Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 10
Pagi datang dengan tenang, menyusup pelan lewat celah tirai besar di ruang makan. Cahaya matahari Yogyakarta yang hangat jatuh di atas meja panjang yang sudah tertata rapi.
Seperti biasa, Rana sudah lebih dulu bangun.
Di atas meja, tersaji sarapan sederhana tapi penuh perhatian, roti bakar yang masih hangat, susu untuk Alaric dan Masayu, serta secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma khas, kesukaan Dipta sejak dulu.
Alaric duduk dengan rapi, sesekali mengayunkan kakinya di kursi. Masayu di sampingnya, lebih sibuk dengan roti yang di pegangnya, mengigit kecil-kecil sambil sesekali menatap kakaknya.
"Pelan, Ayu," ujar Rana lembur, sambil menuangkan susu ke dalam gelas kecil.
Tak lama, langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Dipta muncul dengan kemeja kerja yang sudah rapi, rambutnya masih sedikit basah. Ia langsung menuju meja makan tanpa banyak bicara, menarik kursi dan duduk ditempatnya.
"Pagi, Mas," ucap Rana seraya tersenyum.
"Pagi," balas Dipta singkat.
"Pagi ayah..." sapa Alaric, ia nyengir memperlihatkan giginya yang bersih.
"Pagi juga, Mas Al." Jawab Dipta seraya mengelus pucuk kepala putranya.
Setelah itu, hanya suara peralatan makan yang terdengar. Sendok yang bersentuhan dengan piring, sesekali suara kecil Masayu yang berbicara dengan bahasa polosnya, dan Alaric menanggapinya seperlunya.
Dipta menikmati sarapannya tanpa banyak komentar. Sesekali menyesap kopi hitamnya, tapi pandangannya terlihat jauh- tidak benar-benar berada di meja makan itu.
Rana memperhatikannya diam-diam.
Ada sesuatu yang berbeda. Bukan sikap dingin seperti dulu, tapi lebih kepada... tertutup.
"Apa di kantor sedang ada masalah, Mas?" tanya Rana dengan lembut, hati-hati, seperti tidak ingin terdengar mengintrogasi.
Dipta mengangkat wajahnya, menatap kedepan, lalu menatap Rana sebentar, kemudian kembali ke piringnya.
"Nggak," jawabnya singkat. Lalu, setelah jeda kecil, ia menambahkan. "Cuma ada kerjaan yang diurus di Jakarta."
Rana mengangguk pelan. "Kapan berangkat?"
"Rabu. Besok."
Jawaban itu membuat Rana sedikit terdiam, menghitung dalam pikirannya. Waktu yang cukup singkat.
"Aku minta tolong," lanjut Dipta, kali ini suaranya lebih datar, kembali ke nada formal yang sering ia gunakan saat membicarakan hal praktis. "Nanti malam siapin pakaian."
Rana tidak langsung menjawab, hanya menatapnya sejenak.
"Mungkin... sekitar lima hari di sana," tambah Dipta lagi. "Ada beberapa hal yang harus di beresin. Sama Pak Bram."
Nama itu disebut begitu saja, seolah cukup menjelaskan semuanya.
"Iya," jawabnya tenang. "Nanti aku siapkan."
Percakapan kembali terhenti.
Alaric tiba-tiba mengangkat wajahnya. "Ayah mau ke Jakarta lagi?"
Dipta menoleh, ekspresinya sedikit melunak. "Iya. Kerja."
"Lama?" tanya anak itu lagi.
"Sebentar."
Masayu ikut menimpali, meski ucapannya belum terlalu jelas. "Ayah...ikut..."
Rana tersenyum kecil, mengusap kepala putrinya. "Ayah kerja dulu, nanti pulang bawa oleh-oleh."
Masayu langsung berbinar, seolah itu jawaban terbaik.
Sementara itu, Dipta hanya diam, kembali pada kopinya.
Rana kembali memperhatikannya- cara pria itu menghindari kontak mata terlalu lama, cara ia menyelesaikan sarapannya lebih cepat dari biasanya.
Namun seperti biasa, ia tidak menahan.
Ia hanya bangkit setelah semuanya hampir selesai, mulai membereskan meja dengan gerakan tenang, seolah semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Padahal, di antara kesederhanaan pagi itu, ada sesuatu yang perlahan berubah.
Dan sepenuhnya terucap.
~
Siang hari menjelang, matahari berdiri tinggi di atas kota. Jarum jam hampir menyentuh pukul dua belas kurang lima belas ketika mobil yang ditumpangi Rana berhenti depan gedung kantor milik mereka.
Bagunan itu berdiri megah, kaca dan marmer memantulkan cahaya, mencerminkan posisi nama besar yang mereka sandang. Begitu Rana turun dari mobil, beberapa karyawan yang kebetulan berada di area depan langsung menunduk hormat.
"Siang, Bu."
Rana membalas dengan anggukan kecil, senyum tipis yang sopan. Langkahnya mantap, elegan, seolah ia memang bagian dari tempat itu- dan memang benar begitu adanya.
Sepanjang koridor menuju ruang kerja utama, sapaan hormat terus mengiringinya. Tidak ada yang berani menatap terlalu lama, tapi semua tahu siapa perempuan itu- istri dari pemilik perusahaan.
Namun ketika ia sampai di depan ruang kerja Dipta dan membuka pintunya, ruangan itu kosong.
Tidak ada siapa pun di dalam.
Rana berhenti sejenak di ambang pintu, matanya menyapu ruangan yang rapi dan tenang. Kursi kerja itu kosong, meja tertata tanpa gangguan, seolah belum lama di tinggalkan.
"Maaf...anda mencari Pak Dipta?"
Suara itu membuat Rana menoleh.
Seorang pria muda berdiri tak jauh darinya. Penampilannya rapi, usia sekitar pertengahan dua puluhan, dengan map di tangan. Wajahnya menunjukkan kebingungan tipis- jelas ia belum mengenali siapa yang sedang ia ajak bicara.
Rana menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan tenang. "Saya Rana. Istri Pak Dipta."
Ekspresi pria itu langsung berubah. Sedikit terkejut, lalu cepat menundukkan kepala dengan hormat.
"Maaf, Bu. Saya belum tahu..." ucapnya, sedikit gugup. "Saya Hamdan, sekretaris baru Pak Dipta."
Rana mengangguk kecil. "Pak Dipta dimana?"
"Beliau sedang di kantor kuasa hukum perusahaan, Bu. Bertemu dengan Pak Tobing."
Jawaban itu membuat Rana terdiam sesaat. Ia sempat mempertimbangkan untuk langsung pulang, tapi kemudian memilih langkah lain.
"Baik," katanya pelan. "Saya tunggu di sini saja."
Hamdan mengangguk. "Silahkan, Bu."
Rana masuk ke dalam ruang kerja itu, duduk dengan tenang di sofa yang tersedia. Waktu berjalan pelan. Suasana kantor yang formal terasa kontras dengan ketenangan yang biasa ia temui di rumah.
Namun belum terlalu lama, Rana melirik jam di pergelangan tangannya.
Waktu menjemput Alaric sudah hampir tiba.
Ia berdiri, merapikan pakaiannya, lalu keluar dari ruangan. Hamdan yang masih berada di dekat meja sekretaris langsung menoleh.
"Saya harus pergi," ujar Rana. "Ini... tolong di sampaikan ke Pak Dipta."
Ia menyerahkan sebuah kotak makan yang tadi dibawanya- bekal makan siang yang ia siapkan sendiri.
Hamdan menerimanya dengan kedua tangan. "Baik, Bu. Nanti saya sampaikan."
Rana mengangguk, lalu berjalan menuju lift.
Namun saat sampai di lobi, langkahnya sedikit terhenti.
Dari arah pintu utama, Dipta baru saja masuk.
Bersama seorang perempuan.
Langkah mereka sejajar, percakapan di antara keduanya tampak ringan. Perempuan itu berpenampilan rapi dan percaya diri, dengan aura yang cukup mencolok.
Dipta juga langsung menyadari keberadaan Rana.
Untuk sesaat, langkahnya melambat sebelum akhirnya mendekat.
"Rana," panggilnya.
Rana menoleh sepenuhnya, ekspresinya tetap tenang.
Dipta berdiri di hadapannya, lalu tanpa ragu memperkenalkan, "Ini Laras. Kakak tingkatku waktu kuliah."
Perempuan itu tersenyum ramah. "Halo."
Rana membalas dengan senyum yang sama sopannya. "Halo."
"Yang tadi malam aku bilang," lanjut Dipta, suaranya terdengar biasa saja. "Soal perceraian."
Penjelasan itu cukup sederhana, tapi terasa cukup untuk situasi tersebut.
Rana mengangguk pelan. Tidak ada kecurigaan di wajahnya. Tidak ada pertanyaan berlebih. Semuanya terlihat… wajar.
Penjelasan itu cukup sederhana, tapi terasa cukup untuk situasi tersebut.
Rana mengangguk pelan. Tidak ada kecurigaan di wajahnya. Tidak ada pertanyaan berlebih. Semuanya terlihat… wajar.
Dalam pikirannya, ini hanyalah bagian dari dunia suaminya- dunia yang memang tidak sepenuhnya ia masuki.
Ia hanya tahu satu hal: Dipta adalah pria yang datang bersama keluarganya dulu, memilihnya dari sekian banyak perempuan untuk menjadi istri. Dan sejak saat itu, ia menjalankan perannya dengan sepenuh hati.
Tanpa perlu menggali masa lalu yang tidak pernah diceritakan.
"Saya mau jemput Alaric," ujar Rana kemudian, memecah suasana dengan lembut.
Dipta mengangguk. "Masayu?"
"Sama Mbak Sari di rumah."
Rana melangkah sedikit mendekat, suaranya melembut. "Jangan lupa makan siang."
Kalimat yang sederhana. Sama seperti setiap hari.
Dipta menatapnya sebentar, lalu mengangguk singkat. "Iya."
Rana tersenyum kecil, lalu berbalik pergi.
Langkahnya tetap tenang, anggun seperti saat ia datang.
Sementara di belakangnya, dua orang yang ia tinggalkan berdiri dalam dunia yang tidak sepenuhnya ia ketahui.
Dan ia—tetap memilih percaya, tanpa prasangka.
...****************...
Bersambung...
Hai, jangan lupa dukung cerita aku ya. makasih udah mampir 🫶 jangan lupa komen, subscribe, vote, dan jangan loncat-loncat bab. Tolong bantu performa cerita pertama aku ya☺️