NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah di Apartemen

Lampu kristal yang menggantung di plafon tinggi lobby apartemen itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, menciptakan suasana elegan yang justru terasa menyesakkan bagi Zea. Ia baru saja menyelesaikan shift pembersihan di taman indoor dan sedang mendorong troli alat kebersihannya menuju lift servis. Pergelangan kakinya yang bengkak terasa seperti dihunjam ribuan jarum setiap kali ia melangkah, namun Zea mengatupkan rahangnya kuat-kuat.

Tiba-tiba, sebuah lengkingan suara membelah keheningan lobby yang biasanya tenang.

“LIHAT BAJUKU! KAMU PUNYA MATA TIDAK, HAH?!”

Zea tersentak. Ia menoleh dan melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Di tengah lobby, Bu Ratih, petugas kebersihan paling senior yang selalu bersikap baik padanya sedang bersimpuh di lantai marmer. Di hadapannya, seorang wanita dengan dress putih sutra mewah berdiri dengan wajah yang distorsi oleh amarah.

“Maaf, Bu… maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja,” rintih Bu Ratih dengan suara gemetar, kepalanya menunduk nyaris menyentuh lantai.

“Tidak sengaja?! Baju ini harganya ratusan juta! Kamu tahu tidak, ini koleksi terbatas!” teriak wanita itu sembari menunjuk noda air keruh di bagian bawah dress-nya. “Bahkan jika tubuhmu dijual pun, belum tentu cukup untuk mengganti kerugianku! Dasar sampah tidak berguna!”

Zea tidak bisa diam saja. Ia meninggalkan trolinya dan melangkah maju. Rasa sakit di kakinya seolah sirna oleh kobaran amarah di dadanya.

“Permisi, Nyonya,” suara Zea terdengar tenang namun tegas saat ia berdiri di samping Bu Ratih.

Wanita itu menoleh, menatap Zea dengan pandangan menghina. “Siapa lagi kamu? Temannya si bodoh ini? Mau membela dia?”

“Saya hanya ingin tahu apa permasalahannya,” jawab Zea pelan. Ia membantu Bu Ratih berdiri, meskipun wanita tua itu terus gemetar. “Bu Ratih, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Ibu itu… Ibu itu tadi jalan cepat sekali sambil melihat HP, Ze,” bisik Bu Ratih terputus-putus. “Padahal Ibu sudah pasang tanda ’Lantai Basah’ di sana. Tapi Ibu itu tetap lewat dan terpeleset sendiri sampai ember Ibu terguling.”

Zea menatap dua papan peringatan kuning yang memang berdiri tegak di jalur tersebut. Ia kembali menatap wanita sosialita itu. “Nyonya, tandanya sudah dipasang dengan benar. Jika Anda tetap melintas dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan jalan, bukankah itu kelalaian Anda sendiri?”

Wanita itu tertawa sumbang, wajahnya memerah padam. “Kelalaianku? Kamu berani mengajariku? Hebat sekali ya, staf rendahan zaman sekarang sudah pintar berargumen!”

“Saya tidak mengajari, saya hanya bicara fakta,” balas Zea datar.

“Fakta katanya?” Wanita itu melangkah maju, menunjuk tepat di depan hidung Zea. “Faktanya adalah kalian dibayar untuk memastikan tempat ini bersih dan aman buat KAMI yang membayar mahal! Bukan untuk mencelakai kami! Kamu tahu siapa saya? Saya bisa membuat kalian berdua dipecat malam ini juga!”

“Apakah dengan memecat kami, dress Anda akan kembali bersih?” tanya Zea retoris. “Ancaman tidak membuat Anda berada di posisi yang benar, Nyonya.”

“Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa, hah? Lihat pakaianmu! Lihat statusmu!” teriak wanita itu semakin histeris. “Orang miskin seperti kalian itu seharusnya diam, nurut, dan tahu tempat! Kalian itu cuma pelayan yang beruntung bisa menginjakkan kaki di lantai yang sama dengan saya!”

“Jika kekayaan membuat Anda merasa boleh menginjak martabat manusia lain,” suara Zea meninggi, matanya menatap tajam tanpa rasa takut, “berarti kekayaan Anda benar-benar tidak ada gunanya. Anda mungkin punya uang untuk membeli dress itu, tapi Anda tidak punya cukup uang untuk membeli sedikit saja rasa hormat dan etika.”

“KAMU!” Wanita itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap melayangkan tamparan keras ke wajah Zea.

“Ada apa

?”

Suara itu rendah, dingin, dan memiliki otoritas yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya. Seluruh lobby mendadak sunyi. Sepasang sepatu kulit hitam mengkilap melangkah dengan ritme yang stabil namun mengancam.

Sang pemilik gedung, berdiri dengan aura yang sangat dominan. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah keributan tersebut.

“Coba ulangi kalimatmu tadi,” ucap Erlangga datar saat ia berhenti tepat di samping Zea.

Wanita sosialita itu seketika memucat. Tangannya yang terangkat kini turun dengan lemas. “P-Pak Erlangga… ah, ini… staf ini sangat tidak sopan. Dia menyinggung saya dan tidak mau bertanggung jawab atas baju saya yang rusak.”

Erlangga melirik noda di dress wanita itu, lalu beralih menatap papan kuning yang berdiri tak jauh dari sana. “Jadi menurut Anda, orang miskin dibayar untuk diam dan diinjak? Begitu logika yang Anda gunakan di gedung saya?”

“Bukan begitu maksud saya, Pak… saya hanya kesal karena dia menyahut terus…”

“Dia tidak menyahut. Dia bicara kebenaran,” potong Erlangga dingin. Ia menoleh ke arah petugas keamanan. “Siapa manajer shift malam ini? Kenapa keributan seperti ini dibiarkan tanpa penanganan prosedur?”

“S-Saya panggilkan segera, Pak!” salah satu petugas buru-buru berlari.

Erlangga kembali menatap wanita itu. Tatapannya sedingin es yang sanggup membekukan aliran darah. “Anda tinggal di unit 24-B, bukan? Keluarga Wijaya?”

Wanita itu mengangguk kaku, keringat dingin mulai membasahi dahinya. “I-iya, Pak.”

“Menarik. Karena unit itu disewa atas nama perusahaan suami Anda. Dan perusahaan itu menjalin kontrak kerja sama jangka panjang dengan Maheswara Group,” ujar Erlangga dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan. “Jika Anda merasa staf di gedung ini adalah ‘sampah’, maka secara teknis Anda sedang menghina standar manajemen perusahaan saya.”

“Pak Erlangga, mohon maaf… saya hanya terbawa emosi…”

“Emosi tidak memberi Anda hak untuk merendahkan martabat manusia,” sela Erlangga. “Jika benar staf saya sudah memasang tanda peringatan dan Anda tetap melanggar, maka kerusakan pada dress Anda adalah tanggung jawab pribadi Anda. Dan mengenai ucapan Anda tadi…”

Erlangga menjeda kalimatnya, menatap wanita itu dengan sangat intens. “Saya akan mempertimbangkan ulang kelayakan keluarga Anda untuk tetap menempati unit di gedung ini. Saya tidak butuh penghuni yang tidak tahu cara menghormati sesama manusia.”

Wanita itu ternganga, wajahnya putih pucat seolah seluruh darahnya tersedot keluar. “Pak Erlangga, saya mohon… jangan sampai ke suami saya…”

“Manajer,” panggil Erlangga saat petugas yang dipanggil tadi tiba. “Ambil rekaman CCTV area ini. Jika benar Nyonya ini yang melanggar prosedur, pastikan tagihan atas gangguan kenyamanan publik dikirim ke unitnya. Dan pastikan Bu Ratih mendapatkan waktu istirahat tambahan malam ini.”

“Baik, Pak!” jawab Manajer itu dengan sigap.

Wanita sosialita itu akhirnya mundur, menunduk malu dan buru-buru pergi dari lobby dengan langkah seribu, meninggalkan bau parfum mahalnya yang kini terasa memuakkan.

Zea masih terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap punggung tegap Erlangga yang masih berdiri membelakanginya. Untuk sesaat, ia merasa dunia yang selama ini ia pikul sendirian terasa sedikit lebih ringan.

Erlangga memutar tubuhnya, menatap Zea dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kamu.”

Zea tersentak. “I-iya, Pak?”

“Kenapa kamu ikut campur? Kamu tahu itu bisa membahayakan pekerjaanmu?” tanya Erlangga, suaranya kembali ke nada kaku yang biasa Zea dengar.

Zea menarik napas panjang. “Karena benar tetaplah benar, Pak. Dan tidak ada orang yang pantas diperlakukan seperti itu, tidak peduli apa seragam yang mereka pakai.”

Erlangga diam sejenak, memperhatikan Zea yang masih berusaha berdiri tegak meski kakinya jelas-jelas gemetar karena nyeri. “Berjalanlah dengan benar. Kaki bengkakmu itu merusak pemandangan di lobby saya.”

Zea tertegun, lalu tersenyum tipis. Ternyata pria ini tetaplah si ‘Manusia Es’ yang menyebalkan. “Terima kasih sudah membantu kami, Pak.”

Erlangga tidak menjawab. Ia hanya membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Namun, Zea tahu satu hal. Di balik sikap dingin dan kata-kata ketusnya, Erlangga baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan orang lain padanya: ia memberikan perlindungan.

Zea menatap Bu Ratih yang masih menangis haru. “Ibu gapapa? Sudah, jangan nangis lagi. Ibu dengar kan? Pak Erlangga membela kita.”

“Terima kasih, Ze… kamu berani sekali tadi,” bisik Bu Ratih sambil mengusap air matanya.

Zea tersenyum, meski hatinya masih bergetar. Ia menatap ke arah pintu lift tempat Erlangga menghilang. Malam ini, ia belajar bahwa terkadang, pahlawan tidak datang dengan jubah emas, melainkan dengan setelan jas hitam mahal dan aura yang membekukan.

Namun, dunia luar tetaplah kejam. Dan Zea tahu, ini barulah awal dari perjuangan panjangnya. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum Erlangga menemukan alasan lain untuk mengomelinya lagi. Dengan langkah yang lebih mantap, Zea kembali ke trolinya, membawa serta sisa keberanian yang baru saja ia temukan.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!