NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Persaingan

"Kamu beneran gak papa kan kalo besok pergi sendiri?"

Pertanyaan itu sudah yang ketiga kalinya terucapkan dari Devan. Hanum menatap pria itu dengan jengkel. "Iye paham. Lagian kan aku juga udah terbiasa pergi sendiri, kamu nya aja yang maksa," katanya sambil memperbaiki posisi duduknya. Seperti biasa hendak berangkat untuk bekerja.

"Tapi kamu nya mau kan?" timpal Devan kemudian.

Hanum tidak menjawab, dia memilih membuka ponselnya, melihat pesan grup WhatsApp yang pagi-pagi begini sudah ada 999+ pesan masuk di grup "Pejuang Rupiah" itu. Siapa lagi yang membuat ide seperti itu selain Nunung, admin grup itu.

Segera dia mengecek isi pesan di grup itu dan menemukan kabar buruk.

"ADUH KENAPA INI?!"

"KOK PADA AMBURADUL SEMUA BARANG-BARANG BUTIK KITA!!"

Itu dari Nunung, terlihat dia mengirim sebuah foto yang menunjukkan isi butik itu telah diobrak-abrik tak karuan. Berantakan sekali.

"Ada apa?" Devan yang tampaknya sadar setelah melihat raut muka Hanum yang berubah menjadi kaget pun bertanya.

"Ini.., butik tempat aku kerja pada berantakan semua.., ada yang salah..," ucap Hanum sambil menunjuk foto itu pada Devan.

Devan menatap sekilas kemudian fokus kembali mengemudi. "Antara dua kemungkinan, kemasukan maling atau memang 'sengaja' digituin," kata Devan sambil menekankan kata sengaja tadi.

"Memangnya kamu tahu?" Hanum pura-pura tidak mengerti.

"Kamu sendiri tahu lah, Nun. Dunia bisnis itu bagaimana, apalagi kalau ada pesaing yang punya bisnis yang sama dan milik kamu lagi berkembang pesat dibandingkan mereka." Devan berasumsi demikian.

Hanum kini mengangguk, dia sebetulnya paham betul terkait hal ini.

"Coba kamu analisis kembali, dengan siapa saja butik tempat kamu kerja punya koneksi, mana tau itu bisa membantu," ucap Devan memberikan saran lagi.

"Rencananya memang gitu," kata Hanum.

Setibanya di butik, Hanum segera membuka pintu mobil. Tetapi masih terkunci.

"Bukain dong, Van..," ucap Hanum kemudian.

Namun, tak ada tanggapan dari pria itu.

"Aduh, cepetan nih nanti kamu telat loh," sambung Hanum lagi.

Kenapa sih dia? Pikir Hanum lagi.

"Kamu serius gak ada mau ucapin apa gitu sebelum aku berangkat?" kata Devan lagi.

Jujur saja bagi Hanum ada rasa yang janggal setelah situasi beberapa waktu yang lalu ini. Dia mendapat dirinya menjadi canggung dan tak karuan saat berada di dekat Devan.

"Hati-hati di jalan," kata Hanum. Dia menunduk menatap sepatu sneakers nya.

"Terus?"

Hanum menatap pria itu. "Ada lagi?"

Devan mengangguk.

"Apa ya.., jangan lupa kabarin Bunda," kata Hanum.

"Ih udah, buruan. Aku mau masuk ini," Hanum mulai kesal.

Devan membuang napasnya pelan. "Baiklah, iya iya," dia pun menekan tombol kunci itu hingga pintu mobilnya pun bisa dibuka kembali.

"Aku duluan ya," ucap Hanum lagi.

Devan menatap sejenak perempuan itu hingga dia benar masuk ke dalam. Kemudian kembali melajukan mobilnya dan pergi.

"Astaghfirullah ini kok bisa begini, Nung??" Hanum menghampiri Nunung yang tampak sedang beberes, memperbaiki posisi manekin yang berserakan dimana-mana. Kebanyakan dari busana yang melekat di manekin itu sudah koyak atau robek.

"Gak tau nih, Mbak. Tiba-tiba aja pas Nunung masuk udah kayak gini.., gimana kalau Bu Dela masuk ya?" Tampak raut wajahnya yang kebingungan sekaligus khawatir jika bos mereka bakalan memecat mereka atau berteriak histeris. Begitu juga dengan beberapa karyawan yang sama seperti Nunung, sama-sama khawatir.

"Lebih cepat Bu Dela tahu lebih baik, Nung," Hanum segera mengeluarkan ponselnya. Dia kira Dela sudah tahu, ternyata belum.

"Eh, Mbak.., jangan," ucap Nunung pelan meskipun mustahil sebab kini Hanum sudah berbicara dengan Dela.

"APA?! OK, AKU KESANA SEKARANG YA!"

Terdengar suara kekagetan dari ponsel Hanum tadi. Kurang lebih sepuluh menit kemudian Dela tiba dan dia kaget sekali.

"Ya Allah Gusti.., kok bisa pada gini??" ucapnya sambil mengelus-elus dada. Hanum mencoba untuk memenangkan wanita itu.

"Ini ada yang gak beres, Hanum. Kita laporkan ke polisi!" Dela tak habis pikir dengan pemandangan di depannya.

"Tapi kita belum ada bukti nya, Kak," ucap Hanum.

"Karena itu kita telusuri dulu. Nunung, kalian semua bereskan semua ini ya, pilah mana yang masih bagus dan sudah rusak!" perintah Dela pada Nunung yang dari tadi diam saja, tampak ketakutan di wajahnya. Takut dipecah maksudnya -_-

"Tapi, Buk..., saya gak dipecat kan?" ucapnya pada Dela.

Namun, Dela tak menghiraukannya, dia berjalan menuju ruangannya. Diikuti oleh Hanum. Sebelum Hanum pergi, dia memberi kode dengan menaikkan alisnya. Jangan banyak tanya dulu!

Begitu juga dengan beberapa karyawan yang ada di sebelah Nunung, langsung melotot kepadanya.

"Cctv, coba aku cek dulu," buru-buru Dela melacak komputer dan menekan bagian CCTV.

"Lah? Kok pada gak ada? Ada yang matiin ini, aku yakin."

"Kurang ajar, siapa sih yang berani-beraninya hancurin usaha aku?" Dela kini terduduk layu di kursinya. Hanum kembali mencoba menenangkannya.

"Yang sabar ya, Kak. Aku yakin habis ini ada jalan keluarnya," ucap Hanum lagi.

Dela tidak menjawab.

"Aku juga dulu begitu, Kak. Butik aku rusak seperti ini. Tapi sepertinya ini gak jauh beda deh.., aku yakin pelakunya sebelas dua belas atau sams seperti kejadian aku kemarin," ujar Hanum.

"Maksud kamu? Jangan-jangan Vanya lagi?" Dela menduga.

"Lebih tepatnya begitu, Kak. Vanya punya beberapa anak buah yang bisa dia suruh saat dia mau menginginkan sesuatu agar jadi miliknya. Tapi kita gak bisa tuntut tanpa ada bukti yang pasti..," kata Hanum lagi.

Dela mengerti. "Iya itu lah fakta pahitnya..," ucapnya pelan.

"Bismillah saja ya, Kak. Semoga ada jalan keluarnya, aku mau bantuin di depan dulu ya, Kak," Hanum izin keluar untuk membantu Nunung dan beberapa karyawan merapikan barang yang berantakan.

Tetapi sesaat kemudian, dia menemukan sebuah cincin perak di pojok lorong menuju ruangan dimana Nunung dan beberapa karyawan tadi bekerja. Sesuatu yang familiar di matanya. Dia segera mendekati cincin perak itu, kemudian seulas senyuman terbit di bibirnya.

......................

"Akhirnya.., finallyyyy done!"

Wanita itu memutar-mutar kursinya sambil menatap layar ponselnya. Memandangi pesan yang baru saja masuk:

"Sudah beres, Boss!"

"Ya, gak ada lagi pesaing gue," kata Vanya.

Sementara itu, Bramasta yang sedari tadi mengintip Vanya tertawa senang itu hanya terdiam. Dia sebenarnya tahu akan kelakuan wanita licik itu, tetapi tetap saja dia mendekati Vanya — Itulah kebodohan nya.

"Eh, Sayang.., kamu baru nyampe ya? Mau aku suruh pelayan bikinin kopi?" Vanya beranjak dan memeluk Bramasta sejenak. Lalu menatap kepada pria itu dengan tangan yang masih memeluknya.

"Gak usah," jawab Bramasta, dia melepaskan tangan Vanya dan duduk di salah satu kursi.

"Ya udah," kata Vanya kembali duduk ke kursinya.

"Oh iya, Mas, ntar pernikahan kita harus effortless yaa, biar aku bisa pamerin ke temen-temen aku hihihi," kata Vanya sambil tertawa kecil.

Bramasta tidak menjawab.

Vanya menatap pria itu dengan tidak peduli.

"Jadi.., Mas kapan mau jalanin rencana itu?" kini dia tampak serius.

Bramasta menatap tajam ke arah Vania. "Sebentar lagi.., kamu tunggu saja."

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!