NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Sang Dalang

Makhluk itu setinggi tiga meter. Tubuhnya terbentuk dari kabut padat berwarna hitam legam yang menyerap cahaya apa pun di dekatnya. Ia tidak memiliki fitur wajah manusia, kecuali sepasang mata raksasa berwarna merah menyala yang memancarkan kebencian tak berujung, dan deretan gigi taring tajam yang meneteskan cairan berbau busuk. Lengan-lengannya panjang menjuntai hingga ke lantai, diakhiri dengan cakar-cakar melengkung seperti sabit.

Itu adalah sang Perewangan. Iblis pembantai yang sama.

Luna membeku. Teror murni yang telah terkubur di alam bawah sadarnya seketika meledak, melumpuhkan sistem sarafnya. Pemandangan ruang tamunya yang bersimbah darah kembali berkelebat di depan matanya. Suara rintihan terakhir ibunya terngiang di telinganya. Lutut Luna bergetar hebat. Ia ingin berlari, namun kakinya seolah dipaku ke lantai beton. Nafasnya pendek-pendek, terengah-engah mencari udara.

Makhluk bermata merah itu menunduk, menatap Luna. Ia mengingat mangsanya yang lolos. Ia menyeringai, mengeluarkan suara desisan memuakkan yang terdengar seperti ratusan ular kobra yang marah.

Makhluk itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap menebas tubuh kecil Luna menjadi dua bagian.

Aku akan mati. Nando... maafkan aku... batin Luna, matanya terbelalak ngeri melihat cakar raksasa itu mulai turun dengan kecepatan mematikan.

Di detik yang sama, dari dalam ransel di dada Luna, sebuah ledakan kehangatan yang luar biasa menyengat kulitnya. Bola cahaya biru citrus itu berdenyut dengan intensitas yang membutakan, menembus kain ransel. Energi Nando merambat naik, menyelimuti jantung Luna, memompa keberanian murni ke dalam aliran darah gadis itu.

Suara berat Nando bergema, bukan di telinga, melainkan langsung di dalam benak Luna. Suara itu begitu tegas, begitu nyata, dan begitu dekat.

"Kau tidak sendirian, Luna! Jangan tatap matanya! Tatap kerismu! Kau bukan lagi gadis kecil yang bersembunyi di lemari! Kau adalah Luna yang menaklukkan empat puluh lima lantai demi diriku! LAAWAAAN!"

Sentakan energi dan suara Nando bagaikan seember air es yang disiramkan ke wajah Luna. Kelumpuhannya pecah. Insting bertahan hidupnya mengambil alih.

Dengan sisa waktu seperseribu detik, Luna mengangkat Keris Pangruwat dengan kedua tangannya, memposisikan pusaka itu di atas kepalanya tepat saat cakar raksasa iblis itu menghantam turun.

TRAAANNGGG!!

Suara benturan antara cakar gaib dan pusaka suci terdengar seperti ledakan besi yang memekakkan telinga. Cahaya putih meledak dari bilah keris, menahan tekanan luar biasa dari cakar bayangan tersebut.

Lantai beton di bawah kaki Luna retak akibat tekanan yang diterimanya, namun Luna tidak jatuh. Gadis itu menggertakkan giginya, mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki. Hawa panas dari keris itu membakar cakar iblis tersebut, membuatnya menjerit kesakitan dan menarik tangannya mundur.

"Kau membunuh keluargaku!" raung Luna, matanya kini menyala dengan keberanian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku tidak akan membiarkanmu mengambil Nando dariku!"

Melihat iblisnya berhasil dipukul mundur oleh seorang gadis kecil, Mbah Suro mendecak marah dari atas altar. "Bocah keras kepala. Pusaka itu tidak akan menyelamatkanmu jika energinya habis! Serang dia lagi!"

Perewangan itu kembali mengaum. Kali ini ia tidak menyerang dengan cakar, melainkan melepaskan rentetan paku-paku gaib berwarna hitam beracun dari mulutnya, melesat bagaikan peluru ke arah Luna.

Luna melompat ke samping, berguling di lantai yang dipenuhi puing-puing beton. Beberapa paku hitam itu menancap di dinding bata di belakangnya, langsung melelehkan batu bata tersebut dengan desisan asam yang mengerikan.

"Aku tidak bisa terus bertahan, Nando," bisik Luna dengan napas memburu, berlindung sejenak di balik pilar beton raksasa. "Makhluk itu terlalu cepat dan terlalu kuat."

Bola cahaya di dada Luna kembali berdenyut hangat, memberikan instruksi di kepalanya.

"Jangan fokus pada monsternya, Luna. Monster itu hanyalah proyeksi energi. Sumber utamanya ada pada Mbah Suro dan altar batu berdarah itu. Kau harus menusukkan keris itu ke pusat altar! Itu akan memutuskan seluruh aliran energinya seketika!"

Luna melongok dari balik pilar. Jarak antara tempatnya bersembunyi dengan altar batu itu sekitar lima belas meter. Di tengah-tengah jarak itu, sang Perewangan berdiri mengamuk, menghancurkan mesin-mesin tua untuk mencari keberadaan Luna. Mbah Suro duduk dengan angkuh, merapal mantra Jawa kuno dengan mata terpejam, mempertahankan eksistensi iblisnya.

"Lima belas meter," gumam Luna. Ia melepas ranselnya, merogoh ke dalam dan mengeluarkan bungkusan garam yang membungkus buhul santet milik Nando. Ia harus meletakkan buhul ini di altar agar kutukannya hancur bersamaan.

Luna memegang buhul itu di tangan kirinya, dan keris di tangan kanannya.

"Nando, jika aku gagal... tolong maafkan aku," bisik Luna pada bola cahaya di dalam tasnya.

"Kau tidak akan gagal. Maju!" suara Nando memberikan dorongan terakhir.

Luna keluar dari balik pilar dan berlari secepat kilat menuju altar.

Mbah Suro langsung membuka matanya. "Bunuh dia!"

Makhluk bermata merah itu menyadari pergerakan Luna. Ia melompat ke udara, menukik turun layaknya burung pemangsa raksasa, cakar-cakarnya siap mengoyak tubuh Luna.

Luna tidak melambat. Saat bayangan hitam itu nyaris menyentuh kepalanya, Luna melempar segenggam sisa serbuk garam dari sakunya ke udara, tepat ke arah wajah monster itu. Garam krosok yang telah diisi doa itu bertabrakan dengan mata merah iblis tersebut.

CRAASSSHHH!

Sang iblis menjerit buta, kibasan tangannya melenceng dan hanya merobek lengan jaket Luna, meninggalkan luka goresan panjang yang seketika terasa perih dan membakar. Luna meringis kesakitan, terhuyung, namun ia memaksakan kakinya terus berlari.

Hanya tersisa tiga meter. Mbah Suro berdiri dari altarnya, wajahnya berubah panik melihat kenekatan gadis itu. Dukun tua itu mengangkat tangannya, mencoba melepaskan energi penolak gaib langsung ke arah Luna.

Namun Luna lebih cepat. Dengan raungan penuh amarah, Luna melompat ke atas altar batu bundar tersebut. Ia membanting buhul santet Nando ke tengah-tengah altar yang bersimbah darah.

"INI UNTUK AYAH DAN IBUKU!"

Luna mengangkat Keris Pangruwat tinggi-tinggi, dan dengan seluruh sisa kekuatan yang ada di tubuhnya, ia menghunjamkan ujung keris yang menyala putih itu tepat menembus bungkusan buhul, menembus kain kafannya, hingga ujung besinya menancap dalam-dalam ke batu altar.

KRAAAKKK!

Sebuah ledakan suara yang tidak bisa dideskripsikan memekakkan telinga seluruh penghuni hutan Alas Roban. Ledakan cahaya putih yang luar biasa menyilaukan meledak dari pusat altar, menyapu seluruh ruangan aula pabrik dengan kecepatan cahaya.

Mbah Suro menjerit ngeri saat gelombang cahaya suci itu menghantam tubuh rentanya. Tengkorak-tengkorak di dinding hancur lebur menjadi debu abu-abu. Sang Perewangan raksasa yang masih meraung buta di tengah ruangan seketika berhenti bergerak, tubuh asapnya membeku sebelum akhirnya hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul palu godam, lenyap tanpa sisa.

Aliran darah di altar mendidih dan menguap seketika.

Luna terlempar ke belakang akibat gaya tolak dari ledakan tersebut. Tubuhnya menghantam lantai beton dengan keras. Pandangannya berputar. Rasa sakit dari goresan di lengannya dan benturan di punggungnya membuat kesadarannya mulai memudar.

Di tengah kebingungannya, ia melihat Mbah Suro jatuh tersungkur. Kulit pria tua itu mengering dengan sangat cepat, menua puluhan tahun dalam hitungan detik akibat serangan balik dari ilmu hitamnya yang hancur. Mbah Suro menggelepar, merintih tanpa suara, sebelum akhirnya tubuhnya menyusut menjadi mumi kering yang tak bernyawa. Kutukannya telah berakhir.

Aula pabrik itu seketika menjadi hening. Sangat hening. Cahaya kelabu senja kembali masuk dari celah atap, menerangi altar batu yang kini telah bersih dari energi jahat, hanya menyisakan sebuah Keris Pangruwat yang menancap kokoh.

Luna mencoba mengangkat kepalanya. Pandangannya kabur. Napasnya sangat lemah.

"Nando..." panggilnya lirih.

Namun, tidak ada jawaban. Tidak ada suara berat yang sarkas, tidak ada hawa dingin yang menenangkan. Ransel di dekatnya terkoyak, dan bola cahaya biru itu telah menghilang tanpa bekas.

Misi mereka berhasil. Rantai Sukma telah diputus. Nando... pria itu telah ditarik paksa menembus ruang dan waktu, kembali ke raganya yang terbaring di rumah sakit Medika Utama Jakarta.

Luna tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang bercampur dengan kegetiran luar biasa. Air matanya akhirnya jatuh melewati pelipisnya. Pria arogan itu telah pulang. Ia selamat.

"Tolong... ingat aku," bisik Luna sebelum kegelapan total menelan kesadarannya, meninggalkannya terbaring tak berdaya di tengah puing-puing Karang Mayit yang dingin.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Menarik, syng nya baru nemu, dan baru bacanya, penasaran sm judulnya. 😁😁

Semangat Thor. 😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!