NovelToon NovelToon
Delapan Pusaka : Amarah Harimau

Delapan Pusaka : Amarah Harimau

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Pusaka Ajaib / Barat
Popularitas:767.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ersa Kurnia

Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.

Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?


Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇‍♂️🙇‍♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Perguruan Harimau Matahari

Baruna dan Cakiya bergerak melesat dengan kecepatan luar biasa untuk ukuran manusia pada umumnya. Sesekali mereka berpapasan dengan seorang petani maupun beberapa pedagang yang menuju Lamunarta. Mereka semua cukup terheran-heran melihat dua orang pendekar berlari bagaikan angin di jalanan. Sepanjang belasan kilometer, Cakiya mengikuti langkah Baruna yang dituntun oleh angin dari keris Rudra Arutala hingga kemudian Baruna menghentikan langkahnya.

“Ada apa kawan?” Tanya Cakiya.

“Sepertinya kemampuan melacak seseorang dari keris Rudra Arutala mencapai batasnya.  Keris Rudra Arutala kehilangan jejak mereka.”

“Mereka siapa? Tanya Cakiya. “Lalu, akan kemana kita Tu…ah maksudku Baruna?”

“Mengikuti sekelompok orang.” Kata Baruna singkat.

“Apakah mereka adalah musuh?”

“Entahlah.”Jawab Baruna. “Bisa saja mereka akan menjadi rekan seperjalanan kita, bisa juga mereka akan mengincar nyawa kita berdua dengan berbagai alasan. ”

“Apa maksudmu Baruna?” Cakiya mengerutkan alis dan terlihat cukup kebingungan

mendengar keterangan dari Baruna.

Baruna lalu menceritakan urutan kejadian di rumah makan sebelum berduel melawan Cakiya. Dari bertemu dengan tiga orang perempuan yang dipimpin oleh seorang perempuan bangsawan yang diganggu oleh anak bupati, bertarung melawan  Ranggaseta dan tukang pukul anak Bupati tersebut, hingga kemudian mengalahkan Ranggaseta. Baruna pun mengatakan rencananya jika setelah mengalahkan Ranggaseta, dirinya akan menyusul ketiga perempuan itu. Akan tetapi, kenyataan berkata lain, Wardhana justru membunyikan kembang api kemuning dan membuat keadaan semakin kacau hingga Baruna kemudian akan dihukum gantung di alun-alun. Karena rangkaian kekacauan tersebut membuat Baruna harus menunda untuk menyusul ketiga perempuan tersebut. Entah

pada akhirnya berakhir sebagai lawan atau kawan Baruna tidak peduli, ada perasaan menggelisahkan yang sulit diungkapkan Baruna ketika mengingat sosok perempuan bangsawan itu, dan sepertinya perasaan itu menguap hilang jika Baruna bertemu dengan mereka bertiga.

“Hm…jadi begitu.” komentar Cakiya. “Mengapa dirimu begitu sangat tertarik dengan mereka bertiga?”

“Kulihat mereka cukup tangguh, tetapi juga cukup rapuh. Pakaian mereka memang bagus, mereka terlihat terlatih untuk bertarung. Akan tetapi, sorot wajah dan aura mereka sepertinya menyimpan kesedihan yang dalam dan kelelahan yang luar biasa. Entah mengapa aku tergerak untuk membantu mereka dengan cara apa saja. Yang

jelas ketiga perempuan itu seperti ditimpa musibah besar yang membuat mereka selalu terlihat tergesa-gesa. Aku memang tidak dapat melihat dua anak buah perempuan ningrat tersebut, karena dua wiracaya itu mengenakan topeng, akan tetapi ekspresi muka perempuan bangsawan itu benar-benar terlihat lelah dan memelas. Hal itulah yang membuatku demikian tergerak untuk menemui mereka.  ”

“Mungkin mereka sama dengan kita.” Pendapat Cakiya. “Buronan atau kriminal yang telah melakukan kejahatan besar karena terpaksa atau tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup.”

“Bisa jadi demikian.”

Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka selama beberapa waktu hingga matahari telah meninggi dan berada tepat di atas ubun-ubun Baruna dan Cakiya. Meski demikian, cuaca pada hari itu cukup berawan dan angin dingin berhembus membuat suasana menjadi cukup sejuk. Selain itu, pepohonan rindang berdaun lebat yang tepat berada di kanan dan kiri jalanan membuat Baruna dan Cakiya terlindung dari hawa panas. Untuk beberapa saat mereka cukup menikmati perjalanan, hingga sesuatu kemudian menyela langkah Baruna dan Cakiya.

Di ujung jalan, terlihat sekelompok pendekar berjumlah dua puluh satu orang tengah berkumpul di sisi kanan jalan. Mereka sedang duduk di sebuah tikar bambu, beberapa diantara mereka juga berdiri sambil mengamati jalanan. Orang-orang itu terlihat mengenakan pakaian berwarna merah anggur serta ikat kepala berwarna keemasan. Baruna dan Cakiya cukup mengenali pakaian para pendekar itu serta simbol di punggung serta dada kanan seragam mereka. Simbol tersebut berbentuk Kepala Harimau yang berada di tengah-tengah gambar sebuah matahari berwarna kuning keemasan. Mereka merupakan orang-orang yang berasal dari Perguruan Harimau Matahari, Perguruan paling besar dan paling berpengaruh di aliran putih dengan pusat perguruan berada di Ibu Kota. Mereka terlihat menunggu seseorang dan juga tidak terlihat begitu ramah, apalagi saat melihat Baruna dan Cakiya. Ketika

melihat Cakiya spontan, salah satu dari orang-orang Perguruan Harimau itu berteriak.

“Itu Cakiya!” Salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk Cakiya saat Cakiya dan Baruna berada tidak jauh dari para pendekar Perguruan Harimau Matahari tersebut.

“Kakang Macan Mawa, si Cakiya itu benar-benar lewat sini.”

Orang yang dipanggil Macan Mawa oleh orang-orang itu ternyata sepertinya adalah pemimpin dari mereka. Ia  memiliki perawakan tinggi besar, dengan kisaran seratus sembilan puluh lima sentimeter. Macan Mawa juga mengenakan pakaian seragam yang sama dengan orang-orang Perguruan Harimau Matahari, hanya saja seragam Macan Mawa tidak memiliki bagian lengan sehingga lengannya yang kekar serta berotot terlihat dengan jelas.

Wajahnya terlihat sangat garang dengan ditumbuhi kumis tebal yang menyeruak ke atas berwarna hitam legam seperti bulan sabit berwarna hitam. Rambutnya yang panjang diikat serta digulung ke arah belakang. Sementara bola matanya yang berwarna hitam serta memiliki tatapan yang tajam, semakin menambah kesan garang kepada sosok Macan Mawa tersebut.

“Apakah orang-orang dirimu memiliki urusan dengan orang-orang itu?” Bisik Baruna kepada Cakiya.

“Mungkin seperti itu. Tapi Aku juga lupa kapan terakhir kali berurusan dengan mereka.” Cakiya menggaruk bagian belakang kepalanya sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali bertemu dengan mereka semua.

“Wah bukankah itu Baruna Witaka, pembunuh ahli waris dan juga pemilik perguruan Harimau Bulan?” Komentar salah satu pendekar Perguruan Harimau Matahari yang melihat Baruna bersama dengan Cakiya.

Melihat Baruna, orang-orang Perguruan Harimau Matahari berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk Baruna. Meski demikian, mereka tidak berniat untuk menangkap Baruna yang memiliki nilai buruan cukup tinggi sekali pun Baruna berasal dari saingan terbesar Peguruan Harimau Matahari, yaitu Perguruan Harimau Bulan. Mereka justru terlihat acuh dan tidak terlalu peduli pada keberadaan Baruna yang merupakan buronan pihak Kerajaan serta dicari-cari oleh orang-orang sisa Perguruan Harimau Bulan. Di dalam benak orang-orang Perguruan Harimau Matahari itu, ada setitik rasa terima kasih pada kejahatan-kejahatan Baruna yang membuat perguruan mereka dapat semakin berkembang lebih besar lagi tanpa lawan maupun pesaing yang berarti.

Karena latar belakang sejarah dan perbedaan filosofi bela diri, Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari selalu bersaing sebagai perguruan bela diri terhebat di seluruh penjuru Kerajaan. Selama puluhan generasi dua perguruan itu selalu bersaing , bahkan sesekali berselisih paham hingga menimbulkan perkelahian antar murid-murid Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari. Orang-orang Perguruan Harimau Matahari bahkan sebenarnya cukup terbantu dengan tewasnya sang Guru di tangan Baruna serta hilangnya Keris Rudra Arutala yang membuat Kerajaan begitu murka dan membubarkan aliran tersebut. Karena, dengan dibubarkan Perguruan Harimau Bulan, membuat Perguruan Matahari menjadi satu-satu perguruan terbesar dan terkuat di seluruh penjuru Kerajaan.

“Kau terkenal rupanya kawan.” Kata Cakiya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Baruna yang langsung ditepis Baruna dengan wajah datar. Entah mengapa Cakiya justru terlihat senang dan tertawa terkekeh-kekeh, ketika Baruna menampik tangan Cakiya.

“Dan sepertinya itu juga gada Kyai Samaja palsu. Mau kau apakan barang itu hah!?” Tambah salah satu pendekar Perguruan Harimau Matahari mengomentari Cakiya yang memanggul gada Aqni Samaja di pundaknya. Mereka belum mengetahui jika Cakiya berhasil mendapatkan gada Aqni Samaja yang asli ketika akan dihukum mati di

tengah alun-alun kota Lamunarta.

“Apakah Anda  semua menungguku?” Tanya Cakiya sambil tersenyum geli. “Saya benar-benar tersanjung Anda sekalian yang berasal dari Perguruan Harimau Matahari  ini mau meluangkan waktu bagi seorang seperti saya. ” Puji Cakiya, tapi nada bicaranya terdengar setengah tertawa seperti sedang melontarkan sebuah bahan untuk

bercanda.

“Keparat kau Cakiya!” Raung orang tinggi besar yang dipanggil Macan Mawa alih-alih membalas pujian Cakiya.

“Sebenarnya apa salah saya sehingga Tuan-Tuan sekalian bersikap demikian. Aku ini hanya seorang bocah sebatang kara yang pergi menggelendang tidak tentu arah. Apa yang Anda sekalian dapat jika beramai-ramai menyerang saya ini?”

“Tidak usah berkilah bangsat!” Maki Macan Mawa.

“Kakang, Macan Mawa, mungkin kepalanya perlu dihantam ke tanah dahulu supaya ingat kesalahan-kesalahannya

kepada kita.” Kata salah satu orang Perguruan Harimau Matahari.

Macan Mawa lalu bersiul panjang hingga suaranya bergema di sekitar tempat itu, sepertinya dirinya memberi tanda pada orang lain. Dan benar saja, terlihat dua orang keluar dari balik pohon dengan pakaian compang-camping serta badan babak belur dipenuhi luka pukulan. Mereka terlihat kuyu serta kelelahan. Tubuh kedua orang itu sebenarnya jangkung dan kekar, namun luka-luka yang diderita membuat mereka terlihat kuyu serta kusut bagaikan kucing basah.

“Ah Watu Lahar dan Ramawadya.” Cakiya mengenal kedua orang yang babak belur itu. “Jadi Tuan-Tuan sekalian dari Perguruan Harimau Matahari ini mencari saya karena urusan Watu Lahar dan Ramawadya rupanya.”

“Kau mengenal dua orang itu?” Tanya Baruna.

Cakiya mengangguk pelan, lalu sambil memicingkan matanya yang sedikit sipit itu, Ia berkata. “Aku menghajar mereka beberapa hari sebelum tiba di Lamunarta. Mereka memang pendekar yang tangguh. Terutama si Watu Lahar, kepalanya dan sikapnya benar-benar keras seperti batu. Mereka berdua bekerja sama dengan para prajurit pamong untuk menculik anak-anak kecil dan terlantar, lalu menjualnya secara diam-diam kepada para pedagang budak di Kota Raja.”

“Pedagang budak.” Komentar Baruna dengan wajah sedingin es, namun sorot matanya berkilat tajam bagaikan sebilah pedang tajam. Baruna sangat tidak menyukai para pedagang budak lantaran mereka memperlakukan manusia seperti sebuah barang atau pun ternak yang diperjual-belikan.

Cakiya menghela nafas sambil berkata . “Sepertinya aku mengacaukan bisnis gelap mereka  sehingga membuat orang-orang itu begitu marah padaku. Wajar saja bila mereka semua marah karena aku menggagalkan usaha penjualan budak mereka yang katanya bisa menghasilkan ratusan keping emas setiap bulannya. Bahkan, kelihatannya saking marahnya mereka padaku, orang-orang Perguruan Harimau Matahari itu mengabaikan dirimu Baruna. ”

“Pantas saja mengabaikan diriku, ratusan keping emas tiap bulan tentu tidak sebanding jika harus menangkap buronan hingga mempertaruhkan nyawa demi seratus keping emas ” Komentar Baruna sambil menggenggam tongkat Kyai Sakwari Warsita erat-erat.

“Puluhan orang itu sepertinya bergerak untuk membalaskan apa yang kulakukan kepada Macan

Mawa dan Ramawadya.” Kata Cakiya. “Atas nama solidaritas saudara perguruan melindungi orang-orang yang berbuat seperti itu. Apa yang dilakukan orang-orang Perguruan Harimau Matahari itu benar-benar layak dijadikan teladan.” Sindir Cakiya.

“Hei kalian berdua!” Bentak Macan mawa lalu memanggil Ramawadya dan Watu Lahar.  Macan Mawa lalu bertanya pada mereka berdua. “Benar kalian berdua dilukai oleh orang yang bermata sipit itu?”

“Benar Kakang Macan Mawa.” Kata mereka berdua dengan lemah.

Mendengar pengakuan dari Watu Lahar dan Ramawadya, Macan Mawa melangkah maju mendekati Baruna dan Cakiya dengan menghambur tatapan tajam yang beringas bagaikan sorot mata Harimau Jantan. Amarah yang membara menyelimuti Macan Mawa. Aura kemarahannya sangat membuat tidak nyaman siapa pun di tempat itu hingga murid-murid perguruan Harimau Matahari yang berada di tempat itu terpaksa menjaga jarak agar tidak mengacaukan situasi. Akan tetapi intimidasi kemarahan yang dipancarkan oleh Macan Mawa tidak mampu menekan Baruna dan Cakiya. Sebaliknya, mengetahui taktik intimidasinya gagal, Macan Mawa segera mengambil

nafas lalu berbicara dengan suara keras dan berat.

“Hari ini Aku Macan Mawa, Putra dari Simhabirawa dari Perguruan Harimau Matahari, bersama saudara seperguruanku akan menuntut balas apa yang dilakukan dua orang ini kepada murid-murid Perguruan Harimau Matahari. Aku tidak bisa menanggung lagi, apakah setelah ini kalian berdua bisa melihat matahari terbit ataukah

tidak.” Sembur Macan Mawa.

“Simhabirawa?” Baruna sedikit terkejut mendengar nama tersebut disebut oleh Macan Mawa.

Sepertinya Baruna cukup mengenal sosok yang disebut Simhabirawa.

“Kau mengenal ayah dari orang itu Baruna?” Tanya Cakiya.

1
anggita
tetep top👍
Feri Ferdiansyah
cerita yang sangat menarik.. kata katanya sangat detail sekali.. perumpamaan yg halus, logis dan diluar nalar.. harusnya cerita nusantara seperti ini yg dibutuhkan bagi penikmat cerita seni beladiri..
Nedi Junaidi
Luar biasa
asta guna
tak simak e sek
asta guna
tak kiro wes end....
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
Ardi Yansyah
gak disangka ada notip update ceritanya
Eclairs5888: Maaf Yaa...dari Agustus-Desember 2023 Saya ada Diklat Latsar & Aktualisasi. Januari-26 Februari, Saya urus administrasi dll sampai pengambilan sumpah hhu.
total 1 replies
asta guna
bangke, gue kira tambah lagi yg tumbang ternyata 2 paragraf cuma untuk menjelaskan yg sudah tumbang. keterlaluan lu. gue di novel2 lain yg bergenre pendekar biasanya sangat royal. sebut saja sang musafir, 13 pembunuh. tp maaf gak di novelmu. merinci hal2 yg gak penting itu MENYEBALKAN
asta guna: anda hebat JD bagian dari pejuang kemanusiaan. sedikit masukan yg agak frontal semoga gak mengendorkan semangatmu thor
total 2 replies
asta guna
bertele2... 3 chapter perterungan seimbang.. kelihatan banget author ngulur2 cerita dan narasi
asta guna
hal2 receh kek gini gak perlu di deskripsikan dengan detail. gak menarik tau
asta guna
novel ini keren. sayangnya kau telat bacanya.
asta guna
namanya keren
asta guna
mantab
Priskila Prima Hevina
coyoteeeee
Priskila Prima Hevina
woww plot twist Recamadya Anala
Ardi Yansyah
tetap akan di update ceritanya oleh author tapi para pembaca setia harus extra sabar dan slow
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya
Eclairs5888: Mohon maaf updatenya lama, Saya masih latsar utk PNS ini, sampai tanggal 11 November 2023.
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
kek nggak percaya lihat notif novel ini up 😅😅😅
Priskila Prima Hevina
Baruna dan Recamadya Anala
Priskila Prima Hevina
Busur Cincin Ungu
Kang_Wah_Yoe
,siiip thor
anggita
top✊☝👏👌👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!