Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pratama berdiri di depan jendela besar ruang perawatan VVIP, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak kelabu.
Pikirannya tidak bisa tenang. Wajah gadis SMA itu terus terbayang, mengaburkan logika yang selama ini ia agungkan.
Ia merogoh ponselnya dan menekan satu tombol cepat.
"Diko, ke ruangan saya sekarang," perintahnya singkat.
Tak lama kemudian, asisten kepercayaannya itu masuk.
Pratama berbalik dengan tatapan yang sangat serius.
"Cari tahu semua hal tentang seorang siswi bernama Gia dari SMA Harapan Bangsa. Jangan lewatkan satu detail pun. Keluarga, latar belakang, dan siapa saja yang berhubungan dengannya dalam satu bulan terakhir. Aku ingin datanya ada di mejaku sore ini."
Diko sedikit terkejut. "Siswi SMA, Pak? Apakah ini ada hubungannya dengan kecelakaan Ibu Diandra?"
"Aku belum tahu," jawab Pratama dingin. "Tapi instingku mengatakan ada sesuatu yang sangat salah di sini."
Sementara itu, bel istirahat berbunyi nyaring di sekolah.
Diandra berdiri dari bangkunya. Perutnya terasa perih; raga Gia yang malang ini sepertinya sudah lama tidak menyentuh makanan bergizi.
Ia melangkah menuju kantin dengan dagu terangkat.
Bisik-bisik langsung menjalar di sepanjang koridor.
Banyak siswa yang menatap heran. Selama ini, Gia adalah "hantu" sekolah.
Ia tidak pernah ke kantin. Jangankan untuk jajan, untuk makan siang saja dia sangat susah.
Gia biasanya bersembunyi di gudang atau perpustakaan untuk menahan lapar.
Namun hari ini, Diandra menggunakan uang pemberian dokter yang baik hati itu.
Ia memesan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk yang enak.
Saat ia baru saja hendak menyuap, bayangan besar menutupi mejanya.
Kinanti berdiri di sana bersama dayang-dayangnya.
Ia menatap makanan Diandra dengan jijik. "Wah, si miskin sekarang sudah berani pamer ya? Pakai uang siapa kamu? Uang hasil mencuri atau uang hasil menjual diri, Gia?"
PLAKK!
Suara tamparan itu begitu keras hingga membuat seisi kantin membeku.
Kinanti terjerembap ke samping, memegang pipinya yang panas.
"Diam, atau aku sendiri yang akan memotong lidahmu," ucap Diandra tanpa nada emosi.
Ia bahkan tidak berhenti mengunyah makanannya.
Matanya menatap Kinanti seolah gadis itu hanyalah serangga pengganggu.
Tiba-tiba, seorang gadis berkacamata dengan rambut dikuncir kuda muncul dan bertepuk tangan dengan riang.
Ia adalah Anita, satu-satunya orang yang terkadang berani bicara pada Gia.
"Wah, luar biasa! Gia, kamu baru saja melakukan apa yang ingin dilakukan seluruh sekolah selama tiga tahun ini!" seru Anita sambil duduk di depan Diandra.
Diandra mengernyitkan dahi. "Kamu siapa?"
Anita mencubit lengan Diandra dengan gemas. "Aduh, apa benturan di sungai itu bikin otakmu geser? Ini aku, Anita! Sahabatmu yang paling setia meski sering kamu abaikan!"
Anita kemudian mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Diandra.
"Aku yang menyelamatkanmu saat di sungai malam itu, Gia," bisik Anita, suaranya gemetar.
"Aku melihat semuanya dari kejauhan. Aku menarik tubuhmu ke tepi sebelum warga menemukannya. Tapi maaf, aku tidak berani lapor polisi."
Tangan Anita meremas ujung roknya. "Orang tua Ferdian punya kekuasaan besar. Aku takut mereka akan mengancam nyawaku dan keluargaku jika aku bicara. Maafkan aku yang penakut ini."
Diandra tertegun. Ia menatap Anita dengan pandangan baru.
"Jadi, gadis kecil ini adalah orang yang menjaga jasad Gia tetap utuh hingga jiwanya (Diandra) bisa masuk ke dalamnya."
"Jangan minta maaf," ucap Diandra sambil menggenggam tangan Anita yang dingin.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar. Sekarang, biarkan aku yang mengambil alih. Ferdian dan kekuasaan orang tuanya tidak akan berarti apa-apa sebentar lagi."
Anita menatap mata "Gia" dan merasa merinding. Mata itu tidak terasa seperti mata sahabatnya yang penakut. Itu adalah mata seorang pemangsa yang sedang mengincar leher korbannya.
Diandra duduk kembali dengan tenang, seolah tamparan yang ia berikan pada Kinanti barusan hanyalah selingan kecil.
Ia menyuap nasi ke mulutnya, mengecap rasa bumbu yang sederhana namun terasa mewah bagi raga Gia yang sudah lama kelaparan.
"Aku merindukan masakan katering di perusahaan," gumam Diandra pelan, teringat pada menu makan siang mewah yang biasa disajikan di kantor pusat Pratama Group.
Anita yang duduk di depannya membelalakkan mata. Ia hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Perusahaan? Perusahaan apa, Gia? Apakah kamu benar-benar amnesia? Kita ini cuma siswi SMA yang jajan di kantin sekolah dengan uang pas-pasan!"
Diandra tersadar bahwa ia hampir saja membongkar identitasnya.
Ia menatap Anita, lalu menyunggingkan senyum kecil yang misterius—senyum yang sangat jarang terlihat di wajah Gia yang dulu.
"Mungkin kepalaku benar-benar terbentur batu di sungai malam itu," jawab Diandra santai.
"Banyak pikiran aneh yang muncul di kepalaku sekarang. Abaikan saja."
Anita menggeleng-gelengkan kepala. "Aneh... kamu benar-benar berubah 180 derajat. Tapi aku suka Gia yang sekarang. Setidaknya Kinanti tidak akan berani macam-macam lagi."
Sementara itu, di sebuah ruangan VVIP rumah sakit yang berbau antiseptik, Diko masuk dengan terburu-buru. Ia membawa sebuah tablet dan beberapa lembar dokumen rahasia.
"Pak Pratama, ini informasi yang Anda minta mengenai siswi bernama Gia," ucap Diko sambil meletakkan dokumen itu di meja kecil di depan Pratama.
Pratama, yang masih setia duduk di samping tubuh koma istrinya, segera menyambar dokumen tersebut.
Matanya dengan cepat menyisir data diri Gia. Yatim piatu, tinggal di panti asuhan lalu pindah ke rumah petak, korban perundungan.
Semuanya terlihat biasa saja, hingga Diko memutar sebuah video di tabletnya.
"Ini adalah rekaman diam-diam dari salah satu murid di kelasnya tadi pagi, Pak. Saat jam pelajaran matematika," jelas Diko.
Pratama terpaku menatap layar. Di sana, seorang gadis remaja dengan rambut bob yang tegas sedang berdiri di depan papan tulis.
Gerakan tangannya saat memegang kapur, cara dia berdiri dengan punggung tegak, hingga metode yang dia gunakan untuk memecahkan soal kalkulus tingkat tinggi itu...
Pratama merasakan tangannya bergetar hebat saat melihat rekaman itu.
"Metode substitusi silang dengan logika terbalik..." gumam Pratama dengan suara serak.
"Ini bukan metode yang diajarkan di SMA. Ini adalah cara pengerjaan yang dibuat oleh Diandra saat dia masih sekolah dulu. Dia selalu bangga dengan metode efisiennya ini."
Pratama mengusap wajahnya yang tampak lelah. Pikirannya bergejolak.
Secara medis, istrinya ada di depannya, terbaring tak berdaya. Namun, di layar itu, seorang gadis asing menunjukkan kecerdasan dan gerak-gerik yang hanya dimiliki oleh cintanya.
"Diko, jemput gadis ini setelah sekolah usai," perintah Pratama dengan nada yang tak terbantahkan.
"Tapi Pak, dengan alasan apa kita menjemputnya?" tanya Diko ragu.
"Bawa dia ke sini. Katakan padanya..." Pratama terdiam sejenak, menatap wajah Diandra yang pucat di ranjang rumah sakit.
"Katakan padanya ada seseorang yang ingin menguji apakah dia benar-benar 'tolol' seperti yang dikatakan gurunya."
Pratama tahu, jika gadis itu benar-benar "istrinya", dia tidak akan bisa menolak tantangan itu.