Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Klub tanpa izin
"Biar aku yang pasangkan, Num. Tapi setelah ini belikan aku Thai tea, ya." tawar Yudha, yang langsung membuat Hanum kembali mengikat sepatunya sendiri dengan cepat.
"Terima kasih ya Om sudah mentraktir kami." ujar Rima setelah mereka menandaskan seluruh menu di meja.
"Lain kali kalau kita pergi lagi, ajak Om Bara saja, Ra." usul Rima, yang langsung membuat Raja, pacarnya menyikut lengannya.
"Kalau kita triple date lagi, aku mau berpasangan dengan Om Bara ya!" Erika tersenyum genit sebelum sebuah tendangan mendarat di kakinya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Kiara yang duduk tepat di hadapannya.
"Ini tagihannya, Pak." Seorang pelayan menyerahkan nampan kecil. Sean segera merebutnya dari hadapan Bara.
"Biar saya saja yang bayar, Om." serunya demi menjaga harga diri sebagai laki-laki. Semua mata tertuju padanya.
"Oh, baiklah.” jawab Bara tenang.
"Kalau begitu, tambah lagi pesanan untuk dibawa pulang, Mbak. Kimchi, Chapssal, Mandu, Tteokbokki... masing-masing lima porsi." tambah Bara dengan santai.
Glek.
Sean tersedak ludahnya sendiri mendengar pesanan tambahan yang begitu banyak. Sepertinya tabungannya akan terkuras habis hari ini. "Eh... sepertinya lebih baik Om saja yang bayar." Sean tersenyum kecut, sementara Bara tertawa penuh kemenangan di dalam hati.
Mereka berpisah di parkiran basement. Sean tampak murung dan jengkel melihat perlakuan Bara yang begitu protektif terhadap Kiara. Pemuda itu langsung melangkah cepat menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Bara cukup takjub melihat kendaraan Sean, sebuah mobil sport limited edition yang langka di Indonesia. Ia menyadari bahwa orang tua Sean bukanlah orang sembarangan.
Bara melajukan mobilnya dalam diam. Pikirannya tertuju pada Sean yang sepertinya sangat serius menyukai Kiara. Ia khawatir membayangkan kedekatan mereka di luar pengawasannya.
"Kiara, coba pikirkan lagi. Homeschooling itu pilihan bagus agar kamu lebih fokus belajar." ujar Bara lembut pada gadis yang mulai mengantuk di sampingnya.
"Tidak mau, nanti aku tidak punya teman." tolak Kiara.
"Tentu saja masih bisa. Kamu bisa mengatur jadwal untuk berkumpul bersama mereka."
Kiara menggeleng cepat sembari mencari posisi tidur yang nyaman. "Kenapa aku dilarang sekolah lagi? Aku janji tidak akan membuat ulah atau dipanggil ke ruang BK lagi. Om tenang saja."
"Aku tidak bisa tenang jika kamu masih berhubungan dengan Sean itu!"
Kiara membuka matanya yang nyaris terpejam. "Memangnya kenapa? Sean itu orang baik, Om. Dia pintar, perhatian..."
"Aku tidak sedang membahas kelebihannya." potong Bara jengkel sambil menginjak gas lebih dalam. "Aku ingin kamu mengakhiri hubungan dengannya secepatnya. Selama menjadi istriku, aku tidak ingin kamu menjalin hubungan dengan siapapun!"
"Tapi, Om... kenapa peraturannya terus bertambah?"
"Kamu ingin orang tuamu segera kembali ke sini, bukan? Dan kamu tentu tidak mau membayar denda besar karena melanggar kesepakatan kita? Jadi, putuskan hubunganmu dengan Sean secepatnya!"
"Om menyebalkan!"
"Om membuat hidupku makin sulit!"
"Harusnya Om tinggal di gua saja atau di Amazon sekalian supaya dimakan Black Mamba!"
Berbagai gerutuan terlontar dari mulut Kiara hingga akhirnya gadis itu tertidur lelap.
Sesampainya di rumah, Bara menggendong Kiara masuk. "Bi Surti, tolong bukakan pintu kamar Kiara."
Bara merasa risih melihat Bi Surti yang tersenyum-senyum sendiri. "Kenapa Bibi tersenyum seperti itu?"
"Sudah menikah kok tidurnya masih berpisah, Pak? Kapan mau ada kemajuan?"
Bara hanya melotot tajam, membuat asisten rumah tangganya itu terdiam seketika. Bara merebahkan Kiara di ranjang dengan hati-hati. Ia memandangi wajah cantik itu cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Selamat tidur, Gadis Cerewet. Kalau aku dimakan Black Mamba, siapa yang akan menafkahimu?" ucapnya sambil mencubit gemas pipi Kiara.
**
Sore harinya setelah sekolah, Kiara meminta izin untuk belajar bersama di rumah Rima. Meski awalnya keberatan, Bara akhirnya mengizinkan setelah Kiara merengek dan menghubunginya setiap lima detik sekali hingga ia sulit berkonsentrasi pada pekerjaannya di kantor.
Kiara menitipkan motor matiknya di sekolah dan pergi menggunakan mobil Rima. Setelah tugas selesai sekitar pukul tujuh malam, Rima memberikan usul tak terduga.
"Kiara, Erika... ini masih sore. Bagaimana kalau kita ke klub sebentar?"
"Mau apa?" jawab Kiara dan Erika serempak. Keduanya memang belum pernah menginjakkan kaki di tempat seperti itu, berbeda dengan Rima yang sering berkunjung karena pacarnya, Raja adalah seorang DJ di sana.
"Raja akan tampil malam ini. Hanya sebentar, jam sembilan kita sudah pulang. Bagaimana?"
Kiara dan Erika tampak ragu, terutama soal batasan usia. Namun Rima meyakinkan mereka bahwa ia memiliki kartu anggota.
"Jangan meminta izin pada Om Bara, Kiara. Sudah pasti tidak akan boleh. Ibuku pun pasti akan marah kalau tahu.” cegah Rima saat melihat Kiara hendak meraih ponselnya. Akhirnya, setelah berpikir singkat, Kiara pun setuju.
Mereka tiba di sebuah klub malam yang mulai ramai. Rima mengenakan pakaian seksi, sementara Kiara dan Erika yang tidak membawa baju ganti terpaksa meminjam kaos milik Rima yang dipadukan dengan rok SMA mereka. Suasana bising dan aroma asap rokok membuat Kiara merasa pening.
"Puyeng sekali, baunya sangat tidak enak di sini!" keluh Kiara sembari menuju bar yang agak sepi.
"Kalian tunggu di sini, aku cari Raja dulu." pesan Rima.
Di sisi lain, Yudha asisten Bara terkejut saat dihubungi atasannya secara mendadak. "Bos, kenapa tidak bilang kalau ada rapat dadakan malam ini! Aku baru saja sampai di klub bersama teman-teman."
"Makanya jangan asal pergi, Yudha. Pekerjaan belum selesai." gerutu Bara di seberang telepon.
"Aku ke sini bukan sekadar bersenang-senang, Bos. Aku sekalian mencari model remaja untuk iklan baru kita." dalih Yudha mencoba menyelamatkan diri.
"Alasan saja. Mencari model bisa lewat agensi, tidak perlu ke klub malam." sahut Bara dingin. Namun, mata Yudha tiba-tiba menangkap sosok yang memikat dari kejauhan.
"Tunggu, Bos. Sepertinya Aku sudah menemukannya. Ada gadis cantik sekali, sempurna untuk iklan kita." Yudha terpana melihat gadis remaja di bar. Meski berdandan sederhana, fitur wajah dan postur tubuhnya sangat mempesona.
"Paling-paling seleramu gadis yang tidak jelas." cibir Bara.
"Tidak, Bos. Kali ini Aku serius. Cantik sekali, sepertinya masih anak SMA karena dia memakai rok sekolah."
Bara tertawa mengejek. "Akhirnya kamu kepincut anak SMA juga? Makanya, jangan menghinaku."
"Anak SMA yang ini pasti beda dengan 'istri bocahmu' yang bar-bar itu, Bos. Meskipun aku belum pernah bertemu dengannya, aku sudah bisa membayangkan betapa anehnya gadis yang kamu nikahi!"
"Yudha, sekali lagi kamu menghina istriku, kamu bisa memesan tanah kuburan dari sekarang." ancam Bara tajam, membuat Yudha segera menyesali ucapannya.
Setelah panggilan berakhir, Yudha merapikan penampilannya dan mendekati gadis itu.
"Ehem," ia berdehem, namun Kiara mengabaikannya. "Ekhemm... khemm!"
Deheman Yudha semakin kencang hingga Kiara menarik lengan Erika untuk menghindar.
"Eh Dek, mau ke mana?" seru Yudha.
"Sepertinya Om sedang batuk, ya? Saya takut tertular virus." jawab Kiara polos, membuat Yudha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bukan, saya sehat. Saya hanya ingin berkenalan. Namaku Yudha."
Kiara tidak menyambut uluran tangan itu; ia hanya menatap Yudha dengan bingung hingga ponsel di tasnya bergetar. Ternyata panggilan dari Bara. Kiara panik luar biasa.
"Halo, Om..." jawabnya gugup.
"Kiara, di mana kamu?" tanya Bara penuh selidik, curiga mendengar dentuman musik di latar belakang.
"Di rumah Rima, Om. Aku... aku tidak sedang di klub malam kok, beneran!" jawab Kiara spontan, yang sedetik kemudian langsung membekap mulutnya sendiri karena tanpa sadar telah membocorkan keberadaannya.
semangat💪 crazyup