang mengobati sikunya, Abiyasha tanpa sadar memegangi tangan Yasmine. Dan hal itu membuat Yasmine merasa panas-dingin. Ia berusaha mengabaikan hatinya yang terpesona pada kebaikan Abiyasha dengan mengingatkan dirinya sendiri kalau Abiyasha hanya mengobatinya. Tidak lebih.
"Kau baik-baik saja, kan?" tanya Abiyasha tiba-tiba.
"Saya?"
"Maksudku, aku tidak menyangka kalau Amara akan semarah itu padamu. Dia pasti tidak tahu kalau kau juga terluka," kata Abiyasha melembut.
Ada ketidaknyamanan ketika Abiyasha harus repot-repot meminta maaf untuk Amara. Hal itu menunjukkan kalau hubungan keduanya bukanlah hubungan yang biasa. Tadi, Amara bahkan memeluk Abiyasha dan memanggilnya dengan panggilan mesra. Tentu saja mereka punya hubungan spesial.
Bodohnya Yasmine yang percaya pada apa yang dikatakan Ronald tentang Abiyasha yang tidak pernah berkencan. Tidak pernah berkencan dari Hongkong?
Tapi kalau dilihat-lihat, Abiyasha dan Amara adalah dua orang sempurna yang sangat cocok menjadi pasangan. Memikirkan hal itu membuat Yasmine kesal sendiri.
"Kau melamun!" sergah Abiyasha kemudian.
Yasmine gelagapan. "Eh, saya baik-baik saja, tadi saya juga tidak menyadari kalau lukanya lumayan lebar. Jadi Bu Amara tidak bersalah, kok. Saya yang kurang hati-hati."
Abiyasha mengangguk. "Kau memang ceroboh. Kalau tidak mana mungkin kau bisa terluka sampai seperti ini?" gusar Abiyasha. Ia tidak suka melihat wanita itu terluka apalagi sampai sedemikian lebar.
Yasmine berdecih. Selesai mengobati sikunya, Abiyasha membebatnya dengan perban.
"Kau mau makan siang bersamaku?" kata pria itu sejurus kemudian.
Apa katanya?
...***...
...Bab ini terinspirasi darimu yang terluka...
...kemarin sore. Semoga cepat sembuh....
...IG : @_yuanitaaw...
Dulu aku punya keinginan menulis biografi (kisah hidupku pribadi)...pengen berbagi pengalaman & pembelajaran hidup.... tapi.... sulit.... mo mulai darimana.... makanya salut sama novelis2 sptmu....yg bisa menuangkan ide secara bebas....meski mungkin sambil merasa tertekan yaa.... tipa hari kayak yg dikejar2 biar bisa up.... hahaha...
semangat Yuanita....
bikin gemezzzz deh.....😣😣😣😣