NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Langkah Menyibak Misteri

“Jadi kalau kamu ingin mengatakan sesuatu… katakan.”

Tidak ada desakan dalam suara Sagara.

Namun satu hal terasa jelas.

Keputusan itu bukan dibuat karena Agam atau Raka.

Melainkan karena Shafiya.

Shafiya tidak langsung menjawab.

Tatapannya sempat bertahan pada Sagara beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Lalu perlahan ia menunduk.

Jarinya yang semula terletak tenang di atas meja bergerak pelan, saling menggenggam.

Tidak ada kata yang keluar.

Untuk sesaat napasnya terasa lebih dalam, seolah ada sesuatu yang baru saja bergeser di dalam dirinya.

Beberapa detik kemudian ia kembali mengangkat wajahnya.

Ekspresinya sudah kembali setenang semula. "Sebenarnya--" hanya satu kata yang terjeda sendiri seakan tercekat.

"Sebenarnya saya juga tidak tahu, anak ini milik siapa." Kalimat yang diucapkan Shafiya lirih, pelan. Namun jatuh menghantam.

Raka dan Agam saling pandang tanpa dikomando.

Sagara sendiri menatap Shafiya lebih lama dari biasanya. Tidak ada keterkejutan yang meledak. Namun sesuatu jelas berubah di matanya.

Shafiya mengabaikan reaksi tiga orang pria di depannya. Ia justru menatap meja beberapa saat, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar reaksi mereka bertiga.

Kemudian ia berkata pelan,

“Dalam sejarah, ada cukup banyak kisah tentang perempuan yang hamil tanpa suami.”

Mendengar itu, Agam mengerutkan kening.

Raka bersandar sedikit di kursinya.

Sagara tetap diam.

“Dalam Islam,” lanjut Shafiya, “kita mengenal kisah Maryam.”

Ia mengangkat pandangannya sebentar.

“Hamil tanpa pernah disentuh laki-laki. Itu mukjizat. Semua orang tahu itu.”

Shafiya menarik napas pelan sebelum melanjutkan.

“Dalam mitologi Yunani juga ada cerita serupa. Danaë… dia dikurung ayahnya supaya tidak punya anak. Tapi Zeus datang dalam wujud hujan emas.”

Raka berkedip pelan, jelas mencoba memahami arah pembicaraan itu.

“Dan dari situ lahirlah Perseus.”

Shafiya berhenti sejenak.

Nada suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang lebih berat di baliknya.

“Di banyak budaya lain juga ada cerita seperti itu.”

Agam akhirnya tidak tahan.

“Kamu tidak sedang bilang bahwa--"

Shafiya menggeleng kecil sebelum Agam selesai berbicara.

“Tidak.”

Jawabannya cepat, tapi tenang.

“Saya tidak mengklaim mukjizat.

Saya hanya mengatakan… dunia tidak selalu berjalan sesuai logika yang kita pahami.” Shafiya menunduk sejenak.

"Seperti saya. Saya belum pernah bersentuhan dengan lelaki manapun." Shafiya menatap ketiganya terarah, bergantian. "Tapi saya hamil."

Raka terhenyak.

Agam menggeleng.

Sagara tetap diam.

"Saya tidak minta dipercaya." Shafiya menelan napasnya sendiri seiring hati yang terasa berat. "Bahkan terhadap abi saya pun, saya tidak menceritakan ini. Karena ini memang mustahil."

Shafiya menunduk. Wajahnya berkabut. Ketegaran yang terbangun sejak awal perlahan runtuh. "Tapi ini faktanya. Saya hamil tanpa suami."

Satu napas lagi tertahan di tenggorokannya. "Tanpa tahu, anak ini milik siapa."

Tidak ada yang langsung menjawab. Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Raka masih menatap Shafiya seolah mencoba memahami kalimat terakhirnya.

Agam bahkan terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya.

Sagara justru yang paling tenang.

Tatapannya turun sebentar ke tangan Shafiya yang masih saling menggenggam di atas meja.

Lalu kembali naik ke wajah perempuan itu.

Lalu ia menarik napas pelan.

“Baik.”

Satu kata itu jatuh begitu saja.

Agam menoleh cepat ke arahnya.

Raka juga.

“Kalau begitu kita tidak mulai dari percaya atau tidak percaya," kata Sagara tenang.

“Kita mulai dari fakta.”

Ia berhenti sebentar.

“Kehamilan tidak terjadi tanpa sebab.”

Nada suaranya tetap datar, tidak menuduh.

“Jadi pasti ada sesuatu yang terjadi, Elara. Sesuatu yang mungkin tidak kamu ingat… atau tidak kamu sadari.”

Sagara terlihat rasional.

Ia tidak meragukan Shafiya secara frontal, tapi tetap berpikir logis.

Sagara memandang Shafiya cukup lama, sebagaimana perempuan itu yang terdiam juga cukup lama.

"Elara." Ia kembali bersuara. Tetap dengan nada datar, tapi sedikit lebih rendah.

“Apakah kamu pernah kehilangan kesadaran?”

Ruangan seketika terasa lebih sunyi.

Raka mengerutkan kening.

Agam menoleh tajam ke arah Sagara.

Namun tatapan Sagara tidak bergeser dari Shafiya.

“Pingsan. Dibius. Atau… terbangun di tempat yang tidak kamu ingat bagaimana kamu sampai di sana.”

Shafiya diam sejenak, lalu menggeleng dengan cepat. "Tidak pernah."

Sagara diam.

"Mungkin kamu pikir, saya dijahati orang tanpa sadar." Shafiya kembali menggeleng.

"Saya belum pernah keluar dari pesantren. Kecuali bersama abi, atau pengurus pondok yang lain." Nada suaranya tenang. Wajahnya kembali menunjukkan ketegaran.

"Atau mungkin." Raka menyambung pembicaraan. "Kamu pernah mengalami peristiwa, atau hal yang tak biasa?"

Shafiya diam, berpikir. Cukup lama, tapi tak menemukan apapun.

"Mungkin berupa gangguan pisik... seperti penyakit, atau--" Raka mencoba arahkan pikiran Shafiya, meski ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.

"Sakit ?" Dan Shafiya menanggapi)) itu. Matanya menjelaskan bahwa ia seperti menemukan sesuatu.

Raka mengangguk. Berharap itu sedikit memberi petunjuk.

"Saya memang pernah sakit, Dokter,"

Kata Shafiya kemudian.

"Sakit apa?" Raka dan Agam bertanya hampir bersamaan.

"Saya beberapa kali mengalami nyeri perut bawah. Nyerinya cukup kuat. Sering demam ringan. Pusing, lemas. Waktu periksa ke dokter dicurigai itu endometritis ringan."

Raka mendengarkan semua keterangan Shafiya itu seksama. Begitu juga Agam dan Sagara. Tak ada yang menyela.

"Saya disarankan untuk periksa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut," lanjut Shafiya.

"Trus kamu ke rumah sakit?" tanya Raka.

"Iya." Shafiya mengangguk. "Ke Adinata medical Center."

"Bagian apa?"

"Unit rawat jalan."

"Kamu dibawa ke ruang tindakan?"

Shafiya mengangguk.

"Dilakukan pemeriksaan internal?"

Hening sesaat. Lalu Shafiya kembali mengangguk.

"Hasil pemeriksaannya?"

"Normal. Gak ada masalah."

"Siapa yang memeriksa?" Raka semakin semangat bertanya.

"Dokter IGD." Shafiya diam. Berpikir.

"Saya lupa namanya."

Agam menatap Raka. "Kau menemukan sesuatu?"

"Sepertinya." Raka menatap Agam dan Sagara bergantian. "Pola pemeriksaan itu," katanya. "Hampir sama dengan proses inseminasi."

Agam terhenyak.

“AMC menerima pasien inseminasi?” tanya Sagara.

“Yang legal, hanya untuk pasangan suami istri sah,” jawab Raka. “Di luar itu, tidak.”

“Rekam medisnya ada?” tanya Sagara lagi.

Raka menoleh. “Harusnya ada.”

“Ambil!" Satu kata. Perintah tegas.

Agam mengernyit. “Sekarang?”

“Secepatnya.”

Raka mengangguk. “Aku bisa bantu akses.”

Sagara beralih ke Shafiya.

“Kapan terakhir kamu ke sana?”

“Sekitar dua bulan lalu.”

“Siapa yang mengantar?”

“Abi.”

“Dia masuk sampai ruang tindakan?”

Shafiya menggeleng. “Tidak. Saya sendiri.”

Sagara mengangguk sekali.

“Baik.”

Agam menatapnya. “Kau yakin ini perlu sejauh ini?”

Sagara tidak menjawab pertanyaan itu.

“Kita mulai dari data. Setelah itu baru simpulkan.”

Raka menyela, “Kalau ini memang prosedur yang tidak semestinya, berarti ada pelanggaran serius.”

“Atau kesalahan,” kata Agam.

“Atau kesengajaan,” balas Raka.

Sagara berdiri.

“Kita cari tahu dulu.”

Ia kembali menatap Shafiya.

“Kamu ingat ruangannya?”

“Lantai dua. Ruang tindakan umum.”

Sagara menganggu. “Cukup.”

Sagara beralih ke Raka.

“Lakukan tugasmu!"

1
Ayuwidia
Betul sekali, takdir memberikannya pada orang yang tepat, meski melalui proses yang memilukan. Shafiya gagal nikah dengan calon suaminya, dan harus menanggung beban lain yg lebih berat, kepercayaan Abinya, nama baik Pesantren yg mungkin saja bisa tercoreng
Ayuwidia
Dokter Raka datang di waktu yang sangat tepat
Ayuwidia
Ravendra sengaja memancing amarah, membuat Shafiya runtuh perlahan. Tapi usahanya itu nggak akan berhasil, kita lihat saja nanti 😏
Ayuwidia
Ravendra selalu punya cara mengusik ketenangan, memberi warna kisah Shafiya & Sagara. Keren, Kak Naj
Ayuwidia
Sagara ini, perwujudan authornya yang cerdas. 😍
Erna Riyanto
kaget q...tiba" end aja...TPI JD tenang stlh tau bakal dilanjutin di buku lain... semangat Thor bikin cerita mereka lebih seru.
Najwa Aini: Makasih Akak..Dukung selalu ya..biar tambah seru
total 1 replies
Hayyina Saidah
dobel dong Thor,satu bab lagi🤭
Nurilbasyaroh
selamat sagara ternyata itu bener anak mu
Deuis Lina
kasihan sekali kamu kaluna,
Murnia Nia
akhirnya terjawab sudah
Amalia Siswati
terlalu banyak jeda intonasi,padahal karakter tokoh sudah terbaca.
Deuis Lina
lanjuuut teh siiin,,
Amalia Siswati
terlalu banyak jeda pembicaraan..padahal karakter sudah terbaca tidak perlu mengulang2.
Deuis Lina
waw siapa tuh ,,,
Deuis Lina
orang niat jahat emang selalu d cari terus d cari sampe ke akarnya itulah sipat manusia yg rakus ,,,ravendra terlalu ambisius untuk mengalahkan sagara
Ayuwidia
Ravendra sangat berambisi, dia tidak akan mundur sebelum apa yang diingkan diraih. Ini mengingatkanku pada... Kuku Prima
Ayuwidia
Woahhhh, jadi mengingatkanku pada mantan kekasih Abimana 😁
Deuis Lina
masih keukeuh banget ya ravendra,,,
Deuis Lina
ada lagi yg penasaran tentang anak itu,,,
Ayuwidia
Ngopi, Kak. Sambil Nongki bertiga ☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!