Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Aurora menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa perih.
“Kau menggigit bibirmu lagi,” desis Aragon, matanya mengunci bibir Aurora dengan tatapan setajam elang.
Aurora balas menatapnya sengit. “Saya belum menandatangani perjanjian dengan Anda.”
Aragon menyeringai tipis. “Justru itu. Karena saat kau sudah menandatanganinya nanti, bibir itu pun akan menjadi milikku.”
Aurora benci perasaan ini, perasaan terintimidasi dan tidak memiliki pilihan. Seumur hidupnya, Aurora selalu percaya bahwa manusia masih bisa bertahan selama memiliki kebebasan.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa kebebasan yang ia miliki harus di tukar dengan masa depan anak-anak dan juga panti asuhan.
Aragon masih duduk tenang di sampingnya. Tidak mendesak, tidak mengancam, juga tidak membujuk.
Justru ketenangan itulah yang membuatnya semakin menakutkan, karena pria itu tahu Aurora sedang menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.
“Kau boleh menolak,” suara Aragon akhirnya memecah kesunyian. Provokasi yang sebenarnya mendorong Aurora terjun ke dalam jurang.
Aurora tertawa hambar. “Kalimat itu terdengar sangat jahat ketika diucapkan oleh orang yang baru saja menunjukkan tagihan uang sebesar nomor telepon internasional.”
“Fakta tetap fakta.”
“Anda menikmati moment seperti ini, ya?”
“Ya dan tidak.”
“Maksud anda?”
“Ya, karena aku memang sering menikmati ketika orang lain putus asa saat aku menekan mereka. Tidak, karena kau bukan bagian dari orang-orang yang ingin ku hancurkan bisnisnya.”
“Bohong.”
“Itu benar.”
Aurora mengusap wajahnya dengan kasar. “Apa sebenarnya keuntungan Anda jika menikahi saya?”
Aragon terdiam beberapa detik, lalu menjawab.
“Sudah ku katakan. Aku membutuhkan istri.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban.”
“Yang benar saja. Seolah istri adalah sebuah jabatan yang anda rekrut dari jalanan dengan sembarangan.”
“Aku tidak suka mengulang kalimat yang sama.”
Aurora mendelik. Pria ini benar-benar membuat darah tingginya naik. “Baik. Saya ubah pertanyaannya. Apa yang sebenarnya Anda sembunyikan dari semua perjanjian ini?”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Aragon tidak langsung menjawab. Jeda singkat itu membuat Hank menegakkan punggungnya. Aurora menangkap perubahan kecil tersebut, dan matanya langsung menyipit.
“Kena.”
Aragon memandangnya. “Kau terlalu suka mencari masalah. Terlalu berani dan tidak berpikir panjang. Bisa saja hidupmu akan berakhir di tanganku karena mulut dan keingintahuanmu itu.”
“Saya percaya anda tidak akan membunuh saya, jika anda mau, anda sudah melakukannya ketika saya menghadang mobil anda untuk pertama kalinya.”
Berkali-kali kalimat Aragon di patahkan oleh Aurora membuat Aragon hampir ingin tertawa.
Keheningan kembali turun sebelum Aragon akhirnya bersuara, “Kakekku.”
Aurora berkedip. “Hah?”
“Masalahnya berhubungan dengan kakekku.”
Aurora menoleh bingung. “Kakek Anda kenapa?”
“Keras kepala.”
“…”
“Aku mewarisinya.”
“…”
“Sayangnya. Meski kami tidak sedarah, tapi sifat dan watak kami sangat mirip.”
Aurora menatap Hank, dan asisten itu mengangguk pelan. “Itu benar.”
Aurora kembali menatap Aragon. “Jadi, Anda mau menikah karena disuruh kakek?”
“Tidak.”
“Karena warisan?”
“Tidak.”
“Karena perusahaan?”
“Tidak. Kakekku miskin. Dia bahkan tidak pernah mau menerima sepeser pun uang dariku.”
Kali ini Aurora tidak berani bertanya lebih jauh tentang kehidupan pribadi pria itu. Namun, di luar dugaan, Aragon kembali bersuara.
“Aku dibuang oleh orang tuaku. Kakek yang menemukanku dan selalu memberiku makanan. Kami sama-sama gelandangan saat itu, tapi dia tetap menolong dan merawatku, padahal untuk menghidupi dirinya sendiri saja dia kesusahan.” Aragon menjeda kalimatnya, sorot matanya menerawang.
“Dia marah besar saat tahu aku bisa sekaya ini karena bisnis bawah tanah. Kau pasti pernah mendengar rumor kalau aku seorang mafia, bukan? Itu benar. Karena itulah kakek tidak pernah mau menyentuh uangku. Setiap kali aku datang, dia mengusirku. Berkali-kali pengawalku datang, dia melemparkan kembali semua uang yang mereka bawa. Dia bahkan menolak dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Itulah alasanku kini melebarkan bisnis Legal ku, bisnis di atas daratan yang terus menjadi raksasa, semua itu agar kakek bisa menerimaku lagi.”
Hank terkejut. Ia tidak menyangka Aragon akan membeberkan rahasia masa lalu yang paling dijaganya rapat-rapat kepada Aurora.
“Tuan…” panggil Hank, mencoba memperingatkan.
Suara Hank seketika menarik Aragon kembali ke realitas. Pria itu sedikit tersentak, menyadari bahwa ia baru saja menceritakan rahasia terbesarnya dengan begitu mudah kepada wanita asing di sampingnya.
“Jadi sekarang anda ingin membujuknya dengan menggunakan istri anda? Atau bagaimana?”
Aragon menatap keluar jendela. Sorot matanya berubah sedikit lebih dingin. “Kakekku, beliau sedang sekarat.”
Aurora langsung terdiam. Bahkan Hank ikut menurunkan pandangannya. Untuk beberapa detik, suasana di dalam mobil berubah drastis, tidak ada lagi sindiran, tidak ada lagi pertengkaran, hanya kesunyian yang aneh.
“Dokter mengatakan waktunya tidak lama lagi,” lanjut Aragon datar. “Dan satu-satunya keinginan yang belum terpenuhi adalah melihatku menikah. Katanya jika aku menikah dan aku memiliki anak, sebuah keluarga yang sempurna, maka dia akan memaafkanku dan mau tinggal bersamaku.”
“Dan aku tidak punya banyak waktu lagi, aku butuh istri segera, setidaknya agar dia mau di rawat di rumah sakit dengan fasilitas yang baik.” Lanjut Aragon.
Aurora menelan ludah. Entah kenapa, kalimat itu terdengar lebih menyedihkan daripada yang ia bayangkan. “Kalau begitu, nikahi saja wanita yang Anda cintai.”
“Aku tidak punya. Sudah ku katakan, aku bahkan tidak pernah berkencan. Kau selalu membuatku mengatakannya berkali-kali.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat dan terlalu pasti. Aurora bahkan tidak yakin pria ini pernah memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk jatuh cinta.
“Dan wanita-wanita yang mengejarku hanya mengejar nama Hartmann.”
“Jadi Anda memilih orang asing?”
“Aku memilih seseorang yang tidak menginginkanku.”
Aurora memejamkan mata. Logika pria ini benar-benar rusak. Sangat rusak.
Mobil perlahan memasuki area hotel mewah di pusat kota. Begitu kendaraan berhenti, Aurora melihat puluhan lampu berkilauan memenuhi halaman depan.
Hotel itu tampak seperti istana, namun yang membuat Aurora membeku bukanlah bangunannya, melainkan sosok-sosok kecil yang berdiri di depan pintu utama.
Anak-anak panti.
“Ellynn…!” Teriakan riang langsung terdengar. Pintu mobil bahkan belum terbuka ketika beberapa anak sudah berlari mendekat saat iring-iringan mobil tiba. Aurora sontak keluar, dan tubuh-tubuh kecil mereka langsung memeluk pinggangnya.
“Ellyn!”
“Kami merindukanmu!”
Para suster berdiri dan tersenyum penuh kelegaan.
“Ellyn… Kau baik-baik saja ?” Tanya Suster Magdalena berjalan mendekat.
Aurora tersenyum sembari mengangguk pelan.
Aurora langsung berjongkok. Air mata yang tadi berhasil ia tahan kini kembali jatuh. Ia memeluk mereka satu per satu, memastikan tidak ada yang terluka, dan memastikan semuanya benar-benar ada di sini, hidup dan aman.
Mendengar detak jantung mereka yang berdegup polos, merasakan kehangatan tubuh mereka, dan melihat binar jenaka yang kembali di mata anak-anak itu, sebuah kelegaan yang luar biasa besar menghantam dada Aurora. Mereka benar-benar ada di sini. Utuh. Hidup dan aman di bawah atap mewah penuh perlindungan dan penjagaan para pengawal.
Malam ini, di tengah keputusasaan yang hampir membuatnya gila, tawa renyah anak-anak panti asuhan inilah yang menjadi satu-satunya penawar. Dan saat itu juga Aurora tahu, ia tidak akan pernah menyesali apa pun keputusan yang diambilnya setelah ini, selama anak-anak ini tetap bisa tersenyum tanpa ketakutan.
Bersambung
Lanjut kak jangan di gantung