Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.
Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika itu Cinta Mengapa Ia pergi?
Malam merangkak pekan, hujan sudah lama berhenti tapi bekasnya masih ada di mana-mana.
Aspal basah mengilap di bawah lampu jalan. Udara dingin merayap masuk lewat celah-celah jaket. Dan bau tanah basah yang tertinggal—seperti sesuatu yang belum selesai, paragraf yang terputus di tengah kalimat seperti hidup Andra dan Meisyah.
\=\=
Laki laki itu berdiri di seberang jalan rumah sakit. Ia tidak masuk seperti dulu hanya berdiri sejak satu jam lalu atau mungkin juga dua, dia sudah kehilangan hitungan. Yang ia tahu: kakinya mulai kebas, tapi rasa itu tidak seberapa dibanding yang lain
Tangannya masuk ke dalam saku jaket mencari kehangatan yang tidak ada.Matanya tertuju ke satu titik—jendela lantai tiga.
Kamar Meisyah
Andra tidak tahu tirai di dalam terbuka atau tidak. Tidak tahu Mei sedang tidur, bangun, membaca sesuatu yang mungkin ditulis oleh wanita yang dulu ia kenal—sebelum ia menghilang dari tubuhnya sendiri.
Yang ia tahu—dia ada di sana hidup bernapas. Jantungnya berdetak di ruangan yang sama dengan namanya tertempel di papan informasi pasien.
Dan itu—hanya itu—sudah cukup untuk membuat Andra tetap berdiri di tengah cuaca dingin, di tengah orang-orang yang berlalu lalang tanpa tahu bahwa di seberang jalan ini seorang laki-laki sedang belajar bagaimana rasanya dekat tapi tidak tersentuh.
\=\=
Mobil lewat lampu depannya menyapu wajahnya sebentar. Lalu pergi.
Orang berlalu lalang tertawa, diam, sendiri dan bergandeng tangan, tapi setidaknya mereka tahu tujuan.
Hidup berjalan seperti biasa, bagi Andra dunia berhenti di jendela itu segala sesuatu di luar hanyalah bayangan suara statis.
"Lo kalau mau jadi patung, sekalian aja gue cor di sini."
Suara itu datang dari belakang
Andra tidak perlu menoleh. "Telat," jawabnya pelan. Suara serak—mungkin karena dingin, tidak digunakan sejak pagi.
Rei berdiri di sampingnya membawa dua gelas kopi bahunya sedikit naik, menggigil.
"Untuk Lo yang masih di sini." Katanya memberi segelas kopi bukan sebuah pertanyaan tapi lebih seperti pengakuan.
Andra menerima hangat di telapak tangannya Tapi tidak cukup dan tidak pernah cukup.
"Iya."Jawaban pendek berat untuk diucapkan, lebih mudah diam dan aman.
Rei mengikuti arah pandangnya ke atas lantai tiga di jendela yang sama.
"Dia di atas?"
Andra mengangguk tanpa bergerak sekalipun di wajahnya. Tapi Rei mengenalnya cukup lama untuk tahu—anggukan kecil itu adalah seluruh lautan yang ditahan.
"Lo masuk?"
Ia tersenyum tipis tidak sampai ke mana-mana."Gak boleh."
Bukan tidak mau tapi tidak boleh.
Dan dua hal itu—beda jauh, tembok yang dibangun oleh aturan, dokter, keluarga bahkan Mei sendiri
Ia berdiri di luar rumah sakit seperti hantu yang tidak diundang terlalu dekat untuk diabaikan dan terlalu jauh untuk diingat.
Rei menatapnya sekilas seperti sedang membaca sesuatu di balik wajahnya yang tidak banyak berubah.
"Gimana rasanya?"
Pertanyaan itu sederhana tapi jawabannya—tidak.
Andra terdiam bagaimana menjelaskan perasaan rindu pada orang yang tidur lantai tiga tapi secara kesehatan dan ingatan, bukan miliknya lagi?
Akhirnya—
"Sepertinya" ia berhenti napasnya tertahan "…"punya rumah tapi terkunci."
Rumah adalah tempat di mana pulang. Andra punya kunci tapi pintunya tidak mau terbuka bukan karena rusak tapi karena bukan miliknya lagi dan sudah tidak ada lagi di matanya.
Ia menyesap kopinya, pahit. Tapi lebih jujur dari apa pun hari ini. Setidaknya pahit tidak berpura-pura jadi manis."Dia gak ingat apa-apa," lanjutnya dengan fakta yang sama berulang kali, " Bahkan gue tidak dianggap lagi sebagai suaminya."
"Dan lo masih di sini,"
"Iya."
"Kenapa?"
Ia menatap ke arah jendela seolah matanya bisa menembus dinding merasakan sesuatu mungkin—ingatan gadis itu akan kembali.
Tapi ingatan tidak bekerja seperti itu. Andra tahu. Dan ketahuannya itu yang paling menyakitkan.
"Karena…" ia menarik napas panjang. Paru-parunya terasa sempit. "…gue pernah berjanji."
Rei mengernyit. "Janji apa?
"Kalau dia jatuh gue gak akan pergi."
Sunyi.
Angin lewat pelan. Membawa dingin yang tidak terasa di kulit—tapi di dalam, di sela-sela tulang rusuk ruang yang dulu ditempati oleh tawanya.
"Sekarang dia jatuh," lanjutnya rintih hampir tidak terdengar. "…tapi gue gak bisa melakukan apa apa. Lucu ya."
"Enggak, tidak lucu sama sekali." Rei menggeleng. "Ini adalah tragedi yang tidak punya nama, kehilangan seseorang masih bernapas di depan lo. Tidak ada ritual untuk meratapi ingatan kematian, tapi tubuh masih berjalan."
Andra tidak menoleh tidak butuh jawaban itu. Karena di dalam hatinya yang paling dalam—ia juga tahu. Ini tidak lucu. Ini adalah kekejaman paling sunyi." Dan Lo tau apa yang lebih lucu Rei ? gue masih di sini."
Dan kali ini—dia tertawa membuat Rei bergidik.
Lampu salah satu jendela menyala.
Andra refleks menatap. Jantungnya bergerak sedikit lebih cepat. Harapan adalah hal yang paling tidak rasional—dan ia memilikinya. Masih, meski sudah berkali-kali dikhianati.
Mungkin itu kamar Mei tapi juga bukan,
Tapi dia tetap menatap karena ia tidak bisa pulang ke apartemen sunyi, tidur di ranjang dingin? Menghadap pagi tanpa alasan untuk bangun tanpa dia disisi.
"Lo bakal nunggu sampai kapan?"
"Sampai dia gak butuh gue lagi dan pergi."
" Sekarang dia sudah pergi."
" Ya tapi bukan keinginannya."
" Tapi ingatan nya hilang hanya kepada Lo, Dre, tidak kepada orangtuanya dan Fero."
" Lo tahu ?"
" Gue hanya berandai karena tidak ada tanda apapun ia akan kembali."
Andra tertunduk, mata nya berkaca kaca Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti Mei akan benar-benar tidak butuh dirinya lagi? Atau dia akan hancur sebelum saat itu tiba?
Ia lalu menurunkan pandangannya menatap kopi yang sudah mulai dingin. Uapnya hampir hilang seperti harapan yang tersisa rasa pahit di lidah.
Diam-diam ia membenci kopi dingin tapi ia tidak membuangnya " Gue hanya bisa menunggu waktu sampai dia dapat memilih."
" Dan Lo bukan pilihan nya, karena dia memang tidak memilih."
Di atas sana—seorang perempuan sedang belajar hidup lagi tanpa dirinya, atau sekarang mungkin bahagia dengan pilihan yang dulu sangat ia benci. Dan ia hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan
Tapi ia akan terus belajar untuk tetap tinggal.
meski tidak lagi punya tempat, meski pintu telah tertutup
Angin malam lewat menusuk. Rei diam di sampingnya tidak memaksa ,' ayo pulang.' Karena ia tahu—pulang bukan lah tempat nya.
Dan laki laki itu membiarkan dingin memakan kulitnya sedikit demi sedikit, kepasrahan atau hanya menunggu kehancuran.