Ini season ke 2 dari novel Putra Sang Letnan Kolonel. Dengan Genre Yang berbeda kisah Triple Z (Zayda, Zayden, dan Zafran)
Tawa Semua siswa seketika mencekam, sesaat serangan brutal terjadi di tempat itu.
Panik, Takut semua menjadi satu dalam kericuhan. Hanya dalam hitungan jam puluhan siswa dan guru mati di tempat.
Semua siswa mencari ruangan aman untuk berlindung, tetapi tidak ada satupun ruangan yang bisa menjamin.
Kecuali satu area rooftop. Namun, apakah mereka bisa naik ke atas?
Adakah para siswa ada yang selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 ( Membunuh atau dibunuh )
POV Zayda - Alea
Alea membuka mata perlahan, setengah dan hampir sempurna. Seiring suara pistol meledak mengguncangkan detak jantungnya. aliran darah semakin mendidih seolah merasakan sengatan peluru di tubuhnya.
Namun, saat mata terbuka lebar—yang pertama dilihatnya tubuh si teroris tergeletak di lantai. Alea cukup syok, dengan gugup ia menoleh ke belakang.
Zayda tertegun, dengan pistol yang masih digenggamnya. Tangan yang gemetar menjatuhkan pistol yang baru saja ia luncurkan ke arah Rais. Zayda, bengong dengan pikiran yang berantakan.
"Za-Zayda," seru Alea. Zayda menoleh, tapi bukan menjawab, gadis itu tiba-tiba menangis.
"Alea, huhu .... Huhu ... A-aku ... baru saja membunuhnya." Katanya sambil terisak.
Zayda yang baru pertama kali menembak tergetnya hingga tewas. Setiap kali latihan ia hanya fokus pada papan target, tapi kali ini ia harus berhadapan dengan seorang penjahat, bukan—tapi psikopat. Mereka sudah menghabisi temannya dan mungkin dirinya jika tidak melakukan perlawanan.
Zayda tidak tahu, apa ia harus bangga? Atau .. Sebaliknya.
"Tidak Zayda, kamu tidak membunuhnya. Kamu hanya melindungi diri itu yang kamu lakukan," kata Alea.
"Benarkah? Tapi aku sudah membunuhnya. Aku menembaknya, Papa sering kali mengingatkan untuk menembak dengan benar tapi aku malah ... Apa papa akan marah padaku?" Zayda menatap Alea penuh kecemasan.
Alea maju selangkah. Ia mendekat lalu memeluk Zayda. "Kamu menyelamatkan aku, Zayda, jika kamu tidak membunuhnya maka ... aku yang akan mati."
Alea melepas pelukannya, menatap Zayda penuh kasih. Mengusap keringat Zayda, sekaligus merapikan rambut sepupunya itu. Mereka selalu akrab, walau masa lalu orang tuanya tidak begitu dekat. Tapi Alea dan Zayda mereka selalu bisa menenangkan satu sama lain, agar kesalahpahaman tidak terjadi.
"Aku menyelamatkan mu?"
"Ya. kamu menyelamatkan aku. Kamu sudah berhasil menembak Zayda," puji Alea. Ditengah pujian itu Zayda merasa haru.
"Sekarang kita pergi dari sini Zayda, kita cari Zayden dan teman yang lain. Mungkin mereka belum sempat ke lantai atas. Dan mungkin saja masih banyak yang selamat."
Alea kini menjadi lebih kuat dari Zayda. Yang awalnya penakut sekarang dia berani, setelah pengorbanan yang Zayda lakukan. Mereka di bawah vmvr, mereka dilarang menggunakan s*njata, dan mereka bukan siswa yang brvt4l.
Namun, situasi sekarang berbeda. Semua sisw* mempertaruhkan nyawa, penegak hukum tidak akan menghukum bukan karena di bawah vmvr tapi ... Karena pembelaan. Yang mereka hadapi bukan penjahat biasa tapi seorang teroris yang menyerang sekolah tanpa alasan. Pembantai harus dibalas dengan pembantaian.
Zayda dan Alea, mulai mengemas semua senjata yang dimasukkan ke dalam tas yang ditemukan.
"Alea, apapun benda yang dikira akan berguna, masukkan semua," perintah Zayda.
"Oke," balas Alea yang memasukan beberapa balok, tali tambang, dan barang lainnya ke dalam tas.
Sementara Zayda, dia memasukan semua senjata api, dan amunisi yang tersisa. Setelah selesai merekapun keluar dari tempat itu.
"Ayo!" Alea mengangguk.
Mereka berjalan mengendap penuh waspada, sesekali melirik kanan dan kiri, berlari cepat jika situasi aman.
"Kira-kira Zayden kemana?"
"Entahlah."
"Zayda, apa dokter itu masih mengejar kita?"
"Dia bukan dokter Alea, dia penjahat. Mereka pasti mengawasi kita oleh sebab itu kita harus hati-hati."
"Zayda, apa tidak sebaiknya kita ke sana!" Tunjuk Alea ke arah Kantin. "Kita lihat apa masih ada yang hidup di sana? Dan kebetulan aku sangat lapar, kita sudah berjam-jam bersembunyi, ini sudah lewat jam makan siang," keluh Alea di akhir kalimat, tangannya mengusap perut.
"Ya, sudah. Kita ke sana." Zayda, memimpin ia berjalan lebih dulu memasuki area kantin.
Tampaknya area kantin begitu tenang, tidak ada keanehan. Meja dan kursi masih tertata rapih, lantai bersih tanpa noda darah, dan aroma ayam goreng mengunggah selera. Semua masakan sudah tersaji di dalam kotak prasmanan, tapi tidak ada penjaga di sana. Kantin tampak kosong dan sepi.
Zayda terus memindai sekeliling sudut itu.
"Alea!" teriak Zayda.
Alea malah berlari ke arah meja prasmanan, mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa lauk. Alea, menghiraukan panggilan Zayda.
"Alea tunggu! Kita harus hati-hati."
"Zayda aku sangat lapar. Ini semua sudah tersaji, buat apa kita hanya melihatnya saja lebih baik kita makan dulu. Bertarung membutuhkan tenaga, benarkan?"
Alea mengisi piringnya penuh. Hingga pada saat menyendok sayur tiba-tiba seseorang muncul dibawah meja. Mengejutkan Alea.
"Akhh!"
_Prangg!_
Mata Alea terbelalak seketika, piring yang sudah penuh jatuh tak tertahan. Jantungnya berdegup dengan cepat tanpa jeda. Tubuhnya mematung bagaikan patung manekin.
"Alea!" Zayda yang mendengar teriakan itu langsung berlari ke arah Alea. Sedetik langkahnya berhenti, menatap seorang penjaga kantin yang berdiri di hadapannya.
Seorang pemuda yang memakai seragam koki, lengkap dengan topi berdiri menodongkan pisau nyaris mengenai leher Alea. Pria itu dikenal dengan nama populernya Chef Feno, bukan nama asli tapi karena kehadirannya di kantin begitu fenomenal.
"Arya turunkan pisaunya. Kamu membuatnya terkejut," seru Pak Mun, Kepala bagian kantin.
Arya, menurunkan pisau dagingnya setelah melihat keadaan Alea yang ketakutan.
"Maaf," ucapnya demikian.
Detik itu juga tubuh Alea merosot ke lantai. Alea terduduk lemah, jantungnya terasa mau copot. Arya, yang melihat itu langsung berlari memutari meja, berhenti dihadapan Alea.
"Kamu tidak apa-apa? Maaf, aku tidak sengaja aku pikir ...."
"Aku teroris begitu? Tatapan Alea begitu menakutkan.
Arya hanya diam.
Sebagai koki di sekolah Arya sudah pasti mengenal Alea, siswa manja yang sedikit angkuh. Semua siswi tergila-gila padanya kecuali Alea, gadis yang merasa dirinya hebat dan kaya selalu merendahkan Arya yang merupakan sebagai anak kepala bagian kantin.
"Apa kamu tidak bisa bedakan suara teroris dengan suara wanita? Apa aku berkata menakutkan? Oh Tuhan ... jantungku hampir saja copot." Alea merunduk sambil memegangi dadanya.
Pak Mun datang setelah menutup pintu kantin. Area kantin berada paling ujung, sulit ditemukan bagi mereka yang baru memasuki area LAC School. Pak Mun dan Arya cukup sigap, mereka langsung memblokir kantin agar tidak ada yang masuk setelah mendengar keributan dari luar.
Alea dan Zayda berhasil masuk, karena saat itu pintu terbuka Pak Mun baru saja ingin melihat keadaan di luar tiba-tiba dari jauh Pak Mun melihat bayangan Zayda dan Alea yang membuat mereka langsung sembunyi.
"Maafkan anak saya Nak, Alea. Dia seperti itu hanya untuk melindungi diri." Pak Mun berkata dengan lembut.
"Ada juga aku yang harus melindungi diri!" skakmat Alea.
"Sudah Alea, ini hanya kesalahpahaman, tutur Zayda dengan tenang. "Maaf Pak Mun, tapi kami cukup syok karena situasi saat ini," ujar Zayda berdiri menghadap Pak Mun.
"Aku mengerti," jawab pria tua itu.
"Kalian ingin makan, kan? Makanlah masakan ini sudah tersaji beberapa jam lalu. Kalian pasti sangat lapar." Pak Mun memberikan isyarat kepada Arya agar menyajikan makanan untuk Zayda dan Alea.
Situasi yang sedikit tegang membuat emosi mereka tidak stabil. Alea dan Zayda berpindah ke meja, dari jauh Arya menatap Alea yang sedang menikmati makan siangnya.
***
Maaf kemarin aku nggak up 🙏 aku lupa kasih tahu jika di awal bulan aku libur nulis karena ada kegiatan di RL. 🙏