DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
karomah palsu
BAB 4 - Karomah Palsu
Belum sempat Mbah Cahyo membisikkan apa yang harus dilakukan dan syarat apa saja yang harus dipenuhi, ketegangan di dalam kios itu mendadak terpecah. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang mendekat, diiringi percakapan ringan. Sepasang muda-mudi tampak berjalan tergesa-gesa menuju ke arah kios bakso milik Rahmat.
Melihat kedatangan dua calon pembeli itu, kilat licik seketika melintas di sepasang mata tua Mbah Cahyo. Lelaki sepuh itu tahu persis, ini adalah kesempatan emas yang dikirimkan takdir untuk semakin menguasai hati dan pikiran Rahmat serta Ratna yang berada di titik terlemah.
Mbah Cahyo langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi begitu tenang dan berwibawa, seolah-olah ia baru saja mengerahkan kekuatan gaib yang besar. Ia sengaja mengembuskan napas panjang, lalu menyuguhkan senyum misterius ke arah Rahmat, membiarkan suami-istri itu berpikir bahwa kedatangan sepasang muda-mudi tersebut adalah berkat kehadiran dirinya di sana.
Padahal, kenyataannya jauh dari hal mistis. Pasangan muda-mudi itu terpaksa melangkah ke kios Rahmat hanya karena mereka kehabisan menu di kedai bakso seberang jalan yang sudah terlalu ramai. Karena perut sudah telanjur lapar, mereka terpaksa memilih kios sepi milik Rahmat sebagai pilihan terakhir. Namun, bagi Rahmat yang akal sehatnya sudah lumpuh, momen kebetulan ini terlihat seperti sebuah keajaiban yang nyata.
Tiba-tiba, Mbah Cahyo tertawa terkekeh-kekeh. Suara kekehannya yang serak di dalam kios yang sepi itu, memutus pandangan Rahmat dan Ratna dari sepasang muda-mudi yang kian mendekat.
"Kalian lihat itu?" ujar Mbah Cahyo sambil menunjuk ke luar dengan dagunya, tatapannya penuh kemenangan yang semu. "Belum apa-apa, pelanggan sudah mulai berdatangan ke sini. Itu semua berkat aura Simbah yang sengaja ditarik ke kios ini untuk mengeluarkan kalian dari jurang kebangkrutan."
Mendengar klaim sepihak dari lelaki tua itu, sepasang suami istri tersebut seketika terdiam. Harapan palsu yang ditiupkan Mbah Cahyo langsung menyebar seperti obat bius. Tatapan mata Rahmat dan Ratna yang semula kuyu dan putus asa, kini tiba-tiba berbinar liar. Di dalam kepala mereka, bayangan pelunasan utang dan kebangkitan kios baksonya seolah-olah sudah terpampang nyata di depan mata.
“Nggih, Mbah… hatur nuhun, makasih banyak, Mbah,” sahut Rahmat dengan nada suara yang bergetar hebat karena saking emosionalnya. Pria itu benar-benar merasa telah menemukan dewa penyelamat di tengah badai hidupnya.
Tak lama kemudian, sepasang muda-mudi itu masuk dan berdiri tepat di depan gerobak bakso milik Rahmat.
“Mbak, pesan baksonya dua mangkuk ya, makan di sini,” ujar sang pemuda sambil mengedarkan pandangan, lalu menuntun pasangannya untuk mencari tempat duduk kosong yang tersedia di dalam kios tersebut.
Suara pesanan itu terdengar bagai musik paling indah di telinga Rahmat dan Ratna setelah berhari-hari kios mereka mati suri. Keduanya sempat terpaku selama beberapa detik, seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Sudah, cepat kalian layani mereka. Tak usah berpikir lagi,” ujar Mbah Cahyo dengan suara rendah namun penuh penekanan, seketika memutus lamunan sepasang suami istri tersebut.
Tanpa babibu lagi, Ratna langsung bangkit dari duduknya dengan cekatan. Mengabaikan rasa gemetar yang masih tersisa di lututnya, ia berjalan menuju gerobak untuk menyiapkan dua mangkuk bakso pesanan pertama mereka hari itu dengan penuh semangat yang menggebu-gebu.
Selagi Ratna sibuk menyiapkan dua mangkuk bakso pesanan pelanggan di gerobak, Mbah Cahyo tiba-tiba bangkit dari kursinya. Langkah kaki rentanya bergerak lambat, berjalan mendekati Ratna.
“Nduk, berapa bakso Simbah tadi? Simbah mau bayar,” ucap Mbah Cahyo sambil merogoh saku bajunya, mengisyaratkan seolah-olah urusannya di sana sudah selesai.
Mendengar ucapan itu, Ratna tidak langsung menjawab. Gerakan tangannya yang sedang menuangkan kuah bakso seketika terhenti. Ia berdiri mematung sejenak, menatap lelaki tua di hadapannya dengan dahi yang mengkerut kaku.
“Lah, Simbah mau ke mana? Terus… gimana kelanjutan pembicaraan kita yang tadi, Mbah?” tanya balik Ratna dengan raut wajah yang tampak sangat bingung sekaligus cemas.
Mendengar suara istrinya dan menyadari bahwa si Mbah bermaksud untuk pamit, Rahmat yang masih duduk di meja langsung tersentak. Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dan bergegas menghampiri mereka berdua di dekat gerobak.
“Piye iki, Mbah? Kok malah mulih?” (Gimana ini, Mbah? Kok malah pulang?) timpal Rahmat, menyela dengan nada suara yang memburu. Gurat ketakutan tercetak jelas di wajahnya, takut kalau satu-satunya kunci keselamatan kiosnya tiba-tiba pergi begitu saja.
Tanpa banyak bicara lagi, Mbah Cahyo merogoh saku baju luriknya, lalu menyodorkan secarik kertas kusam yang tampak sudah terlipat rapi. Kertas yang sebenarnya sudah ia siapkan jauh-jauh hari dari rumah, bahkan sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam kios milik sepasang suami istri itu.
“Simbah masih ada urusan lain yang harus diselesaikan,” ujar Mbah Cahyo sambil meletakkan kertas itu ke atas telapak tangan Rahmat yang masih gemetar.
Lelaki tua itu menatap lurus ke dalam manik mata Rahmat, lalu beralih ke Ratna dengan senyuman yang sulit ditebak. "Kalian pikir-pikir dulu diskusi kita tadi. Kalau kalian memang sudah bulat dan siap, datang saja ke tempat Simbah. Alamat rumah Simbah sudah ada di dalam kertas itu."
"Nggih, Mbah... kami akan diskusikan ulang bersama istri saya. Sudah, Simbah tidak perlu bayar, anggap saja bakso tadi sebagai rasa terima kasih saya pada Simbah," ujar Rahmat dengan tulus, menolak dengan halus tangan rentan Mbah Cahyo yang berpura-pura hendak merogoh saku.
Mbah Cahyo tidak menolak. Ia hanya mengangguk pelan, lalu memasukkan kembali tangannya ke dalam saku lurik dengan gerakan yang tenang.
"Yen wis mantep, langsung kerumah simbah wae, Le..." (Kalau sudah mantap, langsung kerumah Simbah saja, Le...) bisik Mbah Cahyo pelan, memberikan satu tatapan penuh arti sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kios.
Rahmat dan Ratna hanya bisa terpaku menatap punggung ringkih itu yang perlahan-lahan berjalan menjauh, lalu menghilang di balik pekatnya kabut sore desa. Di dalam genggaman tangan Rahmat, secarik kertas alamat itu kini terasa begitu berat—sebuah tiket yang tanpa mereka sadari akan membawa mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan yang sesungguhnya.
BERSAMBUNG
jangan lupa like back ke ceritaku 😁