Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Kembali Ke Klan Lin
Penjaga gerbang Klan Lin tentu mengenal Lin Chen.
Selama tujuh tahun terakhir, Penjaga Tong bertugas menjaga pintu masuk utama klan. Ia telah melihat hampir semua anggota keluarga keluar masuk setiap hari. Namun ada satu orang yang sulit dilupakan, bukan karena prestasi atau bakatnya, melainkan karena nasibnya.
Lin Chen adalah satu-satunya anggota klan yang lahir dengan Meridian Spiritual rusak dan gagal berkembang selama bertahun-tahun.
Namun saat melihat pemuda yang berdiri di depan gerbang pagi itu, Penjaga Tong tidak langsung yakin dengan apa yang dilihatnya.
Wajahnya memang sama.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Dan yang paling sulit dijelaskan, aura yang mengelilinginya.
"Lin... Chen?" tanyanya ragu.
Lin Chen mengangguk sopan.
"Penjaga Tong."
Sapaan itu sama seperti dulu. Tidak berlebihan, tidak pula dingin.
"Aku sudah kembali dari tugas pencarian herbal."
Penjaga Tong mengedipkan mata beberapa kali.
Sebagai kultivator Tingkat Tujuh Alam Kebangkitan Roh, ia mampu merasakan aura orang lain meskipun tidak terlalu mendalam. Namun aura Lin Chen saat ini terasa berbeda dari yang ia ingat.
Aura nya entah kenapa, lebih menekan.
Yang membuatnya semakin tidak nyaman adalah ia tidak bisa membaca tingkat kultivasi Lin Chen dengan jelas.
"Kau... membawa teman?" tanyanya sambil melirik Huo Ling'er.
"Rekan perjalanan." Lin Chen menoleh ke samping.
Huo Ling'er hanya menatap Penjaga Tong sekilas.
Tatapannya tenang dan datar, seolah ia tidak merasa perlu memberikan penjelasan tambahan.
Penjaga Tong menelan ludahnya.
Entah karena instingnya sebagai kultivator atau karena tekanan samar yang dipancarkan dua orang di hadapannya, ia memutuskan tidak mengajukan pertanyaan lagi.
Gerbang besar pun dibuka.
"Silakan masuk."
Lin Chen melangkah ke dalam.
Pemandangan yang menyambutnya masih sama seperti yang ia ingat.
Beberapa pelayan sibuk membawa sarapan menuju aula keluarga.
Di lapangan latihan sebelah utara, beberapa anggota muda klan sedang berlatih teknik dasar dengan penuh semangat.
Di taman utama, seorang tetua tua duduk membaca gulungan bambu sambil menikmati teh pagi.
Semuanya tampak biasa.
Namun ketika Lin Chen melewati mereka, suasana perlahan berubah.
Percakapan terhenti sesaat.
Beberapa orang menoleh.
Latihan yang sedang dilakukan melambat sepersekian detik.
Tidak ada yang berkata apa-apa, tetapi semua orang sadar akan kehadirannya.
Seolah seseorang yang seharusnya tidak kembali tiba-tiba muncul di depan mata mereka.
Lin Chen tidak memedulikan tatapan itu.
Ia berjalan lurus menuju aula utama.
Di dalam aula, Lin Hai sedang menikmati sarapan bersama dua orang tetua klan.
Mereka tampak tengah membahas sesuatu yang cukup penting dari cara mereka berbicara dengan serius.
Ketika pintu aula terbuka, Lin Hai mengangkat kepalanya dengan santai.
Namun ekspresinya langsung membeku.
Untuk pertama kalinya sejak Lin Chen mengenalnya, sang paman terlihat benar-benar terkejut.
"Lin Chen..."
Suara itu tetap tenang, tetapi keterkejutan di dalamnya tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.
"Kau kembali."
Lin Chen berdiri di tengah aula.
Ia tidak membungkuk berlebihan.
Tidak pula mengambil tempat duduk.
Sikapnya tenang dan wajar.
Namun justru ketenangan itulah yang terasa paling berbeda.
"Aku kembali." Jawabannya sederhana. "Dan aku berhasil membawa semua herbal yang diminta."
Ia berhenti sejenak.
"Lagipula, aku juga membawa sesuatu yang lebih berharga."
Tatapan Lin Hai langsung berubah.
Jika sebelumnya ia terkejut, sekarang ia menjadi waspada.
"Lebih berharga?"
tanyanya perlahan.
Matanya menyapu tubuh Lin Chen dari atas ke bawah.
Mencoba membaca.
Mencoba memahami.
Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi selama hampir satu bulan terakhir.
Namun semakin ia mengamati, semakin sulit ia memahami pemuda yang berdiri di depannya.
Lin Chen tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Klan Lin, senyum itu benar-benar mencapai matanya.
"Kita perlu berbicara, Paman."
Nada suaranya tenang.
"Tapi tidak perlu terburu-buru."
Ia melirik meja sarapan di depan mereka.
"Selesaikan sarapan kalian terlebih dahulu."
Setelah mengucapkan itu, Lin Chen tetap berdiri dengan tenang.
Sementara di dalam aula, suasana perlahan berubah menjadi hening.
Setelah itu mereka menuju ruang pertemuan pribadi Lin Hai, disana terasa jauh lebih sempit daripada yang diingat Lin Chen.
Mungkin bukan ruangannya yang berubah, melainkan dirinya.
Furnitur kayu berwarna gelap masih tertata rapi seperti dulu. Lukisan kaligrafi tua masih menggantung di dinding yang sama, sementara aroma dupa yang samar tetap memenuhi ruangan dengan kesunyian yang menenangkan sekaligus menekan.
Semuanya masih sama.
Namun kali ini, Lin Chen tidak lagi merasa kecil ketika berdiri di dalam ruangan tersebut.
Di hadapannya, Lin Hai duduk di balik meja besar bersama dua orang tetua klan. Ketiganya memperhatikan Lin Chen dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Huo Ling'er tidak ikut masuk.
Atas permintaannya sendiri, ia memilih menunggu di taman luar.
"Ini urusanmu, bukan urusanku."
Itulah yang dikatakannya sebelumnya.
Dan Lin Chen setuju.
Beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Akhirnya Lin Hai memecah keheningan.
"Kau terlihat berbeda."
Nada suaranya tenang, tetapi ada kehati-hatian yang tidak pernah ia tunjukkan kepada Lin Chen sebelumnya.
"Aura yang kau pancarkan juga berubah."
Lin Chen tersenyum tipis. "Gunung Cang Lei ternyata tidak sepenuhnya sia-sia."
Tatapan Lin Hai menjadi lebih tajam.
"Meridianmu..."
"Masih bukan urusan klan untuk diteliti terlalu jauh."
Jawaban itu membuat kedua tetua saling berpandangan.
Lin Chen menarik sebuah kursi dan duduk tanpa menunggu izin.
Gerakannya sederhana, tetapi cukup membuat suasana berubah.
Dulu, Lin Chen tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.
Dulu, ia selalu berhati-hati agar tidak dianggap lancang.
Sekarang tidak lagi.
Ia duduk dengan tenang, seolah memiliki hak yang sama untuk berada di ruangan itu.
Dan kenyataannya memang demikian.
"Aku datang karena ingin menanyakan sesuatu."
Suara Lin Chen terdengar datar.
"Pertanyaannya sederhana. Dan aku berharap jawabannya juga sederhana."
Lin Hai tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang Lin Chen dan menunggu.
Lin Chen menatap balik tanpa mengalihkan pandangannya.
"Orang tuaku."
Ruangan itu langsung menjadi sunyi.
"Sembilan tahun lalu mereka pergi. Sejak saat itu tidak ada seorang pun yang memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi."
Tatapan Lin Chen menyapu wajah ketiga orang di hadapannya.
"Jadi aku ingin mendengar jawabannya sekarang."
Keheningan yang muncul kali ini terasa jauh lebih berat.
Penatua Lin Dao menggeser posisi duduknya sedikit.
Penatua Lin Shan bahkan tidak bergerak sama sekali.
Namun justru sikap diamnya itu yang paling banyak berbicara.
Mereka tahu sesuatu.
Dan mereka tidak nyaman membicarakannya.
Lin Hai menghela napas pelan.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu."
"Tidak?" Nada suara Lin Chen tetap tenang. "Pertanyaan ini sudah menunggu selama sembilan tahun."
Ia bersandar sedikit di kursinya.
"Menurutku itu lebih dari cukup."
Lin Hai terdiam.
Ada pergulatan di matanya.
Bukan soal mengatakan kebenaran atau berbohong.
Melainkan memilih bagian mana dari kebenaran yang akan ia ungkapkan.
Pada akhirnya, ia membuka mulutnya.
"Orang tuamu menghilang saat menjalankan misi yang diberikan oleh Istana Surgawi."
Setiap kata diucapkan dengan hati-hati.
"Detail misi tersebut dirahasiakan. Bahkan aku tidak mengetahui seluruh isinya."
Lin Chen tidak langsung bereaksi.
Ia hanya menatap Lin Hai selama beberapa detik.
Mencari sesuatu.
Kebohongan.
Keraguan.
Atau mungkin rasa bersalah.
Namun wajah pamannya terlalu terlatih untuk dibaca dengan mudah.
Akhirnya Lin Chen mengangguk pelan.
"Terima kasih atas jawabannya."
Nada suaranya tidak menunjukkan apakah ia mempercayai penjelasan itu atau tidak.
Ia berdiri dari kursinya.
"Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui, Paman."
Lin Hai mengangkat alis.
"Apa itu?"
"Negosiasi dengan Sekte Fajar Besi."
Lin Chen merapikan lengan jubahnya.
"Batalkan."
Ketiga orang di ruangan itu langsung berubah ekspresi.
"Atau setidaknya tunda sampai kau memiliki informasi yang lebih lengkap."
Lin Hai mengernyit.
"Dari mana kau mengetahui hal itu?"
Lin Chen tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Sebaliknya, ia berjalan menuju pintu.
"Kau akan segera mengerti alasannya."
"Lin Chen..."
Namun pemuda itu sudah membuka pintu.
Ia keluar tanpa memberi kesempatan bagi siapapun untuk menghentikannya.
Di luar aula, Huo Ling'er masih duduk santai di teras taman.
Satu kakinya dilipat, sementara pandangannya tertuju pada kolam kecil yang memantulkan cahaya matahari pagi.
Ketika Lin Chen keluar, ia mengangkat kepalanya.
"Dapat jawaban yang kau cari?"
Lin Chen berhenti di tepi tangga.
Matanya menatap langit biru yang membentang di atas kompleks Klan Lin.
"Hanya sebagian."
Huo Ling'er menunggu penjelasan lebih lanjut.
Lin Chen tersenyum tipis. "Yang penting bukan jawaban yang mereka berikan."
"Lalu?"
"Konfirmasi."
Huo Ling'er mengangkat alis. "Konfirmasi apa?"
Lin Chen menarik napas panjang.
Bahunya terasa lebih ringan dibanding sebelumnya.
"Ada sesuatu yang mereka sembunyikan."
Angin pagi berembus perlahan melewati halaman.
Daun-daun pohon bergoyang lembut.
Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri dalam diam.
Kemudian Lin Chen mengalihkan pandangannya ke arah gedung utama Klan Lin.
Tatapannya tenang.
Namun jauh di dalam matanya, nyala api yang selama ini tersembunyi mulai menyala semakin terang.
"Itu sudah cukup untuk saat ini."
Karena sekarang ia tahu satu hal dengan pasti.
Jawaban yang ia cari selama sembilan tahun memang ada.
Dan suatu hari nanti... ia akan menemukannya sendiri.