"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab18
Setelah menghabiskan waktu sampai sore di kos Melisa, akhirnya dua orang unik itu pun pamit pulang. Matahari mulai turun ke ufuk barat, meninggalkan semburat jingga di langit yang perlahan menggelap.
Diana berdiri di depan motor, merapikan helmnya sambil berbicara, “Kita pulang dulu ya, Mel. Besok gue ke sini lagi, kita sambil cari-cari tempat penitipan bayi. Dan lo, jangan masuk kuliah dulu. Biar gue yang tipsen. Santai aja.”
Ia melambaikan tangan sambil duduk di jok belakang motor. Riki sudah duduk manis di depan, helm setengah dipakai, siap tancap gas.
“Iya. Hati-hati ya kalian. Terima kasih banget buat hari ini,” ucap Melisa sambil memaksakan senyum, meski wajahnya tampak kelelahan.
Diana dan Riki melambai, lalu motor pun melaju pelan keluar dari halaman kos. Setelah melihat mereka pergi, Melisa masuk ke dalam dan menutup gerbang dengan hati-hati. Ia menarik napas panjang, menatap langit yang mulai gelap sambil bergumam lirih, “Semoga besok lebih baik…”
Sementara itu, di atas motor yang membelah jalanan kota, keheningan melingkupi Diana dan Riki. Tak ada obrolan seperti biasanya. Masing-masing larut dalam pikirannya. Suara mesin motor dan lalu lintas sore menjadi satu-satunya latar suara.
Namun, setelah beberapa menit, Diana mulai menyadari sesuatu yang aneh. Jalan yang mereka lewati bukan jalan biasa menuju komplek rumahnya.
“Rik, lo ngapain sih? Ini bukan arah ke komplek rumah gue,” serunya dari belakang, mencoba mengatasi bisingnya jalan dengan suara lantang.
“Jangan teriak-teriak napa? Gue nggak budek!” balas Riki tanpa menoleh, suaranya terdengar sengaja dibuat tenang tapi menyebalkan.
“Ya terus lo jawab dong! Ini kita mau ke mana, Riki?! Gue capek, pengen mandi, pengen makan, jangan bercanda deh!” bentak Diana, mulai kesal.
Riki menghela napas pelan dan akhirnya membelokkan motor ke sisi jalan, lalu berhenti di bawah pohon besar dekat taman kecil. Ia membuka helmnya perlahan, lalu menoleh ke arah Diana.
“Gue cuma pengen mikir bentar. Tadi gue ngeliat tempat penitipan anak dari jalan utama. Gue penasaran, siapa tahu bisa kita lirik dari luar buat referensi. Nggak mau nunggu besok.”
Diana mengernyit, menatap Riki dengan ekspresi campur aduk antara kaget, kagum, dan sedikit geli. “Lo serius? Tumben banget mikir kayak gini…”
Riki mengangkat bahu. “Gue juga nggak nyangka. Tapi tadi ngeliat Melisa kayak gitu… entah kenapa gue ngerasa kayak harus ngelakuin sesuatu. Kita nggak bisa ngandelin dia doang. Kita juga punya bagian.”
Diana terdiam. Perlahan wajahnya melunak. “Oke. Tapi lo bisa kasih tahu dulu kek… jangan bikin orang deg-degan gini.”
“Sorry ya, Bu Diana. Niat gue baik kok,” jawab Riki dengan gaya dramatis sambil pasang senyum nakal.
Diana menahan tawa, lalu memukul helm Riki dari belakang. “Ayo. Tunjukin deh penitipan anak yang lo maksud.”
“Siap, komandan,” jawab Riki sambil kembali menyalakan motor.
Mereka pun melaju kembali, kali ini dengan arah yang jelas dan tujuan yang lebih pasti. Langit sudah semakin gelap, tapi tekad di dalam hati mereka baru saja mulai menyala.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di tempat yang dimaksud oleh Riki. Dari luar, bangunannya tampak sederhana. Plang nama bertuliskan "Rumah Ceria Daycare & Baby Care" terpajang di depan pagar kecil. Lampu bagian dalam masih menyala, menandakan tempat itu belum tutup meskipun malam sudah mulai larut.
“Masih buka, tuh. Mau sekalian masuk?” tanya Riki sambil menoleh ke Diana yang masih berdiri di sebelah motornya.
Diana memandang ke arah bangunan itu, lalu mengangguk pelan. “Boleh deh. Sekalian aja kita lihat-lihat dulu. Lagian tempatnya nggak jauh juga dari kosan Meli. Kalo cocok, besok bisa langsung kita rekomendasiin.”
Tanpa menunggu lagi, mereka berdua pun berjalan menuju pintu masuk daycare. Saat masuk, aroma sabun bayi yang lembut menyambut mereka, disertai suara-suara halus dari speaker yang memutar lagu anak-anak.
Seorang staf perempuan yang masih muda menyambut mereka dengan senyum hangat. “Selamat malam! Ada yang bisa dibantu?”
Diana langsung menyambut dengan senyum ramah. “Kami mau tanya-tanya soal penitipan bayi. Bisa untuk usia di bawah satu tahun?”
“Oh tentu bisa, Mbak. Kami menerima bayi sejak usia dua bulan ke atas. Ruangan pengasuhannya juga terpisah antara bayi dan balita,” jawab staf itu dengan ramah.