Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Kaca yang Retak
Amsterdam di musim dingin selalu terasa lebih melankolis bagi mereka yang menyimpan rahasia. Bagi Julian, kota ini biasanya adalah tempat inspirasi, namun belakangan, apartemen yang ia tinggali bersama Nina terasa seperti museum yang dipenuhi benda-benda bisu.
Sudah satu minggu sejak kepulangan Nina dari Indonesia, dan Julian bukan pria yang bodoh. Ia adalah seorang kurator, pengamat detail, pria yang biasa membaca makna di balik goresan kanvas yang paling abstrak sekalipun. Ia menyadari ada sesuatu yang telah mati di dalam diri Nina. Wanita itu sering ditemukan berdiri di depan jendela balkon, menatap kegelapan kanal selama berjam-jam. Saat diajak berbicara, ada jeda beberapa detik sebelum Nina merespon, seolah jiwanya harus menempuh perjalanan ribuan mil terlebih dahulu untuk kembali ke raga di hadapan Julian.
Fokus Nina saat latihan tari pun berantakan. Ia sering melakukan kesalahan pada gerakan-gerakan dasar, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Matanya redup, dan senyumnya... senyum itu hanya sampai di bibir, tidak pernah lagi menyentuh binar matanya.
*
Suatu malam, Julian memutuskan untuk tidak lagi mendiamkan gajah di dalam ruangan. Ia mengajak Nina ke unit apartemen pribadinya yang lebih mewah di kawasan Oud-Zuid. Ia memasak makan malam istimewa, menyalakan lilin, dan memutar musik jazz lembut untuk mencairkan ketegangan yang kaku.
Namun, sepanjang makan malam, Nina hanya mengaduk-aduk risotto-nya. Pikirannya sedang melayang ke ruang tunggu rumah sakit di Jakarta, membayangkan Arya yang mungkin sedang tertidur di kursi kayu demi menjaga Papinya.
"Nina," panggil Julian lembut, namun suaranya mengandung ketegasan yang tak bisa diabaikan.
Nina tersentak, garpunya berdenting pelan menyentuh piring porselen. "Ya, Julian?"
"Kita sudah satu minggu seperti ini. Kamu ada di sini, tapi kamu tidak bersamaku. Kamu seperti hantu di rumahmu sendiri," Julian meletakkan gelas anggurnya. Ia menatap Nina lurus-lurus. "Apa ada sesuatu yang terjadi selama kamu di Indonesia? Sesuatu yang melibatkan... orang dari masa lalumu?"
Jantung Nina berdegup kencang. Ia merasa oksigen di ruangan itu mendadak menipis. "Tidak, Julian. Aku sudah bilang, aku hanya sangat terpukul karena kematian Ibu dan kelelahan mengurus pernikahan Maya. Papi Arya juga sakit, itu membuatku teringat almarhum ayahku."
"Benarkah hanya itu?" Julian beranjak dari kursinya, berjalan mendekat dan berdiri di belakang Nina, mengusap bahunya perlahan. "Karena aku merasa aku sedang kehilanganmu, Nina. Aku merasa ada dinding kaca besar yang baru saja kamu bangun di antara kita."
"Tidak ada apa-apa, Julian. Aku hanya butuh waktu," Nina berbohong, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri yang menusuk hati nuraninya sendiri.
*
Julian menuntun Nina menuju sofa besar di ruang tengah yang hanya diterangi cahaya perapian. Ia menarik Nina ke dalam pelukannya, mencoba mencari kembali kehangatan yang dulu pernah mereka miliki. Suasana menjadi semakin intim saat Julian mulai menciumi leher Nina, memberikan sentuhan-sentuhan yang biasanya selalu disambut Nina dengan kasih sayang.
"Buktikan padaku, Nina," bisik Julian di telinganya. Suaranya serak oleh keinginan dan rasa takut akan kehilangan. "Buktikan bahwa hatimu masih milikku. Bahwa tidak ada pria lain yang mengambil tempatku selama kamu di sana."
Julian mulai mencium Nina dengan lebih dalam, sebuah ciuman yang menuntut kepastian. Nina sempat terlena. Dalam kegelapan dan kehangatan itu, ia merasa ingin melarikan diri dari rasa sakitnya. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih mencintai Julian. Ia membalas sentuhan itu, membiarkan tangan Julian mulai membuka kancing kardigannya.
Namun, tepat saat jemari Julian menyentuh kulitnya, bayangan ciuman Arya di bawah pohon beringin Kaliurang muncul seperti kilat. Aroma tubuh Arya, seragamnya yang kasar, dan janjinya yang penuh luka mendadak memenuhi pikiran Nina.
Nina tersentak. Ia mendorong dada Julian dengan kuat, menjauhkan dirinya seolah baru saja tersengat aliran listrik.
"Maaf... Julian, aku tidak bisa," nafas Nina memburu. Ia segera merapatkan kembali pakaiannya yang berantakan.
Julian terpaku, wajahnya memerah karena campuran gairah yang terhenti dan rasa malu. "Kenapa, Nina? Kita sudah dewasa, kita sudah bertunangan. Kenapa kamu selalu menolakku setiap kali kita sampai di tahap ini?"
"Aku tidak mungkin memberikannya sebelum pernikahan, Julian. Itu prinsipku, itu caraku menghormati mendiang ibuku," Nina menggunakan alasan tradisi dan prinsip, padahal jauh di lubuk hatinya, ia tahu alasannya bukan itu. Ia tidak bisa memberikan tubuhnya pada Julian karena jiwanya sudah sepenuhnya tergadai pada Arya. Melakukan itu akan membuatnya merasa seperti menghianati "pernikahan jiwa" yang baru saja ia bangun kembali dengan Arya di Jogja.
Julian tertawa pahit, ia berdiri dan menjauh menuju jendela. "Prinsip? Atau memang tidak ada lagi cinta untukku? Selama ini aku bersabar, Nina. Aku menghargai budayamu, aku menunggu waktumu. Tapi penolakanmu malam ini, di tengah sikapmu yang dingin sejak pulang dari Indonesia... itu memberitahuku segalanya."
"Julian, tolong jangan begini..."
"Cintamu tidak cukup besar untukku, Nina. Jika kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan membiarkan keraguan ini menghancurkan kita," Julian berbalik dengan tatapan yang sangat kecewa. "Pulanglah. Sepertinya kita berdua butuh waktu untuk berpikir apakah hubungan ini layak dilanjutkan."
Nina pulang ke apartemennya dengan tangis yang pecah di dalam taksi. Ia merasa telah menghancurkan segalanya. Ia menyakiti pria sebaik Julian demi sebuah janji dari pria yang saat ini masih berstatus suami orang lain.
***
Sementara itu, ribuan kilometer dari Amsterdam, Jakarta sedang dilanda hujan badai. Arya baru saja melangkah masuk ke rumah dinasnya pukul satu dini hari setelah seharian berada di RSPAD menemani Papinya yang mulai membaik.
Lampu ruang tengah menyala terang. Di sana, Maura duduk di sofa tunggal dengan wajah yang kaku, seolah-olah terbuat dari batu pualam. Di meja depannya, tersebar beberapa lembar foto hasil cetakan.
Arya menghentikan langkahnya. Insting militernya langsung menangkap sinyal bahaya.
"Baru pulang, Mas? Dari rumah sakit, atau dari tempat lain?" suara Maura dingin, tanpa emosi yang meluap, yang justru membuatnya terasa lebih menakutkan.
Arya mendekat ke meja. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat foto-foto itu. Ada foto dirinya dan Nina yang sedang berbicara serius di sanggar tari, foto dirinya yang sedang mengusap kepala Nina di taman samping vila, bahkan foto saat ia berdiri di depan pagar bandara melihat Nina masuk ke dalam. Seseorang telah membuntutinya.
"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Arya dengan suara rendah yang berbahaya.
"Itu tidak penting," Maura berdiri, matanya berkilat penuh amarah dan luka yang selama ini ia pendam. "Ternyata selama ini aku bukan hanya menikahi pria tanpa hati, tapi pria yang juga penipu. Kamu bilang kamu depresi, kamu bilang kamu butuh waktu. Ternyata kamu sibuk mengejar mantan kekasihmu sampai ke Jogja!"
"Maura, aku..."
"Diam, Arya! Aku sudah cukup sabar dengan sikap dinginmu! Aku sudah cukup sabar dengan malam-malam yang kuhabiskan sendirian di ranjang ini sementara kamu sengaja lembur di kantor!" Maura memekik, air matanya mulai mengalir. "Aku ini manusia! Aku istrimu! Tapi kamu memperlakukan aku seperti sampah sejak wanita itu kembali!"
"Aku tidak pernah memintamu untuk tetap tinggal, Maura! Aku sudah bilang dari awal pernikahan ini adalah kesalahan!" balas Arya, emosinya ikut terpancing.
"Oh, jadi sekarang kamu menyalahkan aku? Setelah aku merawat mamimu? Setelah aku menjaga nama baik keluarga Sudrajat?" Maura mengambil foto-foto itu dan meremasnya. "Dengar, Arya. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan hidupku begitu saja. Kalau kamu berani menyebut kata cerai lagi, aku akan membawa foto-foto ini ke Mami dan Papi. Aku akan tunjukkan pada mereka siapa putra kebanggaan mereka sebenarnya!"
"Jangan bawa-bawa Papi! Papi sedang sakit!" bentak Arya, ia mencengkeram lengan Maura.
Maura tidak gentar. Ia menepis tangan Arya. "Kalau begitu, bersikaplah seperti suami yang seharusnya! Jauhi wanita penari itu, hapus semua akses komunikasi dengannya, atau besok pagi foto-foto ini sudah ada di atas tempat tidur Mami. Biarkan Mami tahu bahwa penyakit jantungnya kambuh karena ulah putranya yang tidak tahu diri!"
Maura berjalan masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Arya berdiri sendirian di ruang tengah yang luas itu, dikelilingi oleh kesunyian yang mencekam. Ia menatap foto-foto Nina yang berserakan di meja.
Ia merasa terjebak. Ancaman Maura bukan main-main. Jika Mami tahu, kesehatan Papi yang baru saja stabil bisa kembali ambruk. Namun, memikirkan harus melepaskan Nina lagi dan kembali hidup dalam kepura-puraan bersama Maura terasa seperti vonis mati baginya.
Di Amsterdam, Nina sedang menangis di bawah selimut, merindukan Arya. Di Jakarta, Arya sedang meninju dinding ruang tamunya hingga tangannya berdarah, merindukan kebebasan.
***
Malam itu, di dua benua yang berbeda, dua manusia yang saling mencintai namun terikat oleh kesalahan masa lalu sedang berada di titik nadir mereka. Nina telah kehilangan kepercayaan Julian, sementara Arya kini berada di bawah ancaman istrinya sendiri.
Nina meraih ponsel rahasianya, mengetikkan pesan singkat untuk Arya: “Julian mulai curiga. Aku merasa sangat berdosa padanya, Kak. Apa Papi sudah lebih baik? Aku merindukanmu sampai rasanya tidak bisa bernapas.”
Arya melihat pesan itu masuk di layar ponselnya. Ia mengusap darah dari buku jarinya ke celana dinasnya, lalu membalas: “Tahan sedikit lagi, Nin. Badai sedang datang di sini, tapi aku tidak akan membiarkannya menghancurkan kita lagi. Jangan biarkan Julian menyentuhmu. Kamu milikku. Hanya milikku.”