Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
"Kalo gitu hubungin A Yudi, bilang kita mau main dulu, tungguin di pangkalan ojeg aja." masa bodo akan kondisi Ziano, Marcel malah memanfaatkan waktu untuk berduaan dengan Ara. Sejak ada Ziano jarang sekali mereka bisa berduaan, yang ada malah dirinya menjadi obat nyamuk. Mumpung lelaki itu tak ada, saatnya membalikan keadaan seperti semula.
"Siap. Tapi nanti temenin aku ke suatu tempat yah. Pengen beli sesuatu."
"Kemana pun tuan putri mau pergi, Aa selalu ready buat nganter." jawab Marcel dengan penuh percaya diri.
"Hih! pengen banget dipanggil Aa!" ejek Ara.
"Kalo nggak mau panggil Aa, nggak apa-apa. Gimana kalo panggil ayang aja?" Marcel menyenggol bahu Ara.
"Nggak! dengernya aja udah geli hih!" jawab Ara, Ilfil.
Sekitar jam lima sore mereka baru selesai mengerjakan tugas terakhir. Penampilan mereka sudah acak kadul akibat pusing mengerjakan soal. Ara tak yakin nilai komputer akuntansinya akan bagus karena hasilnya tak sama dengan perhitungan manual yang sudah lebih dulu ia kerjakan.
"Udah nggak usah dipikirin. Kita jajan dulu aja sekarang. Aku yang traktir." Marcel menggandeng tangan Ara.
"Anterin ke konter dulu."
"Jajan dulu aja baru ke konter."
"Ya udah ayo!" Keduanya makan di angkringan langganan. Tempat dimana Ara menangis hingga membuat Ziano dihadiahi tatapan kesal orang-orang. Dan mengingat itu membuat Ara tersenyum sendiri
"Ra? kenapa senyum-senyum sendiri?" heran Marcel.
"Nggak apa-apa, cuma keinget A Ano." Ara tersenyum lagi sambil mengunyah sosis bakar.
Marcel menghela nafas panjang, susah-susah cari waktu berdua yang dipikiran Ara tetap saja Ziano.
"Btw abis ini ke konter mau ngapain? HP kamu kayaknya masih bagus." Marcel mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ara mengangkat HP nya, memang masih bagus. Baru ia beli beberapa bulan yang lalu, tentunya dari hasil tabungannya sendiri.
"Beli HP dong."
"HP lagi? HP kamu masih bagus loh itu. Tumbenan udah mau upgrade? biasanya kan kamu tim yang beli barang kalo udah rusak dan nggak bisa dipake." Marcel tau betul gadis di sampingnya sangat perhitungan kalo soal uang. Sengetren apa pun suatu barang, Ara bukan tipe orang yang selalu fomo. Baginya kalo bukan kebutuhan maka tak perlu dipenuhi.
"Iya, buat A Ano. Kasihan A Ano nggak ada HP. Aku kan jadi susah kalo mau komunikasi." jawab Ara, "nanti pilihin yah HP yang cocok buat cowok." lanjutnya.
Marcel terbelalak mendengarnya. Buat A Ano, pilihin yang cocok. Dirinya yang selama ini dekat saja belum pernah diberi hadiah apa pun, bisa-bisanya Ziano yang baru hitungan minggu ada di hidup Ara sudah mau dikasih hadiah?
Marcel terdiam.Tangan yang semula memegang gelas es teh perlahan mengencang.
"Buat... A Ano?" tanyanya memastikan.
Ara mengangguk santai. "Iya."
"Ngapain?"
"Ya buat dipakai lah. Masa buat digoreng." Ara tertawa santai
"Aku serius, Ra."
"Aku juga serius." Ara menyeka saus di ujung bibirnya lalu melanjutkan makan seolah itu hal biasa.
"Kasihan aja. A Ano nggak punya HP. Aku mau ngabarin apa-apa jadi susah"
"Tapi itu mahal, Ra."
"Kan pakai uang aku sendiri."
Jawaban itu membuat Marcel kehilangan kata-kata. Bukan soal uangnya tapi soal kepeduliannya. Selama ini Ara bahkan mikir berkali-kali sebelum membelanjakan uang untuk dirinya sendiri. Sepatu rusak dipakai sampai benar-benar jebol. Tas sekolah dipakai bertahun-tahun. Handphone baru dibeli setelah yang lama benar-benar nggak bisa nyala.
Tapi sekarang? Dengan ringan gadis itu mau membelikan handphone untuk orang lain. Untuk Ziano. Orang yang bahkan belum genap satu bulan dikenalnya.
"Ra..."
"Hm?"
"Kamu baik banget sama dia."
Ara mengangkat bahu. "A Ano juga baik sama aku."
Marcel menunduk dadanya terasa sesak karena itu bukan jawaban yang ingin ia dengar. "Kalo aku?"
Ara menoleh. "Kamu kenapa?"
"Aku juga baik sama kamu kan?"
Ara tertawa kecil. "Iya lah."
"Terus?"
"Terus apanya?" Ara jadi bingung.
Marcel menggeleng pelan. Percuma, Ara memang pintar soal pelajaran tapi soal perasaan kadang gadis itu benar-benar tidak peka. "Aku cuma heran aja."
"Apa lagi sih?"
"Baru beberapa minggu kenal A Ano, tapi hampir semua cerita kamu sekarang tentang dia."
Ara terdiam, baru kali ini ia menyadarinya. Sejak ada Ziano memang banyak hal berubah. Ada yang ngajarin belajar, ada yang nemenin Lusi, ada yang berantem sama Aki, ada yang selalu bikin rumah ramai. Dan tanpa sadar, hampir setiap hari ada saja cerita tentang lelaki itu.
"Aku nggak gitu kok."
"Iya."
"Tapi serius."
"Iya."
Jawaban Marcel semakin pendek.
Ara mulai merasa ada yang aneh. "Cel..."
"Nggak apa-apa." Marcel berdiri dari kursinya, padahal makanan mereka belum habis.
"Yuk ke konter." Suaranya terdengar datar.
Sepanjang perjalanan menuju konter, Marcel hampir tidak bicara.
Sementara Ara terus menanyakan spesifikasi HP yang cocok untuk Ziano. Dan setiap kalimat yang keluar dari mulut Ara membuat Marcel semakin yakin pada satu hal. Kalau dibiarkan terus seperti ini, suatu hari nanti, posisi yang selama ini ia jaga bertahun-tahun di samping Ara akan benar-benar digantikan oleh Ziano.
Marcel menghentikan motornya di depan konter. Ara langsung turun lebih dulu dan masuk ke dalam. Sementara Marcel tetap duduk diam di atas motor. Matanya menatap punggung gadis itu. Lalu untuk pertama kalinya sejak mengenal Ziano, muncul sebuah keputusan di kepalanya.
"Ra, kalo kamu nggak bisa ngejauh dari A Ano, berarti A Ano yang harus diusir dari desa kita." gumamnya.
.
.
guys jangan lupa follow tik tok aku @netprofit2704 aku up spoiler Razia Ara disana🤗🤗
semoga Abah Dikun gak terpengaruh dengan omongan warga yang menganggap Ara dan Ziano berzina . padahal mereka cuma mau kerokan .
ya ampuuunnnn.... bingung aku mau ngetik gimana , yang di otak rasanya bundet saking banyaknya yang mau di ungkapkan😅😅😅🤭🤭
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
si kucel emang perlu di ruqyah otaknya🤣
contok~contoh
Jadi salah sangka deh semua gara2 Marcel
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏