NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Tarian Kematian dan Cahaya yang Membakar

​Dua puluh mayat hidup itu melesat menembus kabut malam bagaikan sekawanan belalang tempur yang kelaparan. Kaki-kaki mereka yang nyaris membusuk tidak menyentuh tanah dengan cara yang wajar; mereka bergerak dengan kecepatan dan kelincahan yang menentang hukum fisika, merayap di atas batang-batang pohon mahoni dan melompat dari satu bayangan ke bayangan lainnya.

​Udara yang sebelumnya hanya terasa dingin kini berubah menjadi lautan teror. Bau anyir darah basi, tanah kuburan, dan daging yang mengering menyesakkan kerongkongan Dara.

​Namun, sebelum jeritan ketakutan sempat lolos dari bibir gadis itu, dua predator di hadapannya meledak dalam aksi yang murni didorong oleh insting mematikan.

​Bumi Arka adalah yang pertama menyambut serangan.

​Sang Alpha Serigala tidak mundur. Dengan satu lolongan sub-vokal yang menggetarkan udara, Bumi melesat ke depan. Tubuh pemuda itu merendah, nyaris merangkak dengan empat ekstremitas. Jaket kemeja flanelnya berkibar saat otot-otot bahu dan punggungnya membesar. Kuku-kuku di jarinya memanjang menjadi cakar melengkung yang setajam pisau bedah, sementara taringnya menyembul keluar.

​Seorang mayat hidup berseragam Marsose compang-camping menerkam dari arah atas, mencoba mengoyak leher Bumi. Namun Bumi jauh lebih cepat. Dengan satu putaran tubuh yang sangat gesit, Bumi menangkap lengan mayat hidup itu di udara. Terdengar bunyi KRAK! yang mengerikan saat Bumi mematahkan tulang lengan makhluk itu menjadi dua bagian, lalu dengan satu tebasan cakarnya, ia merobek leher makhluk tersebut.

​Cairan hitam pekat menyembur keluar, namun mayat itu tidak berteriak. Makhluk itu hanya mendesis marah dan mencoba menggigit lengan Bumi dengan sisa rahangnya. Bumi menggeram, menendang dada mayat itu hingga terpental sejauh lima meter dan menghantam pohon mahoni dengan bunyi debuk yang keras.

​"Jangan biarkan cairan hitam itu mengenai kulit kalian!" teriak Bumi, memperingatkan Dara dan Indra. "Darah mereka adalah racun yang membusukkan!"

​Di sisi lain, Indra Bagaskara bertarung dengan gaya yang sepenuhnya bertolak belakang dengan kelincahan Bumi.

​Jika Bumi adalah pedang anggar yang gesit dan presisi, maka Indra adalah godam baja yang menghancurkan segalanya.

​Tiga mayat hidup menerjang Indra secara bersamaan dari arah depan dan samping. Indra tidak bergeser satu sentimeter pun dari posisinya yang berdiri tepat di depan Dara. Pemuda itu hanya mengangkat wajahnya, membiarkan mata emasnya menyala terang benderang membelah kegelapan.

​WOOOOSH!

​Hawa panas yang mendidih meledak dari tubuh Indra, menciptakan sebuah kubah radiasi dalam radius dua meter di sekitarnya. Mayat-mayat hidup yang berani masuk ke dalam radius itu seketika melolong tertahan. Kulit pucat mereka yang sudah kering mulai melepuh dan mengeluarkan asap putih, seolah mereka baru saja menabrak dinding oven yang terbuka.

​Indra tidak membuang waktu. Ia mencengkeram leher mayat pertama yang terhuyung akibat hawa panasnya. Tangannya tidak berubah menjadi cakar obsidian, namun suhu di telapak tangannya begitu tinggi hingga terdengar suara mendesis keras. Daging di leher mayat itu hangus seketika. Indra mengangkat makhluk itu dengan satu tangan seolah ia tidak memiliki berat, lalu membantingnya ke arah dua mayat lain yang menyusul, membuat ketiganya terjerembap ke tanah menjadi tumpukan daging dan tulang yang berasap.

​Dara berdiri mematung di antara kedua pemuda itu. Pikirannya berpacu cepat.

​Ia bisa melihat sinkronisasi yang aneh di antara Bumi dan Indra. Meskipun mereka adalah musuh bebuyutan yang beberapa menit lalu siap saling membunuh, di medan pertempuran ini, mereka bergerak menutupi titik buta satu sama lain secara otomatis. Bumi membersihkan area sayap dengan pergerakan melingkarnya yang cepat, sementara Indra menjadi benteng absolut di tengah, memastikan tidak ada satu pun makhluk yang bisa mendekati Dara dalam garis lurus.

​Namun, jumlah dua puluh makhluk bertenaga gaib itu terlalu banyak untuk ditahan tanpa memicu keributan besar.

​Suara benturan fisik, desisan daging yang terbakar, dan geraman binatang buas mulai bergema keras di dalam kubah kesunyian yang diciptakan Willem. Dara tahu, jika pertarungan ini berlangsung lebih lama, ilusi pembatas suara itu akan pecah, dan ratusan manusia di pasar malam akan menjadi saksi mata—atau lebih buruk lagi, menjadi korban salah sasaran.

​Meneer Willem van Deventer masih berdiri di tempatnya dengan elegan, bertumpu pada tongkat peraknya. Matanya yang sehitam jelaga mengikuti setiap pergerakan tarian kematian itu dengan senyum meremehkan.

​"Kalian bertarung dengan sangat gigih untuk dua ekor binatang yang terkutuk," cemooh Willem. Suaranya tidak keras, namun menembus kekacauan pertempuran dengan kejelasan yang mematikan. "Tapi kalian lupa satu hal. Pasukanku sudah mati. Mereka tidak bisa lelah. Sementara kalian... hawa panas dan stamina kalian memiliki batas."

​Willem benar. Dara bisa melihat napas Bumi mulai terengah-engah. Mengoyak mayat yang tidak bisa merasakan sakit adalah pekerjaan yang menguras tenaga dua kali lipat. Sementara Indra, meskipun tenaganya tampak tak terbatas, suhu panas yang ia keluarkan secara konstan mulai membuat urat-urat di lehernya menonjol berwarna kehitaman. Jika Indra terus memforsir apinya, Nafsu Rimba akan memecah kesadaran manusianya.

​Willem mengangkat tongkat peraknya sedikit, lalu mengetukkannya ke tanah satu kali. Tuk.

​Sebuah gelombang kejut yang luar biasa dingin menyapu tanah. Gelombang itu menabrak Bumi dan Indra, membuat pergerakan mereka melambat sepersekian detik. Rasa beku yang absolut mencengkeram sendi-sendi kedua predator itu.

​Dalam jeda sekejap mata itu, Willem menghilang dari tempatnya berdiri.

​Bukan berlari. Ia benar-benar melebur menjadi kabut hitam dan berpindah tempat dengan kecepatan yang tidak mungkin diikuti oleh mata manusia.

​Sebelum Bumi maupun Indra sempat bereaksi, Willem telah termaterialisasi tepat setengah meter di hadapan Dara.

​Jantung Dara seolah berhenti berdetak. Bau tanah kuburan yang basah dan anyir darah yang menusuk hidungnya membuat perutnya bergejolak. Pria Belanda itu menjulang di hadapannya, wajahnya yang pucat pasi memancarkan kesombongan abadi.

​"DARA!" teriak Indra dan Bumi nyaris bersamaan. Keduanya memutar tubuh, memaksakan diri melawan hawa beku untuk menerjang ke arah Willem.

​Namun, Opsir Darah itu hanya menjentikkan dua jari tangan kirinya ke arah kedua pemuda itu. Sebuah dinding angin yang sedingin es padat terbentuk seketika, menghantam dada Indra dan Bumi, melempar mereka berdua mundur hingga tersungkur ke tanah berbatu.

​Kini, hanya tersisa Dara dan Sang Vampir.

​"Nah, Nona Kecil," bisik Willem, senyumnya memperlihatkan taring-taring yang panjang dan tajam. Matanya menatap lurus ke leher Dara yang jenjang. "Di perpustakaan itu, matahari tropismu menyelamatkanmu. Tapi malam ini... tidak ada yang bisa menghentikanku untuk meminum secawan dari energi abadimu."

​Willem mengulurkan tangannya yang bersarung tangan kulit hitam, berniat mencengkeram rahang Dara untuk mengekspos urat nadi gadis itu.

​Ketakutan yang luar biasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun Dara. Insting mangsanya menjerit menyuruhnya memejamkan mata dan menyerah pada kematian yang tak terhindarkan. Pria ini terlalu kuat, terlalu kuno, dan terlalu mematikan.

​Tapi kemudian, bayangan wajah kedua orang tuanya yang tersenyum padanya sebelum pesawat nahas itu jatuh, melintas di benaknya. Bayangan Kakek Danu yang mempertaruhkan nyawa melindunginya. Bayangan Bumi yang mengusir Ajag liar demi menjaganya. Dan bayangan Indra yang menahan kepala truk baja hingga tangannya hancur.

​Mereka semua berjuang setengah mati agar Dara bisa terus bernapas. Ia tidak akan membiarkan pengorbanan mereka sia-sia malam ini. Ia tidak akan mati sebagai mangsa yang pasrah.

​Jadilah es di dasar samudra. Diam. Tenang. Tak tertembus.

​Dara tidak mundur. Ia tidak memejamkan matanya. Ia justru mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam mata hitam jelaga yang tak berdasar itu dengan sebuah tekad yang membara.

​Saat tangan dingin Willem nyaris menyentuh kulit pipinya, Dara mengangkat tangan kanannya yang memiliki segel kelopak bunga, dan menekankannya kuat-kuat tepat ke tengah dada sang Opsir Darah.

​"Jangan pernah berani menyentuhku," desis Dara dengan wibawa Sang Ratu Penengah yang menggelegar dari dasar jiwanya.

​Di dalam Gua Batu Larangan, energi Dara berfungsi sebagai penyejuk bagi api Sang Harimau. Namun malam ini, berhadapan dengan entitas yang diciptakan dari ilmu hitam dan anomali alam, energi murni Dara bereaksi dengan cara yang sama sekali berbeda.

​Sama seperti bagaimana matahari tropis membakar kulit kutukan Willem, energi kehidupan (life force) murni yang meledak dari telapak tangan Dara menghantam tubuh Willem bagaikan lahar suci.

​BLAAASSSSHHH!

​Sebuah pendar cahaya berwarna biru terang—terang benderang hingga menyilaukan mata—meledak dari titik sentuhan tangan Dara di dada Willem. Cahaya itu bukan sekadar cahaya; ia adalah kemurnian murni yang mengoyak kegelapan.

​Mata Willem terbelalak lebar, memancarkan horor yang tidak pernah ia rasakan selama dua abad terakhir.

​Pria kolonial itu menjerit kesakitan. Jeritannya bukan suara manusia, melainkan lengkingan ultrasonik yang membuat kaca-kaca lampu bohlam di sekitar mereka pecah berantakan. Asap hitam pekat menyembur dari dada Willem tepat di mana tangan Dara menempel. Setelan jas mahalnya hangus, dan kulit pualamnya melepuh terbakar oleh energi suci sang Pawang Rimba.

​Dara mempertahankan sentuhannya, membiarkan kemarahannya mengalir sebagai bahan bakar bagi energinya. Ia tidak peduli bahwa lengannya mulai gemetar karena tenaganya terkuras habis. Ia ingin menghancurkan monster ini.

​Willem terhuyung mundur dengan kasar, melepaskan dirinya dari tangan Dara secara paksa. Opsir Darah itu jatuh berlutut, mencengkeram dadanya yang berasap dengan napas terengah-engah dan mata membelalak tak percaya.

​Dada pria itu berlubang kecil, hangus terbakar oleh cahaya kehidupan Dara. Lukanya tidak menutup atau beregenerasi seperti biasanya. Energi Pawang itu menolak kutukan keabadiannya.

​"Kurang ajar..." desis Willem, menatap Dara dengan pandangan campur aduk antara kebencian yang mendalam, rasa sakit, dan... kekaguman yang gila. "Nyai Ratih tidak pernah memiliki cahaya seterang ini... kau... kau anomali."

​Dara berdiri tegak, dada naik turun dengan cepat. Tangannya masih sedikit bercahaya biru, namun kakinya terasa seperti jeli. Mengeluarkan energi sebesar itu sebagai serangan murni telah menyedot hampir seluruh stamina tubuh manusiawinya.

​Kelemahan sekilas dari Dara tidak dilewatkan oleh Willem. Sang Opsir Darah menggeram marah. Ia memaksakan dirinya berdiri, mengangkat tongkat peraknya, berniat untuk memenggal kepala gadis itu sebelum cahayanya kembali menyala.

​Namun, Willem melakukan kesalahan fatal dengan melupakan dua predator yang sejak tadi ia hempaskan.

​RRROAAARRRR!

​Dinding angin beku yang mengurung Bumi dan Indra hancur berkeping-keping akibat ledakan energi Dara. Kebebasan itu tidak disia-siakan sedikit pun oleh mereka berdua.

​Dari sisi kiri, Bumi melesat ke udara. Pemuda Serigala itu tidak memedulikan pertahanannya. Ia menerjang tepat ke arah Willem, menancapkan kedua cakar kakinya yang kuat ke bahu sang vampir, memaksa pria itu terhuyung ke belakang.

​Di detik yang sama dari arah kanan, Indra datang seperti meteor jatuh. Pemuda Cindaku itu tidak menahan hawa panasnya lagi. Uap panasnya meledak hingga menciptakan pusaran angin mini di sekitarnya. Indra menghantamkan tinjunya yang telah berubah menjadi kepalan baja bersuhu ratusan derajat tepat ke rahang Willem yang terbuka.

​BAMMMMM!

​Benturan itu menciptakan gelombang kejut (shockwave) yang membuat sisa-sisa mayat hidup yang masih berdiri terpelanting jatuh.

​Willem van Deventer, monster abadi berusia dua ratus tahun itu, terlempar sejauh lima belas meter di udara. Tubuhnya menghantam deretan tenda terpal dan mematahkan sebuah pohon mahoni hingga tumbang dengan bunyi gemuruh yang sangat keras.

​Bumi dan Indra mendarat di tanah secara bersamaan. Kedua predator itu berdiri bersisian di depan Dara. Serigala cokelat dan Harimau Putih, bahu membahu, menyatukan insting membunuh mereka untuk satu musuh yang sama. Pemandangan itu adalah sejarah yang mustahil di Lembah Marapi.

​Dari balik reruntuhan pohon mahoni dan debu yang mengepul, tawa dingin Willem bergema lambat.

​Opsir Darah itu perlahan bangkit berdiri. Jasnya robek, dadanya hangus, dan rahangnya tampak bergeser sebelum akhirnya berbunyi krek dan kembali ke posisi semula. Darah kehitaman menetes dari sudut bibirnya, namun senyum sadisnya tidak memudar.

​"Luar biasa," puji Willem sinis, membersihkan debu dari lengan jasnya dengan gerakan yang dibuat-buat agar terlihat elegan. "Aliansi antara anjing dan kucing demi seorang manusia. Sangat puitis. Tapi malam ini, aku sudah mendapatkan apa yang ingin kuketahui."

​Willem menatap Dara untuk terakhir kalinya. Mata jelaganya memancarkan janji penderitaan yang kekal.

​"Kau tidak bisa terus-menerus memancarkan cahaya itu tanpa membakar umurmu sendiri, Nona Kecil," ancam Willem pelan. "Dan saat apimu padam, aku akan ada di sana untuk meminum sisa tetesan darahmu. Kita akan bertemu lagi, Pawang."

​Tepat ketika Willem mengucapkan kalimat terakhirnya, teriakan-teriakan panik dari arah pasar malam mulai terdengar. Suara pohon mahoni yang tumbang telah menghancurkan ilusi kesunyian yang dibangun oleh sang vampir. Manusia-manusia biasa mulai berlari mendekati area belakang lapangan dengan senter dan kebingungan.

​Menyadari bahwa kedoknya akan terbuka jika ia tetap berada di sana, Willem tersenyum sinis, menundukkan kepalanya memberi hormat ala bangsawan, lalu meledak menjadi ribuan kelelawar bayangan yang melesat menghilang ke dalam pekatnya malam, membawa serta sisa-sisa mayat hidup yang langsung hancur menjadi abu saat tuan mereka pergi.

​Suasana tegang yang mencekik area tersebut seketika menguap, digantikan oleh kesunyian yang hampa, diselingi oleh deru napas ketiga remaja itu.

​Dara tidak bisa menahan berat tubuhnya lebih lama lagi. Lututnya akhirnya goyah, dan ia merosot jatuh.

​Namun sebelum tubuhnya menghantam tanah berumput, dua pasang tangan menangkapnya secara bersamaan dari sisi kiri dan kanan. Tangan yang hangat dan kapalan milik Bumi, serta tangan yang keras dan memancarkan sisa-sisa hawa panas milik Indra.

​Kedua pemuda itu saling bertatapan sengit selama sepersekian detik di atas kepala Dara. Persaingan lama mereka langsung kembali mengudara begitu ancaman utama menghilang.

​"Singkirkan tanganmu, Indra. Aku yang akan membawanya," geram Bumi, taring halusnya masih belum menyusut sempurna.

​"Kau gagal melindunginya sejak awal, Serigala. Jika bukan karena cahayanya, lintah itu sudah merobek lehernya. Jangan ikut campur," balas Indra dingin, rahangnya mengeras, bersiap merebut tubuh Dara sepenuhnya ke dalam gendongannya.

​"Berhenti... kalian berdua..." bisik Dara dengan suara yang nyaris habis, memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, melepaskan pegangan kedua pemuda itu dengan sisa tenaga terakhirnya. Kepalanya berputar hebat, namun ia menolak terlihat lemah di antara dua ego pria yang menggunung ini.

​Dara menatap Indra dan Bumi bergantian.

​"Kita tidak punya waktu untuk berdebat soal siapa yang melindungiku," kata Dara terengah-engah, matanya memancarkan ketegasan. "Willem tidak akan berhenti. Dia telah mencicipi sakitnya energiku, dan dia akan kembali dengan persiapan yang jauh lebih matang. Dia tahu aku tidak bisa terus-menerus menyerangnya."

​"Dara, Bumi, kalian di sana?!"

​Suara panik Santi terdengar dari balik deretan tenda yang gelap, disusul oleh sinar dari beberapa senter bapak-bapak petugas keamanan desa yang berlari mendekat.

​"Pohonnya tumbang di sebelah sini, Pak!" teriak salah seorang warga.

​Dara menoleh ke arah Bumi dan Indra. "Kalian harus pergi dari sini sekarang. Jangan sampai ada warga yang melihat kalian di sekitar pohon tumbang ini, atau mereka akan mulai bertanya-tanya dan menggosipkan hal yang tidak-tidak. Pergilah."

​Bumi ragu sejenak, namun instingnya menyadari bahwa Dara benar. Ia adalah murid biasa, tidak seharusnya berada di pusat kehancuran yang seolah habis dihantam bom. "Aku akan memastikan jalur hutan ke arah rumahmu bersih malam ini, Anak Kota," bisik Bumi cepat, lalu dengan satu lompatan gesit, ia menghilang ke balik semak-semak.

​Indra tidak langsung bergerak. Ia berdiri menjulang di hadapan Dara, mata hazel-nya menatap wajah pucat gadis itu dengan intensitas yang membuat jantung Dara kembali berdebar tanpa alasan yang jelas. Pemuda itu mengangkat tangannya, jemarinya yang panjang menyentuh pelipis Dara yang berkeringat dingin. Sentuhan itu mengunci sisa-sisa trauma dan ketakutan di dalam dada Dara, menggantikannya dengan keamanan yang absolut.

​"Kekuatanmu... cahaya biru itu..." gumam Indra pelan, nada suaranya dipenuhi oleh rasa hormat yang langka. "Kau bukan sekadar penawar bagiku, Ratu Penengah. Kau adalah senjata. Mulai malam ini, klan Bagaskara tidak hanya akan menjagamu karena Perjanjian. Kami akan berlutut di bawah kakimu demi peperangan ini."

​Sebelum Dara sempat membalas, Indra telah memutar tubuhnya dan melebur menjadi bayangan yang melesat ke atas pohon, menghilang tanpa suara tepat lima detik sebelum Santi dan para petugas desa tiba di lokasi kejadian dengan senter menyilaukan.

​Dara berdiri sendirian di antara debu dan sisa-sisa ketegangan. Ia menatap telapak tangan kanannya yang kini telah kembali normal, menyadari bahwa takdirnya di Lembah Marapi telah berubah secara permanen malam ini. Ia bukan lagi sekadar gadis yang bersembunyi di balik cakar harimau maupun taring serigala; ia adalah pusat gravitasi dari perang yang akan mengguncang pondasi dunia supranatural Nusantara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!