NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Seharian ini, koridor gedung DKV terasa lebih sunyi bagi Zivara Arthea. Bukan karena hiruk pikuk mahasiswa berkurang, melainkan karena absennya satu sosok yang biasanya selalu ada di radius pandangannya—Kaizar Ravindra. Tidak ada mobil mewah yang menunggu di parkiran, tidak ada pesan singkat yang masuk, bahkan tidak ada bayangan pria itu di kantin fakultas bisnis.

Zivara mencoba meyakinkan dirinya bahwa inilah yang ia inginkan: kebebasan dari bayang-bayang masa lalu. Akan tetapi, ada secercah rasa aneh yang mengusik batinnya, sebuah kekosongan yang tidak biasa.

Sore itu, Zivara memutar kemudi mobil pribadinya memasuki garasi rumah keluarga Arthea dengan gerakan yang jauh lebih mahir dibanding Zivara yang dulu. Setelah memastikan mesin mati, ia turun dan melangkah menuju gerbang rumah untuk mengambil beberapa surat di kotak pos. Saat itulah, matanya menangkap siluet yang sangat ia kenali dari kejauhan.

Di bawah temaram lampu jalan komplek, Kaizar tampak sedang berjalan kaki. Tangan kirinya menjinjing kantong kresek putih dari minimarket depan komplek. Langkahnya tidak setegap biasanya, tampak sedikit lebih lambat dan hati-hati. Yang membuat napas Zivara tertahan adalah pemandangan di bahu kanan Kaizar—kain putih perban menyembul dari balik kaos tipis yang dikenakannya.

Kenapa dia? Apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui? batin Zivara bertanya-tanya.

Dalam diamnya, Zivara terpaku memperhatikan Kaizar yang kian mendekat. Tepat beberapa meter sebelum mencapai gerbang rumahnya sendiri, Kaizar mendongak. Sepasang mata elangnya bertemu dengan netra jernih Zivara. Waktu seolah berhenti berputar di jalanan komplek yang sepi itu. Mereka berdiri mematung, saling mengunci pandangan dalam jarak yang tidak terlalu jauh.

Zivara, yang kini lebih dewasa dan tegas, memilih untuk tidak memalingkan muka. Ia melangkahkan kaki mendekati pria itu.

"Kamu terluka?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi diplomatik yang biasa ia gunakan.

Kaizar melirik bahu kanannya sejenak, lalu kembali menatap Zivara. Sebuah senyum tipis—senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan dalam dua kehidupan ini—tersungging di bibirnya.

"Hanya cedera kecil, Vara. Tidak perlu khawatir," jawabnya singkat.

Zivara menatap perban itu dengan sorot mata sulit diartikan. Di kehidupan sebelumnya, ia akan menangis histeris melihat Kaizar terluka. Sekarang, ia hanya bisa memberikan saran praktis.

"Masuklah dan beristirahat. Jangan memaksakan diri keluar jika memang masih sakit".

"Kamu... tadi berangkat ke kampus sendiri?" Kaizar justru bertanya balik, suaranya terdengar sedikit parau.

Zivara mengangguk pelan. "Ya. Aku bisa mengatasinya sendiri, Kak Kai".

Kalimat itu terasa seperti penegasan bahwa Zivara tidak lagi membutuhkannya sebagai pelindung. Zivara pun berpamitan singkat dan melangkah masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh lagi. Sementara itu, Kaizar tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Zivara yang menghilang di balik pintu kayu jati yang kokoh.

Mengapa dia terasa begitu jauh? bisik batin Kaizar pedih. Dulu aku yang membangun dinding di antara kami, sekarang dialah yang membangun benteng es yang begitu sulit kutembus. Menyentuh hatinya kini terasa lebih sulit daripada memenangkan ribuan proyek perusahaan.

**

Suara pintu jati yang tertutup di belakangnya seolah memutus udara dingin Bandung yang tadi sempat ia hirup bersama Kaizar di depan gerbang. Zivara berdiri sejenak di ruang tamu yang lengang, membiarkan keheningan rumah menyambutnya. Aroma terapi lavender yang biasa dinyalakan Bi Sumi tercium lembut, namun pikirannya masih tertinggal pada perban yang menyembul di balik kaos Kaizar tadi.

"Eh, Non Zivara sudah pulang?" Suara akrab Bi Sumi memecah lamunan Zivara. Asisten rumah tangga setia itu muncul dari arah dapur, wajahnya yang ramah tampak sedikit ragu untuk bicara.

"Sudah, Bi," jawab Zivara singkat sambil meletakkan tasnya di sofa.

Bi Sumi mendekat, tangannya mengusap celemek putihnya dengan gerakan cemas. "Non... Bi Sumi dengar cerita dari pembantunya Bu Dila tadi siang. Kasihan Den Kaizar, Non."

Langkah Zivara yang hendak menuju tangga seketika terhenti. Ia memutar tubuhnya, menatap Bi Sumi dengan dahi berkerut.

"Kenapa dengan Kak Kaizar, Bi?"

"Semalam Den Kaizar dibawa ke rumah sakit, Non. Katanya bahunya sakit sekali, sampai mukanya pucat. Ternyata ada cedera serius di sana," lapor Bi Sumi dengan nada prihatin. "Katanya itu luka lama yang didapat waktu Den Kaizar mendobrak pintu gudang kampus buat menolong Non tempo hari. Makanya hari ini Den Kaizar tidak masuk kampus dan tidak bisa jemput Non Zivara."

Zivara merasakan dadanya seperti dihantam sesuatu yang tidak terlihat. Luka dari gudang itu?. Kaizar yang ia kenal dulu tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya, apalagi berkorban hingga menderita cedera fisik demi dirinya.

"Benar begitu, Bi? Kak Kaizar terluka karena menolongku?" tanya Zivara pelan, memastikan rincian yang baru saja ia dengar.

Bi Sumi mengangguk mantap. "Iya, Non. Pembantunya Bu Dila bilang dokternya saja sampai kaget kenapa cederanya dibiarkan berhari-hari sebelum dibawa ke rumah sakit."

Zivara terdiam. Ada pergulatan batin yang hebat di balik wajah tenangnya. Sebagai wanita yang pernah hidup hingga usia tiga puluh tahun dan merasakan pahitnya pengabaian, ia ingin bersikap acuh tak acuh. Akan tetapi, sisi manusiawi dan sisa-sisa ketulusan yang pernah ia miliki sebagai Zivara yang berusia delapan belas tahun kembali terusik.

"Bi," panggil Zivara akhirnya. "Tolong siapkan bahan-bahan makanan di dapur. Aku mau menjenguk Kak Kaizar nanti malam."

Mata Bi Sumi berbinar. "Mau dibikinkan apa, Non?"

"Tolong bantu aku siapkan Beef Stroganoff dan kue Matcha Mille Crepes," jawab Zivara tanpa perlu berpikir panjang.

Ingatannya tentang detail kecil Kaizar di kehidupan lalu masih tersimpan sangat rapi di sudut otaknya yang paling gelap. Ia masih ingat bagaimana Kaizar diam-diam menyukai aroma teh hijau yang pekat dan tekstur krim yang lembut, meskipun pria itu selalu berakting dingin di depan umum.

Bi Sumi mengiyakan dengan semangat, merasa senang melihat ada perhatian kembali antara kedua anak majikan itu.

"Siap, Non! Bibi siapkan bahan-bahannya sekarang."

"Terima kasih, Bi. Aku mandi dulu sebentar," pamit Zivara sebelum menaiki tangga.

Sesampainya di kamar, Zivara tidak langsung masuk ke kamar mandi. Ia berdiri di balkon, menatap rumah keluarga Ravindra yang tampak tenang di seberang sana. Ia menghela napas panjang. Menjenguknya bukan berarti ia kalah oleh perasaan lama, bukan? Ia hanya sedang membayar utang nyawa yang ia terima di gudang kampus itu. Setidaknya, itulah alasan yang ia gunakan untuk membohongi detak jantungnya sendiri.

***

Aroma gurih saus krim dari Beef Stroganoff dan wangi lembut teh hijau dari Matcha Mille Crepes memenuhi ruang dapur, seolah menjadi saksi bisu atas sisa-sisa perhatian yang masih Zivara simpan. Setelah menata semuanya ke dalam wadah khusus dengan sangat teliti, Zivara memastikan penampilannya tetap elegan namun bersahaja.

"Bi, aku ke sebelah sebentar ya," pamit Zivara pada Bi Sumi yang sedang merapikan peralatan masak.

"Iya, Non. Sampaikan salam buat Den Kaizar, semoga cepat sembuh," jawab Bi Sumi dengan senyum penuh arti.

Zivara melangkah keluar, menyusuri jalan setapak yang menghubungkan rumah keluarga Arthea dengan kediaman keluarga Ravindra yang megah.

Setibanya di depan pintu utama, Bunda Dila yang membukakan pintu dan tampak sangat terkejut melihat sosok Zivara berdiri di sana.

"Zivara? Ya ampun, sayang. Bunda tidak menyangka kamu akan mampir," sapa Bunda Dila hangat.

"Sore, Tante. Tadi saya sempat melihat Kak Kaizar terluka, jadi saya membawakan sedikit makanan untuknya," Zivara menjelaskan dengan suara yang tenang dan sopan.

Bunda Dila tersenyum lega, matanya memancarkan rasa syukur. "Kebetulan sekali. Kaizar ada di taman belakang, sedang mencari udara segar katanya. Langsung ke sana saja ya, Nak".

Zivara mengangguk lalu berjalan menuju area belakang rumah yang rimbun dengan tanaman hias. Di sana, ia menemukan Kaizar sedang menyandarkan tubuhnya di kursi santai. Matanya terpejam, sementara sepasang earphone terpasang di telinganya, seolah ia sedang mencoba mengisolasi diri dari rasa sakit yang berdenyut di bahunya.

Zivara melangkah sangat pelan, nyaris tanpa suara di atas rumput Jepang yang rapi. Ia meletakkan wadah makanan itu di atas meja kecil tepat di samping kursi Kaizar. Gerakan kecil itu rupanya cukup untuk membuat Kaizar terjaga. Pria itu membuka mata dan seketika terperangah melihat sosok perempuan yang seharian ini memenuhi pikirannya kini berdiri nyata di depannya.

"Apa aku mengganggu istirahatmu?" tanya Zivara lembut.

Kaizar segera membetulkan posisi duduknya meskipun raut wajahnya sempat menegang menahan nyeri di bahu kanan. "Sama sekali tidak, Zivara. Aku hanya sedang melamun".

Zivara menarik kursi di sebelah Kaizar dan mulai membuka tutup wadah makanannya. "Aku membawakan Beef Stroganoff dan Matcha Mille Crepes. Semoga selera makanmu sedang baik".

Kaizar terpaku, matanya menatap hidangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Dadanya bergemuruh hebat. Bagaimana mungkin Zivara tahu persis menu favorit yang bahkan Luna—perempuan yang dulu ia puja—tidak pernah sekalipun repot-repot untuk mengetahuinya?.

"Dari mana kamu tahu aku sangat menyukai kedua makanan ini?" suara Kaizar terdengar sedikit bergetar karena emosi yang meluap.

Zivara tertegun sejenak, nyaris terjebak dalam memori kehidupan masa lalunya. Ia segera memasang wajah acuh tak acuh. "Hanya kebetulan. Aku melihat resepnya di YouTube dan sepertinya menarik untuk dibuat".

Kaizar hanya mengangguk pelan, walau hatinya menolak percaya bahwa ini sekadar kebetulan.

"Ini sebagai ucapan terima kasih sekaligus permintaan maafku," lanjut Zivara sambil menatap lurus ke arah perban di bahu Kaizar. "Kalau bukan karena membantuku di gudang waktu itu, kamu tidak akan cedera seperti ini".

Mendengar perhatian yang tersirat dari nada bicara Zivara, pertahanan dingin Kaizar luruh seketika. Ia tersenyum—sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan kepada siapa pun.

"Jangan meminta maaf. Aku akan melakukan hal yang sama berkali-kali jika itu artinya kamu bisa keluar dari sana dengan selamat".

Zivara hanya diam, menatap Kaizar dengan tatapan yang sulit diartikan.

***

1
falea sezi
lanjut entah masih g rela aja balik ke kaisar karena dia di masa lalu jahat oon 😒
Crazy_Girls: setuju 😭
total 1 replies
falea sezi
🤣 orang kaya woy kasih lah anak gadis muda bodyguard bayangan😒 miskin kali. ya kau bapak nyewa orang buat jaga anak gadis kau tak bisa😕
falea sezi
pantes di benci laki. laknat semoga g balik ya thor😒
Sri Murtini
bermainlah yang sportif
Sri Murtini
bersiaplah luna ini pertunjukan blm dimulai baru pemanasan
🤣🤣🤣
Soraya
alurnya bikin bingung🤔
Soraya
mampir thor
Sri Murtini
takdir mempertemukan zivara dg kaisar
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!