NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Yang di Sembunyikan

Zea menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke area kantin. Ia berusaha mengeraskan otot kakinya, mencoba menekan rasa nyeri yang menusuk setiap kali pergelangan kakinya menyentuh lantai. Di salah satu meja favorit mereka dekat jendela, Salsa dan Nadine sudah duduk dengan piring masing-masing. Namun, jantung Zea berdegup lebih kencang saat melihat sosok jangkung berjaket denim duduk di sana.

Kael. Entah sejak kapan pria itu bergabung.

“WOI! Lama banget dari toilet!” seru Salsa, suaranya menggelegar hingga beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh.

Nadine menyipitkan mata, menopang dagu dengan tangan. “Lu ngapain saja? Mandi sekalian? Atau lagi dandan buat narik perhatian pangeran kampus kita ini?” sindirnya sambil melirik Kael.

Kael tidak ikut tertawa. Matanya yang tajam langsung menangkap sesuatu yang janggal. Ia mengernyit, memperhatikan setiap langkah Zea yang tampak kaku. “Tunggu… Ze, cara jalan lu kenapa?”

Zea membeku. Sedetik ia merasa oksigen di sekitarnya menipis. Ia buru-buru mengatur langkah, memaksakan diri berjalan senormal mungkin meski keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

“Gapapa kok. Cuma pegal saja,” jawabnya singkat.

Salsa tidak semudah itu percaya. Ia langsung berdiri, menghampiri Zea dan menarik bahu sahabatnya itu untuk berhadapan. Matanya menyapu wajah Zea dengan teliti. Rambut Zea yang biasanya rapi kini sedikit berantakan di bagian belakang, sisa-sisa bedaknya luntur di beberapa bagian, dan yang paling mencolok—ada rona merah samar yang tidak alami di pipi kirinya.

“Zea.” Nada suara Salsa berubah rendah dan serius. “Apa yang terjadi?”

Nadine ikut berdiri, rasa cemas mulai merayap di wajahnya. “Iya, jangan bohong. Muka lu kayak habis kenapa-napa. Pipi lu kenapa merah begitu?”

Kael kini ikut berdiri. Aura di sekelilingnya mendadak mendingin. Tatapannya menusuk tajam, seolah sedang mencari musuh yang tidak terlihat. “Siapa yang nyakitin lu, Ze?” tanya Kael dengan suara yang berat.

Hati Zea menghangat. Rasanya ingin sekali ia tumpah ruah, menceritakan betapa kasarnya Dela dan pengikutnya tadi. Namun, bayangan ancaman Dela soal posisi keluarganya sebagai investor besar kampus terlintas di benaknya. Jika masalah ini membesar, Zea yang akan hancur. Ia tidak boleh egois. Ia butuh ijazah ini demi masa depannya.

Zea memaksakan senyum kecil, sebuah topeng yang sudah biasa ia pakai. “Serius, enggak ada apa-apa. Tadi gue cuma kepeleset di toilet dekat wastafel. Lantainya licin banget, kayaknya petugas baru saja ngepel tapi lupa kasih tanda.”

“Kepeleset sampai pipi merah begitu?” selidik Nadine tak percaya.

Zea mengangguk cepat. “Iya… pas jatuh, muka gue kejedot pintu sedikit. Aduh, sumpah, itu malu banget kalo ada yang liat. Makanya gue agak lama di sana, buat benerin riasan sedikit.”

Salsa menghela napas panjang, menatap Zea lama sebelum akhirnya mengusap pundaknya. “Kita sahabat lu, Zea. Kalau ada apa-apa cerita. Jangan ditelan sendiri. Siapa tahu kita bisa bantu, seenggaknya buat jagain lu.”

Mata Zea sedikit memanas. Dukungan itu tulus, dan itu hampir meruntuhkan pertahanannya. Namun ia tetap menggeleng. “Serius, gue gapapa. Paling beberapa hari juga sembuh.”

Melihat Zea yang terus menutup diri, akhirnya mereka kembali duduk. Suasana cair kembali saat Nadine mulai melempar gosip tentang Kael.

“Kael katanya ditolak anak Hukum lagi ya?” tanya Salsa sambil menyuap nasi gorengnya.

Kael mendelik tajam. “Itu hoax. Gue nggak pernah nembak dia.”

Nadine tertawa terbahak-bahak. “Katanya lu nembak terus dibilang ‘maaf, aku lagi mau fokus organisasi’? Itu penolakan paling sopan dan elegan yang pernah gue dengar!”

“DIAM KALIAN!” gerutu Kael sambil melemparkan tisu bekas ke arah Nadine.

Zea ikut tertawa. Dan untuk sesaat, tawa itu menjadi obat bius yang membuatnya lupa pada rasa nyeri di kakinya dan perih di pipinya.

Langit mulai berubah menjadi sangat terik saat Zea berjalan tertatih menuju halte bus. Pergelangan kakinya kini mulai membengkak, membuatnya harus sesekali berhenti untuk beristirahat. Untungnya dosen membatalkan kelas karena ada masalah pribadi katanya. Akhirnya ia bisa lebih awal bertemu ibunya di rumah sakit.

Cittt!

Sebuah motor sport berhenti tepat di depannya. Sang pengendara membuka kaca helm. Ia Kael.

“Mau ke rumah sakit?” tanya Kael. Pria itu tidak tersenyum, tatapannya masih menyimpan kecurigaan sejak di kantin tadi. “Naik aja. Aku antar sampai tujuan.”

Zea terdiam sebentar, lalu menggeleng pelan. “Enggak usah, Kael. gue bisa naik bus.”

“Zea.” Kael turun dari motornya. “Lu pincang. Jangan keras kepala. Lu mau pingsan di jalan karena nahan sakit?”

Zea justru mundur selangkah. Tatapan matanya mendadak serius, bahkan terkesan dingin. “Kael, tolong. Pergi ya. Jangan antar gue.”

Kael membeku. “Kok jadi gitu?”

Zea menggigit bibir, menahan gejolak emosi. “Gue nggak bisa terlalu dekat sama lu, Kael. Gue nggak mau ada masalah lagi.”

Kalimat itu membuat Kael tertegun. Suaranya mengecil, penuh penekanan. "Masalah? Masalah yang di toilet tadi, kan?”

Zea tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, namun diamnya sudah cukup menjadi konfirmasi bagi Kael. Wajah Kael mengeras, rahangnya mengetat.

“Siapa, Zea? Siapa yang bikin lu begini?” desak Kael.

Zea menggeleng keras. “Jangan ikut campur. Gue mohon. Kalau lu benar-benar peduli, tolong jangan bikin semuanya lebih rumit buat gue.”

Kael mengepalkan tangan di stang motor hingga buku jarinya memutih. Amarah dan rasa tidak berdaya berkecamuk di dadanya. Namun melihat raut memohon Zea, ia akhirnya menghela napas panjang.

“…Oke. Tapi kalau ada apa-apa, hubungi gue,” ujar Kael lirih.

“Terima kasih,” potong Zea lembut.

Kael menatapnya lama, seolah ingin memastikan Zea akan baik-baik saja, sebelum akhirnya ia memacu motornya pergi. Zea menghela napas lega saat motor itu menghilang, lalu perlahan naik ke dalam bus yang baru saja tiba.

Rumah Sakit

Bau karbol dan suara langkah kaki suster menyambut Zea. Ia berjalan menuju ruang rawat nomor 302. Begitu membuka pintu perlahan, ia melihat ibunya sedang bersandar pada bantal, menatap jendela.

“Ibu…” panggil Zea pelan.

Wanita paruh baya itu menoleh. Senyumnya langsung merekah, meski wajahnya masih tampak pucat pasca operasi. “Anak Ibu datang…”

Zea duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin namun menenangkan. “Gimana perasaannya? Kata dokter gimana keadaanya habis operasi?”

“Tadi dokter dateng ke sini. Katanya operasinya berhasil lancar. Asal Ibu rajin kontrol dan jaga kondisi, sebentar lagi bisa pulang katanya,” lapor ibunya dengan binar mata yang kembali hidup.

Mata Zea langsung berbinar lega. Beban berat di pundaknya seolah terangkat sebagian. “Beneran?! Alhamdulillah… Zea senang banget dengarnya, Bu.”

Namun, mata Zea kemudian tertuju pada nampan makanan di atas meja nakas. Isinya masih utuh, hanya berkurang satu dua suap. “Kok belum dimakan, Bu? Harus habis dong.”

Ibunya mengerucutkan bibir seperti anak kecil. “Ibu nggak nafsu, Ze. Rasanya hambar banget, kayak makan kertas basah.”

Zea tertawa kecil, ia mengusap punggung tangan ibunya. “Namanya juga makanan rumah sakit, Bu. Biar nggak banyak micin tapi sehat.”

Ibunya mendesah dramatis. “Nanti kalau Ibu sehat, kamu beliin ayam geprek ya? Beli dua. Yang pedasnya level setan, biar lidah Ibu nggak mati rasa lagi.”

“Deal! Tapi syaratnya, sekarang Ibu harus makan ini dulu.” Zea mengambil nampan makanan tersebut. “Sini, Zea suapin.”

Meski terus mengeluh soal rasa sayur yang hambar atau ayam yang kenyal seperti spons, sang ibu akhirnya menghabiskan makanannya di bawah pengawasan Zea. Tawa pecah saat Zea bercanda dengan menjanjikan akan menyelundupkan sambal besok. Ruangan dingin itu seketika terasa hangat oleh kebersamaan mereka.

Menjelang Sore

Zea melirik jam tangannya. Ia harus segera berangkat kerja. Jam shift-nya tidak bisa ditunda lagi. Ia mulai merapikan tas dan membetulkan letak selimut ibunya.

“Zea izin pulang dulu ya, Bu. Harus berangkat kerja sekarang,” pamit Zea lembut.

Namun, saat Zea hendak berdiri, ibunya justru menahan tangannya. Genggaman itu terasa erat, seolah sang ibu tidak ingin melepaskannya. Zea menoleh dan melihat mata ibunya sudah berkaca-kaca.

“Zea…” bisik ibunya parau. “Maaf…”

Zea mengernyit bingung. “Kenapa minta maaf, Bu? Ibu nggak salah apa-apa.”

Air mata ibunya akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang mulai berkeriput. “Maaf karena kamu harus menanggung semuanya sendirian. Karena kamu harus kuliah sambil kerja banting tulang demi biaya rumah sakit Ibu. Padahal harusnya di umur segini kamu sedang menikmati hidup, jalan-jalan sama teman-temanmu…”

Tangis wanita itu pecah. “Maaf Ibu malah jadi beban buat kamu, Nak.”

Seketika, pertahanan Zea runtuh. Pertahanan yang ia bangun di depan Dela, di depan Kael, dan sahabat-sahabatnya, kini hancur lebur di depan ibunya sendiri. Ia langsung memeluk ibunya erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ibu. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.

“Jangan pernah bilang begitu, Bu… Jangan pernah,” isak Zea. “Ibu bukan beban. Sama sekali bukan. Kalau bukan karena Ibu yang berjuang sendirian buat aku sejak kecil, aku nggak akan ada di posisi ini sekarang.”

Zea memeluk ibunya lebih erat, seolah takut kehilangan satu-satunya harta yang ia miliki. “Semua yang aku lakukan… karena aku sayang Ibu. Aku mau Ibu sehat.”

Ibunya mengusap rambut Zea dengan sayang, meski tangisnya juga belum berhenti. “Tapi kamu pasti capek banget, Nak…”

“Iya,” jawab Zea sambil tertawa kecil di sela isaknya. “Capek banget, Bu. Tapi demi Ibu, Zea kuat. Jadi, Ibu harus janji untuk sembuh. Ibu harus lihat Zea wisuda, harus lihat Zea sukses, dan lihat Zea nikah nanti.”

Ibunya tersenyum di balik air mata. “Memangnya calon menantu Ibu sudah ada?”

“Belum, Bu. Tapi kriterianya harus ganteng!” canda Zea.

“Harus ganteng ya?” sahut ibunya ikut tertawa kecil.

“Harus. Kalau kaya, itu bonus. Tapi kalau galak, langsung coret!” tutup Zea.

Mereka tertawa bersama di tengah sisa-sisa air mata. Zea mencium kening ibunya lama, menghirup aroma ketenangan yang hanya dimiliki seorang ibu.

“Zea berangkat ya, Bu.”

“Hati-hati, Nak…”

Zea tersenyum lebar, melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Namun, begitu ia melangkah di lorong rumah sakit yang sepi, senyum itu perlahan pudar. Ia menghapus air matanya, menegakkan bahu, dan kembali memakai "topeng" kuatnya. Dunia yang keras sudah menunggunya kembali di luar sana.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!