NovelToon NovelToon
Mekanik Sang Ustadz

Mekanik Sang Ustadz

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kandungan dan kunci pas

Kandungan Alika kini memasuki bulan ketujuh. Perutnya yang mulai membuncit jelas terlihat di balik wearpack khusus yang ukurannya sudah dinaikkan dua nomor. Meski gerakannya tidak selincah dulu, Alika tetap bersikeras turun ke lantai bengkel setiap pagi. Baginya, aroma oli dan suara mesin adalah obat mual yang paling ampuh. Namun, bagi Farhan, pemandangan istrinya yang membungkuk di depan mesin motor besar adalah sumber kekhawatiran harian.

Pagi itu, Alika sedang mencoba menyetel klep sebuah mesin motor kustom. Ia duduk di kursi pendek, mencoba mencari posisi yang nyaman agar perutnya tidak tertekan. Keringat sebesar biji jagung tampak di pelipisnya karena suhu bengkel yang mulai memanas.

"Bunda, ini lapnya! Zidan sudah bersihkan bautnya juga!" teriak Zidan dengan penuh semangat.

Bocah empat tahun itu benar-benar menjadi bayangan Alika. Zidan memakai celemek kain hitam kecil dengan saku penuh kunci pas ukuran mungil. Ia sibuk mengelap bagian luar mesin yang bahkan belum selesai dikerjakan ibunya. Baginya, membantu Bunda adalah tugas negara yang paling penting.

"Terima kasih, Sayang. Taruh di nampan hijau ya, jangan sampai campur dengan baut yang kotor," instruksi Alika lugas tanpa menoleh, fokusnya masih pada celah katup yang presisi.

Farhan yang baru saja selesai menelepon pemasok suku cadang, melangkah keluar dari kantor. Ia berhenti di ambang pintu, menghela napas panjang melihat pemandangan di depannya. Istri yang sedang hamil besar dan anak balita yang belepotan oli di seluruh pipinya.

"Alika, sudah jam sepuluh. Matahari sudah tinggi dan udara di sini mulai pengap. Masuk ke dalam, istirahat," ujar Farhan sambil berjalan mendekat.

"Tanggung, Mas. Sedikit lagi selesai. Kalau ditinggal sekarang, aku harus cari celah napas mesinnya dari awal lagi," jawab Alika tanpa beranjak.

Farhan mengambil kunci pas dari tangan Alika dengan gerakan yang lembut namun tegas. Ia meletakkannya di atas meja kerja. "Tidak ada alasan 'tanggung'. Dokter bilang kamu tidak boleh terlalu banyak jongkok atau menghirup uap bensin terlalu lama di trimester ketiga ini. Ingat kejadian minggu lalu? Kakimu bengkak sampai tidak bisa pakai sepatu."

Alika mendongak, menatap suaminya dengan sisa-sisa tatapan keras kepalanya yang dulu. "Aku cuma menyetel klep, Mas. Bukan angkat blok mesin."

"Sama saja. Kamu sudah bekerja sejak jam delapan tadi," Farhan tidak mau kalah. Ia beralih menatap putra kecilnya. "Zidan, bantu Ayah. Ajak Bunda masuk ke rumah. Bilang kalau adik bayi di dalam perut Bunda sudah capek dan mau minum susu."

Zidan yang memang sangat protektif terhadap calon adiknya langsung berdiri tegak. Ia menarik ujung wearpack Alika dengan tangan kecilnya yang hitam terkena gemuk mesin.

"Bunda, ayo masuk! Adik bayi mau bobo. Kasihan Adik, Bunda. Nanti Adik pusing dengar suara berisik," celoteh Zidan dengan wajah serius yang meniru gaya bicara Farhan.

Alika akhirnya menyerah. Ia tidak bisa membantah jika "pasukan kecilnya" sudah bersatu. Ia memegang tangan Farhan untuk membantunya berdiri. Punggungnya terasa kaku dan pinggangnya mulai nyeri, efek dari terlalu lama duduk di kursi rendah.

"Kalian berdua ini kompak sekali ya kalau mau menyuruhku berhenti kerja," gerutu Alika, meski ada senyum tipis di wajahnya.

"Karena kami berdua sayang kamu, Al. Bengkel ini tidak akan bangkrut kalau kamu istirahat dua jam," balas Farhan. Ia merangkul pinggang Alika, menuntunnya berjalan perlahan menuju rumah mereka yang tersambung dengan area bengkel.

Zidan berjalan paling depan, seolah-olah menjadi pembuka jalan. "Ayo Bunda! Zidan sudah siapkan air putih di meja!"

Sesampainya di ruang tengah yang sejuk karena pendingin ruangan, Farhan membantu Alika duduk di sofa panjang. Ia segera mengambilkan air hangat dan handuk basah untuk menyeka noda oli di tangan dan wajah istrinya. Zidan ikut-ikutan sibuk; ia mengambil bantal sofa dan menyusunnya di belakang punggung Alika agar ibunya bisa bersandar dengan nyaman.

"Mas, aku tidak terbiasa diam begini. Rasanya badanku malah pegal semua kalau tidak pegang kunci pas," keluh Alika setelah meminum airnya.

"Belajarlah untuk diam sejenak, Al. Kamu sudah bekerja keras selama lima tahun ini untuk membangun tempat ini. Sekarang biarkan para mekanik senior yang menangani pekerjaan teknis berat. Kamu cukup jadi pengawas dari atas," Farhan duduk di lantai, mulai memijat kaki Alika yang memang terlihat sedikit bengkak.

Alika menatap tangan suaminya yang telaten memijat kakinya, lalu menatap Zidan yang sekarang malah tertidur di samping kakinya karena kelelahan setelah "bekerja" seharian. Ada rasa damai yang luar biasa menyelimuti hatinya. Dulu, ia adalah wanita yang tidak pernah bisa diam, selalu mencari pelarian di jalanan untuk menghindari rasa sepi dan penolakan keluarga. Sekarang, ia justru harus dipaksa diam untuk menjaga kebahagiaan yang sudah ia miliki.

"Mas, menurutmu anak kita yang kedua ini nanti bakal suka mesin juga seperti Zidan?" tanya Alika pelan.

Farhan tertawa kecil. "Kalau setiap hari diajak mendengarkan suara knalpot di dalam perut ibunya, sepertinya dia tidak punya pilihan lain. Tapi apa pun minatnya nanti, yang penting dia punya keberanian seperti Bundanya dan ketenangan seperti... ya, semoga sedikit mirip denganku."

Alika tersenyum lebar. Ia menyadari bahwa kebahagiaan yang ia miliki sekarang bukan karena ia telah berubah menjadi orang lain, tapi karena ia telah menemukan orang yang tepat untuk menemaninya tumbuh. Ia tetap Alika sang mekanik yang tangguh, namun kini ia adalah mekanik yang tahu kapan harus meletakkan alatnya dan beristirahat di pelukan keluarganya.

Malam itu, bengkel tetap berjalan di bawah pengawasan asisten kepala mekanik, sementara di dalam rumah, Alika tertidur lelap dengan Zidan di pelukannya. Farhan menatap mereka berdua dengan rasa syukur yang tak terhingga. Baginya, menjaga Alika adalah tugas paling mulia yang pernah ia ambil dalam hidupnya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NN
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!