"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Wajah Ranu makin memerah padam pas Galuh nanya pelan, "Mas? Ada apa sih dari tadi? Kok diam aja mukanya merah gitu? Ada masalah ya?"
Ranu langsung geleng-geleng kepala, buru-buru sembunyiin hp ke belakang badan. "Ah... nggak ada apa-apa! Nggak penting kok. Ayo, lanjut kerja lagi. Nanti telat selesainya."
Galuh cuma mengerutkan kening sebentar, tapi akhirnya nurut dan jalan duluan ke ruangan. Ranu napasnya masih berat, jantungnya berdegup kencang banget.
Buat Galuh hamil?
Pikiran itu muter-muter terus di kepalanya, nggak mau hilang. Dia geleng-geleng kepala keras. Astaga Ranu, kamu ini kenapa? Mereka bahkan belum pernah berduaan sejauh itu, belum pernah lakukan hal suami istri sama sekali! Kok bisa-bisa Mama ngomong gitu?
Sepanjang sore dia nggak fokus banget. Baca berkas tapi mata nggak masuk, tanda tangan malah salah nama. Galuh cuma bingung lihat tingkah bosnya yang aneh, tapi nggak berani nanya lagi.
Jam pulang akhirnya tiba. Mereka berangkat bareng. Begitu sampai di rumah, Arkan sudah nunggu di depan, langsung lari nyamperin. Galuh buru-buru turun dan gendong bocah itu erat.
"Ibu!"
"Arkan! Sayangnya ibuk! Udah kangen ya?"
"Kangen banget! ibuk tau nggak? Tadi di sekolah Arkan dapat bintang emas lho! Guru bilang gambar Arkan paling bagus!" cerita Arkan semangat banget sambil nunjuk dadanya.
"Wah hebatnya anak ibu! Pintar sekali ya!" puji Galuh sambil cium keningnya.
"hehehe, iya dong, buk. Buk, tau nggak tadi..."
Mereka ngobrol terus dari halaman sampai masuk ke dalam rumah, tertawa denger cerita konyol Arkan yang tadi kepleset waktu mau main ayunan sama temannya.
Ranu cuma senyum tipis lihat mereka, terus langsung naik ke lantai atas ke kamarnya. Dia pengen bersih-bersih, ngilangin penat seharian. Tapi pas air shower nyiram badannya, pikirannya malah melayang entah ke mana.
Tiba-tiba dia ngerasa ada tangan halus yang meraba dadanya pelan. Ranu menahan napas, perlahan menoleh. Di sana ada Galuh, senyum manisnya yang bikin deg-degan, matanya menatap lembut.
"Galuh!?"
Tanpa sadar Ranu maju, menyentuh wajah wanita itu, lalu cium bibirnya pelan. Ketika bibir itu bertemu, lidah itu saling menbelai.. Rasanya, hangat dan lembut...
"Ah!" Ranu tersentak kaget, langsung menepuk-nepuk wajahnya sendiri. Dia sendirian di kamar mandi! Cuma dia sendiri! Bayangan itu bener-bener nyata banget sampai dia hampir lupa napas. Dia jengkel, langsung putar keran air jadi deras banget. "Sialan, kenapa jadi begini sih?!"
Keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk di pinggang, dia lihat di atas kasur udah tersedia baju tidur lengkap, sampai celana dalamnya juga udah dilipat rapi.
"Ah, dia nyiapin semua lagi..."
Tiba-tiba Ranu merasa ada orang di belakang, dia menoleh cepat. Galuh berdiri di sana, pakai baju yang agak terbuka, tatapannya manja.
"Galuh... Kamu..."
Ranu mendekat, menyentuh lagi wajah wanita yang menggerai rambutnya. Ia sentuh bibirnya dengan jempol. Lalu, ia menarik lebih dekat, mendorong wanita itu sampai jatuh di kasur, lalu menindih tubuh mungil itu dan cium bibirnya dengan rakus.
"uummm... Apa ini? Kenapa rasanya..." pikir Ranu, lalu membuka mata... "Apa!?"
Rupanya, yang dia tindih dan cium cuma guling bantal besar!
Ranu mengerang kesal, lempar guling ke pinggir kasur. "Aduh... kenapa otakku kotor banget sih cuma gara-gara omongan Mama? Bisa gila aku begini!" Dia geleng-geleng kepala keras, berusaha tenang.
Setelah pakai baju rapi, dia turun ke bawah. Galuh lagi duduk di karpet ruang tengah sama Arkan, pakai baju tidur kaos longgar dan celana pendek biasa, sambil ketawa lepas main kartu. Ranu sampai ngucek mata berkali-kali, takut ini cuma khayalan lagi.
"Papa!" Arkan melambaikan tangan semangat. "Papa ayo ikut main!"
"O- oh ya? Main apa?"
Arkan berlari mendekat dan meraih tangan Ranu. "Kita main tebak kartu Pah! Yang kalah dicoret pipinya pakai bedak!"
Ranu tersenyum lega, ini beneran Galuh. Dia duduk di sebelah anaknya. "Boleh tuh. Siapa takut ya?"
Mereka main seru banget. Giliran Arkan tebak salah, pipinya dicoret garis panjang pakai kapas bekas bedak. "Hahaha! Papa curang!" teriak Arkan sambil ketawa.
"Bukan curang, kamu aja yang kurang teliti Arkan," goda Ranu. Giliran Galuh kalah, Arkan coret hidung ibunya sampai mirip badut. "Arkan nakal ya!" seru Galuh sambil gelitikin anaknya. Arkan tertawa guling-guling sampai terbahak-bahak. Giliran Ranu yang salah tebak, Galuh coret kedua pipi Papa sampai rata putih. "Nah, Papa sekarang paling cantik!" kata Galuh tertawa. Ranu cuma geleng-geleng kepala ikut senyum, hati yang tadinya kacau perlahan tenang lagi.
Malam makin larut. "Papa, malam ini Arkan mau tidur sama Papa ya?" minta Arkan sambil peluk lengan Ranu.
"Boleh dong, Nak. Ayo ke kamar Arkan," jawab Ranu lembut. Mereka berdua naik ke kamar Arkan, ngobrol soal bintang, soal kucing di sekolah, sampai Arkan akhirnya terlelap pelan-pelan. Ranu pun tidur menyamping di sebelah ranjang kecil itu, kelelahan.
Galuh habis bantu Mbak Siti beresin meja makan dan cuci piring, naik ke atas mau istirahat. Pas intip kamar Arkan, udah sunyi senyap. Papa dan anaknya udah tidur pulas. Dia nggak enak mau tidur bertiga di situ, sempit. Jadi dia mundur pelan, turun lagi ke bawah dan tidur di sofa ruang tengah.
Tengah malam, dia tiba-tiba terbangun. Rasanya hangat banget, ada pelukan erat di pinggangnya, napas hangat menyentuh leher. Dia buka mata pelan, kaget bukan main.
"A apa? Ini... dimana?" jerit batinnya.
Dia bukan di sofa lagi. Dia udah ada di kamar Ranu, di atas kasur empuk. Dan Ranu tidur di belakangnya, peluk dia erat banget seolah takut hilang.
Galuh nggak berani bergerak. Jantungnya berdegup kencang lagi.
"Gimana aku bisa ada di sini? Aku... Nggak mungkin berjalan dalam tidur kan?"
"tunggu! Tadi... Tadi kalau nggak salah... Aku tidur di sofa karena Mas Ranu tidur sama Arkan... Lalu... Kenapa kami udah di sini... apa.. Apa mas Ranu yang pindahin?"
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up