Bastian, gak sebaik dan gak sesempurna yang kalian kira guys. Lihat kisahnya disini, dimana dia hanya menyewa seorang wanita, hanya untuk memenuhi keinginan sang mama, untuk memberikannya cucu.
Tara, terpaksa mau untuk menolong keluarganya, hal yang makin membuat bastian benci sekaligus mulai sayang padanya, tapi bastian terlalu bodoh dan gensi untuk mengakuinya.
Bagamana kisah bastian.
Masih pada inget sosok bastian gak?
udah pernah saya post, satu part, mau dilanjutkan di buku baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 - KANGEN-KANGENAN
Baru aja ditinggal, cuma beberapa jam gak ada kabar, tapi bina sama mama mertuanya langsung peluk tara gak mau dilepas.
"Ta, jangan gitu lagi." kata mama bastian menangis menatap tara. Tara jadi gak tega, gak tau sih mama mertuanya nangisin dia karena ada bayinya atau beneran sayang ke tara.
"mama jangan nangis. Tara minfa maaf." Kata tara menghampur air mata mama mertuanya. Bina memeluk tara erat, bastian hang melihatnya langsung keluar, menghampiri bina dan menjambak rambutnya.
"Mau bunuh anak sama istri gue lo, B.R.I." katanya sambil menjambak bina, sedikit menarik kepala bina kebelakang, sakit. Bina langsung melepaskan pelukannya ke tara.
"Mas, jangan digituin, sakit binanya. Kasian." tara tak tega pada bina, tara mencoba melepaskan tangan kekar bastian yang menarik Bina. Tapi Bastian malah punya ide lain, mungkin bisa buat dia menyentuh perut tara. Kita lihat?
"Gak, aku bakalan jambak bina. Nih ya bisa makin kenceng." bastian menjambak rambut bina, makin kencang, sampai bina sempat berteriak kesakitan, lalu kemudian melonggarkan tarikan dirambut bina lagi, "aku bakalan berhenti kalau aku boleh sentuh perut kamu, sepuas aku."
"Hidih, lo jadiin gue umpan om. Licik!" Bina teriak gak terima. Emang dia apa, cacing dijadiin umpan.
"dikasih gak?" tanya bastian lagi, mama bastian tak henti tersenyum melihat betapa bahagia dan lengkap, akan makin lengkap kehidupannya dimasa tua ini, nanti setelah cucunya lahir.
"Aaa... omm. sakit tauk!" bina berteriak lagi karena rambutnya dijambak oleh bastian, ditarik kenceng sesaat tadi untuk memancing tara.
"Iya-iya, boleh. Udah lepasin. Boleh sepuas kamu, mas." tara menyerah, dia tak mau melihat sahabatnya kesakitan.
"Yez!" bastian langsung melepaskannya, meloncat kegirangan, membuat tara terkejut dengan responnya, dia kira bastian itu keren orangnya, aneh juga, segala kepikiran jambak bina buat ancem. Ada-ada aja.
Grepp...
Bastian langsung menyentuh perut tara, tara yang berdiri sampai kaget. Dia memukul bahu bastian secara refleks. Sampai hampir jatuh, tara langsung pegangan bastian.
"Ihh, ngagetin mas." kesalnya pada bastian.
"masuk yuk sayang, lanjutin didalem, biar gak capek berdiri mulu." kata mama bastian, bina masih mengusap-ngusap belakang kepalanya yang bekas ditarik bastian.
"Resek lo." bina membalas bastian yang sedang asik menyentuh perut tara dari luar baju tara. Bina langsung menarik rambut bastian dengan kencang dan kabur. Bastian sempat teriak kesakitan.
"awas lo Biii.. ponakan kurang asemb!" teriak bastian, tanpa melepaskan tangannya dari perut tara.
"Ta, kalau gini gak terlalu kerasa, boleh dong dibalik baju, langsung sentuh perut, pengen ngerasain taaa .." rengek bastian lagi pada tara.
"Didalem mas, masak disini."
"boleh maksudnya? didalem?" Tanya bastian memastikan, tara langsung mengangguk. Bastian dan tara pun masuk ke rumah, mereka duduk dimeja makan, menunggu makan siang dari bibik dan mama, yang katanya gak bisa makan karena tara ngilang, tara cuma nemenin, bastian yang ada disamping tara, duduk disampingnya, dibawah meja makan, tak henti mengusap perut tara dari balik baju longgar dan rok yang tara kenakan.
"Ta, ini buncit habis kamu makan banyak, atau beneran isinya cuma anak aku?" tanya bastian pada tara.
"dua-duanya kali. Udah ding mas, berhenti dulu. Gak enak sama mama sama bina, masak mau seharian gini."
Mengingat seharian, tara jadi ingat permintaanya mau ke rumah ibu, mau jenguk ibu dan bapak, sekalian mau nginep semalam atau dua hari disana.
"Mas, katanya mau ke rumah ibu. Habis ini ya?" pinta tara pada bastian.
"Iya." bastian pun menarik tangannya dari perut tara, dia ikut makan, karena sejak tadi juga belum makan.
"Ma, tara mau izin ke rumah ibu sama bapak boleh gak ma?" tanya tara disela-sela makan siang.
"Ya bolehlah, sekalian kasih kabar ke ibu sama bapak kamu ya, ta. Pasti mereka bahagia."
"Iya ma. Sekalian tara mau nginep dua hari boleh ma?" tanya tara lagi.
Tara dan bastian segera pamit pada mamanya dan bina, mereka sudah mendapatkan izin untuk menginap di rumah ibu dan bapaknya tara, mama bastian dan bina mengantar sampai keluar. Tara sangat senang. Sepanjang jalan Tara main ponsel bastian, karena batunya lowbat, ponsel tara sedang dicharge di mobil.
"Mas, pengen inii... beliin dong, yang banyak, kayaknya enak buat ngemil." Tara yang sejak tadi melihat-lihat ponsel bastian, tak sengaja melihat puding susu buah.
Bastian mencari toko kue disekitar jalan ke rumah ibunya tara. Setelah mencari di internet, akhirnya mereka menemukan sebuah toko kue dan mnecari puding susu buah seperti permintaan Tara. Tara minta turun dan ikut kedalam, mau liat sendiri.
"Mas, ini." tara langsung menarik bastian ke tujuan mereka datang kesini. Puding susu buah yang sangat menggoda.
"Mbak mau beli," bastian memanggil pelayan dan menunjuk puding buahnya. "mau berapa, ta?" tanya bastian pada tara, ketika pelayan sudah datang menghampiri mereka untuk membungkus pesanan tara.
"Sepuluh cup ya mbak." kata tara yang langsung dapat tatapan tak percaya oleh suaminya, sepuluh cup. Buat apa? "ini saya ambil satu ya mbak, saya langsung makan, jadi sebelas cup totalnya." Bastian geleng-geleng. Ibu hamil, banyak banget makannya, ya ampunn.
Pelayan toko itu pun membungkus sepuluh cup puding susunya. Sepanjang perjalanan tara tak henti memakan pudingnya, mungkin sudah tiga cup didalam mobil dan satu di toko.
"Ta, enak banget?" tanya bastian melirik tara.
"heem, banget. Aaakk... coba." Tara menyuapi bastian, bastian yang refleks langsung membuka mulutnya.
Setelah makan banyak, sepanjang jalan tara hanya diam, sampai tara tertidur didalam mobil, bastian harus beberapa kali membenarkan kepala tara yang terlihat tak nyaman. Bastian pun menurunkan sedikit kursi yang tara duduki agar istrinya itu lebih nyaman tidur didalam mobil.
***
"Bu,"
Bastian keluar mobil setelah sampai di rumah orang tua tara. Rumah sederhana yang kini tak jadi sengketa, bahkan didepan rumah itu sudah ada toko sembako, tempat ibu dan bapak tara yang memulai usahanya atas dorongan Tara. Jadi mereka bisa tetap bekerja dan menghasilkan uang tanpa bersusah payah.
"Bastian, kok sendirian? tara gak ikut?" tanga ibu tara yang menghampiri bastian. Bapak tara yang baru melayani pembeli juga menghampiri bastian. Bastian mencium tangan keduanya.
"Enggak bu, pak. Taranya ikut, didalem mobil. Tapi tidur, kebanyakan makan, katanya mau nginep di rumah ibu."
Ibu dan bapak tara pun mendekati mobil bastian untuk melihat anak semata wayangnya yang sudah tak tinggal di rumahnya. Mereka terkejut ketika melihat tara yang hampir berubah, sedikit berisi, terlihat dari pipinya.
"Gendutan sih?" celetuk bapak tara.
"iya ya, syukur bahagia, pak. Makasih ya nak bastian, udah bahagiain tara. Udah bantu ekonomi kita juga."
"Iya ibu sama-sama. Itu belum seberapa ketimbang hadiah yang tara kasih ke saya, yang udah kasih calon anak ke tian. Tara hamil bu, pak. Kesini mau kasih tau, malah tidur. Kayaknya kecapean ditengah jalan."
ibu dan bapak tara sangat senang mendengarnya.
belibet..
krn sepasinya trlalu panjaang kadang bikin gk nyambung jadinya
💪💪💪💪💪
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
sukses selalu thor suka banget ceritanya
ditunggu cerita selanjutnya
semangat
💪💪💪💪💪💪