Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELUM BERAKHIR
“Ei, sayang ….. udah bangun.”
Kata Reni tersenyum manis sambil mengelus rambut Nonik. Mata gadis kecil itu berkaca-kaca, tapi bibirnya membentuk senyuman kecil.
“Udah mbak antik.”
Rani mencium pipi Nonik pelan. Air mata yang dia tahan sejak tadi akhirnya lolos, mengalir deras di pipinya yang halus.
Dia pernah punya bayi. Tapi keguguran. Anak Madun.
Bayangan itu selalu datang tiap kali dia melihat anak kecil yang sendirian.
“Bu, ini makanannya.”
Suara suster dari bagian dapur memecah keheningan. Troli dorongnya berhenti di samping ranjang Nonik. Dia meletakkan nampan berisi makanan di atas meja kecil.
“Terima kasih suster.”
Rani bangkit dan mengambil nampan itu. Sepiring bubur khusus, sepiring kecil irisan buah papaya dan segelas air putih. Menu standar untuk pasien kecil seusia Nonik.
“Anak cantik makan ya!”
Kata Rani menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Nonik dengan sabar.
“Nngak mau, mbak antik. Nngak pengen maem.”
Tolak Nonik pelan sambil memalingkan wajah.
Rani tidak marah. Dia hanya mengusap rambut halus Nonik, lalu mencium keningnya.
“Ayuklah, dikit aja ya. Biar cepat sembuh dan bisa main lagi.”
Tapi kepala mungil Nonik tetap menggeleng.
Rani menahan nafas. Tangannya yang memegang sendok sedikit bergetar.
Belum berakhir. Perjuangannya belum berakhir.
“Mbak sedih tuh kalau anak cantik nngak mau makan.”
Rani mengusap matanya, pura-pura menangis. Padahal dia memang baru saja menangis.
“Jangan nangis, mbak antik.”
Mata Nonik berkaca-kaca. Dia tidak suka melihat mbak antiknya sedih.
“Makanya makan, yuk.”
Rani kembali menyodorkan sendok bubur ke mulut mungil Nonik. Kali ini, perlahan Nonik membuka mulutnya.
“Yak, hap … gitu dong, pintar.”
Rani tersenyum lega. Dia menepuk pelan pipi Nonik yang mulai ada isinya.
Dari sudut ruangan, Dody memperhatikan adegan itu. Dadanya sesak melihat betapa akrabnya Rani dengan Nonik. Sementara ibunya sendiri seperti orang hilang akal.
“Mas, perempuan itu akrab banget sama Nonik, ya.”
Kata mister Chow yang berdiri di sampingnya ikut bersuara pelan.
“Iya, pak.”
Jawab Dody singkat. Suaranya datar, tapi matanya tidak lepas dari Rani.
Ada rasa aneh di hatinya. Cemburu? Tidak. Lebih ke takut. Takut kalau Nonik lebih nyaman dengan Rani daripada dengan dirinya.
Dia sudah memutuskan Rani jadi pengasuh sementara Nonik sampai ibunya sembuh.
“Pak Dody, sini pak.”
Dokter Bram melambai dari pintu ruangan.
“Ini hasil pemeriksaan Nonik.”
Dody menerima map coklat berisi hasil periksa Nonik. Dokter Bram menyerahkannya langsung, tanpa lewat bagian admin dulu.
Sungguh dokter yang baik hati.
“Ini … aku belum bayar lunas, dok.”
Dody menggaruk tengkuknya. Rasanya sungkan.
“Nngak apa-apa, pak Dody. Bayarnya nanti saja.”
Dokter Bram tersenyum ramah.
“Aku percaya bapak orang baik.”
“Terima kasih, dok.”
“Aku pergi dulu ya. Masih banyak pasien lain.”
“Silakan, dok.”
Dody masuk kembali ke ruangan. Langkahnya terhenti saat melihat Rani menoleh dengan wajah memerah, seperti orang ketahuan melakukan sesuatu.
“Nnga … nngak apa-apa. Santai saja.”
Kata Dody cepat saat melihat Rani buru-buru meletakkan piring bubur di atas meja.
Dia tahu Rani gugup. Mungkin karena merasa bukan siapa-siapa, tapi sudah dianggap keluarga oleh Nonik.
“Kulihat Nonik akrab sama kamu.”
Rani terdiam. Matanya menatap lantai rumah sakit. Dia tidak menjawab Dody.
“Apa kau bisa bantu aku?”
Rani mendongak. Alisnya bertaut.
“Bantu apa, mas?”
Dia bingung. Tadi Dody masih bersikap dingin, sekarang tiba-tiba minta bantuan baik-baik.
Orang aneh.
Batin Rani.
“Ngasuh Nonik.”
Kata Dody serius. Dia menatap Rani lekat-lekat.
“Ngasuh dia.”
Dody menunjuk ke arah Nonik yang sudah tertidur pulas karena obat dari dokter.
“Ya … Kamu mau, kan?”
Tanyanya penuh harapan.
“Tapi, mas … bukankah ibunya bocah ini …?”
Rani tidak meneruskan kalimatnya. Dia tidak tahu apa-apa tentang ibu anak itu.
“Ibunya stress. Dia seperti orang hilang akal.”
Jawab Dody pelan.
“Ahhh ...”
Rani mengangguk pelan. Dia berusaha mengerti kalimat Dody.
“Gimana, mau?”
Tanya Dody penuh bujukan.
“Ta…tapi.”
Rani ragu-ragu. Di kepalanya terbayang ibunya yang sedang sakit di rumah.
“Ada masalah?”
Dody mengerutkan kening. Dia merasa Rani menyembunyikan sesuatu.
“Ibuku sakit, mas.”
Suara Rani pelan. Dia memalingkan wajah. Matanya berkaca-kaca.
Dasar perempuan.
Dody mendesis dalam hati. Tapi cepat-cepat dia menepis pikiran itu.
“Aku akan tanggung biayanya.”
Kata Dody tegas. Padahal saat ini keuangannya sendiri juga sedang seret karena ulah opa Darwis.
Rani terdiam. Dia menimbang-nimbang permintaan Dody. Di rumah memang ada sepupunya yang bisa menjaga ibunya sementara. Kebetulan sepupunya butuh tempat tinggal. Rani menawari rumah kontrakannya sekalian sambil merawat ibu.
“Baik, mas.”
Rani mengangguk pelan.
Lagipula, dia sudah terlanjur sayang pada Nonik. Rasanya dia tidak mau berpisah dari anak itu.
“Kau tidak akan kabur kan?”
Tiba-tiba Dody bertanya penuh curiga.
“Nngak akan, mas. Asalkan mas penuhi janji mas barusan.”
Rani merapikan selimut Nonik. Tatapannya lembut saat memandang anak itu.
“Tidak. Aku janji.”
Kata Dody lebih bersungguh-sungguh.
Rani menatap wajah Dody. Wajah itu terlihat tulus.
“Mas, napa ibunya stress?”
Rani memberanikan diri bertanya.
“Maaf, kalau pertanyaan ini kurang berkenan.”
Lanjutnya pelan. Dia tahu itu urusan pribadi
“Dia terlalu memikirkan anaknya yang hilang!”
Kata hilang ditekankan Dody.
Rani merasa tertuduh. Dadanya sesak, tapi dia menutupinya dengan senyum kecil. Padahal hatinya seperti ditusuk sembilu. Bukankah dia sendiri yang ikut membawa Nonik keluar dari rumah sakit K?
“Bukankah sekarang bocah ini sudah ketemu?”
Rani bertanya pelan, masih mempertahankan senyumnya.
“Ya! Tapi aku ragu dia akan kembali sadar.”
Sekali lagi Dody menekankan kata kembali sadar.
Rani semakin merasa bersalah. Dia berdehem kecil.
“E … hmmm … hmmmm.”
Rani berdehem, lalu meneguk air putih dari gelas kemasan.
“Kenapa, mbak?”
Dody merasa ada yang aneh. Curiganya kembali muncul.
“Tenggorokanku seperti ada yang nganjel, mas.”
Rani menjawab sambil mengusap mulutnya dengan tisu. Di tisu itu ada bekas lipstik merah miliknya.
“Mbak ini siapa namanya?
Dody maju sedikit, mendekatkan kursinya ke arah Rani. Tatapannya tajam, seolah baru menyadari sesuatu.
Rani hampir memundurkan kursinya. Dia salah paham, mengira Dody mau berbuat aneh-aneh padanya. Apalagi ruangan ICU sedang sepi. Jarang ada orang lalu lalang.
“Dari tadi ngomong, tapi nngak tahu namanya.”
Dody mengingatkan.
“Oh, ya. Namaku Rani, mas.”
Rani menjawab lega karena Dody tidak semakin mendekat.
Dia memang sensitif pada laki-laki, apalagi yang baru dikenal beberapa jam. Terlebih laki-laki yang merupakan ayah anak itu.
Tiba-tiba dokter Bram masuk lagi. Dia tersenyum pada Dody.
“Maaf dok, aku pengen lihat anakku!”
Kata Dody cepat, suaranya penuh harap.
“Nngak apa-apa, pak. Santai saja.”
Dokter Bram menenangkan Dody.
“Oh ya, Nonik harus di ICU selama 3 hari.”
Dokter Bram menambahkan kata-katanya.
“Supaya mudah dipantau kondisi kesehatannya. pasca operasi.”
Dokter Bram memandang Rani.
“Mbak ini yang bawa Nonik?”
Tanyanya serius.
“Iya, dok.”
Jawab Rani pelan.
“Untung mbak cepat bawa kemari. Kalau terlambat sedikit …”
Dokter Bram menggantung kalimatnya.
Kata-katanya membuat bulu kuduk Rani berdiri.
“Bocah ini tidak akan selamat.”
Dokter Bram menunduk sedih.
Dody terdiam. Dadanya lega karena Nonik selamat. Tapi hatinya juga berharap Santi bisa cepat sadar saat melihat Nonik kembali.
TING!
Suara notifikasi HP memecah keheningan.
Wati segera membuka pesannya.
“Bu, Nonik sudah dibawa kembali ke rumah sakit K.”
Wajah Wati memerah. Dia menahan marah saat mengetik balasan:
“Siapa yang bawa?”
“Seorang perempuan, masih muda.”
“Terus pantau.”
“Baik bu.”
Wati langsung memencet nomor HP. Video call.
Menunggu beberapa saat, wajah Wandy terlihat di layar. Masih putih karena masker white clay.
“Apa, tante!”
Wandy berteriak kesal. Pagi-pagi sudah di video call.
“Eh, non … bocah itu sudah kembali ke rumah sakit.”
“APA!!!”
Wandy teriak marah sampai beberapa serpihan masker di wajahnya jatuh.
“Kau gimana sih.”
Sambil memunguti serpihan masker, Wandy masih membentak.
“I … iya, non. Karena non Wandy tidak segera transfer, jadi mereka abaikan.”
Wati menjawab terbata-bata.
“KAU CEK LAGI YANG BENER!”
Teriakan Wandy membuat telinga Wati panas.
“Sudah non!”
Kata Wati meyakinkan Wandy.
“Seorang perempuan, masih muda yang bawa.”
Wati menekankan sekali lagi.
“Lalu gimana kondisi bocah itu!”
Wandy setengah berbisik, suaranya menahan marah.
“Udah tumbang atau masih hidup!”
Wati mengurut dadanya. Wandy benar-benar tega. Anak kecil, baru 5 tahun.
“Nanti aku cek lagi, non!”
Wati berusaha membujuk.
“Udah! kau cek lagi sekarang, lalu LAPORKAN!!!”
Teriak Wandy.
“Dan ingat, jangan sampai aku yang datang ngurusin semuanya. NGERTI!!!”
Kata Wandy penuh intimidasi sebelum mematikan panggilan.
“Nger … ngerti…non!”
Kata Wati pelan, khawatir kalau Wandy benar-benar datang berarti kiamat bagi semuanya.
Setelah menutup video call, Wati termenung. Dirinya tak habis pikir, sekarang malah terlibat terlalu dalam dengan masalah hubungan Wandy dan Dody. Padahal dia lebih senang mengurusi diri sendiri.
Wati menghela nafas. Dia tante kandung Dody. Seharusnya dia melindungi ponakannya. bukan malah menghancurkannya. Tapi semua ini dilakukan demi satu tujuan: uang. Uang telah membutakannya dari hubungan keluarga.
“Sungguh suatu pertunjukan yang menarik.”
Sebuah desisan suara pelan terdengar. Seseorang menguping pembicaraan Wati di HP.
Siapa dia. Tunggu sambungannya. Semoga betah.
Bersambung