Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Dominic duduk dengan tenang di dalam mobil. Matanya menatap ke arah kantor polisi dimana Ella baru saja di giring masuk dengan borgol di tangannya.
"Tuan, anda yakin dengan ini?" Dari kursi kemudi Bobby bersuara. Matanya melihat kaca atas dimana dia bisa melihat raut wajah Dominic yang nampak santai di kursi belakang.
Dominic benci berurusan dengan polisi, tentu saja karena pekerjaan mereka adalah hal yang bertentangan dengan polisi. Tapi hanya untuk membuat Ella kembali ke dalam genggamannya Dominic justru mengandalkan polisi. Padahal jika ingin Ella kembali dia hanya perlu mengandalkan anak buahnya untuk kembali menangkap Ella.
Tapi Dominic justru memilih jalan berbahaya dengan mengunjungi kantor polisi, sendiri.
"Apa sudah waktunya aku masuk?" Dominic mengusap dagunya dengan pelan. Tatapan matanya terus tertuju pada halaman depan kantor polisi yang lebih ramai dari sebelumnya. Penampakan yang lebih seperti kewaspadaan sebelum ada badai yang menghampiri.
"Seharusnya jika anda ingin membuatnya lebih ketakutan, anda harus menunggu beberapa jam lagi," usul Bobby.
"Itu terlalu lama." Dominic sepertinya tak sabar untuk segera masuk.
"Bagaimana dengan mereka?"
"Mereka sudah ada di posisi masing-masing, Tuan."
"Baiklah, begitu aku masuk jalankan rencananya."
Bobby menghela nafasnya pelan, lalu mengangguk. "Baik, Tuan."
Dominic memutar jarinya di permukaan jam di pergelangan tangannya. Menunggu beberapa saat, lalu turun dari mobil, melangkah ke arah kantor polisi diikuti beberapa orang termasuk seorang pengacara, lalu Bobby yang menekan earpiece di telinganya.
"Sekarang!" katanya pada seseorang di seberang sana dengan langkah yang terus mengikuti Dominic.
Begitu kaki Dominic menapak di teras kantor polisi suasana waspada semakin terasa.
Tatapan mereka mengikuti langkah Dominic yang tak gentar dan terus masuk ke dalam kantor polisi.
Bukan rahasia bagi para polisi tersebut jika Dominic adalah orang yang berbahaya, sebab ketua klan mafia terbesar. Banyak kejahatan yang dia lakukan. Namun mereka juga tak berdaya saat Dominic yang terlalu licin bahkan untuk di tangkap sebab Dominic yang selalu melakukan kejahatan tanpa jejak. Tanpa ada bukti yang membuatnya bisa di tahan.
Seolah dia memang terlalu berkuasa dan berpengaruh hingga bahkan polisi pun tak bisa menyentuhnya.
...
Kembali ke ruang interogasi dimana Ella sedang di berikan beberapa pertanyaan terkait kasus pencurian yang menjeratnya.
"Nona Ella, bolehkah aku bertanya satu hal?" Rasa terkejut Ella belum hilang saat dia mendengar jika kalung yang di temukan di kamarnya milik Dominic.
Bagaimana bisa kalung itu ada di kamarnya? Padahal jelas dia tak membawa apapun saat kabur dan hanya mengenakan pakaian yang dia pakai saat datang ke rumah Dominic, tepatnya saat di culik anak buah Dominic.
"Kau mengenal Tuan Dominic?"
Ella mengedipkan matanya satu kali lalu menatap polisi di depannya.
"Aku—"
"Kau tahu orang seperti apa dia?" Wajah polisi itu nampak semakin serius, namun masih dengan rasa curiga.
"Itu—"
"Dengar Nona. Jika kau tahu sesuatu, apapun itu kau bisa mengatakannya padaku. Di kamarmu di temukan barang milik Tuan Dominic. Yang bahkan dia melaporkanmu atas tuduhan pencurian. Bukankah itu berarti kau pernah berinteraksi dengannya?"
"A—pa maksud Pak Polisi?"
"Maksudku kau bukan orang yang terlihat jahat bahkan meski kau ... mencuri."
"Aku tidak mencuri!"
"Baiklah, tapi bisa aku tahu bagaimana kau mengenalnya?"
Ella terdiam.
Apa jika dia mengatakan jika dia di culik, polisi ini akan percaya padanya?
Apa dia juga tidak akan di tuduh mencuri lagi?
Tapi bagaimana jika mereka tidak percaya?
Satu bulan di rumah Dominic, Ella tahu bagaimana pria itu membunuh tanpa ampun.
Dalam mata Ella kini justru terlihat seringaian Dominic yang mengerikan, lalu tangan pria itu terulur dengan sebuah pistol di tangannya.
"Kau akan mati!"
Dor!
"Nona!" Suara ketukan meja menghentikannya dari ketakutan bayangan Dominic. Suara pistol itu terasa nyata hingga dia melihat polisi yang mengernyit menatapnya, barulah dia tahu itu hanya bayangannya saja. "Kau baik- baik saja?"
Ella mengangguk cepat. "Aku baik-baik saja."
"Jadi, bagaimana kalung itu ada di kamarmu jika kamu tak mengenal Tuan Dominic, dan bukan kamu yang mencurinya?"
"Aku—"
"Dia bekerja di rumahku." Suara Dominic terdengar, menghentikan Ella yang baru akan membuka mulutnya.
Ella menatap Dominic yang berdiri di depan pintu. Matanya tajam namun dengan seringaian penuh di bibirnya.
Ella menelan ludahnya kasar, tangannya yang berada di pangkuannya dia remas kuat sebab tiba-tiba rasa takut menghampirinya.
"Dia bekerja di rumahku, lalu kabur setelah mencuri milikku." Dominic melangkah mendekat, menekan tangannya di meja dan mencondongkan tubuhnya menatap Ella masih dengan seringaian di bibirnya.
....
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..