"Kenapa?"
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Bukankah itu tak seharusnya di lakukan? Dan bukankah itu salah?"
"Seharusnya aku tak melakukan hal itu, karena aku sudah berjanji untuk melindungi Oliv bahkan dari diriku sendiri."
"Tapi tak bisa di bohongi, aku menginginkan dirinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 PDKT
"Kalian semua di skors!" Teriak Kepala Sekolah dengan penuh amarah.
Naomi dan empat temannya hanya bisa saling pandang dan saling menyalahkan atas apa yang terjadi sekarang.
Senin pagi selesai upacara mereka sengaja di panggil ke ruang Bu Senia untuk dimintai terkait masalah pengurungan Oliv di dalam gudang Sekolah.
"Naomi! Apa kamu gak malu, heh!? Kamu itu di sini gratis Sekolahnya. Papa kamu yang meminta keringanan karena perusahaan Papa kamu sedang mengalami kebangkrutan."
Naomi hanya diam, sedangkan teman-temannya berubah menjadi menatap sinis.
"Seharusnya kamu sekolah yang benar. Maaf jika perkataan ibu menyakitkan, itu biar kamu berfikir. Seharusnya kamu menggunakan kesempatan ini dengan tidak berulah."
"Kalian semua sudah besar. Jadi stop melakukan hal yang kekanak-kanakan!" Ucap Bu Senia lantang.
"Kalian boleh keluar. Kalian di skors 1 minggu." Bu Senia mengakhiri kemarahannya.
Ke-lima gadis itu beboyong-boyong meninggalkan ruangan Bu Senia.
Setelah keluar dari ruangan itu, Naomi ditinggalkan sendirian oleh ke-empat temannya.
"Kalian kenapa, sih?" Teriak Naomi merasa kesal karena merasa diabaikan.
"Sorry ya, Nom. Kami-kami gak mau lagi temenan sama lo. Ternyata lo itu bukan orang kaya lagi."
Ke-empat teman Naomi kembali berlalu. Naomi hanya bisa menahan tangis karena ulah teman-temannya itu.
Baru Naomi sadari, ternyata mereka semua mau berteman dengannya karena harta. Setelah mengetahui Perusahaan Papanya akan bangkrut mereka meninggalkan Naomi begitu saja. Benar-benar tak punya perasaan.
*****
Di kelas Oliv.
Oliv dan teman-temannya tampak sedang bergosip membahas Oliv yang di kurung di dalam gudang Sekolah. Semua siswa yang mengetahui hal itu sangat menyayangkan tindakan Naomi DKK ya g sudah kelewatan batas, dan bisa saja merenggut nyawa seseorang.
"Akulah super hero!!! Super hero yang menyelamatkan Oliv!" Teriak Javin, sambil naik ke atas meja.
Hening. Hanya terdengar seperti suara jangkrik.
Serentak para siswa meneriakinya.
"Huuuu!!!!"
Oliv dan yang lain terbahak-bahak.
"Eh! Tapi bener, loh. Kalo gak ada Javin mungkin Abang gue kesulitan nyariin gue." Bela Oliv.
"Tuh! Kalian denger. Udah di bilangin juga kalau gue ini super hero."
"Makasih ya, Vin." Ucap Oliv tersenyum.
Senyum merekah dan sangat indah, hingga membuat Javin seperti ketiban Love. Untuk pertama kali dia melihat Oliv yang tersenyum seperti itu. Senyum yang begitu manis.
Javin hanya cengar-cengir menggaruk tengkuknya. Dia tak bisa berkata-kata, jantungnya berdebar tak karuan.
Sejak hari itu, Oliv tak bersikap cuek lagi pada Javin. Walau kadang Oliv kesal karena tingkah Javin yang terlalu over.
Seperti sekarang, saat jam istirahat. Javin begitu banyak membawakannya berbagai cemilan, dengan alasan supaya Oliv tidak kelaparan. Oliv hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi Sally dan yang lain justru senang, karena mereka tidak susah-susah ke kantin atau mengeluarkan uang karena mereka juga kecipratan rejeki dari perhatian yang diberikan Javin pada Oliv.
"Liv, kamu gak usah pesen ojek langganan lagi. Aku bisa kok anterin kamu." Ucap Javin semakin memberikan perhatian.
"Gimana ya, Vin. Gue sih mau-mau aja. Tapi, gue takut bang Dre marah."
"Udah, gue bisa jelasin sama Bang Dre. Dari pada kamu pesen ojek yang belum tentu juga keamanannya mending aku yang anterin. Kalo aku yang anterin aku jamin kamu selamat hingga sampai ke rumah." Javin sangat bersemangat.
Oliv memukul pelan dada Javin. "Bisa aja lo, Vin."
"Yaudah, gimana?"
"Oke. Hari ini gue pulang bareng lo." Oliv tersenyum.
Serentak Sally dan yang lain menggoda mereka berdua.
"Cieeee!!!"
"Dih, apaan sih kalian?" Oliv terlihat kesal.
aq tunggu lanjutanx