NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:69.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.

Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 - Restu Tania

Tiga bulan berlalu sejak malam Naomi kembali mengingat masa lalunya sebagai dokter. Selama tiga bulan itu pula, ada sesuatu yang perlahan bangkit lagi di dalam dirinya.

Naomi mulai membuka kembali buku-buku medis lamanya yang sempat tersimpan di kardus bawah tempat tidur. Buku-buku tebal penuh catatan kecil dan stabilo warna-warni.

Malam hari setelah Davin tidur, Naomi duduk di meja makan kecil apartemen sambil membaca. Kadang anatomi. Kadang prosedur bedah. Kadang jurnal medis terbaru yang dia cari lewat internet.

Awalnya sulit. Beberapa istilah terasa asing lagi di kepalanya. Tangannya bahkan sempat gemetar saat mencoba mengingat langkah-langkah prosedur tertentu.

“Aduh… ini dulu gampang banget…” gumamnya frustrasi sambil memijat pelipis.

Namun Naomi tidak menyerah. Dia sadar dirinya terlalu lama meninggalkan dunia itu. Kalau ingin kembali dia harus mulai dari nol lagi.

“Pelan-pelan aja,” kata Jihan suatu malam sambil lewat membawa camilan. “Otak dokter tuh kayak mie instan. Tinggal diseduh lagi.”

Naomi langsung tertawa kecil. “Perumpamaan apaan sih itu?”

“Ya pokoknya ngerti.”

Jihan memang sering menggodanya. Tapi diam-diam dia bangga melihat Naomi mulai hidup lagi.

Karena selama ini Naomi hanya bertahan. Sekarang, perempuan itu mulai punya tujuan lagi. Namun perjuangan Naomi tentu tidak mudah. Di sela-sela belajar, dia tetap harus mengurus Davin yang semakin aktif.

Bayi kecil itu kini hampir sepuluh bulan. Merangkaknya makin cepat, mulai berdiri sambil berpegangan sofa, dan ocehannya makin banyak.

“Ma… ma… mamamam…”

“Iya, Mama di sini,” jawab Naomi sambil tetap membaca buku di tangannya.

Kadang baru lima menit fokus, Davin sudah kabur entah ke mana.

“ASTAGA JANGAN GIGIT BUKU MAMA!”

Jihan yang melihat itu ngakak sampai hampir tersedak minum. Akan tetapi di balik semua keributan itu, ada satu kenyataan yang terus menghantui Naomi. Operasi kedua Davin semakin dekat. Operasi langit-langit mulut.

Junie sudah menjelaskan sejak lama bahwa operasi bibir hanyalah tahap pertama. Masih ada proses berikutnya agar Davin benar-benar bisa tumbuh optimal. Lagi-lagi, Naomi merasa takut.

Meski kali ini tidak separah dulu. Karena sekarang dia percaya pada Junie. Pagi itu Naomi datang ke klinik sambil menggendong Davin. Bayi kecil itu memakai overall biru muda dan sibuk memainkan gantungan tas ibunya.

Begitu masuk ke ruangan praktik, Junie langsung menoleh. Seperti biasa, ekspresinya sedikit berubah saat melihat Naomi.

“Pagi,” sapanya.

“Pagi, Dok.”

Junie langsung tersenyum kecil pada Davin. “Wah, jagoan datang.”

Davin malah tertawa kecil lalu mengulurkan tangan ke arah Junie seolah sudah akrab.

“Dia sekarang gampang akrab sama orang ya,” komentar Junie sambil menggendongnya.

“Kalau sama orang yang dia suka,” jawab Naomi santai.

Junie langsung salah fokus sepersekian detik.

Naomi sendiri tidak sadar ucapannya terdengar seperti apa.

Setelah pemeriksaan rutin selesai, Junie mencatat sesuatu di berkas medis. “Perkembangannya bagus,” katanya. “Berat badan juga oke buat persiapan operasi kedua.”

Naomi mengangguk lega. “Dok…” panggilnya pelan.

Junie mengangkat wajah. “Hm?”

Naomi terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya bicara. “Aku kayaknya… mau balik ke dunia medis lagi.”

Junie membeku sesaat. Lalu matanya langsung berubah lebih hidup. “Serius?” tanyanya cepat.

Naomi mengangguk pelan. “Masih takut sebenarnya… tapi aku pengin coba lagi.”

Entah kenapa, Junie terlihat benar-benar senang mendengarnya.

“Itu keputusan bagus,” katanya tulus.

Naomi tersenyum kecil. “Aku sekarang lagi belajar lagi pelan-pelan.”

Junie langsung mengangguk semangat. “Kalau ada yang mau ditanya, tanya saja.”

Naomi tertawa kecil. “Dokter sibuk.”

“Saya masih bisa jawab chat.”

Jawabannya terlalu spontan sampai Junie sendiri sedikit salah tingkah. Naomi malah tersenyum geli. Namun sebelum percakapan mereka lanjut, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

“Junie, Mama lupa bawa—”

Seorang wanita elegan masuk ke ruangan sambil membawa tas tangan mahal. Kalimatnya langsung berhenti saat melihat Naomi.

Naomi juga membeku.

“Oh…”

“Eh…”

Mereka saling menatap beberapa detik. Lalu hampir bersamaan berkata...

“Cleaning service?”

“Bundanya Davin?”

Junie langsung mengusap wajah pelan. “Astaga…”

Wanita itu adalah Tania. Ibunya Junie. Tentu saja Naomi mengenalinya. Karena dulu dia pernah beberapa kali membersihkan apartemen Junie saat Tania sedang datang berkunjung.

“Ya ampun!” Tania langsung tertawa kecil. “Pantesan saya merasa familiar!”

Naomi ikut tersenyum malu. “Iya, Tante…”

Junie memejam mata sebentar.

Sementara Tania malah mendekati Naomi antusias. “Aduh, udah lama nggak ketemu ya..."

Davin malah tersenyum lebar pada Tania.

“Nah tuh ramah banget lagi,” komentar Tania gemas.

Junie mulai curiga melihat arah situasi.Beberapa menit kemudian, setelah Naomi selesai konsultasi dan berpamitan pulang, Tania langsung menoleh pelan ke arah putranya. Hening dua detik.

“Kamu suka ya sama dia?”

“MA!”

Junie langsung hampir tersedak air minumnya sendiri.

Tania malah santai menyilangkan tangan. “Mama nggak buta.”

Junie mengusap tengkuknya cepat. “Nggak usah ngawur deh.”

“Oh jadi Mama salah lihat?” goda Tania. “Tatapan kamu tadi itu loh… lembut banget.”

Junie langsung salah tingkah. “Aku biasa aja.”

“Biasa dari Hongkong.”

“Mah…”

Tania malah duduk santai di kursi pasien sambil tersenyum jahil.

“Naomi cantik banget sih,” komentarnya.

Junie langsung memalingkan wajah. “Ya memang cantik.”

Begitu kalimat itu keluar, Junie langsung sadar kesalahannya.

Tania langsung membelalak dramatis. “NAH KAN!”

Junie menepuk dahinya sendiri. “Astaga…”

Tania tertawa keras sampai bahunya berguncang.

“Aduh anak Mama akhirnya suka perempuan juga…”

“Aku selama ini juga suka perempuan kali!”

“Iya tapi biasanya cuma suka tiga minggu.”

“MA!”

Tania makin ngakak. Lalu perlahan ekspresinya berubah lebih lembut.

“Kalau memang suka… nggak apa-apa,” katanya.

Junie terdiam sebentar.

“Status dia?” lanjut Tania santai. “Mama nggak masalah.”

Junie langsung menoleh.

“Dia punya anak?” sambung Tania lagi. “Davin lucu banget malah.”

Junie menghela napas kecil. “Belum tentu dia suka sama aku.”

“Ya dideketin.”

“Mah ini bukan anak SMA.”

“Emang kenapa? Dokter juga manusia.”

Junie sampai tertawa kecil mendengar ibunya.

Tania lalu menyenggol bahunya pelan. “Mama jarang lihat kamu setenang itu sama perempuan.”

Junie terdiam. Karena sebenarnya ibunya benar. Naomi memang berbeda.

...***...

Suasana yang sangat berbeda terjadi di rumah besar keluarga Hartanto. Rumah itu megah dan mewah. Tapi terasa dingin.

Di salah satu kamar bayi besar penuh dekorasi mahal, Abyan sedang menangis kecil di dalam boksnya. Namun bukan Anggun yang datang. Bukan juga Zayn. Melainkan seorang pengasuh wanita paruh baya.

“Iya sayang… iya…” gumamnya sambil menggendong bayi kecil itu.

Abyan kini sudah berusia tiga bulan. Wajahnya tampan kecil. Kulit putih bersih. Mata bulat mirip Anggun. Benar-benar bayi sempurna secara fisik. Namun hampir setiap harinya diisi oleh orang lain.

Anggun sangat sibuk dengan butik dan bisnis fashionnya. Pagi keluar, malam pulang. Kadang bahkan hanya sempat mencium kening Abyan sebelum tidur. Sementara Zayn juga tenggelam dalam pekerjaannya sebagau dokter penyakit dalam. Semua terasa lebih penting.

“Abyan sudah minum susu?” tanya Ratna suatu sore sambil berjalan cepat.

“Sudah, Bu,” jawab pengasuh sopan.

Ratna mengangguk lalu lanjut menerima telepon bisnisnya. Tidak ada yang benar-benar berhenti untuk bayi kecil itu. Bahkan saat malam.

Abyan tertidur sendiri di kamar luasnya. Lampu tidur menyala redup, tapi sunyi. Sangat berbeda dengan Davin yang tidur sambil dipeluk Naomi hampir setiap malam.

Suatu malam, Zayn akhirnya masuk ke kamar bayi setelah pulang larut. Dia berdiri di dekat boks sambil menatap anaknya lama. Abyan sedang tidur tenang. Zayn tersenyum kecil.

“Anak Papa…”

Tangannya mengusap kepala kecil itu pelan. Namun hanya beberapa menit. Karena setelah itu ponselnya berbunyi lagi. Zayn langsung mengangkat telepon dari rumah sakit sambil berjalan keluar kamar. Lagi-lagi Abyan ditinggal sendiri.

1
Retno Harningsih
up
Ariany Sudjana
mamanya saja pelacur murahan, ya pantas saja anaknya seperti preman. yang gini jadi cucu kebanggaan keluarga Hartanto? Davin yang tingkahnya lebih berkelas, malah di sia-sia, hanya karena lahir sumbing, bodoh kamu Zayn 🤣🤣😂😂
Anonim: awokawok ABYAN KAN ANAK HARAM AWOKAWOK
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga lancar sampai resepsi
Ma Em
Davin makin pintar cerdas , semoga acara lamaran Naomi dgn Junie dilancarkan tdk ada gangguan .
Ariany Sudjana
wah semangat yah dokter Naomi dan dokter Junie dalam mempersiapkan lamaran dan juga pernikahan nanti 😄💪
Ma Em
Anggun seorang ibu tdk mau mengurus anaknya , aneh saja sedangkan Naomi bisa melakukan apa saja demi anaknya .
Ass Yfa
kehidupan Zayn hancur da Naomi baru akan memulai hidupnya....yg aku heran kok Roby nggk ada rasa bersalah atopun menyesal...heh
Ariany Sudjana
anak pelacur murahan itu Abyan, suruh ibu kandungnya mengurus, kenapa juga Zayn harus mengurusnya? kan bukan anak Zayn juga, taruh saja di panti asuhan selesai perkaranya
sunaryati jarum
Kemungkinan bukan anakmu,tapi jika kamu pernah niduri Anggun sebelum menikah bisa jadi anakmu
MamDeyh
Kasyan Abyan
Ma Em
Bagus Naomi sdh jgn pedulikan lagi Zayn dan keluarganya karena bkn urusan Naomi lagi mungkin itu karma untuk Zayn dan ibunya , sekarang Naomi bisa membuktikan pada ibunya Zayn bahwa tanpa Zayn dan keluarganya hdp Naomi dan Davin bisa bahagia dan sukses dgn karir nya apalagi Naomi tdk lama lagi akan menikah dgn Junie lelaki yg lbh baik dari Zain .
Rommy Wasini Khumaidi
cepetan nikah Jun,sebelum Naomi ditempatkan di RS Hartanto
sunaryati jarum
Benar Naomi , ternyata tanpa kamu membalas mereka, mereka telah menuai karma atas perbuatannya.
Ayu Oktaviana
lha trs anaknya zain sama anggun gimana kbrnya kak.. jadi penasaran aku...🤣🤣
Ayu Oktaviana: ok kak.. sya tunggu ini😍😍
total 2 replies
Ariany Sudjana
setuju dokter Naomi, fokus saja sama kebahagiaan kamu dengan dokter Junie Dan PPDS kamu. keluarga toxic seperti Zayn dan Ratna lebih pantas masuk tempat sampah saja
Nadja 🎀
betul naomi
Eka
ayoo juneo cepat lamar naomi ke ayahnya
W I 2 K
g usah lama² babang Juni... nanti keburu Juli loh... 🤣🤣
sunaryati jarum
Cepat nikahnya Junie dan Naomi. Karma dibayar tunai ya, keluarga Dokter Hartanto, karena satu nama," Anggun' perilakunya tidak sesuai namanya
Ariany Sudjana
mampus kalian semua, keluarga kalian hancur dan terima saja konsekuensinya 😂😂🤣🤣 dan menantu kesayangan kamu sudah mengkhianati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!