NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Wuxia / Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Mengubah Takdir / Dan budidaya abadi / Ahli Bela Diri Kuno / Perperangan / Barat / Tamat
Popularitas:14.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kak Vi

Kekacauan dan penderitaan kembali datang, seperti penyakit yang telah mengakar hingga tumbuh semakin ganas. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari di mana haru bahagia dikumandangkan di seluruh penjuru, saat akhirnya Ratu Iblis dan Naga Es berhasil dikalahkan di tangan Xin Fai.

Ibarat api kecil yang membesar dan melahap apapun yang berada di sekitarnya, musuh lama pun mulai menampakkan jati dirinya kembali, mengguncang dunia persilatan setelah beberapa tahun dan kembali dengan membawa bencana yang jauh lebih mengerikan.

Bahkan Rubah Petir pun tak yakin Xin Fai bisa mengalahkan musuh ini dan dibanding melihat Xin Zhan yang merupakan anak tertua dengan kejeniusan tak terbandingi, dia justru menunjuk Xin Chen yang sama sekali takmemiliki bakat dalam bertarung.

Xin Chen yang sering disebut 'anak gagal' berlari melawan takdirnya, menantang langit dan mengukir namanya sendiri dalam benak orang-orang.

Meski sering kalah dari Xin Zhan namun dia tetap bersikukuh menjadi Pedang Iblis kedua. Untuk menjamin perdamaian dengan nyawanya sendiri, walaupun kebanyakan orang yang ingin dia lindungi adalah mereka yang melihatnya sebelah mata.

"Tidak ada kekalahan dalam diriku, aku hanya jatuh untuk menang. Karena pemenang sebenarnya adalah seorang pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 24 - Pertarungan II

Latihan bersama Rubah Petir jauh lebih berbahaya dari yang biasa dia lakukan di rumah, bahkan Xin Chen sendiri hampir tak bisa bernapas demi menghindari tiga macan petir sekaligus yang menyerangnya.

Tidak ada cara lain untuk melatih Xin Chen, menurut Rubah Petir latihan seperti inilah yang sebenarnya harus dilalui Xin Chen. Terlebih dia yakin beberapa hari lagi Xin Chen harus bertarung mati-matian untuk mendapatkan apa yang sedang dicarinya.

Bunyi gemerisik dedaunan akibat tersapu angin samar-samar mulai terdengar, ketika Xin Chen membuka matanya dia sadar hari telah pagi.

Xin Chen membuka matanya, tak melihat Rubah Petir di manapun. Karenanya dia memutuskan untuk menunggu sebentar, mungkin Rubah Petir sedang sibuk mengurus sesuatu.

"Kau sudah bangun?"

Dari kejauhan terdengar Rubah Petir berbicara, rubah itu kembali dengan seekor ayam hutan di tangannya. Xin Chen mengangguk pelan sembari memerhatikan ayam tersebut.

"Kenapa tidak membangunkanku? Mungkin aku bisa membantumu menangkap ayam itu."

"Untuk urusan menangkap ayam aku yakin kau bisa, tapi membutuhkan waktu yang lama," sahut Rubah Petir sembari menciptakan bara api menggunakan perubahan energi. Dalam waktu singkat saja ayam tersebut telah terpanggang sempurna di depannya.

Xin Chen terbatuk-batuk menontonnya, kalau dia yang melakukannya mungkin membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Itupun dia tak yakin ayamnya masih layak dimakan atau tidak.

Perut Xin Chen mulai berbunyi keroncong, saat Rubah Petir menatapinya, anak itu hanya memamerkan senyuman bodoh. "Aku cuma kelaparan, hehehe."

"Makanlah, kita harus segera melanjutkan perjalanan ke Desa Huaxi."

Xin Chen mengangguk sembari mengeluarkan sebuah kitab dari cincin ruangnya, membuat Rubah Petir tertarik dengan isi kitab tersebut.

"Ini kitab ilmu meringankan tubuh, mungkin sambil berlari aku bisa mempelajarinya."

Rubah Petir tersenyum, tampaknya anak itu mulai merubah pemikirannya. "Baguslah, kau mulai terpikirkan untuk menjadi kuat."

Xin Chen menoleh ke Rubah Petir dengan sebelah alisnya yang naik, "Ah itu.... Benar juga, ya." Dia melanjutkan kembali. "Sebelumnya kalau di rumah aku tak seniat ini karena ada Zhan Gege di sana, tidak akan mungkin aku bisa melewati kekuatannya."

Rubah Petir memahami sedikit situasi Xin Chen, tak berapa lama dia menyuruh Xin Chen untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan.

"Aku yang akan menjadi pilar Kekaisaran berikutnya."

Beberapa desa terlalui begitu saja, dalam perjalanan yang memakan waktu hingga seharian penuh itu Xin Chen hanya sibuk melatih ilmu meringankan tubuhnya. Dia berupaya keras sampai Rubah Petir yang sibuk berbicara padanya pun tak dia hiraukan.

Rubah Petir menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan Xin Chen ini. Untuk beberapa waktu dia mulai berpikir untuk berhenti sebentar apalagi setelah mengamati wajah Xin Chen kini, dia terlihat sangat kelelahan.

Xin Chen menganggukkan kepalanya, masih sibuk mempelajari kitab di tangannya. Mulai dari pernapasan tingkat tinggi, pernapasan air dan langkah kilat. Banyak hal baru yang dia temui di kitab tersebut.

Dibandingkan dengan kitab di perpustakaan, kitab ini menjelaskan dengan lebih rinci bagaimana menerapkan ilmu tersebut. Xin Chen tak menuruti apa kata Rubah Petir. Dia memilih melanjutkan latihannya dengan mempraktekkan apa yang telah dia pelajari.

"Tersisa dua hari lagi sebelum racun itu membunuh kakakku, Guru, apa menurutmu kita sudah dekat dengan tujuan?" Xin Chen memulai obrolan tiba-tiba membangunkan Rubah Petir yang sedang bermeditasi.

Jauh melihat ke beberapa tempat agak terang, di mana rumah-rumah berjejer rapi di sana Rubah Petir pun menunjukkan ke sana.

"Setahuku setelah melewati desa itu kita akan sampai ke tempat tujuan, daerah perbatasan Kekaisaran Shang dan Qing berada di pinggiran desa setelahnya."

"Kalau begitu kita tidak perlu menunggu lagi, kita harus–"

"Istirahatlah sebentar, kau takkan tahu bahaya seperti apa yang sedang mengincar nyawamu di sana."

Perkataan Rubah Petir ada benarnya juga, dan seperti nya Xin Chen juga sudah mulai kelelahan. Terlalu sibuk berlatih membuatnya lupa beristirahat.

Xin Chen memilih membaringkan tubuhnya di dekat pohon, melipat kedua tangan sebagai bantal kemudian bersiap tertidur. Namun sangat sulit untuk saat ini memejamkan mata.

Hari mulai larut malam dan Xin Chen tetap terjaga dari tidurnya, tak lama berselang terasa suara derap kaki dari kejauhan. Dia segera bersembunyi di balik pohon, mengintai kereta kuda yang sedang melewati jalan menuju desa.

Tidak ada yang aneh dari sana, kecuali satu orang dengan jubah hitam dan ukiran kecil di dada sebelah kirinya. Xin Chen yakin itu adalah orsng dari Lembah Para Dewa.

Berhubung kereta tersebut berjalan agak pelan dirinya memiliki kesempatan untuk mendekat, dia berjalan pelan-pelan sekali. Sambil menyiapkan beberapa senjata dan pil dari cincin ruang Xin Chen nekat memasuki kereta tersebut.

Menurutnya tidak ada cara yang lebih mudah untuk menyusup ke Lembah Para Dewa kecuali dengan cara ini, meskipun berbahaya dan tak sempat memberitahu pada Rubah Petir Xin Chen tetap melakukannya sendirian.

Rombongan berkuda berhenti ketika terdengar suara mencurigakan dari belakang, memanfaatkan kesempatan tersebut Xin Chen menembus ke dalam kereta kuda menggunakan Topeng Hantu Darah.

Betapa terkejutnya Xin Chen saat yang dia dapati di dalam adalah seorang anak kecil yang hampir seumuran dengannya. Xin Chen bergerak gesit, dia membekap anak itu hingga pingsan.

"Tuan Muda, apakah kau baik-baik saja?" Sahut seorang pria di luar, Xin Chen memutar pandangan panik. Bagaimanapun dia harus menjawab dan menyuruh mereka melanjutkan perjalanan.

Namun hal itu berpotensi membuatnya dalam bahaya, tak berpikir lama Xin Chen mengeluarkan sedikit tangannya dari jendela. Memberi isyarat untuk bergerak kembali.

Kereta kuda kembali bergerak pelan, Xin Chen menelan ludah sambil mengusap dada. Sedikit mengintip ke belakang di mana Rubah Petir tak menyadari kepergiannya. Xin Chen khawatir Rubah Petir akan memarahinya nanti.

Dalam perjalanan Xin Chen mulai cemas, beberapa kali pria berjubah di luar mengajaknya berbicara.

Xin Chen memutar otaknya, sekilas senyuman jahil terpampang di wajah tampan anak itu. "Daripada aku ketahuan lebih baik menyamar betul-betul seperti ini..."

Xin Chen mengganti semua pakaiannya dengan yang dimiliki anak kecil di dalam kereta ini, dengan ini dia tak perlu bersembunyi lagi saat dilihat oleh mereka. Xin Chen mengeluarkan sebuah pil dari sakunya yang dia ketahui sebagai pil tidur. Dengan pil tersebut anak yang tengah pingsan itu takkan terbangun hingga enam jam ke depan.

"Tuan Muda, aku tahu ini pasti sangat mengganggumu. Tapi mengenai kegagalan pihak Asosiasi Pagoda Perak sendiri, apakah menurutmu Tuan Besar akan diam tentang ini?"

"Ya?" Xin Chen menyahut, "Kegagalan dari mana? Bukankah walikota telah menyerahkan artefak tersebut?' dia menjawab asal.

"Eh... Bukannya Tuan sudah melihat sendiri, artefak itu memiliki terjemahan yang aneh, tdiak ada petunjuk mengenai keberadaan Baja Phoenix."

Dari perbincangan tersebut Xin Chen ingat bahwa sebelumnya dia menyuruh roh untuk mengganti isi pesan di dalam artefak, Xin Chen sendiri tak mengetahui apa yang tertulis di dalamnya.

"Ah, aku lupa apa isi dari artefak itu. Bisa kau sebutkan lagi?"

Pria berjubah di luar menutup mulutnya, selain dia dan Tuan Muda tidak ada yang membaca isi artefak yang berisi ejekan seperti, 'Heii orang-orang kurang kerjaan'.

Alih-alih menjawab pria itu malah mengganti topik pembicaraan. "Tuan Muda, ada apa dengan suaramu? Terdengar sangat berbeda dari biasanya?"

1
Asep Darajat
mantap ..
Fachri Mamonto
penulisan yang baik seperti novel
novel kho ping ho
pertahankan terus author...mudah mudahan kesini bikin novel pendekar dengan karakter nusantara
VirgoRaurus 31Smile
kisah ini mirip film 300 antara Sparta vs Persia....
VirgoRaurus 31Smile
bisa bayangkan orang berlari sembari berlutut....??? oon di piara....
VirgoRaurus 31Smile
di hiasi pakaian permadani...rupanya Author ga tahu, apa itu permadani.../Facepalm/
VirgoRaurus 31Smile
lho...kan para pema ah sudah di habisin MC semua....lha ini kok masih di incar panah...panah dari mana...
VirgoRaurus 31Smile
bukankah waktu itu hujan lebat...kenapa darah ga luntur oleh air hujan...yg bener aja Thor...
VirgoRaurus 31Smile
baru tahu ada pendekar takut di lempar sandal...
VirgoRaurus 31Smile
kekaisaran Shang yg damai & tenteram....tapi keropos di dalam...
VirgoRaurus 31Smile
emangnya kerbau makan kayu juga ya....kerbau dungu namanya...kayak Author, DUNGU.
VirgoRaurus 31Smile
mereka menyahuti para prajurit....apa yg di sahuti...yg betul "memerintahkan" para prajurit...sebenarnya Author bego atau oon...?
VirgoRaurus 31Smile
kok bisa ibunya MC dg gampangnya di culik, bukankah kediamannya dekat dg kekaisaran Shang...hal ini menunjukkan betapa lemahnya penjagaan di sekitar kekaisaran Shang.
VirgoRaurus 31Smile
kalau alurnya sudah keluar dari alur sebelumnya...jangan harap Author dpt dukungan lebih.....
karena ceritanya jadi bertele tele...bikin pusing readers.
VirgoRaurus 31Smile
ini bukan jawaban atas pertanyaannya sendiri...karena ada tanda tanya...kalau jawaban ga usah di beri tanda tanya (?).
VirgoRaurus 31Smile
lari Luntang lantung...kayak gelandangan aja istilahmu Thor...
VirgoRaurus 31Smile
ke 52 orang tersisa....pada paragraf di atas disebutkan tersisa 152 orang...yg 100 orang kemana Thor, bisa hitungan ga...?
VirgoRaurus 31Smile
AREP mbebaske bapake wae kok mbulet, Melu seleksi...ora mutuuuu...
VirgoRaurus 31Smile
di paragraf atas disebutkan tinggal MC berdua Yu Xiong...kok ini masih ada yg lain...hadeh...
VirgoRaurus 31Smile
di bawah kolong kasur...?
emang kasur ada kolongnya, harusnya di bawah kolong ranjang...Thor.
VirgoRaurus 31Smile
akhirnya MC mengeluarkan kitab pengendali roh...katanya akan menghadapi Salamander api hanya dg kekuatan tubuhnya saja...dasar Author oon...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!