Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 24
Tiga hari berlalu, kehidupan Alyana berjalan seperti biasa. Ia disibukkan dengan belajar masak di angkringan milik Umma Zura. Setiap sore sepulang dari kelas Ustadzah Ais, ia langsung mengganti pakaian dan mengikat kerudungnya rapi sebelum masuk ke dapur kecil yang hangat oleh uap dan aroma bumbu.
Seperti sore ini, Alyana mendapat tugas baru dari Aqil.Bukan hanya sekadar memotong bawang atau mencuci piring,tapi mencoba meracik sambal khas angkringan sendiri.
"Ning tau tidak, masak itu bukan cuma soal rasa," kata Bang Aqil pelan,memperhatikan Alyana yang sedang mengulek cabai. "Tapi juga soal perasaan. Kalau hatimu ragu, rasanya juga ikut ragu."
Alyana tersenyum kecil. "Cie..bahasa nya bang."
"Dih,di bilangin." Bang Aqil melipat kedua Tangannya di dada, matanya memperhatikan Alyana yang sibuk mengambil beberapa cabai. "Masak itu harus pakai hati yang ikhlas loh,kalau gak ikhlas bisa-bisa pas mau masukin gula eh malah salah jadi garam. Lah bukannya manis malah jadi asin kan. "
Pecah sudah tawa Alyana,"Karep mu lah bang,"
Aqil hanya mengangkat bahu nya acuh.Sedangkan Alyana kembali fokus pada kegiatannya, tangannya mulai terbiasa dengan ulekan batu yang berat.Cabai, bawang putih, terasi, dan sedikit gula merah berpadu, menciptakan aroma yang menggoda. Ia mencicipi sedikit, lalu mengernyit.
"Kurang apa ya?" gumamnya.
"Coba tambahkan sejumput garam, tapi jangan buru-buru," jawab Aqil.
Alyana mengikuti saran itu. Kali ini, saat ia mencicipinya lagi, matanya berbinar.Rasanya pas pedasnya terasa,manisnya terasa.Persis seperti buatan sang Nenek. "MasyaAllah...enak bang." seru nya.
Aqil mengambil sendok dan mengambilnya sedikit. "Gak sia-sia gue ajarin ni anak, tangannya persis banget sama Umi Zura."
"Aku kan cucu nya, ya pasti bakatnya turun sama aku lah."
Aqil hanya bisa pasrah mendengarnya. "Serah lah..."
Sore semakin larut. Beberapa pelanggan mulai berdatangan. Umma Zura yang di beritahu Aqil,meminta Alyana menyajikan sambal buatannya bersama nasi kucing pertama malam itu. Deg-degan rasanya saat melihat seorang bapak paruh baya mencicipinya.
Beberapa detik terasa lama.
"Wah, sambalnya beda ya hari ini. Enak," ujar bapak itu sambil tersenyum.
Alyana menahan napas, lalu tersenyum lega. Hatinya hangat, lebih hangat dari bara arang yang menyala di sudut angkringan. Bangga rasanya karena bisa mewujudkan salah satu mimpi kecilnya.
Sedangkan Arka sibuk membereskan pekerjaannya karena ingin segera bertemu Alyana. Sejak pagi ia hampir tak beranjak dari meja kerja di hotel tempat ia menginap,tumpukan kertas disusun rapi,laporan diperiksa ulang, dan beberapa hal penting ia selesaikan lebih cepat dari biasanya.
Jam di dinding terus berputar.Sesekali Arka melirik layar ponselnya, berharap ada pesan masuk.Tak ada janji khusus,tapi menunggu sebuah pesan dari seseorang yang jauh disana.Mungkin karena mulai hadir rasa rindu itu ,sederhana memang...hanya sekedar melihat namanya muncul di layar saja sudah cukup membuatnya tersenyum.
"Fokus, sedikit lagi," gumamnya pada diri sendiri.
Ia tak ingin kepulangannya membawa pekerjaan yang akan menyita waktunya.Semua harus selesai hari ini,dan ketika akhirnya berkas terakhir ia tandatangani, Arka menarik napas panjang. Rasa lelahnya belum hilang, tapi semangatnya mengalahkan segalanya.
"Done!"
Senyumnya begitu merekah,dadanya berdebar kala terbayang wajah Alyana saat tersenyum malu dengan pipi kemerahan. "Ah, lama-lama gue kaya orang gila.Senyum-senyum sendiri."
Arka segera beranjak, memasukan semua barang-barang ke dalam tas nya.Ia kemudian memakai jaketnya dan berjalan keluar kamar.
Arka sudah bersiap untuk pulang setelah pamit dengan kliennya dan menyerahkan kunci bangunan yang baru saja ia selesaikan. Langkahnya terasa ringan sore itu. Ia bahkan sempat membayangkan wajah Alyana saat nanti bertemu.
Namun saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu mobil, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
Arka terkejut. Refleks, ia langsung melepaskan tangan yang melingkar di tubuhnya dan mendorong orang itu menjauh.
"Apaan sih Lo!" bentak Arka.
Perempuan itu terhuyung satu langkah ke belakang. Ervina.
"Sayang,ko Kamu keterlaluan sama aku." katanya dengan suara manja.
Arka menatapnya dengan rahang mengeras. "Ngapain lo ada di sini? "
Ervina menggigit bibirnya. "Aku cuma kangen. Kamu sulit dihubungi. Aku pikir kalau datang langsung dan menjelaskannya sama kamu-"
"Udah cukup,gue gak perlu penjelasan apapun dari Lo."potong Arka, nada suaranya tidak lagi meledak, tapi tetap dingin. "Kita sudah selesai. Gue udah jelasin semuanya dengan jelas."
Sore yang tadinya terasa hangat mendadak menjadi canggung. Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi menoleh sekilas sebelum kembali ke urusan masing-masing.
"Apa karena orangtua kamu?" tanya Ervina pelan, ada nada getir dalam suaranya.
Arka terdiam sesaat, lalu menjawab mantap, "Gak! Karena gue udah sadar dan tau semua kelakuan lo selama ini.Dan gue rasa, keputusan gue itu udah yang terbaik buat hidup gue."
Arka menatap sengit Ervina. "Semua bukti udah gue dapat, dan gue rasa lo gak bisa ngelak lagi.Mau berapa kali lo berusaha jelasin juga percuma, gue lebih percaya bukti yang gue dapat sendiri."
Ervina menunduk. Tangannya mengepal,tapi ia tak berkata apa-apa lagi.Arka membuka pintu mobilnya. Sebelum masuk, ia menambahkan dengan lebih tenang, "Tolong jangan pernah datang lagi ke hadapan gue.Kalau lo gak mau hidup lo hancur."
Tanpa menunggu jawaban, Arka masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.Saat mobilnya perlahan meninggalkan lokasi, bayangan Ervina yang berdiri diam di parkiran mulai menjauh.
Di dalam mobil, Arka menghela napas panjang. Emosinya masih tersisa, tapi ia berusaha mengontrolnya. Ia hanya ingin segera sampai dan memastikan tidak ada bayangan masa lalu yang mengganggu masa depannya bersama Alyana.
...
Di rumah besar milik Abi Ilham, Alyana yang baru saja selesai shalat magrib tiba-tiba hp nya bergetar.Sebuah pesan masuk dari nomor tidak di kenal.
Senyum yang sejak tadi merekah kini perlahan hilang saat matanya melihat sebuah foto seorang laki-laki yang sedang di peluk wanita.
"Katanya udah putus, tapi ko pelukan." Ucapnya di sela tangisan.
Tangis Alyana semakin menjadi kalau kembali mengingat kata-kata Arka yang mengaku telah memutuskan hubungan dengan pacarnya namun kenyataannya ia masih berhubungan dengan wanita itu.
Hingga tanpa ia sadari, seseorang masuk dan langsung terpaku melihat Alyana menangis tersedu.
"Alya."
Suara itu, membuat Alyana membeku.Alyana memutar kepalanya,seketika tangisnya semakin pecah membuat Arka panik.
"Eh,"
Arka buru-buru menghampiri sang istri.Tasnya ia letakan di lantai dan kemudian Arka berjongkok di depan Alyana yang duduk di kursi meja rias.
"Kamu kenapa?" Tanya Arka, tangannya memegang kedua lutut Alyana.
Bukannya mereda, justru tangisnya semakin tersedu-sedu. "Kok malah makin kenceng, kamu kenapa sih?"
Tak ada jawaban dari Alyana, membuat Arka berinisiatif memeluk Alyana.Namun bukannya membalas pelukan Arka, justru Alyana memukul-mukul dada Arka membuat Arka semakin bingung.
Arka tidak marah, justru ia membiarkan Alyana melampiaskan semua rasanya.Ia tahu Alyana sedang marah dan kesal, walaupun ia sendiri tidak tau apa penyebabnya.
"Kaka jahat."
...🌻🌻🌻...
lanjut thor
semangat thor..