NovelToon NovelToon
SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE

Status: tamat
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:189.8k
Nilai: 5
Nama Author: Y. A

Steven Kim murid pindahan baru dari Singapura. Memasuki sekolah international elit dan langsung ditempatkan pada kelas khusus yang berisi anak dengan IQ diatas rata-rata.

Mendapatkan kekaguman dan perlakuan berbeda meskipun dia bersikap seenaknya. Bahkan kepala sekolah menghormatinya. Kenapa dia begitu dihargai dan dihormati? kenapa tidak ada guru yang berani membuatnya marah? padahal Steven bukanlah berasal dari keluarga yang terlalu kaya, tapi dia memiliki black card di dompetnya. Yah...setidaknya ada 3 black card, apa rahasia yang ia sembunyikan?

Disekolah, ia mulai tertarik dengan seorang gadis polos kelas 11. Wakil ketua OSIS yang terkadang mendapatkan bullian karena latar belakang keluarganya.

"Sepertinya matamu tidak berfungsi dengan baik."

" Apa? Kamulah yang menabrakku!"

Kepribadian berani, polos dan naif Clara membuat Steven ingin bermain-main sedikit dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Y. A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si culun yang berbahaya

Seperti biasa, hari Senin sekolah begitu sibuk. Semua anak tampak tergesa-gesa. Saat-saat seperti ini adalah saat dimana semua anak melupakan segala hal. Mereka sibuk belajar dan mengejar prestasi yang penuh persaingan, atau sekedar mempertahankan batas poin untuk syarat kenaikan kelas atau kelulusan yang ditetapkan sekolah.

Pembullian akan berkurang bahkan sama sekali tidak ada. Semuanya fokus pada nilai. Bahkan daerah kantin yang biasanya ramai menjadi sepi. Kalaupun ada hanya beberapa siswa yang makan sambil beajar. Suasana sekolah bisa seperti perpustakaan diarea manapun.

Steven sungguh bosan, ia menatap sesaat Fajar yang tampak serius dengan wajah kaku menatap bukunya. Lalu ia menoleh ke belakang, dimana dua sahabatnya yang sama seriusnya dengan yang lain. Ia merindukan Clara namun ia sadar kehadirannya hanya akan mengganggu. Pada akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan mulai bermain game.

.

Di atas sebuah gedung apartemen, Arnold berdiri menghadap hamparan gedung. Fokusnya adalah gedung sekolah yang tepat berada di depan gedung apartemennya. Tangannya mengepal erat, ia menoleh sekilas saat pintu menuju atap terbuka. Ia tahu siapa yang datang, karena itu ia diam saja.

"Katakan!" perintahnya.

Seorang anak sekolah yang memakai kaca mata tebal berdiri di sana bersama dua orang teman Arnold di kiri kanannya. Ia tampak jelas ketakutan dan terintimidasi.

"Sa-Saya belum mendapatkan nomornya. Me-Menurut rumor yang beredar. Dia mengganti ponsel dan juga nomornya. Ponsel mahal yang gosipnya dibelikan kak Steven."

"Steven?" ulangnya.

Arnold sangat mengenal Steven dan tabiatnya. Steven tidak pernah menaruh perhatian pada wanita manapun. Meskipun wanita itu berada di lingkungan pertemanannya. Sampai membelikan ponsel, Arnold yakin hubungan mereka dekat.

"Me-Mereka pacaran," lanjut anak berkacamata itu.

Arnold mengernyit, ia belum pernah mendengar istilah itu selama ia mempelajari bahasa Indonesia sebelum ke sini. Maka ia berbalik dan menatap kedua temannya bergantian.

"Pacar, boyfriend," jawab salah satu temannya.

Mendengar hal itu membuat ia tersenyum sinis.

"Sangat menarik, dapatkan nomor ponselnya dan cari tahu latar belakangnya."

.

Sekolah sudah selesai, karena minggu ini hanya ada ujian, jadi anak-anak hanya sekolah setengah hari. Namun tetap saja masih banyak yang berkeliaran di sekolah karena mereka belajar berkelompok membahas soal.

Clara tergesa-gesa berlari ke arah taman belakang setelah mendapatkan pesan dari Steven yang menyuruhnya segera kesana. Dengan senyum terukir di bibirnya, ia berlari kecil untuk menemui Steven. Namun naas, di pembelokan lorong sekolah ia menabrak bahu seseorang sehingga ia terhempas mundur ke belakang.

"Oh! Maaf Kak, Maafkan saya!" ujar anak itu sambil membantu Clara yang terjatuh untuk bangun.

Clara mendongak, seorang anak laki-laki yang tidak dikenalnya. Berkaca mata tebal dan tampak sangat asing. Potongan rambutnya juga seperti orang tua.

"Tidak apa - apa! " jawab Clara pelan dan hendak melanjutkan langkahnya sebelum ia meringis saat merasakan sakit di pergelangan kakinya.

"Kakak kakinya sakit? Biar saya bantu ke ruang kesehatan ya Kak!" kata anak itu.

"Hah? Tidak usah, aku mau ke taman belakang. Nanti saja!"

"Tapi kaki kakak sepertinya terkilir, kalau begitu saya bantu jalan saja, kakak mau ke taman belakang?"

Clara hanya mengangguk, sesungguhnya ia tidak ingin dibantu, namun kakinya benar-benar terasa sangat sakit. Akhirnya ia mengangguk dan membiarkan anak itu memapahnya.

"Kakak wakil OSIS kan? Kak Clara? Kenalkan, nama aku Jaka." Clara melirik sekilas.

"Kelas satu? kenapa kamu jarang telihat?" Anak bernama Jaka itu tersenyum ramah.

"Aku suka bersembunyi, biasanya di perpustakaan, karena kalau berkeliaran bisa dikerjai anak-anak," jawabnya.

Clara paham, tentu saja. Banyak anak - anak kaya yang memang punya hobi membulli anak yang lebih lemah atau anak dengan ekonomi menengah, yang sekolah karena beasiswa.

Mereka sudah sampai di taman belakang, Steven terlihat sedang berbincang santai dengan teman-temannya. Namun saat ia melihat Clara yang dibantu oleh Jaka, tatapannya berubah dingin. Ia bangkit dan langsung mengambil alih tubuh Clara.

"Ada apa dengan kakimu?"

Namun bukannya Clara yang memjawab melainkan Jaka dengan suara tenangnya. Tidak ada rasa takut sama sekali seperti anak lain saat berhadapan dengan Steven.

"Kak Clara tadi jatuh karena menabrak saya Kak. Maafkan saya karena saya tidak hati-hati," katanya.

Steven menoleh, menatap anak laki-laki yang berpenampilan culun itu. Tapi Steven yang cerdas, bisa menilai ada sesuatu yang salah dan perlu diwaspdai. Sorot mata itu, Steven mengenal seseorang yang memiliki sorot mata yang sama sepertinya.

"Jika aku melihat kamu di dekat Clara lagi, kupastikan kamu akan masuk rumah sakit," dingin dan penuh ancaman. Steven tidak ingin membiarkan anak seperti Jaka mendekati Claranya.

"Steve! Apa-apaan sih!" tegur Clara.

Dia melirik Jaka yang kini tersenyum tipis dan pamit untuk pergi. Begitu berbalik, senyum itu menghilang dan raut wajahnya berubah datar.

"Jangan pernah bicara lagi dengannya!" Perintah Steven. Mereka sudah duduk di bangku dan Steven memeriksa kakinya.

"Dia hanya adik kelas biasa kenapa kamu berlebihan. Dia tidak akan berani macam-macam," kata Teddy yang di angguki semua orang.

"Adik kelas biasa? dia sama sekali tidak terlihat biasa. Anak itu berbahaya."

Semua orang bertukar pandang. Teman-temannya jelas langsung percaya setelah mendengar perkataan Steven. Mereka mengenal Steven sejak lama dan Steven tidak pernah salah menilai seseorang dengan otak jeniusnya. Berbeda dengan Clara.

Clara menyangkal dengan hatinya meskipun dia diam saja. Steven tentu saja bisa melihat ketidak percayaan itu, namun ia hanya membiarkannya. Steven tidak ingin berdebat saat ini.

"Sudah enakan?" tanya Steven setelah selesai memijatnya.

Clara menggerak-gerakkan kakinya dan mengangguk dengan cepat. Kakinya memang terasa tidak sesakit yang sebelumnya, hanya sedikit-sedikit jika digerakkan terlalu kuat.

"Bagaimana kamu bisa melakukannya? Ini jauh lebih baik!"

"Apa yang tidak bisa dilakukannya, anak jenius ini memang selalu buat kami iri." kata Sam.

"Bagaiman ujianmu?" tanya Steven, mengabaikan perkataan Sam.

"Aku kawatir kalau nilaiku tidak cukup. Bagaimana kalau kali ini nilaiku turun dan tidak mencukupi."

"Maka aku akan membiayai sekolahmu," jawab Steven enteng.

Tentu saja Clara mendelik dan menatapnya tidak suka. Sementara Sam memijit keningnyanya dan Ted menggeleng pelan, tidak percaya akan apa yang didengarnya.

"Pemikiranmu kadang masih seperti anak SMA biasa. Yah ... aku akui kamu jenius tapi bodoh dalam percintaan," ucap Bob dengan nada sarkasnya. Membuat Clara yang tadi hendak protes malah tertawa.

"Bagiku penyelesaian masalah adalah dari hal yang termudah," lanjut Steven.

"Kamu akan membuat masalah dengan orang tuamu, ya ampun ... kecuali kamu sudah bekerja dan mapan finansial. Tidak minta orang tua lagi," kata Clara setengah tertawa.

Untuk yang satu ini ketiga temannya memang tidak bisa berkomentar apapun karena nyatanya Steven memang sudah mapan secara finansial. Bahkan sangat kaya raya.

Steven mendengus dan bangkit berdiri. Ia menelfon seseorang dan menyuruh teman-temannya pulang.

"Kamu tidak pulang?" tanya Sam.

"Aku akan pergi, kalian pulang dan belajar yang rajin, mengingat otak pas pasan tidak akan bisa memasuki kelasku," katanya dengan nada ejekan.

Steven membelai kepala Clara dan menatapnya dengan lembut. "Masuklah ke asrama, aku akan segera pergi."

Clara mengangguk, wajahnya sudah memerah karena perlakuan lembut Steven di depan teman-temannya. Dia sangat malu, sehingga dengan cepat berbalik dan berjalan ke gedung asrama yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.

"Manis sekali pria tampan ini," sindir Bob setelah Clara diluar jarak dengar.

"Ayo pulang," kata Steven tampa menanggapi.

Dalam perjalanan menuju parkiran, mereka berpapasan dengan Aldo dan teman-temannya. Steven berhenti, begitupun dengan Aldo. Mereka saling lempar tatapan mematikan sebelum Aldo menyeringai dan berlalu begitu saja.

"Tampaknya dia punya sesuatu untuk menjatuhkanmu," ujar Sam.

"Aku akan menunggunya dengan semangat."

Jawaban yang penuh percaya diri itu membuat teman-temannya tersenyum lebar.

1
qquokka
kekk film bjiirrr tegang betttt/Sob/
widiya jaishy
iya kirain anak sma yang menyenangkan dan setelah lulus jg g ada yg kaya ginj
widiya jaishy
yang ceweknya clara kok bego bgt kesel aq pdhal awal2 berani lama2 kok jadi lembek bgt
widiya jaishy
Luar biasa
Aryasiregar
seson 2 nya mana Thor
Lian Lianta
waw......sangat menarik.....





semangat thor
💗vanilla💗🎶
bucin 😀
💗vanilla💗🎶
bikin gosip aja ni steven
💗vanilla💗🎶
mampir ni thor 😊
fa_zhra
awal baca kirain crt ttg romansa anak sma.makin kesini tyt malah ttg dunia mafia😄
fa_zhra
cerita nya menarik,baru sempet komen saking asik nya baca
fa_zhra
mgk bapak nya steven ini STY🤭🤭
Kim Naeun
seru bgt ceritanya..tapii berasa kurang klimaks pas ending nyaa
Sak. Lim
klaw percaya org tu jgn cemburu,trus di deketin jgn di cuekin gobloooook
Sak. Lim
MC koplooooook otak nya di pantatnya
Sak. Lim
itu la otak kotor,kata nya jenius
Sak. Lim
sama 2 idiot
Sak. Lim
ayah kmu gobloooook trmkan hasutan
Sak. Lim
klaw ga mau di knal ga usa jdi mc bro.mndingan jdi pelayan.ga ada yg kenal
Sak. Lim
goblokkkk klaw kmu putus sama mc mkin susah hidup kmu jlnin tiap hari nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!