Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24 — Anak-anak yang Dibuang
Hujan malam itu tidak berhenti ketika mobil melaju menembus jalan tanah menuju tepi jurang. Lampu depan memantul pada kabut tipis, membuat dunia terlihat patah-patah—seperti ingatan yang kelak akan terputus. Di kursi belakang, Dimas dan Digo terikat, tubuh mereka dingin dan gemetar. Darah menempel di pakaian, bukan hanya darah mereka—darah rumah yang baru saja kehilangan nyawa.
Dimas mencoba menggerakkan pergelangan tangannya. Ikatan terlalu kuat. Ia menoleh pada Digo. Kakaknya menatap balik, tenang dengan cara yang menakutkan—tenang seorang kakak yang memutuskan untuk melindungi apa pun yang tersisa.
“Bang…” Dimas berbisik.
“Diam,” kata Digo pelan. “Dengar.”
Di depan, suara Marco terdengar samar, berbicara singkat pada anak buahnya. Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Keputusan telah dibuat sejak lama.
Mobil berhenti. Angin dingin menerpa ketika pintu dibuka. Jurang menganga di hadapan mereka—gelap, dalam, tanpa dasar yang terlihat. Hujan menambah licin tanah di tepinya. Senter menyapu wajah mereka sebentar, lalu berpaling.
“Cepat,” perintah Marco. Suaranya datar. “Selesaikan.”
Dimas merasakan dorongan keras di punggung. Dunia terjungkal. Dalam sekejap, gravitasi mengambil alih—jatuh tanpa arah, tanpa pegangan. Teriakan tercekik keluar dari tenggorokannya.
Digo bergerak. Di tengah jatuh, ia memutar tubuhnya, menarik Dimas mendekat. “Pegang aku!” teriaknya. Dimas meraih kain jaket Digo, jari-jarinya mencengkeram seperti hidupnya bergantung pada itu—karena memang demikian.
Tubuh mereka membentur lereng, terguling, menabrak semak dan batu. Rasa sakit meledak—tulang, kulit, napas. Digo menahan tubuh Dimas dengan punggungnya sendiri. Satu benturan keras—krak!—suara yang kelak akan menjadi awal dari kursi roda.
Mereka berhenti di tonjolan tanah, tertahan oleh akar besar pohon tua. Hujan membasahi wajah mereka. Dunia berputar. Di atas, senter bergerak cepat, lalu menghilang.
“Sudah,” suara Marco terdengar dari kejauhan. “Tidak mungkin hidup.”
Langkah kaki menjauh. Mesin mobil menyala. Lampu memudar. Malam menutup kembali.
Dimas tersadar lebih dulu. Napasnya tersengal. Ia meraba tubuh Digo. “Bang—bang!” suaranya panik.
Digo mengerang pelan. “Aku… di sini.” Suaranya berat, tertahan sakit. “Kaki… tidak terasa.”
Dimas menggigit bibir. Air mata bercampur hujan. Ia berusaha menggeser ikatan dengan batu tajam di dekatnya, menggesek berulang-ulang hingga kulitnya tergores. Ikatan terlepas satu. Ia membebaskan Digo dengan tangan gemetar.
Malam terasa panjang tak berujung. Mereka bertahan, berpegangan pada akar, menahan dingin. Setiap suara membuat jantung melonjak—takut Marco kembali. Namun yang datang adalah fajar pucat.
Ketika matahari menembus kabut, seorang lelaki tua dengan jas hujan lusuh melihat mereka dari atas lereng. Ia berhenti, terperanjat. “Astaga…” katanya. “Ada anak-anak!”
Dengan bantuan dua warga lain yang lewat, mereka ditarik naik—perlahan, hati-hati. Digo menjerit saat kakinya digerakkan, lalu pingsan. Dimas menggenggam tangan orang itu, terisak tanpa suara.
Di rumah kecil warga itu, Dimas diberi selimut dan teh hangat. “Kalian aman,” kata perempuan tua yang menutup pintu rapat. “Jangan bicara dulu. Istirahat.”
Ambulans datang terlambat—jalan licin, hujan menghalangi. Tapi datang. Di perjalanan, Dimas terus menatap Digo, takut kehilangan. “Bang, jangan tidur,” katanya, mengulang kata yang kelak akan ia ucapkan lagi pada orang lain.
Di rumah sakit, kabar disampaikan: tulang belakang Digo mengalami cedera parah. Ia akan hidup—namun tidak berjalan seperti dulu. Dimas menunduk, rasa bersalah menekan dada. Digo membuka mata, tersenyum tipis. “Masih di sini,” katanya. “Itu cukup.”
Sementara itu, Marco berdiri di tepi jurang yang sama, keesokan harinya. Ia menatap ke bawah, puas. Laporan polisi akan menyebut dua anak hilang, diduga tewas. Ia menyusun cerita. Ia membersihkan jejak. Ia melanjutkan hidup.
Ia tidak tahu tentang akar tua itu. Tentang kakak yang memutar tubuhnya di udara. Tentang warga yang berhenti karena firasat.
Tahun-tahun berlalu. Dimas dan Digo tumbuh dengan luka yang berbeda. Digo dengan kursi roda dan keteguhan. Dimas dengan tekad yang membara dan rasa bersalah yang tidak pernah padam. Mereka tidak mati malam itu—mereka disisakan.
Di pengadilan, kebenaran itu disebutkan. Hakim mencatat. Wartawan menulis. Marco tidak lagi bisa bersembunyi di balik jurang.
Dan di suatu tempat yang sunyi, akar pohon tua itu masih mencengkeram tanah—saksi bisu bahwa keajaiban bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari satu pilihan kecil: seorang kakak yang memilih menahan jatuh, dan dunia yang memilih menolong.