NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 Benar-benar Sebuah Keberuntungan

Aku menghentakkan kaki dengan frustrasi. Terlambat… Begitu listrik menyala kembali dan kamera pengawas di koridor aktif, aku pasti akan ketahuan. Panik mulai merayap di seluruh tubuhku.

Dengan tangan gemetar, aku segera merapikan semuanya ke posisi semula. Laci-laci kembali terkunci rapat, permukaan meja diperiksa sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang tersisa, dan gantungan kunci itu kutaruh dengan hati-hati di kompartemen rahasia di balik patung. Nafasku tersengal, tapi aku tidak punya waktu untuk berhenti. Segera, aku menyelinap keluar dari ruang kerja, menunduk di balik bayangan, lalu berlari tunggang-langgang menuju kamar tidur utama.

Jantungku berdetak begitu keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku, dan rasa mual yang pahit mulai naik ke tenggorokan. Baru saja aku hendak menjatuhkan diri di atas ranjang, ingatanku terhenti kamera pengawas itu! Masih terendam di dalam air!

Tanpa menunggu, aku berlari ke kamar mandi, meraih kamera yang basah kuyup, mengibaskannya beberapa kali, lalu mengeringkannya dengan handuk hingga tak tersisa tetes air pun. Hati kecilku bergetar saat aku menaruhnya kembali ke posisinya semula. Dalam hati, aku hanya bisa berdoa semoga kamera itu tidak terlalu canggih, berharap benda itu benar-benar rusak setelah “tenggelam” semalam.

Setelah kursi dikembalikan di depan meja rias, aku akhirnya terbaring di ranjang dengan sisa tenaga yang ada, tangan memegangi dada, napas tersengal seperti ikan yang kehabisan oksigen. Kesedihan yang mendalam tiba-tiba melanda. Mataku menatap kegelapan di sekeliling kamar, sementara rasa putus asa dan ketidakberdayaan menekan dari segala arah. Aku tidak mampu berpura-pura kuat lagi. Tangis pecah begitu saja, tak terbendung.

Namun, di tengah isak tangis itu, aku tetap waspada. Telinga terpasang penuh untuk mendengar suara di luar. Ketakutan bahwa mereka bisa tiba-tiba pulang dan menemukan diriku hancur di kamar membuatku tetap menahan diri.

Keesokan harinya.

Aku terbangun lebih pagi dari biasanya, perut terasa kram oleh lapar yang melilit. Wajar saja, semalam aku sama sekali tidak makan, dan Zhiyi Pingkan pun tidak muncul untuk memberiku obat. Aku sama sekali tidak tahu jam berapa mereka pulang tadi malam, atau kapan listrik kembali menyala. Mungkin karena kelelahan setelah menangis, atau mungkin karena sedikit lega setelah berhasil menghubungi Zea Helia, aku bisa tidur cukup nyenyak sepanjang malam.

Saat Zhiyi Pingkan datang membawa obat, aku sengaja menatapnya dengan mata setengah mengantuk dan bertanya, "Apa aku tidak makan semalam? Kenapa perutku rasanya lapar sekali lagi?"

Mendengar perkataanku, Zhiyi Pingkan tersenyum tipis, tapi ada nada dibuat-buat yang jelas terasa di suaranya. "Semalam kamu makan terlalu sedikit. Katanya tadi siang sudah terlalu kenyang, jadi perutmu lagi tidak enak," ujarnya sambil mencoba terdengar ramah.

Aku tersentak, dadaku memanas. Sambil mengepalkan tangan kuat-kuat, aku mengutuknya dalam hati dengan kemarahan yang mendidih: Brengsek! Cepat atau lambat, kau akan mendapatkan balasannya.

"Taruh saja dulu di sana. Aku mau ke toilet sebentar baru meminumnya. Tolong ambilkan segelas susu untukku," perintahku dengan nada datar, berusaha menutupi emosi yang bergejolak di dalam. Tanpa menunggu jawaban, aku menyibak selimut, melompat dari tempat tidur, dan melangkah ke kamar mandi.

Begitu suara langkahnya menjauh, aku bergerak cepat. Handuk kuambil, dibasahi, kemudian diperas hingga lembap. Dengan hati-hati, aku menumpahkan obat itu ke dalam handuk, berpura-pura melakukan gerakan seperti sedang menenggak obat agar tidak menimbulkan kecurigaan. Setiap gerakan terasa seperti permainan tegang antara hidup dan mati.

Kembali ke kamar mandi, aku segera mencuci handuk itu dengan tergesa-gesa, pikiran berputar: Aku harus menyisihkan sedikit obat ini. Helia harus mendapatkannya, tidak boleh gagal.

Tepat saat aku selesai dan kembali ke ranjang, Zhiyi Pingkan muncul dengan membawa segelas susu. Matanya sempat melirik ke arah mangkuk obat yang kini kosong. Aku menerima susu itu, menyesap sedikit, lalu menanyakan dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa, "Di mana Tuan?"

"Dia sedang keluar!" jawabnya singkat, sambil menegur Cona. "Cona, kamu ini benar-benar ada di mana-mana, makin nakal saja! Cepat turun dari sana!"

Aku mendongak dan melihat kucing itu Cona telah melompat ke atas lemari. Tatapan dingin dan angkuh Cona menempel pada Zhiyi Pingkan, seolah menantang. Jantungku berdetak lebih kencang, tapi ada rasa lega yang menyelinap ke hatiku. Kucing ini benar-benar pembawa keberuntungan bagiku, seperti malaikat pelindung yang dikirim Tuhan untuk menolongku.

Zhiyi Pingkan menatap Cona dengan pasrah, bergumam tidak jelas, lalu memungut kedua mangkuk kosong dan berbalik pergi. Sambil melangkah keluar, ia menambahkan, "Sarapan sudah siap!"

Entah perasaanku saja, tapi sikapnya hari ini terasa agak meremehkan, seolah sengaja ingin memancing emosiku.

Begitu pintu tertutup, aku segera memanggil Cona sambil turun dari tempat tidur. Langkahku pelan, hati-hati, seolah sedang membujuk kucing itu agar mau turun. Namun, di balik itu semua, tangan kecilku diam-diam meraih sebuah buku dari lemari pajangan, memulai rencana yang sudah lama kususun dengan penuh perhitungan…

Aku melemparkan buku itu ke udara, tapi sengaja tidak membidik ke arah kucing yang berdiri di lemari. Mataku fokus pada kamera pengintai yang terpasang di sudut ruangan. Saat buku itu menghantam permukaan dengan suara pracakkk yang cukup keras, Cona tersentak kaget dan seketika melompat turun dari atas lemari.

Senyum lebar muncul di wajahku. Dengan hati berbunga-bunga, aku meraih Cona ke pelukanku, menciumnya lembut sambil bersorak di dalam hati, "Bagus sekali, Cona sayang! Kamu benar-benar penyelamatku!"

Namun, di mulut aku justru terdengar nada lembut tapi tegas, "Lain kali jangan naik ke sana lagi, ya!" Aku menepuk kepala kecilnya, memastikan kucing itu tetap berada di sisiku.

Kini, perlahan aku merasa lega. Ruangan ini akhirnya terasa aman, setidaknya untuk sementara. Aku duduk, menyantap sarapanku dengan pikiran melayang-layang. Tidak berani makan terlalu banyak, aku hanya menyesap sedikit demi sedikit, takut hal itu akan menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu.

Menjelang siang, aku duduk menunggu dengan penuh harap, menatap pintu seolah setiap detik bisa menjadi detik kedatangan Zea Helia. Namun, meski waktu terus bergulir, bayangan Helia tak kunjung muncul. Kekecewaan mulai menyelinap, dan aku merasa campuran antara rindu, cemas, dan sedikit frustrasi seolah hari itu berjalan begitu lambat tanpa kehadirannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!