Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
"Tunggu di luar!" perintah Fahri pada Reza.
Fahri masuk ke mobil menyusul Bella yang sudah duduk di bangku belakang dengan wajah cemberut. Fahri menatapnya tajam sambil beringsut perlahan, membuat Bella terpojok ke sisi jendela.
"Ngapain sih?" ketus Bella sambil mendorong dada Fahri yang menekan tubuhnya.
"Ngapain...?" ulang Fahri dengan senyum miring. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya, kamu ngapain sama pria tadi?" tanya Fahri dengan mata nyalang, bau-bau kecemburuan tercium jelas.
"Emangnya aku ngapain? Tidak lihat aku duduk, ngobrol, minum kopi." terang Bella dengan raut wajah kesal.
"Iya, aku lihat. Tapi kenapa harus duduk bareng dia, bukankah ada aku?" ujar Fahri yang sudah terbakar api cemburu.
"Lalu kenapa kalau ada kamu? Ngapain aku jadi obat nyamuk ngelihatin orang cipika-cipiki gak jelas... Sudah tau bawa istri masih saja tebar pesona sama wanita lain." cecar Bella meluapkan emosi yang sedari tadi dia tahan kemudian membuang muka ke arah jendela.
"Siapa yang tebar pesona, sayang? Aku juga kaget waktu dia mendekat, gerakannya terlalu cepat, aku tidak sempat menghindar." terang Fahri.
"Sudahlah, gak perlu cari-cari alasan. Bilang saja kamu senang." oceh Bella sambil mendorong Fahri kasar kemudian membuka pintu dan menyuruh Reza masuk ke mobil.
Setelah Reza masuk dan duduk di bangku kemudi, Bella meminta Reza mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalanan, Bella tidak melirik sedikitpun ke arah Fahri. Fahri sudah meminta maaf tapi tidak dipedulikan, Fahri menggenggam tangannya tapi ditepis. Terpaksa Fahri diam dan hanya bisa menatapnya.
Huft...
Fahri menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya kasar, dia tidak tau lagi bagaimana cara membujuk Bella.
Ketika berhenti di lampu merah, Fahri melihat ada penjual bunga yang menawarkan dagangan ke pintu-pintu mobil. Fahri menurunkan kaca dan membelinya.
"Sayang, maafin aku ya." ucap Fahri sambil menyodorkan bunga di tangannya ke arah Bella.
Bella mengambilnya, membuat senyuman di wajah Fahri menyungging.
"Ini buat kamu," Bella malah maju dan memberikan bunga itu pada Reza. Senyum Fahri seketika lenyap berganti rasa kecewa.
Astaga, Reza jadi kebingungan sendiri. Diterima, Fahri pasti marah padanya. Tidak diterima, Bella yang ngamuk. Dia benar-benar dilema.
"Ambil atau aku buang!" gertak Bella, dengan terpaksa Reza pun mengulurkan tangan ke belakang dan mengambil bunga itu, sayang jika dibuang.
Melihat Bella yang sepertinya benar-benar marah, Fahri tidak tau lagi harus bagaimana. Suasana mobil menjadi hening, ketiganya tidak lagi mengeluarkan suara, hanya bunyi mesin yang terdengar memecah kesunyian malam.
Sesampainya di halaman, Bella bergegas turun dari mobil dan masuk ke rumah dengan langkah cepat, lanjut ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
"Bella..."
"Bu..."
Sari dan Yanti yang sedang menonton televisi di ruang tengah, terkejut melihat kedatangan Bella yang berjalan sangat cepat. Dipanggil tak menyahut, malah masuk kamar dan mengunci pintu.
Selang beberapa detik, Fahri menyusul masuk dengan wajah putus asa. Dia duduk di sofa ruang tengah, didekat Sari dan Yanti duduk saat ini.
"Bu Bella kenapa, Pak?" tanya Yanti lebih dulu.
"Marah..." gumam Fahri sambil mengendurkan dasi.
"Marah kenapa?" timpal Sari dengan mata membulat sempurna.
Fahri mengusap wajah dengan kasar. Sambil bersandar, dia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Dia mengaku salah, tapi dia juga tidak sengaja melakukannya.
Mendengar cerita Fahri, Sari dan Yanti saling melirik, keduanya tidak membela siapa-siapa. Tapi sebagai wanita, mereka mengerti perasaan Bella, tentu Bella cemburu melihat suaminya disentuh wanita lain.
"Ya sudah, biarkan Bella sendiri dulu! Kalau dia sudah tenang, baru bicara lagi." ujar Sari.
"Iya, percuma dibujuk sekarang. Yang ada makin melebar," timpal Yanti.
Setelah mendapat saran dari keduanya, Fahri bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar. Dia terkejut ketika menekan handle pintu, pintu tidak bisa didorong.
"Sayang, buka pintunya! Jangan seperti ini!" sorak Fahri dengan suara lirih. Tidak apa-apa Bella mendiamkannya tapi jangan sampai pisah ranjang, Fahri tidak bisa tidur tanpa Bella di dalam dekapannya, dia sudah terbiasa.
"Sayang, aku mohon!" teriak Fahri lagi sambil menggedor-gedor pintu, akan tetapi tidak ada pergerakan dari dalam sana.
Di luar, rintik hujan mulai turun membasahi bumi, suara petir menggelegar. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Fahri kembali berteriak. "Sayang, buka pintunya. Di luar hujan, nanti mati lampu loh."
Dari dalam sana, Bella terperanjat. Dia tidak akan kuat jika mati lampu. Mau tidak mau, dia terpaksa bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.
Ceklek...
Tik...
Seiring pintu yang sudah terbuka, lampu bersamaan ikut padam.
Aaaa...
Bella berteriak dan langsung melompat ke pelukan Fahri yang berdiri di ambang pintu.
Dalam kegelapan, Fahri mengangkat tubuh Bella seperti anak kecil. Bella menutup mata dan memeluk tengkuk Fahri dengan kuat. "Baru dibilangin sudah mati kan, untung pintunya sudah dibuka. Jika tidak, kamu bisa pingsan di dalam sendirian."
Kemudian Fahri melangkah pelan sambil meraba-raba, takut kakinya tersandung dan Bella pun terjatuh. Setelah berhasil menemukan sisi tempat tidur, Fahri membawa Bella duduk.
Tik...
Baru saja Fahri mengambil ponsel di saku celana hendak menyalakan senter, lampu kembali menyala. Mata Bella berkedut merasakan ada cahaya.
Dengan wajah cemberut, Bella melepaskan tangannya dari tengkuk Fahri. Dia hendak turun dari pangkuan suaminya itu, tapi Fahri menguncinya, memeluknya dengan erat.
"Lepasin ih..." ketus Bella sambil mendorong lengan Fahri.
"Gak mau," geleng Fahri yang kemudian menempelkan kepalanya di dada Bella.
"Lepasin, Fahri!" kesal Bella dengan suara sedikit meninggi, dia memukul-mukul punggung suaminya itu dengan kasar.
"Pukul saja sampai puas!" ujar Fahri sambil menutup mata perlahan, hembusan nafasnya yang hangat menerpa dada Bella yang menempel di pipinya.
Capek menguras tenaga, Bella pun pasrah dan membiarkan Fahri berbuat semaunya. Percuma dipukul, yang ada tangannya yang kesakitan.
Merasa Bella sudah tenang, Fahri membuka mata dan menjelaskannya dengan rinci. "Aku dan Sinta dulu bertetangga. Setelah kembali ke rumah ini, aku tidak pernah berkomunikasi dengannya. Ini yang pertama setelah bertahun-tahun, aku tidak tau kalau dia orang yang Reza maksud. Andai aku tau, dari awal sudah aku tolak, aku tau dia suka padaku makanya aku tidak ingin berhubungan dengannya. Aku sudah punya istri, aku tidak ingin memberi kesempatan pada wanita manapun. Untuk masalah tadi, aku benar-benar kaget, aku terpaku melihatnya setelah sekian lama, makanya aku tidak sempat mengelak."
Mendengar penjelasan panjang Fahri, Bella hanya diam seribu bahasa.
"Benar sayang, aku menolak kerja sama itu." imbuh Fahri meyakinkan Bella.
"Kenapa ditolak, bukankah tawarannya menggiurkan?" tanya Bella penasaran.
"Bukan tentang menggiurkan segala macam, ini tentang aku dan kamu. Aku tidak ingin memberi celah pada wanita lain. Baru seperti tadi saja kamu sudah seperti ini, gimana kalau aku terima, otomatis aku dan dia akan sering bertemu. Apa gak tambah runyam jadinya?" jawab Fahri.
"Beh, pandai cari alasan." sindir Bella membuang muka.
"Astaga sayang, aku mengatakan yang sebenarnya." Fahri menangkup pipi Bella dan menatapnya dalam-dalam.
"Terserah kamu saja, mau diterima atau tidak, aku tidak ingin ikut campur, aku hanya karyawan, tidak punya hak..."
"Kamu punya hak, sayang. Kamu istri aku, kamu berhak mengatur aku." selang Fahri.
"Iya iya, sudah, tidak perlu dibahas lagi! Aku capek, mau tidur." Bella turun dari pangkuan Fahri dan berbaring di kasur, membiarkan Fahri membeku di tepi ranjang begitu saja.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡