Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
End Game
Ketegangan yang sempat memenuhi ruangan beberapa menit lalu perlahan mereda.
Tatapan para wanita bangsawan tidak lagi setajam sebelumnya. Kartu-kartu permainan sudah dikembalikan ke dalam kotak oleh beberapa pelayan, sementara cangkir-cangkir teh di atas meja mulai kehilangan uap hangatnya seiring langit di balik jendela yang semakin gelap.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Hingga salah satu wanita akhirnya terkekeh kecil.
“Sudah lama sekali,” ujarnya lirih sambil menatap ke arah Lilly, “saya tidak memainkan permainan ini dengan suasana semenyenangkan tadi.”
Nada suaranya jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
“Lady Lillyane belajar cukup cepat.”
Lilly membalas tatapan itu dengan senyum tipis. Mata hazelnya tampak tenang saat ia menundukkan kepala singkat.
“Terima kasih atas pujiannya.”
Suaranya lembut, senyumnya terbingkai sopan.
“Saya hanya beruntung di ronde terakhir tadi.”
Wanita itu kembali terkekeh pelan sambil menutup bibirnya dengan satu tangan.
“Keberuntungan tidak akan membuat seseorang membaca trick dan trump dengan baik.”
“Apalagi untuk seseorang yang tidak terlalu sering memainkannya.”
Kalimat itu datang dari wanita yang sejak awal paling banyak mengujinya sepanjang permainan.
Sebuah pengakuan kecil yang terdengar sebagai pujian tulus.
Nyonya Albert, yang sejak tadi duduk tenang di sampingnya, memperhatikan Lilly beberapa saat sebelum akhirnya berbicara pelan.
“Lady Lillyane ternyata jauh lebih tenang untuk ukuran pemula.”
Lilly sedikit terdiam mendengarnya.
Sementara itu, wanita tersebut tersenyum samar.
“Saya sempat berpikir Anda akan mengakhiri permainan dengan kekalahan mutlak.”
“Atau menangis karena tidak memahaminya.”
Beberapa wanita lain terkekeh pelan mendengar candaan itu.
Namun Lilly justru ikut tersenyum kecil.
“Sejujurnya…”
Ia menatap Nyonya Albert sesaat.
“Saya juga berpikir begitu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak pesta teh dimulai—
tawa kecil benar-benar terdengar di antara mereka.
Suasana akhirnya mencair.
Percakapan pun kembali mengalir jauh lebih santai dibanding sebelumnya; tentang musim gugur, pesta dansa akhir tahun, hingga acara gala amal yang sedang ramai diperbincangkan.
“Lady Lillyane, sejujurnya sejak kemarin suami saya terus menanyakan resep cherry tart buatan Anda.”
Lilly duduk sedikit lebih rileks. Senyumnya melembut.
“Apakah Anda ingin membuatnya?”
“Oh, tentu saja. Saya penasaran.”
“Akan saya kirimkan resepnya nanti.”
Hanya percakapan kecil seperti itu.
Selebihnya, Lilly lebih banyak diam sambil mengamati suasana pesta teh sore itu.
Tatapan para wanita di meja tersebut memang masih tertuju padanya. Mereka tetap menjaga jarak dan terus mengamatinya.
Namun kini tatapan itu tidak lagi setajam saat pertama kali ia datang.
Dan itu saja sudah terasa cukup berbeda.
Tak lama kemudian, para pelayan mulai menyiapkan mantel dan sarung tangan bagi para tamu yang hendak pulang.
Lilly berdiri perlahan.
“Terima kasih atas undangannya.”
Nyonya Albert ikut berdiri di hadapannya.
“Justru kami yang seharusnya berterima kasih karena Anda telah datang.”
Tatapan wanita itu jatuh pada Lilly sesaat—tenang, terlalu tenang hingga sulit ditebak.
“Saya rasa,” ucapnya pelan, “Yang Mulia Putra Mahkota membuat pilihan yang jauh lebih menarik dibanding dugaan banyak orang.”
Lilly terdiam sejenak.
Kalimat itu terdengar seperti pujian, meski terselubung makna lain yang samar.
Namun gadis itu tetap membalasnya dengan senyum kecil sebelum menundukkan kepala sopan.
“Selamat sore, Nyonya Albert.”
“Selamat sore, Lady Lillyane.”
Dan ketika Lilly akhirnya berjalan meninggalkan paviliun menuju mobil hitam yang telah menunggunya di depan kediaman Albert—
hembusan angin yang menerpa wajahnya terasa jauh lebih ringan dibanding saat pertama kali ia datang.
Kegelapan turun sempurna ketika mobil kerajaan akhirnya memasuki halaman mansion.
Lampu-lampu taman menyala hangat di sepanjang jalan batu, memantulkan cahaya keemasan samar di tengah malam yang mulai sunyi.
Lilly menghela napas kecil begitu mobil berhenti.
Baru sekarang tubuhnya benar-benar terasa lelah.
Bukan karena permainan kartu itu.
Melainkan karena menghadapi para wanita bangsawan tadi jauh lebih menguras tenaga daripada yang ia bayangkan.
Bukan secara fisik—
melainkan mental.
Pintu mobil dibukakan pelayan.
Lilly turun perlahan sambil merapikan mantel tipisnya sebelum berjalan memasuki mansion.
Suasana di dalam terasa jauh lebih tenang dibanding paviliun tadi.
Tidak ada tatapan mengukur.
Tidak ada senyum penuh makna tersembunyi.
Hanya kehangatan cahaya lampu malam dan suara langkah para pelayan yang terasa jauh lebih familiar.
Namun saat memasuki ruang tengah—
langkah Lilly terhenti sejenak.
Noah berada di sana.
Pria itu duduk santai di sofa dekat perapian dengan beberapa dokumen terbuka di meja rendah di depannya.
Mantel hitamnya sudah dilepas. Kini ia hanya mengenakan kemeja putih dan rompi formal gelap yang masih tampak rapi.
Tatapannya perlahan terangkat dari dokumen ketika menyadari Lilly masuk.
Keheningan jatuh sesaat sebelum Noah akhirnya berkata datar,
“Kau terlalu lama.”
Lilly terkekeh kecil mendengarnya.
“Apa Yang Mulia menunggu saya?”
“Tidak.”
Jawaban Noah terlalu cepat.
Dan itu justru membuat Lilly menahan senyum samar.
Ia berjalan mendekat sebelum akhirnya duduk di sofa seberang. Tubuhnya sedikit bersandar lega, diiringi helaan napas panjang yang tak lagi ditahan.
Noah memperhatikan gerakannya beberapa detik.
“Jadi?”
Satu kata pendek itu langsung membuat Lilly mengerti maksudnya.
Tatapan Noah tertuju padanya seolah berkata, ‘Apa saja yang terjadi?’
“Pesta teh bangsawan ternyata jauh lebih melelahkan daripada pesta dansa di ballroom.”
Noah tampak sama sekali tidak terkejut.
“Tentu saja.”
Lilly mendengus pelan.
“Mereka memainkan permainan kartu seolah sedang menginterogasi seseorang.”
“Itu memang tujuannya.”
Mata hazelnya langsung bergerak menatap Noah.
Sementara pria itu tetap terlihat tenang sambil menyesap teh di tangannya.
Dan saat itulah Lilly benar-benar menyadari sesuatu.
Noah telah hidup di dunia seperti itu sejak kecil.
Dunia di mana setiap jamuan makan, pesta teh, dan permainan kartu bisa berubah menjadi cara untuk membaca seseorang.
Sementara dirinya baru mulai belajar berdiri di tengah dunia itu sekarang.
Noah kembali meletakkan cangkir tehnya pelan.
“Kau menang?”
Lilly tersenyum kecil.
“Pada akhirnya.”
Sudut bibir Noah bergerak tipis—nyaris tak terlihat.
“Bagus.”
Hanya satu kata sederhana itu.
Namun entah kenapa, cukup untuk membuat seluruh kelelahan Lilly hari ini perlahan menghilang.