Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Ruang dosen siang itu tidak terlalu ramai, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdengung halus dan sesekali bunyi lembaran kertas yang dibalik. Syahira berdiri sejenak didepan pintu menarik napas sebelum akhirnya mengetuk pelan.
"Masuk."
suara Bilal pun terdengar tenang dari dalam. Syahira membuka pintu perlahan, lalu melangkah masuk. Bilal duduk dibalik meja kerjanya, beberapa buku dan berkas tertata rapi di hadapannya. Penampilannya tetap sama seperti biasa rapi nampak tenang dan sulit ditebak.
"Silahkan duduk." ujarnya sambil menunjuk kursi di depannya.
Syahira menurut patuh, ia meletakkan buku tafsir yang dibawanya diatas meja. Lalu duduk dengan punggung sedikit tegak. Ada rasa canggung yang entah kenapa selalu muncul setiap berasa berdua dengan Bilal dalam situasi seperti ini.
"Bagian mana yang ingin kamu tanyakan?" tanya Bilal, nada suaranya formal, namun tidak sekali biasanya.
Syahira membuka halaman yang sudah diberi penanda. "Tentang pengadilan ayat ini, pak. Saya memahami makna umumnya, tapi saya masih bingung pada konteks penerapannya di kehidupan sekarang."
Bilal pun mengangguk lalu mulai menjelaskan. penjelasannya begitu runtut, jelas dan mudah dipahami. Setiap kalimatnya seperti mampu mengurai kerumitan yang sejak tadi mengendap di kepala Syahira. Dan tanpa sadar, Syahira benar benar larut mendengarkan.
"Memahami agama bukan hanya soal menghafal," ujar Bilal setelah selesai menjelaskan. "Tapi juga soal bagaimana kita menjadikannya hidup dalam sikap dan pilihan kita.
Syahira terdiam sejenak. Kalimat itu terasa sederhana tapi mengena. Seolah bukan hanya menjawab pertanyaannya tentang pelajaran. Melainkan juga sesuatu yang lebih dalam dari itu.
"Saya mengerti sekarang," katanya pelan. Bilal menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. Namun sebelum Syahira sempat menit bukunya. Bilal kembali bersuara.
"Syahira."
"Iya pak?." Bilal tampak ragu sepersekian detik, hal yang jarang sekali terlihat dari diri Bilal kakak iparnya itu. "Gimana keadaan istri saya disana?." pertanyaan itu membuat Syahira terkejutnya bukan main, namun ia segera menjawabnya cepat, "baik,.. cuma masih seperlunya aja sih enggak banyak ngobrol."
Bilal menunduk singkat, seolah memahami lebih banyak dari pada yang diucapkan. "Sampaikan padanya, jika suatu saat ia ingin berbicara, saya akan mendengarkan."
Syahira menatap Bilal mencoba membaca ekspresi pria itu, ada sesuatu dalam suaranya entah itu ketulusan maupun beban yang bukan suatu hal yang sederhana.
"Baiklah" jawab Syahira akhirnya. Saat Syahira keluar dari ruang dosen, langkahnya terasa lebih lambat dari biasanya.
Bukan karena bingung dengan materi kuliah, melainkan karena pikirannya kini dipenuhi hal lain. Dan tentang Bilal maupun Feryal juga tentang hubungan diantara mereka yang tampak jauh lebih rumit dari yang selama ini ia pahami.
Diujung koridor, Kaizan sudah menunggunya sambil bersandar santai di dinding, begitu melihat Syahira keluar, ia langsung menegakkan tubuh.
"Nah, gimana?, interogasinya lancar?." tanya Kaizan. Syahira menghela napasnya,. lalu tersenyum kecil "bukan interogasi diskusi."
Kaizan mengangguk sok paham. "Oke, diskusi. Tapi dari ekspresi Lo, kayaknya hasil.diskusinya berat nih." Syahira menatap lurus ke depan "yang berat itu enggak juga tentang pelajaran kali."
Kaizan memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis, "Kalau gitu, hmm gimana.kalau gue traktir es aja sekalian biasanya itu cukup ampuh juga loh buat meringankan isi kepala."
Syahira pun tertawa pelan, untuk sesaat ia merasa mungkin Kaizan benar, tidak semua hal harus dipahami sekaligus. Ada beberapa hal yang cukup di jalani dulu, satu langkah pada satu waktu.
Bilal membuka buku tacsir yang sudah syahira bawa sedari tadi, ia menelusuri beberapa bagian yang telah ia beri tanda hijau stabilo. "Bagian mana yang mau kamu tanyakan?" tanyanya, kembali ke nada yang begitu formal yang biasa ia gunakan di kelas.
Syakira sedikit mencondongkan tubuhnya dan menunjukkan salah satu halaman jemarinya berhenti pada sebuah paragraf yang sejak tadi mengusik pikirannya. "Saya masih mencoba memahami bagian ini, pak. Tentang bagaimana hati manusia bisa condong pada sesuatu bahkan ketika akalnya tahu bahwa itu tidak seharusnya."
Dan kalimat itu yang pada akhirnya menggantung di udara, dan terlalu akademis jika itu untuk dianggap pribadi, akan tetapi entah mengala keduanya sama sama merasakan makna lain di baliknya.
Bilal terdiam beberapa detik sebelum menjawab, "Hati memang tidak selalu berjalan searah dengan akal. Karena itu, manusia di beri kesadaran untuk memilih mana yang harus di ikuti" suaranya tenang, namun ada ke hati hatian yang jelas terdengar.
Syahira mengangguk pelan, "Jadi,..yang menentukan bukan apa yang kita rasakan, tapi apa yang kita lakukan terhadap perasaan itu?."
Bilal menatapnya, untuk sesaat, suasana diruangan itu begitu terasa hening. "Benar, perasaan yang datang tanpa diminta sama sekali, tapi sikap kita adalah sebuah pilihan, dan pilihan itulah yang menunjukkan siapa kita sebenarnya."
Syahira menunduk, mencerna setiap kata, nasihat itu terdengar seperti penjelasan materi akan tetapi terasa jauh lebih dalam dari sekadar pembahasan buku.
"Kadang saya pikir," ucapnya lirih.
"Menjaga jarak itu mudah tinggal menghindar saja mungkin orang akan berpikir seperti itu pada umumnya, selesai begitu saja, tapi ternyata semua tidak sesederhana itu."
Bilal menarik napas perlahan, jemarinya saling bertaut diatas meja. "Karena yang paling sulit dijaga bukan jarak secara fisik, melainkan batas dalam hati."
Syahira mengangkat pandangannya, ada kelelahan yang samar di mata Bilal, seolah ia pun sedang berjuang dengan nasihat yang baru saja ia ucapkan.
Diluar, suara langkah kaki mahasiswa sesekali terdengar melewati koridor, namun di dalam ruangan itu. Waktu seakan berjalan lebih lambat.
"Terimakasih Pak," kata Syahira akhirnya. Kali ini bukan hanya untuk penjelasan tentang tafsir, tetapi juga untuk sesuatu yang tak mereka sebutkan secara langsung.
Bilal mengangguk kecil, "tetap fokus pada tujuanmu disini, Syahira. Jangan biarkan hal hal yang belum tentu perlu kamu pikirkan justru mengalihkan langkahmu."
Syahira tersenyum tipis, "Saya akan berusaha lagi Pak, Insya Allah" Ia berdiri, merapikan buki bukunya, saat hendak melangkah ke pintu, Bilal kembali bersuara, "Syahira."
Ia menoleh, "tidak semua kebingungan harus segera dijawab hari ini, terkadang waktu adalah bagian dari jawaban itu sendiri, kamu mengertikan?."
Kalimat itu membuat Syahira terdiam sesaat, lalu ia mengangguk pelan, "saya mengerti Pak."
Setelah pintu tertutup dibelakangnya, Bilal menyandarkan tubuh pada kursinya. Ia memejamkan wajahnya perlahan, menjadi bijak ternyata jauh lebih mudah dari pada menjalankannya.
Sementara di koridor, Syahira memeluk bukunya lebih erat. Langkahnya yang begitu ringan meski hatinya masih begitu banyaknya pertanyaan.
Akan tetapi setidaknya Syahira tahu satu hal, tidak semua hal harus diputuskan sekarang juga. Ada beberapa rasa yang memang perlu diberi waktu untuk menemukan bentuknya sendiri, dan semua itu ia selalu renungkan seorang diri.