NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:99.5k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 24

Sembari menunggu Harun, Aabid berpikir cukup keras. Setelah mendengar perkataan Harun barusan hatinya mulai gundah dan tak tenang, ia merasa bahwa ada yang tidak beres terjadi di hotel mamanya. Pikirannya kini bercabang, antara hotel dan juga begal.

Tak berselang lama.

"Aabid mau makan apa?" tanya Harun yang duduk di sebelah Aabid memakai sepatu setelah shalat selesai ia lakukan.

"nak Aabid." Pak Harun menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Aabid, tapi Aabid tetap tak menyadari.

Pandangan menerawang dengan sorot mata kosong membuat Harun dilanda kecemasan.

"Hei, Aabid teh ngelamun aja!" Akhirnya Harun kembali berujar, kali ini dengan menepuk keras pundak Aabid, berusaha menyadarkan.

"Astaghfirullah, Pak. Udah selesai?" tanya Aabid setelah sempat terperanjat kaget.

"Sudah atuh, kamu teh ngelamun aja. Mikirin apa?"

"Pak, di tempat Bapak ada lowongan pekerjaan enggak?"

Harun menatap Aabid dari ujung kepala hingga kaki.

Dahinya berkerut dalam.

"Pak? Ada enggak?" ujar Aabid yang tak kunjung mendapat jawaban.

"Kenapa? Emangnya kamu teh mau kerja?"

Cepat Aabid menganggukkan kepala.

Harun menghela napas seolah tak yakin dengan apa yang diutarakan Aabid.

"Saya kan harus mengembalikan sepeda motor temen saya. Kalau saya nggak kerja mana saya berani pulang ke Jakarta. Bisa digebukin saya." Akal bulus aabid kembali berjalan.

"Aabid, udah jangan mikir itu dulu. Yang penting kamu teh sembuh, sehat, setelah itu baru mikir kerja. Emang lulusan kamu teh apa?"

Aabid tercekat, bingung harus menjawab apa. Tak mungkin mengatakan bahwa dia lulusan S2.

"Sa-saya, SMA."

"Oh, ya, nanti kalau kamu sudah sembuh saya tanyakan ke bagian yang menerima, apa itu ...."

"HRD," sahut Aabid.

"Ha, iya. HRD. Sekarang kita isi perut dulu. Kamu mau makan apa?"

"Apa aja, terserah Bapak."

"Di depan ada bakso, enak, favoritnya neng selina. Ayo." Harun bangkit berdiri dan membantu Aabid menuju sepeda Vario.

"Tapi, Pak. motor selina gimana?" tanya Aabid yang melihat motor selina masih terparkir di halaman masjid.

"Udah nggak apa-apa. Biasanya Dimas akan nyuruh orang mengantar ke rumah. Bawa aja boneka Rara. Dia tidur nggak akan bisa kalau nggak pake itu," jawab Harun menunjuk boneka Rara yang ada di motor selina.

"Oh, iya kan orang kaya, ya?" kata Aabid meraih boneka milik Rara dengan raut pura-pura mengagumi meskipun dalam hati ia mencebikkan bibir sinis.

***

Harun menikmati bakso urat dan tampak lahap, bahkan dua mangkuk ada di hadapannya secara bersamaan.

Di depan Harun, Aabid menatap senang kala melihat lelah di wajah Harun seakan terbayar dengan semangkuk bakso urat kegemaran.

"Ayo, Aabid, dimakan. Jangan dilihatin aja baksonya. Kalau mau nambah, sok atuh nambah. Kita pulang malaman aja, supaya tetangga udah pada sepi dan tidak banyak pertanyaan," kata Harun di sela makannya.

"Iya, Pak," jawab Aabid, kemudian memasukkan satu sendok ke dalam mulut.

"Ini teh bakso kesukaan selina. Kalau pulang dari kampus dulu sering bapak ajak mampir ke sini," ucap Harun dengan senyum yang menjadi ciri khas darinya.

Namun, kali ini berbeda, Aabid bisa melihat raut bangga di wajah Harun ketika ia menceritakan tentang selina.

"selina kampusnya dekat sini?" Aabid menanggapi kalimat Harun dengan memberikan pertanyaan balik sebagai bentuk penghargaan.

"Ada di balik hotel sana. Biasanya teh berangkat sama Bapak. Kalau motornya rusak, nganter bapak dulu terus jemput bapak kalau bapak pulang. Jam kuliahnya kan nggak tentu, kalau bapak kerjanya mah tentu. Jadi selina yang bawa motornya."

Aabid kembali terdiam, teringat akan perbincangan bersama selina yang sempat menegang di waktu subuh.

Rasa bersalah kembali menyeruak masuk. Bagaimana selina tidak marah jika dituduh seperti apa yang ia katakan, padahal dia ke hotel tersebut karena ada keperluan dengan ayahnya bukan kekasihnya seperti apa yang dilontarkan Aabid subuh tadi.

"Anak itu tidak pernah mengeluh sekalipun banyak kendala saat kuliah, entah motor mogok, entah tugas yang harus dikerjakan di luar sekalipun sudah malam karena belum punya laptop."

Senyum terukir, tapi diikuti hembusan napas berat setelahnya.

"Tapi akhirnya memilih menyerah." Mata Harun berkaca, pandanganya menerawang.

Rasa kecewa terhadap diri sendiri Harun rasakan begitu dalam. Ia yang tidak bisa memberi kelayakan hidup untuk sang putri, yang selama ini tak banyak meminta meski ia tak banyak memberi. Dan ini kali pertama selama Aabid tinggal bersama Harun ia melihat kabut kesedihan di wajah yang tak pernah berhenti menyunggingkan senyuman.

Di saat itu pula tangan yang memegang sendok seketika ia turunkan dan sendok diletakkannya di atas meja sebelah mangkuk.

Aabid bahkan tak bisa menelan makanan yang diperoleh dari cucuran keringat kepayahan dari pria baik di hadapannya itu.

"Pak, saya lupa kalau ada kolesterol. Baksonya untuk bapak aja. Ini bukan sisa, kok," Aabid berkata sembari mengangkat kembali sendok di meja sebagai penjelasan bahwa ia hanya mengambil satu bakso kecil lalu menyudahinya.

Harun lalu tersadar. Ia menarik diri dari segala rasa bersalah yang menaungi setiap kali teringat akan tak bergunanya dia sebagai seorang ayah dengan tiga orang buah hati.

"Lah, terus makan apa?" tanya Harun dengan tangan yang reflek mengusap-usap sudut matanya yang basah.

"Makan mi goreng mau?" tawar Harun kemudian pada Aabid yang menurutnya lebih membutuhkan asupan gizi.

"Nggak usah, tadi saya sudah dibelikan makanan sama selina, penjualnya mengirimkannya waktu makan siang dan malam tadi. Saya masih kenyang, tapi lupa kalau sudah makan," jawab Aabid yang memang begitulah adanya.

Setelah soto untuk makan siang. Sore harinya penjual nasi goreng datang dengan perintah dan pesan yang sama.

Entah selina memesan melalui ponsel atau seperti apa, yang pasti selina sudah membayar meski siang tadi tukang nasi goreng belum membuka lapaknya.

"Oh, gitu, ya. Ya udah. Pak ini teh dibungkus aja sekalian." Harun memanggil penjual yang sudah akrab dengannya.

"Oh, siap Pak Harun."

"Loh, Pak, kok dibungkus? Bapak nggak dihabisin makannya?" tanya Aabid ketika satu mangkuk lain yang belum tersentuh oleh Harun tak dimakan lagi melainkan dimasukkan ke dalam plastik.

Bahkan makanan Aabid pun sama.

"Bapak juga kenyang, porsinya memang besar. Biasanya satu porsi bapak makan dua orang. Ya kan, To?" jawab Harun kemudian beralih pada Gito sang penjual bakso yang sibuk memasukkan sisa bakso ke dalam plastik.

"Iya, saya teh sudah hapal. Makanya saya pisan jadikan dua mangkuk."

Aabid mengangguk pelan. Ia menatap isi dari bakso miliknya dan Harun, ia memang sempat melihat dua porsi dengan ukuran berbeda.

Porsi Aabid lebih besar dibanding porsi Harun, tapi dua mangkuk. Ia kira Harun sengaja memesan dua bakso dengan paket berbeda karena lapar. Tapi ternyata tujuan Harun adalah untuk membaginya dengan di rumah.

Ah, Aabid benar-benar tertampar akan hal ini. Jika itu Aabid mungkin tak habis akan ditinggal begitu saja, tak memikirkan untuk dibungkus atau yang lainnya.

Dan yang lebih membuatnya malu, Harun memberikan yang terbaik untuknya dengan porsi penuh, sekalipun dia orang lain.

"Bungkus lagi, Pak. Dua, ya." Aabid memberanikan diri untuk bersuara. Seketika Harun menatapnya.

"Saya yang bayar, kebetulan ada sedikit uang yang tidak dibegal, sisa bensin yang tertinggal di saku waktu itu." Alasan yang sama dengan yang ia berikan pada selina kini diberikan pada Harun agar tidak menimbulkan curiga di kemudian harinya.

"Eh, jangan atuh, simpan saja uangnya. Nanti pakai uang Bapak, aja. Gito, bungkus dua buat selina sama Dito, ya."

Harun mendorong tangan yang mengeluarkan satu lembar uang seratus ribuan ke dada Aabid setengah memaksa. Setelahnya mengatakan pesanan.

"Udah, simpan saja. Kamu lebih membutuhkan," lanjut Harun lalu bangkit dari kursi untuk membayar bakso yang ia pesan.

Aabid menghela napas. Ah, lagi dan lagi, saat Aabid ingin memberi sedikit rezeki, Harun justru menolak dan akhirnya malah merepotkannya kembali. Harus bagaimana dia menyikapi. Tampaknya ia akan lebih banyak diam dari pada salah lagi.

"Aabid mau ke mana lagi? Di sini ada tempat ngopi. Mau ke sana dulu atau gimana?" tawar Harun untuk kesekian kali setelah pesanan selesai dibuat.

Cepat-cepat Aabid menolak.

"Pulang aja, Pak. Saya sudah pegel dari pagi."

"Oh, iya, ya. Bapak lupa. Kalau gitu ayo." Tepat pukul sembilan malam akhirnya Harun membawa Aabid pulang ke rumah.

Berbeda dengan tadi pagi yang membuat kaki dan pinggangnya hampir terputus karena keinginan selina. Kali ini Harun meletakkan boneka di depan sehingga Aabid bisa lebih nyaman.

1
bude gemoy
up lagi thor.....😍😍😍😍😍
aliyya
wallpaper nya foto spa y,,,?
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
Danny Muliawati
mksih Thor lumayan banyak update nya😄
Reni Anggraeni
udah unboxing aja 🤭
aliyya
akhirnya udh bisa menyatu selina dan Aabid,besok selina mo d boyong ke jakarta am Aabid,selina harus kuat dan sabar nanti takut ketemu radina yg akan bt ulah bt balas dendam,,,(sotoy)🤭🤣🤣🤣
Intan Nurwulan
Up ka othor
Price Nada
lanjut Thor
aliyya
ceee ileyyyy,,,
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Anggraeni
up LG kk
Siti Siti Saadah
sudah memang buat jujur
Danny Muliawati
semakin seruuuuuu semangat thor
raditya Sujana
ceriganya terlalu bertelele kk, udah waktunya abaid bicara jujur berihal hatinya, jangan terlalu monoton,, tp aku ttp suka, ttp penasaran juga,, 10bunga deh buat kk biar daubel update nya💪💪💪💪kk
Intan Nurwulan
Knpa pd gengsi ya,coba saling jujur kalo mrk sdh mulai ada rasa. Jd gemezzzz😁
Reni Anggraeni
kak kok kmarin up 1 tok
Intan Nurwulan
Double up ka othor
Kharisma Afifa
ayo kang aabid segerah beraksi👍😄
Yus Marni
selalu tambah penasaran aku thor,lanjutt
Siti Siti Saadah
dibandingkan Selina trauma aabid lebih parah. meskipun dia seorang polisi dalam hal jiwa dia belum mampu mengelola traumanya
Fazira Fazira
asyeeeek makin seruuu💪semangat ya Thor
aliyya
sabar y selina Aabid blm jujur sama km,krna Aabid msh sakit hati sama mantan istrinya yg sudah selingkuh,dan dia jg blm sadar klo skrg udah mulai jatuh cinta ke kamu,,,❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!