Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Kehamilan Tanpa Sentuhan
Bab 5. Kehamilan Tanpa Sentuhan.
Di saat semua orang diam, Winda bergerak lebih cepat. Ia berdiri di depan kamar mandi yang tertutup.
"Nona, saya izin masuk."
Perempuan itu mendorong pintu, dan menutupnya kembali dari dalam.
Semuanya masih diam. Sampai kemudian pintu terbuka, dan Shafiya keluar diiringi Winda.
"Mbak." Khadijah menegakkan tubuhnya.
"Mbak gak papa?"
Shafiya menggeleng sambil tersenyum ringan.
Winda memberikannya masker.
"Hindari aroma yang bikin tidak nyaman, Nona."
Shafiya menerima itu tanpa kata. Pandangannya menangkap sesuatu dari salah satu penjaga yang menunggu di luar ruangan.
"Jangan laporkan!" cegah Shafiya.
Laki-laki itu diam. Menatap Shafiya sesaat dan menunduk.
Namun Shafiya tahu itu belum sebuah persetujuan.
"Nanti, saya sendiri yang akan cerita pada tuan," katanya lagi.
"Baik." Lelaki itu meletakkan ponselnya kembali ke saku.
Shafiya melangkah kembali ke abinya. Namun pandangan tua beliau menangkap dengan jelas penyebabnya.
"Jangan dekat makanan ini, jika bikin kamu mual."
"Iya, Bi." Shafiya kini berdiri dalam jarak yang terukur dari ranjang.
Winda masih berdiri beberapa langkah di belakangnya. Menjaga, dan memastikan.
"Sudah periksa?" tanya kyai Fakih.
"Sudah, Bi. Sebelum kesini."
"Sudah berapa bulan sekarang?"
Kalimat tanya beliau jatuh tanpa tekanan, namun tidak memberi ruang untuk disalah artikan.
Shafiya menarik napas panjang. Seolah sejak tadi memang inilah yang ia tahan
"Masuk bukan ketiga, Bi."
Dan kini, dunia di dalam ruangan itu seakan berhenti sejenak. Tidak ada yang langsung bersuara. Tidak ada yang saling pandang menyimpan tanya. Karena apa yang mereka dengar, terlalu jelas, dan tidak memberi ruang untuk disalah paham.
"Kamu hamil?" Hanya bibinya kemudian yang bertanya.
Shafiya mengangguk.
Bibinya diam. Pikirannya berjalan.
Shafiya meninggalkan gus Ilzam, dua hari sebelum pernikahan. Dan itu terjadi hampir dua bulan yang lalu. Sekarang uaia kehamilan Shafiya, masuk bulan yang ketiga. Artinya...
"Astagfirlohh." Kalimat itu diucap dengan nada berat. Tatapannya berpindah ke kyai Fakih. "Abangg... ini yang jennengan tanggung sendirian selama ini."
Tersirat kepedihan dan luka di tatapannya, sebelum sepasang mata itu dipenuhi genangan air bening yang siap jatuh.
"Dik, jangan buruk sangka dulu." Kyai Fakih menegur adiknya itu lembut.
"Kita dengarkan Shafiya dulu."
Kyai Fakih menatap Shafiya lama. Mata tuanya kini jelas bercerita, tentang beban yang sekian lama ia tanggung dalam diam.
"Shafa, cukup lama abi nunggu kamu siap bercerita."
Itu bukan suara seorang kyai. Itu seorang ayah yang begitu menjaga dan menghargai perasaan putrinya. Meski ia retak karena fakta pahit tentang putrinya. Tapi Kyai Fakih tidak mendesak: Siapa orangnya?
Beliau menunggu. Sampai Shafiya berkenan sendiri untuk memberitahu.
"Kapan, Nduk?"
Shafiya terhenyak sesaat. Sebelum mengambil langkah mendekat. Memeluk abinya, mencium tangannya, dan berkali mengucapkan kata maaf.
"Shafa akan cerita sekarang, Bi." Suaranya tersendat di antara isak. Pandangannya lalu bergeser pada bibinya, satu demi satu. Pada Khadijah, dan terakhir gus Ilzam.
"Dua hari sebelum pernikahan, saya didiagnosa hamil. Karena itu, abi membatalkan pernikahan, Gus."
Ilzam mengangguk. Seolah begitu paham. Seolah semua penjelasan sudah selesai. Padahal Shafiya belum bercerita secara keseluruhan. Tapi begitu cara Ilzam menghargai Shafiya Elara Hanum. Wanita yang dipilihnya dengan Rido Allah lewat jalan istikharah.
Ternyata, apa yang tersirat, belum pasti tersurat. Shafiya kini menikah dengan orang lain.
"Ya Allah, Nduk." Bibinya menyela. Masih menyayangkan. Masih dengan air mata.
"Tega sekali kamu mendzalimi diri sendiri."
"Tidak, Bibi." Shafiya menggeleng tegas.
"Tidak seperti itu. Saya hamil, bukan karena disentuh laki-laki."
"Maksudmu?"
"Kehamilan Saya, tidak lewat proses seperti itu."
Tak ada yang langsung bicara. Semua masih diam. Hingga akhirnya suara bibinya kembali terdengar. "Apa ada kehamilan tanpa sentuhan?"
"Ada, Bibi." Yang menjawab kali ini Ilzam.
Dan karena jawaban itu kini semua pandangan tertuju padanya, termasuk kyai Fakih dan Shafiya.
"Dalam kisah yang disebutkan Al-Qur’an--Maryam binti Imran. Beliau mengandung Nabi Isa tanpa sentuhan laki-laki.”
Khadijah mengerutkan kening.
“Itu… mukjizat,” ucapnya pelan.
Nada suaranya hati-hati, tapi jelas menyimpan keberatan.
“Apakah… hal seperti itu masih mungkin terjadi sekarang?”
Semua kembali menoleh pada Ilzam.
Dan Ilzam tidak langsung menjawab.
Ia menunduk sejenak. Menyusun kata yang tepat.
“Tidak. Itu mukjizat yang Allah berikan khusus kepada Maryam.”
"Dan para ulama telah menjelaskan. peristiwa itu tidak berulang. Bukan sesuatu yang bisa terjadi pada manusia setelahnya.”
Tidak ada nada menggurui.
Juga tidak menekan.
Ia hanya memberi penjelasan yang… menutup kemungkinan salah paham.
"Jadi?" Khadijah menatap Shafiya.
"Ya saya tahu hal itu. Dan saya tidak mengklaim mukjizat. Itu mustahil. Tapi memang saya hamil... tanpa sentuhan."
Shafiya tahu, apa yang ia katakan terdengar mustahil.
Namun itu kenyataan yang ia hadapi seorang diri.
Dan ia tidak langsung mencari pembenaran. Ia mencari kepastian.
Beberapa hari setelah kabar itu ia terima, Shafiya memilih pergi dari pesantren. Tanpa banyak penjelasan.
Tujuannya hanya satu--mencari jawaban medis.
Namun ia bahkan belum sempat sampai ke rumah sakit, sebuah kecelakaan lebih dulu menghentikan langkahnya.
Mobil yang dikemudikan Agam menabraknya di persimpangan jalan. Tidak keras, tapi cukup membuatnya kehilangan kesadaran.
Shafiya kemudian dilarikan ke Adinata Medical Center.
Dirawat sebagai pasien darurat.
Dan justru di situlah--jawaban dari pertanyaannya itu datang.
Dari hasil pemeriksaan yang tidak bisa dibantah, diketahui kalau Shafiya memang benar-benar hamil.
Fakta itu membuat Shafiya berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.
Ia tidak bisa kembali ke pesantren dengan keadaan seperti itu.
Juga tidak siap menghadapi pertanyaan--yang bahkan ia sendiri tidak punya jawabannya.
Dan di saat itulah--
tawaran itu datang.
Agam menyampaikannya dengan hati-hati.
Tentang seorang pria.
Tentang sebuah kebutuhan.
Dan tentang kemungkinan… yang bisa
menyelamatkan keduanya.
Sagara Adinata.
Seorang laki-laki yang sedang berada di bawah tekanan keluarganya sendiri.
Ia dituntut memiliki keturunan.
Bukan sekadar keinginan--tapi syarat yang menentukan posisinya di dalam keluarga besar Adinata.
Sagara sudah menempuh jalannya sendiri.
Memiliki anak bukan dari pernikahan. Tapi dari sebuah proses medis. Inseminasi. Prosedur itupun telah dijalankan.
Seorang perempuan dipilih atas kesepakatan. Kehamilan direncanakan.
Namun semuanya gagal.
Perempuan itu menghilang.
Tanpa jejak dan tanpa kepastian.
Sementara waktu… tidak lagi berpihak padanya. Sagara harus membawa perempuan yang sedang hamil anaknya ke hadapan keluarga besar Adinata.
Di sanalah, kesepakatan itu dibuat, antara Sagara dengan Shafiya.
Kesepakatan yang lahir dari dua kebutuhan.
Bagi Shafiya--itu adalah cara untuk menjaga dirinya.
Menjaga nama baik ayahnya.
Dan menutup sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pahami.
Bagi Sagara--itu adalah jawaban yang ia butuhkan. Tidak ada cinta di sana.
Tidak ada kedekatan. Hanya kesepakatan.
Dan Shafiya mengambil satu langkah lagi.
Ia tidak mau kesepakatan hanya di atas kertas. Tapi harus di atas sesuatu yang berketetapan hukum yang kuat.
Pernikahan.
Sagara tidak menolak.
Maka terjadilah itu.
Pernikahan yang tidak lahir dari cinta.
Namun dari kebutuhan… dan janji.
Dan sampai saat itu--tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tahu…
siapa ayah dari anak yang dikandung Shafiya.
🌹🌹🌹..
Hallo kakk semua, kabarnya gimana hari ini?
Semoga selalu dalam kebaikan ya..makasih ya udah baca, udah like..boleh minta ditambahin komen gak??
Oh ya utk pembaca baru..maksudnya yang baru baca di buku ini..perlu saya jelaskan ya..kenapa misteri kehamilan Shafiya dan pernikahannya dengan Sagara hanya dijelaskan dengan narasi yang singkat...padahal itu krusial banget....
Karena penjelasan detail sudah ada di buku sebelumnya. Kisah Sagara Shafiya dalam judul
CINTA DALAM KONTRAK DOSA DAN PAHALA.
Di sana kisahnya detail dan step by step..kalau berkenan boleh berkunjung ke sana ya kak..
Sedangkan utk pembaca lama..atau alumni dari kisah cinta di balik kontrak dan dosa.....makasih banyak ya hadirnya di sini..menerima undangan shafiya dan Sagara di buku ini..
Peluk kasih selalu untuk kakak² semuanya..
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering