Saran baca loncat sampai Eps. 21
SILAHKAN YANG MAU PROMOSI TIDAK USAH SUNGKAN. KITA SAMA-SAMA PENULIS, SAMA BERKARYA.
Genre: Romantis, School, Slice of life, Remaja.
[Semua ini hanya karangan semata, tidak nyata atau tidak benar-benar terjadi]
Menceritakan tentang keseharian seorang murid SMA bernama Raka yang telah menjadi suami bagi guru matematikanya.
Raka, yang masih berusia 16 tahun atau remaja labil selalu ingin menggoda istrinya baik itu di sekolah maupun di rumah. Walaupun pernikahan mereka di dasari oleh perjodohan, tapi Raka benar-benar sudah jatuh hati padanya.
Sedangkan Kalisa, nama istri Raka. Dia kadang harus bersabar ketika menghadapi suaminya yang terkadang bersikap kekanak-kanakan, bagaimanapun dia bukan lagi muridnya, melainkan seorang pemimpin bagi keluarganya kelak.
Kisah hubungan mereka di mulai tepat setelah beberapa hari mereka mengucapkan janji suci.
Note: Cerita ini di bersudut pandang dari Raka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon secrednaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 24– Sekeping Masa Lalu
Yang datang boleh jadi hanya kenangan, yang nyata boleh jadi ketiadaan, dan yang pergi boleh jadi adalah kepemilikan.
Akhirnya hari kami berkencan tiba pada ujungnya ketika langit yang terang perlahan menjadi redup dan gelap. Sebagai kencan pertama, itu adalah hal yang paling indah sekaligus menyenangkan berdua bersamanya.
Hal-hal yang menyenangkan banyak terjadi ketika di pantai, sambil bergandengan tangan kami menyelusuri bibir pantai, Mengobrol, becanda ria, berlari-larian, bermain air dan masih banyak lagi.
Omong kosong tentang adab, pada akhirnya kami berciuman langsung ketika sedang berbasah-basahan di pantai. Itu hampir ketidak sengajaan, dia terjatuh dan menabrak ku hingga membuat kami terkulai di pasir.
Ahh, kalau di ingat lagi ini adalah yang paling indah dari semua kejadian hari ini. Kami sama-sama saling terpaku memandang masing-masing, kaget, bahagia, terpana, itulah yang di rasakan.
Ciuman itu tidak berakhir lama, karena bagaiamana pun kami berada di lingkungan yang terbuka, tidak etis jika ada orang lain yang melihatnya.
Sampai kira-kira jam lima sore kami akhirnya memutuskan pulang, baju dan celana kami selain basah juga kotor oleh pasir, membuat kami langsung bergegas mandi ketika tiba di rumah.
Sayangnya karena terlalu asik bersenang-senang kami lupa niat awal sebenarnya, bukankah tadi aku berniat berbelanja di mall untuk kebutuhan dapur? Lantas dimana tas belanja itu sekarang.
Entah aku atau Bu Lisa sama-sama capek untuk pergi berbelanja keluar, jadi pada akhirnya kami makan seadanya, dalam artian lain dia bisa membuat masakan enak dengan bahan seadanya tersebut.
Aku beranjak dari tengah rumah ke pintu kamar setelah satu jam lamanya menonton televisi, sekarang masih jam 8 malam, masih terlalu sore untuk tidur.
Saat di sana aku mendapati Bu Lisa tengah duduk di kasur dengan kakinya yang di luruskan, matanya terfokus menatap laptop yang berada di paha. Tanpa basa-basi aku menghampiri dan memeluk ia dari belakang serta meletakan dagu pada pundaknya.
“Lagi apa dek?” kataku menyapanya dengan ramah.
“Tugas mas, biasa.” Ujarnya menoleh ke belakang lantas kembali lagi melihat layar laptop.
Aku langsung terdiam paham, di layar laptop tergambar tabel dengan angka dan nama-nama dari murid sekolah. Dari yang aku tahu, dia tengah memberi nilai-nilai untuk setiap nama murid kelas yang ia ajari.
“Kamu gak memberi nilai sempurna buat suamimu ini?” ucapku becanda.
“Enggaklah mas, bagaiamana pun adek harus professional, tak pandang status.”
“Tapi mas kan suami kamu sayang.” Aku memeluk perutnya lebih erat.
“Iya mas memang suami adek, tapi kalau di sekolah mas murid adek.”
Aku terkekeh, jawaban ia terlalu formal ketika berkaitan dengan sekolah, walaupun aku berniat becanda, ia malah menjawab dengan serius.
Lalu tepat tiba namaku tertera di layar laptop, aku berinisiatif bergerak mengambil kemudi, dengan menekan tombol laptop di pahanya aku mengetik angka ‘100’ tepat dia daerah kolom nilaiku.
“Pengen banget yah mas nilai seratus,” dia tertawa kecil ketika tiba-tiba aku mengetik sesuatu di laptopnya.
“Sekali-kali yang,” aku tersenyum, ikut tertawa dengannya.
Hampir sekitar satu setengah jam dia mengutik-ngutik laptopnya, namun tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan berhenti. Dengan posisi masih memeluknya aku berkata dengan lembut.
“Sudah dulu dek, ini sudah larut malam,”
Dia langsung mengangguk patuh dan mengembalikan laptopnya ke menu utama, seketika itu juga aku langsung tersenyum melihat apa yang ada di depan layar laptop.
Disitu tergambar dua orang memakai baju pengantin saling bergandengan tangan, kedua orang itu tersenyum menatap kamera sambil memamerkan cincin pernikahannya, itu adalah foto pernikahan kami berdua.
Aku langsung teringat ketika awal-awal kami bertemu, itu adalah hal spesial dan tak mungkin aku lupakan.
Waktu itu sesudah lulus dari SMP, aku harus mengikuti sebagian testing yang ada di sekolah SMA yang aku pilih, karena terdapat banyak murid terdaftar di sekolah tersebut, maka pihak sekolah memutuskan untuk melakukan tes ujian.
Aku masih ingat jelas, saat dimana Bu Lisa menjadi pengawas ujianku masuk, asal kalian tahu, ketika kami bertemu pertama kali tidak ada sepeser pun pikiran bahwa kami akan menikah di masa depan kelak, jangankan berpikir kesana, malah pikiranku berfokus apakah aku lulus atau tidak di ujian itu.
Sebagai orang baru, aku dan semua orang yang mengikuti tes ujian tersebut langsung terpana melihat begitu muda dan cantiknya guru pengawas kami. Aku yakin bahwa mungkin dari sebagian di antara kita ada yang langsung jatuh cinta padanya, dia benar-benar seperti seumuran dengan kami.
Lalu seminggu kemudian, ketika aku memperoleh hasil ujian tes dengan lulus, tiba-tiba kedua orang tuaku berkata sesuatu yang bahkan jauh dari benakku. Mungkin kalian langsung menyadarinya, itu benar, orang tuaku mengatakan bahwa aku akan di jodohkan.
Hei! Mana ada yang sempat kepikiran hal tersebut, aku baru saja lulus SMP dan kini mau menginjak kaki ke SMA, lalu tiba-tiba orang tuaku mengatakan bahwa aku akan di jodohkan.
Semesta pasti becanda!
Waktu melesat begitu cepat. Keesokan harinya keluargaku langsung mendatangi tempat rumah calon istriku, tidak begitu lama sampai kami akhirnya bisa bertemu dan saling pandang.
Sudah kuduga, semesta pasti sedang becanda!
Aku mungkin akan mengenal Bu Lisa saat pertemuan itu terjadi, tapi apakah ia ingat padaku, aku jelas tidak mengharapkan itu. Namun melihat dari pandangannya yang sama-sama terkejut, aku meyakini bahwa dia juga mengenalku.
Sepertinya kedua orang tuaku dan dia bersahabat, mereka terlihat akrab dari pertemuan kedua keluarga itu, saling becanda, tertawa, menepuk pundak masing-masing, lantas menceritakan kehidupan keluarganya.
Sepuluh detik kemudian suasananya tiba-tiba menjadi serius, itu tanda bahwa acara ini sudah pada titik pusatnya.
Intinya ayahku tidak memaksa apakah aku akan menerima perjodohan itu atau tidak. Untuk seusiaku yang masih remaja, tentu aku mendambakan perjodohan ini, hei! siapa yang tidak mau menikah dengan wanita cantik seperti Bu Lisa.
Tapi aku sadar, perjodohan ini tidak dibuat dalam sepihak, dia juga harus membuat keputusan apakah dia mau atau tidak bersamaku.
Saat yang menegangkan adalah ketika ayahku bertanya pada Bu Lisa, apakah ia menerima perjodohan ini. Lantas aku menundukkan kepala, tidak mau melihat apa yang di putuskan olehnya.
Wajar aku pesimis saat itu, aku baru bertemu dengannya sekali itu pun hanya dua jam, terus aku ini lebih muda darinya, bukankah semua gadis suka pria yang dewasa? Lantas dimana keunggulan ku agar di terima.
Saat tidak ada cahaya yang menyinari, saat tidak ada hujan yang membasahi, di saat semua harapan telah tiada, di situlah secercah keajaiban muncul.
Dia ternyata menerima perjodohan kami dengan anggukan dan berkata penuh lemah lembut “Aku menerima Raka menjadi suamiku.”
Kurasa semesta tidak sebecanda itu padaku!
Jangan bertanya jawabanku tentang perjodohan itu, bahkan sebelum ayahku menyelesaikan pertanyaan aku langsung memotongnya dengan percaya diri “Aku akan menerima Kalisa sebagai istriku,”
Itu adalah momen luar biasa di sepanjang hidupku, dan sampai kapanpun tidak akan tergantikan.
Pernikahan kami diadakan tidak lama setelah acara perjodohan tersebut, sekitar dua minggu setelahnya, akhirnya kami resmi menjadi suami istri.
Tentu tidak ada yang tahu tentang pernikahan kami, walaupun keluargaku dan dia tidak berniat merahasiakannya, saat pernikahan, keluarga kita hanya mengundang sanak keluarga terdekat saja.
Dalam artian lain, pernikahan kami hanya di ketahui oleh beberapa orang saja. Pernikahan antara seorang murid dan guru.
***Eps 1 dan seterusnya harus di perbaiki, jadi update mungkin agak sore***..
***Jangan Lupa VOTE dan LIKE nya.. Boleh coment kekurangan novel ini, biar author menjadi terbantu dengan saran tersebut***.
Terimakasih\*\*\*..