Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Dunia di sekitarku seakan menyempit. Kata "menikah" yang diucapkannya bukan lagi sebuah tawaran, melainkan vonis penjara seumur hidup. Saat dia melumat bibirku dengan kasar, aku tidak merasakan kasih sayang, melainkan tuntutan yang mencekik. Itu adalah sebuah "penandaan" seolah dia ingin memastikan bahwa setiap inci dari diriku kini benar-benar menjadi miliknya, tanpa sisa, tanpa kebebasan.
Aku mencoba memalingkan wajah, namun cengkeramannya yang kuat pada rahangku memaksaku untuk tetap menatap matanya yang dingin. Di sana, aku tidak menemukan cinta. Yang ada hanyalah obsesi yang haus akan kontrol. Dia tidak membiarkanku bernapas, tidak membiarkan pikiranku berkelana mencari jalan keluar.
Setiap ciuman kasarnya adalah pengingat bahwa pilihanku sudah dirampas. Aku merasa seperti objek yang sedang diklaim, dihancurkan, dan dibentuk ulang sesuai dengan keinginannya yang bengis. Di balik kepasrahan fisik yang terpaksa kulakukan, pikiranku mulai menjerit. Rasa sakit yang menjalar tidak lagi sebanding dengan kehancuran mental yang kurasakan saat menyadari bahwa pria yang pernah kucintai kini telah berubah menjadi sosok yang paling kutakuti.
Air mata yang jatuh ke bantal hanyalah saksi bisu atas kebebasan yang perlahan dicabut dariku. Dia tidak peduli pada apa yang kurasakan dia hanya peduli pada fakta bahwa aku tidak bisa lagi melarikan diri darinya.
Di bawah intensitas kekerasannya, tubuhku terasa bukan lagi milikku sendiri. Setiap sentuhannya terasa seperti invasi, sebuah upaya sistematis untuk menghapus setiap sisa diriku yang dulu pernah ia kenal. Dia tidak mencari keintiman dia mencari kepatuhan mutlak melalui rasa sakit. Tidak ada ruang untuk perlawanan, tidak ada celah untuk memohon belas kasihan.
Tangisanku, yang sedari tadi pecah karena rasa sakit yang tak tertahankan, perlahan mulai melemah seiring dengan memudarnya kesadaranku. Suara napasnya yang berat dan detak jantungnya yang berpacu di atas tubuhku terasa seperti gema dari dunia yang sangat jauh. Di balik kabut kesadaran yang menipis, aku hanya bisa merasakan kehampaan yang luar biasa. Dia sedang mengukir kekuasaannya di atas kulitku, menanamkan rasa takut yang begitu dalam hingga membuatku seolah kehilangan jati diri.
Saat duniamu mulai menggelap dan kesadaran benar-benar hilang, yang tersisa hanyalah kegelapan total. Dia mungkin merasa telah mencapai puncak kemenangannya sebuah penaklukan di mana ia menganggap telah "hancur" sepenuhnya sesuai dengan keinginannya.
Namun, di dalam kegelapan itu, terkadang kesadaran yang terputus adalah bentuk pertahanan diri terakhir dari jiwa yang tak lagi mampu menanggung beban penderitaan.
Aku mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan penglihatan yang masih kabur dengan cahaya lampu kamar yang terasa menusuk mata. Tubuhku terasa seperti baru saja dihancurkan dan disusun kembali dengan kasar setiap kali aku mencoba menggerakkan otot, nyeri hebat menghantam sekujur tubuhku.
Saat aku menyadari bahwa aku sudah bersih dan mengenakan pakaian yang rapi, rasa mual menyerangku. Dia telah menyentuhku setelah semua itu, dia telah memakaikan pakaian ini seolah-olah aku adalah boneka miliknya yang harus selalu terlihat sempurna.
Langkah kakinya yang tenang mendekat. Kehadirannya di samping tempat tidur membuat napasku tercekat, bukan karena cinta, melainkan karena insting untuk bertahan hidup yang berteriak. Dengan gerakan yang sangat kontras dengan apa yang dia lakukan beberapa jam lalu, jemarinya yang dingin merapikan anak rambutku yang berantakan.
"Bersiaplah, kita akan pulang," ucapnya. Suaranya rendah, lembut, namun ada kesan dingin yang menusuk di sana—sebuah nada yang tidak memberikan ruang untuk penolakan.
Dia menunduk, memberikan kecupan ringan di keningku, lalu melumat bibirku sekilas. Ciuman itu tidak terasa hangat; itu adalah tanda kepemilikan. Setelah itu, dia berbalik dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi, membiarkan pintu tertutup rapat di belakangnya.
Di dalam keheningan itu, aku terbaring kaku. Dia menganggap ini sudah selesai, dia menganggap aku sudah "dijinakkan". Namun, saat tanganku menyentuh seprai tempat tidur, kukuku mencengkeram kain itu dengan kuat. Dia tidak tahu bahwa di balik keheninganku, di balik rasa sakit yang meremukkan tubuhku, ada satu bagian dari diriku yang baru saja terbangun: keinginan untuk membalas yang jauh lebih kuat dari rasa sakit apa pun yang dia berikan.
Aku tidak lagi menangis. Aku hanya menatap pintu yang tertutup itu, menyadari bahwa "pulang" bersamanya bukan berarti aku kalah. Ini hanyalah langkah pertama untuk menghancurkan segalanya dari dalam.