NovelToon NovelToon
Bayi Kesayangan Caelan

Bayi Kesayangan Caelan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Single Mom
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: Ann Soe

Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 24

Sepanjang sore hingga malam, Caelan menghindari Amelia. Sebisa mungkin Caelan tidak ingin berinteraksi dengan Amelia. Sikap Caelan begitu kentara untuk menghindar dan Amelia cukup gencar mencari celah agar bisa berduaan dan mengajukan pertanyaannya.

Sikap Amelia dan Caelan membuat Anna sampai bertanya ada apa dengan mereka berdua. Namun, Caelan hanya menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sedangkan Amelia mengakui kalau ada hal yang ingin dibicarakan dengan Caelan, tapi pria itu menghindarinya.

Jadi, sebelum acara makan malam keluarga, Anna berinisiatif mempertemukan Amelia dan Caelan di kamar, lalu mengunci mereka berdua di sana.

“Kalian berdua bicarakan baik-baik, selesaikan masalah kalian sebelum makan malam,” ucap Anna sebelum meninggalkan Amelia dan Caelan.

“Ibumu mengunci kita di kamarnya,” ujar Amelia membuka pembicaraan.

Sedangkan Caelan diam saja.

“Caelan, kau tidak ingin bicara denganku,” kata Amelia lagi karena tidak mendapatkan respon dari Caelan.

“Kau ingin membicarakan apa? Kita akan menikah besok, kurasa pembicaraan ini sama sekali tidak diperlukan,” ujar Caelan.

“Justru karena kita akan menikah besok, maka pembicaraan ini harus dilakukan. Aku ingin semuanya jelas, aku tidak ingin mengucap janji setia dengan berbagai pertanyaan di kepalaku,” sahut Amelia. “Apa yang kau sembunyikan, Caelan?”

“Tidak ada.” Caelan bersikap defensive yang membuat Amelia kehilangan kesabaran.

“Jika kau tidak mengatakannya, sebaiknya batalkan saja pernikahannya.”

“Apa? Kenapa kau berkata begitu?”

“Semua harus dimulai dengan kejujuran, Caelan. Antara kau dan aku harus saling terbuka. Karena dalam pernikahan kejujuran dan komunikasi merupakan hal penting.”

Caelan terdiam cukup lama sehingga Amelia kembali berkata.

“Sebaiknya, aku pergi. Akan kuberitahu Mama kalau pernikahannya batal.” Amelia melangkah ke pintun, tapi Caelan mengadangnya. Amelia mundur selangkah, melipat tangan di depan dada, dan menunggu Caelan bicara.

“Sayang, please jangan seperti ini. Kau ingin membatalkan pernikahan hanya karena satu pertanyaanmu tidak kujawab?” Caelan mencoba menenangkan, tapi Amelia bergeming. Amelia harus tahu mendapatkan jawaban dari Caelan sebelum memutuskan akan tetap lanjut menikah atau tidak. Meskipun sebenarnya Amelia takut jawaban Caelan akan membuatnya mengambil keputusan kedua. Sebab jika pernikahan batal, maka akan ada konsekuensi yang harus dihadapi. Membatalkan pernikahan nyatanya tidak semudah mengatakannya.

“Amelia sayang, tolong jangan seperti ini,” pinta Caelan dengan suara lembut mencoba membujuk Amelia.

Namun, Amelia tidak akan terbujuk begitu mudah. Ia harus tahu kebenarannya saat ini juga. “Bukankah kau yang duluan, kau menghindar untuk menjawab pertanyaanku. Apakah menjawabnya begitu sulit? Atau yang dikatakan Papa benar bahwa kau hanya menjadikanku dan Emi sebagai alat untuk menebus dosa masa lalumu?”

Wajah Caelan menegang. Mulut pria itu terkatup rapat.

“Jika kau tidak menjawab berarti hal itu benar?” tembak Amelia. Caelan masih tidak membuka mulutnya.

Hati Amelia hancur. Harapannya terhadap sang pangeran impian hancur. Amelia pernah meyakinkan diri bahwa Caelan benar-benar mencintainya. Saat melamarnya, Caelan terlihat begitu meyakinkan dan tulus. Namun, nyatanya semua itu hanya ilusi yang dibangun untuk bisa meyakinkan Amelia.

“Jadi, bagimu menikahiku adalah langkah penebusan entah dosa apa yang pernah kau lakukan pada Henry di masa lalu? Kasih sayangmu pada Emi juga sama?”

Alih-alih menjawab, Caelan malah berderap ke arah sofa yang ada di sudut ruangan dan duduk di sana. Caelan duduk tertunduk dengan kedua tangan mencengkeram lutut. Pemandangan yang belum pernah Amelia lihat sebelumnya. Sebab selama ini Amelia selalu melihat Caelan yang percaya diri, hangat, penyayang, dan perhatian. Bukan pria yang terlihat begitu hancur seperti saat ini dilihatnya.

Amelia membeku di tempat, tidak mendekati Caelan ataupun melangkah ke pintu. Namun, ia juga tak tahu harus mengatakan apa. Sebab Caelan yang ada di hadapannya sekarang terlihat begitu menyedihkan.

“Aku yang membunuh Henry.”

Kata-kata Caelan bukan kalimat yang Amelia sangka akan terdengar dari pria itu. Akan tetapi, bukan kata-kata itu yang mengiris hati Amelia melainkan cara Caelan menatapnya. Caelan terlihat putus asa.

“Aku bertengkar dengannya sebelum kecelakaan itu. Aku mengatakan padanya lebih baik dia menghilang daripada terus menggunakan identitasku untuk menipu orang-orang.”

Kata-kata itu dikeluarkan dengan suara pelan dan penuh keputusasaan. Kedua telapak tangan Caelan menutup wajah yang tertunduk dalam sementara kata demi kata keluar dengan nada bergetar.

“Aku begitu marah padanya karena lagi-lagi menggunakan namaku untuk merayu seorang gadis. Gadis itu datang ke kantorku sambil marah-marah, masuk ke ruang rapat dan menghancurkan tender kerjasama dengan sebuah perusahaan besar. Perusahaan mengalami kerugian besar dan nama baikku tercoreng.”

Suara Caelan terus terdengar, menceritakan mengenai malam nahas ketika kecelakaan mobil merenggut nyawa Henry. Amelia menutup mulut ketika mendengar kisah memilukan itu. Rasa sakit Caelan bisa Amelia rasakan. Sebab ia pernah berada di posisi yang sama, kehilangan seorang adik.

“Setelah Henry meninggal, semuanya tidak lagi sama. Aku menjalani hidup yang terasa kosong, dan orangtuaku, terutama Mama, terlihat sangat terguncang. Sebulan penuh Mama tidak banyak bicara. Hidup tapi tidak terlihat semangatnya. Sedangkan Papa, berusaha terlihat tegar untuk menopang keluarga yang tidak lagi sempurna ini.”

Amelia ingin berlari pada Caelan dan memeluk pria itu dengan erat. Namun, kakinya terasa berat.

“Lalu kau muncul bersama Emi. Semula kuanggap sebagai gangguan yang akan dilupakan keesokan harinya. Namun, nyatanya kau sebuah harapan.” Caelan menatap Amelia. Di situ Amelia melihat ketulusan yang membuatnya menerima lamaran Caelan.

“Kehadiranmu menggangguku. Kau bukan orang pertama yang datang padaku meminta pertanggungjawaban. Beberapa mantan pacar Henry dan mantan pacarku pernah melakukannya, tapi kau yang paling mengganggu.”

Caelan tersenyum pasrah. “Biasanya, aku tidak akan repot dengan gugatan paternitas. Karena wanita yang datang biasanya hanya menggertak, tujuannya untuk mendapatkan uang. Namun, untuk kasusmu aku tergerak untuk melihat berbagai kemungkinan hingga menemukan kemungkinan Emi adalah anak Henry.”

Caelan berdiri, lalu menghampiri Amelia. Tangan gemetar itu meraih jemari Amelia. “Aku akui, mulanya niatku bertanggung jawab terhadap Emi adalah sebuah penebusan,” Caelan mengakui. “Aku berniat menjadi paman yang baik dengan memberikan biaya hidup dan sesekali muncul dalam kehidupan Emi, misalnya saat ulang tahun.” Caelan meremas jemari Amelia menunjukkan emosi intens ketika melanjutkan. “Tapi saat bertemu denganmu dan Emi, semua berubah. Aku tidak hanya ingin sekadar hadir, tapi benar-benar hadir.”

Amelia melihat Caelan menarik napas dalam sebelum berkata, “Aku jatuh cinta padamu.”

Pengakuan Caelan benar-benar di luar dugaan Amelia. Ketulusan untuknya ternyata benar-benar ada.

“Alasanku tidak menjawabmu adalah karena takut.” Caelan menghela napas. “Aku takut ketika kau mengetahui tentang motif awalku, kau akan memilih pergi. Kau dan Emi mulanya memang kujadikan sebagai alat penebusan rasa bersalahku pada Henry, tapi saat ini kau adalah bagian hidupku, pemilik sebagian hatiku.”

Caelan diam dan memerhatikan Amelia yang sudah menitikkan air mata bahagia. “Salahkah jika aku menjadikanmu cinta dalam hidupku sekaligus untuk menebus rasa bersalahku pada Henry?”

Amelia menggeleng lalu memeluk Caelan dengan erat. “Tidak. Asal kau mencintaiku itu sudah cukup.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!