Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zavian kesal
Setelah menjaga kelas Clarinda yang kosong karena gurunya sedang rapat di sekolah lain, Zavian akhirnya kembali ke ruangannya.
Ia benar-benar merasa hari ini seperti tidak ada habisnya. Sejak pagi ia sudah mondar-mandir mengurus banyak hal di sekolah. Ruang guru, ruang administrasi, aula rapat, dan meninjau kelas-kelas yang kosong.
Tak berselang lama ia memimpin rapat para guru.
"Jelaskan hasil rapat tadi Bu Alya," suara Zavian mengintimidasi namun masih terlihat berwibawa meskipun ia lebih muda dari Bu Alya, guru sejarah di SMA Cendekia.
“Baik Pak Zavian." Bu Alya mengangguk. "Ada revisi untuk kisi-kisi ujian,” ujarnya sambil membuka map.
Bu Alya mulai memaparkan hasil rapat yang diadakan antar sekolah satu kota. Mulai dari perubahan materi, sistem pengawasan ujian, hingga kebijakan baru dari dinas pendidikan.
Zavian mendengarkan dengan serius sambil sesekali mencatat poin penting. Wajahnya tetap datar seperti biasa, namun semua guru tahu pria itu benar-benar fokus.
“Jadi simulasi ujian nasional kita majukan," keputusan Zavian pada akhirnya.
“Lalu Pak Zavian, untuk pendaftaran siswa baru bolehkah di perpanjang. Karena antusias peserta didik baru sangat tinggi. Tahun ini pendaftaran mebludak Pak," jelas guru yang lain.
"Boleh. Sediakan untuk kuota dua kelas lagi. Dan buat buat sistem antrean online tambahan,” tutur Zavian cepat. “Oh ya, rekrut setidaknya empat guru baru."
“Baik, Pak.”
Rapat kecil itu usai, semua guru keluar satu per satu. Ruangan mendadak sepi.
Zavian menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia memijat pelipisnya perlahan.
Capek. Benar-benar capek.
Sebagai kepala sekolah muda, pekerjaannya tak ringan. Apalagi menjelang ujian nasional seperti ini. Bahkan setelah ini juga harus menghadiri rapat kepala sekolah se-kota di Kemendikbud setempat.
Sudah lewat jam pulang sekolah rapat akhirnya selesai. Ia tak kembali ke sekolah ia hanya ingin pulang, mandi air hangat, lalu tidur tanpa memikirkan apa pun.
Ah ia lupa akan Clarinda. Tapi seharusnya gadis itu sudah pulang. Naik taxi kek atau apalah terserah.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Leo muncul di layar disertai panggilan video.
Zavian yang baru saja menyalakan mobil akhirnya mengurungkan niat menyetir. Ia menghela napas malas sebelum mengangkat panggilan itu.
Wajah Leo langsung memenuhi layar dengan senyum menyebalkan.
“Ada apa? Aku sibuk.”
“Sok sibuk,” ejek Leo sambil tertawa. “Emang kau nggak bosan rapat melulu?”
“Sudah tugasku.”
“Ah, hidupmu membosankan sekali, Pak Kepala Sekolah.”
Zavian mendecih malas.
“Ayolah ikut aku.”
“Ke mana?”
“Kenalanku buka resto baru di mall. Launching hari ini. Dia ngundang kita.”
“Dia kenalanmu.”
“Ah tak masalah. Aku juga ngajak yang lain.”
Zavian diam beberapa detik. Sejujurnya ia malas. Namun Leo memang tipe manusia yang kalau sudah mengajak, sulit sekali ditolak.
“Ayolah Zav…” Leo memasang wajah memelas berlebihan. “Kalau kau nggak datang nggak asyik. Nggak ada yang ketus-ketus marah-marah.”
“Syialan!”
Leo malah tertawa puas melihat ekspresi datar kesal Zavian. “Nah gitu dong. Bentar lagi aku sharelock ya.”
Belum sempat Zavian menolak lagi, panggilan itu sudah diputus sepihak.
Mobilnya akhirnya melaju menuju mall. Di perjalanan, Zavian sempat menelfon rumah.
“Mom.”
[“Iya sayang?”]
“Hari ini aku pulang telat. Nggak usah siapin makanan banyak.”
[“Oh iya tak apa. Kalian bersenang-senang aja.”]
Zavian mengernyit. “Kalian?”
[“Iya. Jangan terlalu malam pulangnya. Clea besok sekolah.”]
Zavian langsung diam. Clarinda ternyata belum pulang. Dan mommy-nya berpikir gadis itu sedang bersamanya.
Lelaki itu menghela napas panjang malas berdebat mendengar mommy nya ngomel. “Iya Mom.” Panggilan ditutup.
“Dasar bocah… pandai sekali memanfaatkan situasi," gumam Zavian. Memikirkan gadis itu membuat kepalanya tambah pening.
Zavian sampai di resto yang di maksud. Restoran jepang yang buka di dalam area mall. Teman-temannya sudah berkumpul di sana. Leo, Kevin, Reno, Bram dan yang membuat Zavian urung melangkah menghampiri meja geng nya tatkala melihat sosok yang tak asing di matanya.
Deg.
Tubuh Zavian membeku ditempatnya. Seorang wanita berdiri di sana.
Cantik.
Elegan.
Gaun cream dibawah lutut membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambut bergelombang panjang tergerai indah di bahunya.
Rosalia.
Mata wanita itu langsung berbinar saat melihat Zavian.
“Zavian…” Suara itu masih sama.
Lembut.
Tenang.
Membuat da-da Zavian terasa aneh.
“Kau datang juga.” Senyuman Rosalia adalah maut bagi Zavian. Dulu.
Leo langsung melambaikan tangan heboh. “Zav! Sini!”
Zavian masih diam.
“Rosa sudah menunggumu,” lanjut Leo tanpa dosa. Begitupun teman yang lain. Padahal mereka tahu Zavian saat ini sedang menahan emosi.
Tatapan tajam Zavian langsung menyapu satu meja. Satu per satu tak luput dari tatapan Zavian. Mereka semua langsung pura-pura sibuk.
Syialan. Ini jebakan mereka.
Rosalia tampak hendak melangkah mendekat, namun Zavian sudah lebih dulu berjalan menuju meja lalu duduk di kursi kosong yang disediakan.
Wajahnya dingin. "Brengsyek kalian!" Gumamnya lirih.
Bram yang duduk di sampingnya menepuk bahunya pelan. “Santailah Zav.”
Tatapan Zavian malah makin menyeramkan.
Rosalia berusaha tersenyum. “Terima kasih kalian sudah mau datang." Wanita itu tersenyum hangat kepada semuanya. “Kalian nikmati makanannya ya. Kalau mau tambah jangan sungkan. Maaf aku tinggal dulu.”
Rosalia berjalan menuju panggung kecil di depan restoran. Lampu sorot langsung mengarah padanya. Rosalia tampak begitu percaya diri. Begitu bercahaya.
“Selamat siang semuanya,” ucap Rosalia lembut sambil memegang mic. Para tamu mulai fokus mendengarkan.
“Saya sangat berterima kasih karena kalian bisa hadir di hari yang begitu berarti untuk saya.” Senyumnya terlihat tulus.
“Restoran ini bukan hanya tentang bisnis… tapi juga mimpi yang akhirnya bisa saya wujudkan.”
Tepuk tangan mulai terdengar.
“Saya percaya makanan bukan sekadar tentang rasa. Tapi tentang kenangan… tentang orang-orang yang berkumpul di meja yang sama dan saling berbagi cerita.” Rosalia melihat kearah Zavian.
“Maka dari itu saya berharap tempat ini bisa menjadi tempat yang hangat untuk siapa pun yang datang.” Rosalia menunduk hormat. “Saya Rosalia mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas dukungan kalian semua. Semoga restoran ini menjadi kebanggaan kita bersama.”
Tepuk tangan meriah memenuhi ruangan.
Leo bahkan bersiul heboh. “Cakep banget."
"Tambah usia tambah hot. Iya nggak Zav," mata Kevin melirik Zavian.
“Berisik,” sahut Zavian dingin. Namun jauh di dalam hati ia mengakui Rosalia memang berubah jauh lebih dewasa.
Tiba-tiba ponsel Bram berdering. Pria itu langsung mengangkatnya dan seketika wajahnya berubah panik.
“Apa?! Hilang?!”
Semua yang di meja itu langsung menoleh memperhatikan Bram.
“Mbak ini gimana sih ngawasinnya?!”
Bram buru-buru berdiri.
"Kenapa Bram?" Reno penasaran.
“Nina hilang." Tanpa banyak bicara lagi Bram langsung pergi meninggalkan restoran.
Meskipun sibuk Bram selalu menyempatkan diri meluangkan waktu untuk putrinya Nina. Hari ini Bram sedang bersama Nina.
Acara Rosalia ini tak terjadwal sebelumnya. Leo mengajak teman-temannya dan mereka sepakat mempertemukan Zavian dengan Rosalia. Kebetulan Bram berada di mall yang sama. Sayangnya Nina tak mau ikut ayahnya. Ia belum puas bermain. Sehingga anak itu ditemani oleh babysitter saja.
Setengah jam berlalu, Bram memberi kabar kalau Nina sudah ketemu, tapi anak itu tantrum dan minta pulang.
Mereka adalah tamu spesial Rosalia hari ini. Setelah penyambutan itu Rosalia mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih privat. Ada karaoke di ruang ini.
Makanan datang lagi. Tapi Zavian terlihat tak menikmati acara ini namun teman-temannya menenangkannya.
"Nanti kita jelaskan Zav. Sekarang habiskan makanan mu," ujar Reno sambil menyuap sushi.
"Iya habiskan dulu. Gratis ini," sahut Leo.
"Awas kalian!" Gerutu Zavian.
"Iya... Iya... maaf Pak Kepala," Leo mengatupkan tangan.
"Kepala ndasmu!" Ketus Zavian.
Kevin ngakak. "Sudah-sudah jangan ribut. Ayo makan gih," Kevin mengakhiri keributan.
Mereka bersenang-senang. Leo dan Kevin bernyanyi meskipun fals. Niatnya menghibur Zavian tapi tak mempan. Sementara Reno terkekeh geli dan menghabiskan makanan yang ada.
Setelah urusannya selesai Rosalia kembali menemui mereka. "Bagaimana? Kalian suka?"
"Oh jelas dong," Reno pede.
"Oishi pokoknya." Leo memberikan jempol dua.
Rosalia melihat Zavian, ia masih belum bisa menebak apa yang ada di pikiran lelaki itu.
Ponsel wanita itu berdering. Ia langsung mengangkatnya. Ia mendengar penjelasan dari alwan bicara di sebrang sana.
"Oh begitu ya Pak. Jadi tak bisa hari ini?" Raut muka Rosalia terlihat kecewa. "Baiklah. Terimakasih." Lalu ia menghela nafas pasrah.
"Kenapa Rose?" Tanya Kevin.
"Mobilku mogok tadi diderek ke bengkel. Kukira sudah selesai diperbaiki tapi ternyata masih butuh waktu lagi," suara wanita itu begitu lembut dan kalem.
"Lalu kau tadi ke sini gimana?" Reno penasaran.
"Taxi online. Sekarang sepertinya juga begitu."
"Wah ....ini sudah malam," Leo melirik Zavian lalu menyenggol lengannya. "Zav, anterin Rosa gih. Kalian serarah kok."
Zavian langsung menatap Leo tajam.
Namun manusia itu malah pura-pura minum.
“Ayolah Zav, kasihan,” tambah Reno.
Memang syialan mereka ini. Namun pada akhirnya Zavian tetap mengantarkan Rosalia pulang.
Mata Rosalia tampak berbinar lagi.
“Terima kasih… Zavian."
*
Kesabaran Zavian mendadak diuji lagi.
Tepat di depan matanya Clarinda sedang berdua bersama Rama. Tangan mereka saling menggenggam. Mereka bahkan tertawa kecil.
Rahang Zavian langsung mengeras. Ia menggerutu dalam hati.
“Syialan gadis ini.” Tatapannya menajam ke arah tangan mereka. “Beraninya kelayapan tanpa ijinku. Berduaan lagi.”
Clarinda bahkan tak menyapanya walau sekedar basa-basi. Mood yang sedari tadi sudah anjlok sekarang kian nyungsep.
Mobil Zavian akhirnya sampai di apartemen Rosalia. Suasana malam terasa tenang. Lampu kota memantul di kaca mobil.
Apartemen elit terletak di tengah kota. Lokasi ini sama dengan apartemen Zavian yang ia tinggali sebelum pindah ke rumah yang diberikan kakek Damar sebagai hadiah. Unitnya berada di lantai 7. Untuk saat ini Zavian tak berniat tahu Rosalia menempati unit yang mana.
“Terima kasih,” ujar Rosalia lembut. “Maaf merepotkanmu… Zavi.”
“No problem.”
“Kau tak ikut turun?”
Zavian menoleh sekilas.
“Kau bisa mampir. Kita ngobrol sebentar.”
“Lain kali saja. Aku sudah ditunggu."
Rosalia tersenyum tipis meski ada sedikit kecewa di wajahnya. “Em… baiklah.”
Wanita itu menggigit bibir bawahnya pelan.
“Kabarmu bagaimana, Zavi?”
“Baik.”
Rosalia menghela napas kecil. “Mungkin kau sudah dengar tentang perceraianku.”
“Sudah.” Jawaban singkat itu membuat Rosalia sejenak terdiam.
“Hanya itu?” Rosa berharap Zavian lebih simpati padanya.
Zavian menoleh padanya. Tatapannya tetap datar. Ia memang pernah menyukai Rosalia dulu. Bahkan mungkin terlalu menyukainya.
Namun waktu telah mengubah banyak hal.
“Naiklah,” ujar Zavian akhirnya. “Kau nampak lelah.”
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat hati Rosalia terasa hangat. Wanita itu tersenyum.
“Lain kali kita ngobrol lebih banyak.” Rosalia membuka pintu mobil. “Sekali lagi terima kasih sudah mengantarku.”
“Hm.” Zavian hanya mengangguk tanpa senyum.
Pintu tertutup.
Rosalia berjalan masuk ke lobby apartemen.
Sementara Zavian masih diam di balik kemudi. Wangi parfum Rosalia masih tertinggal memenuhi mobilnya.
Namun anehnya… justru yang terus muncul di pikirannya malah wajah Clarinda yang berjalan sambil menggandeng tangan Rama tadi.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"