Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.
Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Surat Terbuka Agar Kami Lulus Kontrak!
Layar laptop itu menyala redup di tengah malam yang sunyi. Jam menunjukkan pukul 02.00 pagi, tapi mata Raka belum juga terpejam. Di hadapannya, status novel "Kata Mereka Masa Depanku Suram" masih bertengger pada satu kata yang membuat dadanya sesak:
"Eksposur Karya."
Sudah tiga hari status itu tidak berubah. Tidak bergerak menuju "Lulus". Tidak juga mundur ke "Ditolak". Ia tergantung di sana, seperti harapan Nisa yang digantung di ujung tali, goyah ditiup angin keraguan.
Raka menatap tumpukan naskah di sebelahnya. 28.000 kata. Dua puluh dua bab yang ia tulis dengan darah, keringat, dan air mata—demikian pula perjuangan Nisa yang selalu ada di sampingnya, menjadi muara dari setiap keluh kesahnya. Setiap huruf adalah doanya. Setiap kalimat adalah teriakannya pada dunia bahwa mereka ada, bahwa mereka punya cerita, bahwa mereka layak didengar.
"Tapi mungkin aku salah," gumam Raka pelan, suaranya serak menahan tangis. "Mungkin memang benar kata mereka. Bahwa masa depanku suram. Bahwa aku tidak berbakat. Bahwa novel ini hanya sampah digital yang akan hilang ditelan zaman."
Ia teringat komentar pedas dari seorang netizen seminggu lalu: "Ngapain sih nulis terus? Udah tahu nggak bakal sukses. Mending cari kerja beneran daripada mimpi jadi penulis terkenal."
Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada penolakan editor mana pun. Itu menusuk langsung ke jantung harga dirinya.
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Di sudut kamar, Nisa tidur dengan pulas, tidak tahu bahwa pasangannya sedang bertarung sendirian melawan monster bernama "keraguan diri". Wajah Nisa yang tenang itu seolah bertanya, "Kapan kita akan bahagia, Kak?"
"Apa aku harus berhenti?" tanya Raka pada keheningan. "Apa aku harus menghapus semua bab ini? Menghilang, dan membiarkan mimpi kami mati begitu saja?"
Tiba-tiba, notifikasi ponselnya berbunyi. Ting!
Satu komentar baru masuk di Bab 22.
Raka mengabaikannya. Ia malas membaca. Takut menemukan hujatan lagi. Tapi ponsel itu berbunyi lagi. Ting! Ting! Ting!
Lima komentar. Sepuluh komentar. Dua puluh komentar.
Dengan tangan gemetar, Raka membuka aplikasinya. Matanya membelalak melihat apa yang tertulis di sana. Bukan hujatan. Bukan cemoohan.
"Kak Raka, jangan berhenti nulis ya! Aku tunggu bab selanjutnya setiap hari!"
"Cerita tentang Raka dan Nisa ini nyelamatin aku pas lagi depresi berat. Terima kasih sudah berbagi rasa."
"Aku doa-in semoga cepat dapat kontrak! Kalian berhak sukses!"
"Kami di sini, Kak. Kami nggak pergi. Kami bakal tetap baca sampai kalian jadi penulis besar nanti!"
Air mata Raka tumpah lagi. Tapi kali ini, air mata itu hangat. Air mata yang membakar semangat, bukan memadamkannya.
Ia menyadari sesuatu. Ia tidak menulis untuk editor. Ia tidak menulis untuk kontrak. Ia menulis untuk mereka. Untuk puluhan, ratusan, mungkin ribuan orang di luar sana yang menemukan secercah harapan dalam kisah Raka dan Nisa.
"Mereka masih percaya padaku," bisik Raka, suaranya kini penuh tekad. "Kalau mereka saja tidak menyerah mendukungku, kenapa aku yang harus menyerah? Kenapa Nisa harus kehilangan harapannya?"
Raka membuka dokumen baru di laptopnya. Bab 23. Ia tidak akan menulis tentang fantasi atau drama cinta biasa. Malam ini, ia akan menulis dengan hatinya yang paling telanjang. Ia akan menulis surat terbuka.
"Kepada Editor yang terhormat," ketik Raka cepat, jarinya menari liar di atas keyboard. "Saya tidak tahu apakah Anda akan membaca ini. Saya tidak tahu apakah novel saya cukup bagus untuk standar Anda. Tapi saya tahu satu hal: Ada orang-orang di luar sana yang membutuhkan cerita Raka dan Nisa ini."
"Mungkin bahasanya belum sempurna. Mungkin alurnya masih berbatu. Tapi di setiap babnya, ada jiwa yang berjuang. Ada cinta antara Raka dan Nisa yang tulus. Ada pesan bahwa masa depan yang suram sekalipun bisa diubah jika kita berani bermimpi."
"Saya tidak meminta belas kasihan. Saya hanya meminta kesempatan. Satu kesempatan untuk membuktikan bahwa karya lokal punya hati. Bahwa cerita sederhana tentang Raka dan Nisa bisa menyentuh jiwa yang lebih luas lagi jika diberi sayap oleh platform ini."
"Jika hari ini Anda belum meluluskan kami, tidak apa-apa. Kami akan terus menulis. Kami akan terus berkarya. Karena kami tidak menulis untuk validasi semata. Kami menulis karena ini adalah napas kami. Tapi ketahuilah, di luar sana, ada pembaca yang menunggu kelulusan ini sebanyak kami menginginkannya."
Raka mengetik kalimat terakhir dengan jari yang menekan tombol hingga berbunyi keras.
"Kami tidak akan menyerah. Sampai titik darah penghabisan, Raka dan Nisa akan tetap hidup di halaman-halaman novel ini. Dan suatu hari nanti, Anda akan bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan kami."
Fajar mulai menyingsing. Raka menyelesaikan bab tersebut. Ia menoleh ke arah Nisa yang mulai terbangun.
"Kak, kamu belum tidur?" tanya Nisa lembut, mengusap matanya.
"Belum, Lis," jawab Raka sambil tersenyum, meski matanya masih basah. "Aku baru saja menulis janji kita. Bahwa kita tidak akan menyerah. Bahwa masa depan kita tidak suram, selama kita berdua berjalan bersama."
Nisa tersenyum, menggenggam tangan Raka erat-erat. "Aku percaya padamu, Kak. Apapun hasilnya, aku akan selalu di sampingmu. Kita hadapi semuanya berdua."
Pelukan hangat itu menghapus segala lelah. Raka tahu, selama ada Nisa, dan selama ada pembaca yang peduli, pintu masa depan tidak akan pernah tertutup rapat.
Ia menekan tombol "Publish". Bab 23 meluncur ke dunia maya, membawa harapan baru.
"Mari kita tunggu kabar baiknya, Lis," bisik Raka.
"Ya, Kak. Pasti akan ada kabar baik," jawab Nisa penuh keyakinan.
Di luar, matahari terbit, mengusir gelap malam. Sama seperti harapan mereka yang kini bersinar terang, menolak untuk padam.
Masa depan mungkin sempat terlihat suram menurut kata mereka. Tapi bagi Raka dan Nisa, masa depan adalah kanvas kosong yang siap mereka warnai dengan cinta, perjuangan, dan karya nyata.
Dan langkah pertama menuju masa depan itu dimulai hari ini. Dengan satu klik: Terbitkan.
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨