Kisah ini tetang Siana Aprilly, gadis keras kepala yang masih belum bisa menentukan arah tujuan hidupnya. Siana hanya bisa mengikuti perkataan dari kedua orang tuanya tanpa protes. Karena Siana juga tidak mau menjadi anak durhaka yang mengabaikan setiap kata tercetus dari mulut orang tuanya.
Dan Siana pun juga tidak begitu memiliki banyak teman. Hanya ada beberapa orang yang dekat dengan Siana. Tapi bagi Siana, siapapun yang berusaha untuk berteman dengannya itu pasti memiliki hal tertentu.
Mereka akan pergi menjauh setelah Siana tidak lagi mereka butuhkan. Dan yang paling menyakitkan, saat Siana butuh bantuan mereka. Tidak ada satu pun dari mereka meluangkan waktu untuk mengulurkan tangan mereka pada Siana.
Sampai di titik, di mana Siana memilih untuk menjadi gadis jahat tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00.023%
Terus melangkah tanpa alas kaki, pandangan kosong lurus ke depan. Tidak peduli akan beberapa kendaraan yang melintas dijalan raya. Nona itu berjalan dengan sesekali sudut bibirnya tersungging. Mengingat kejadian di bangunan tua yang penuh ilmu itu, membuat jiwanya merasa sangat bangga. Karena__ ia sudah menyingkirkan hama di sekitarnya hidup pemilik raga ini.
Perlahan kaki jenjang itu terhenti, sebelum mengarahkan posisi berdirinya tepat di depan pagar besi yang mengelilingi jembatan itu-- agar tidak siapapun dapat melompat untuk mengorbankan diri sendiri.
Gadis itu tersenyum hambar. Menyisir surai panjangnya ke belakang, membiarkan semilir angin malam menerpa wajah cantiknya. "Jika dirimu sanggup menahan kelemahan mu-- mungkin dia tidak ada disini."
"Kenapa kau terus saja mendesak kepala mu untuk mengingat hal menyedihkan, yang sangat sangat menyakitkan itu?" Sambungnya sebagai monolog. Menaruh kedua tangannya di atas pagar besi.
"Seandainya malam itu kau mengabaikan panggilan dari Sellena. Aku bisa memastikannya-- saudara kembar mu pasti akan masih di samping mu, walaupun kau sangat kecewa padanya. Tapi setidaknya__ jiwa mu tidak tersiksa seperti ini." Penuturan yang begitu lirih kembali diutarakan tanpa rasa sesal. Hingga tanpa sadar, buliran bening mengalir begitu saja membasahi pipi kirinya.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin singgah, tapi entah kenapa__ saat melihat mu putus asa membuatku ingin membenarkan jalan hidup mu. Sayangnya aku sulit sekali untuk tidak mengotori tangan ku sendiri." Penyesalan yang terselip dalam jiwa tidak membuat senyum itu lenyap dari wajah cantiknya-- kini di penuhi liquid bening.
"Menangislah__ karena hanya itu yang bisa kau lakukan saat ini. Menaiki satu anak tangga pasti akan menyulitkan mu." Senyum hambar yang tercetak sangat jelas itu benar-benar begitu menyayat ruang sukma.
Tapi siapapun yang melihat gadis itu pasti akan mengerutkan keningnya, dengan isi kepala yang terus mengatakan jika gadis itu gila-- karena berbicara sendiri. Akan tetapi tidak banyak orang tahu__ jika gadis itu tengah berdebat dengan pemilik tubuh yang terus berusaha untuk menjauhkan sang pencuri raga tanpa adanya diskusi lebih dulu.
"Kau selalu mengutamakan keraguan mu, dan kau begitu patuh pada ayah mu. Padahal__ jika kau kaluar dari penjara menyenangkan itu, pasti kau akan merasakan-- berdiri di atas kemenangan yang saat ini kau incar." Diam sejenak, gadis itu menelan ludah getirnya.
"Lakukan apa yang kau inginkan-- jika kau terus menundanya, kesempatan tidak akan pernah datang pada hidup mu." Perlahan gadis itu memejamkan kedua matanya dengan kepala yang sesekali bergerak, karena rasa pusing mulai menyerang isi kepalanya.
"Aish__" umpatnya yang sangat rendah sembari menaruh tangan kirinya di kepala. Gadis itu perlahan melangkah mundur, hingga punggungnya terbentuknya pada pagar besi yang mengelilingi jalan raya itu.
Sangat pelan, tapi begitu pasti. Punggung gadis itu merosot ke bawah, hingga duduk di atas trotoar jalan raya dengan buliran bening yang semakin keluar-- karena rasa pusing yang menyerang kepalanya semakin menjadi-jadi. "Berhentilah__ ini sangat menyiksa."

Menyandarkan kepalanya, pandangan lurus ke depan dengan sorot mata yang sangat sendu. Batin begitu pedih, raga begitu enggan untuk berdiri melangkah pulang. Karena penolakan dari Evan benar-benar membuat Siana semakin tidak percaya diri. Padahal__ itu satu-satunya cara tuk membuktikan, jika Siana bukanlah benalu untuk kedua orang tuanya.
Siana hanya ingin membuat wanita itu sadar, akan hadirnya Siana di muka bumi ini bukanlah sebuah kesialan-- melainkan keberuntungan. Tapi kenapa__ keinginan itu sulit untuk mencari jalan keluar? Dan kenapa Evan tidak memberinya ijin? Apa Evan takut, jika Siana akan memiliki sifat seperti ibu kandungnya?
Tersenyum nanar, Siana sesekali membenturkan kepalanya pada pagar besi di belakangnya. Tanpa adanya rasa sakit yang menyerang. Karena Siana sudah mati rasa.
Dan Tanpa peduli akan seseorang yang mungkin saat ini tengah berlari kesana-kemari untuk mencari keberadaan Siana yang entah ada di mana. Napas memburu dengan langkah kaki terus berjalan, meliarkan kedua matanya. Karena Astra harus menemukan Siana secepat mungkin.
Jika Astra tidak membawa pulang Siana-- itu pasti akan semakin membuat Evan merasa terpuruk. Mungkin tidak hanya Evan__ Astra sendiri pasti mereka sangat gagal, karena tidak bisa menepati janjinya pada Sebastian. Walaupun emannya itu awal penyebab masalah ini. Tapi janji tetaplah Jani. Astra harus menepatinya.
Tibanya di ujung jembatan, Astra menyipitkan kedua matanya tanpa menghentikan langkah kakinya-- semakin cepat. Karena Astra tahu siapa gadis yang duduk diatas trotoar itu.
"Siana__" nama yang keluar dari mulut Astra, terdengar sangat rendah. Hingga membuat sang empu, menoleh-- mengadahkan sedikit pandangannya untuk membalas tatapan dari Astra.
"Oh__ kau datang." Hampir tidak terdengar di telinga Astra. Kalimat itu berhasil Siana lontarkan dengan kepedihan yang sangat luar biasa.
Membuat Astra tanpa berdiri memeluk tubuh gadis itu dengan sesak yang memenuhi ruang sukmanya. Jika pun batinya merasa lega. Tapi Astra tidak bisa langsung membawa Siana, sebelum memastikan-- jika gadis tiu benar-benar Siana.
"Kau tidak apa-apa? Tidak ada yang luka bukan?" Timpal Astra, setelah melepas pelukannya. Melihat Siana penuh khawatir.
"Ayah yang meminta mu untuk mencari ku?" Sebenarnya Siana tidak ingin melontarkannya. Hanya saja__ Siana tidak mau melihat Astra kecewa karena telah datang memenuinya di tempat yang jaraknya sangat jauh dengan rumahnya.
Astra diam sesaat, menelan ludah getirnya. "Jika dia melarang mu. Jika dia tidak mau melihat mu sebagai publik figur. Tidak seharusnya kau bertingkah seperti ini. Karena itu tidak akan membuatmu mendapatkan kemenangan yang kau mau."
"Jika aku diam__ apa ayah akan mengijinkannya? Karena hanya itu satu-satunya cara untuk ku bisa mengalahkannya. Kau tahu sendiri, bukan? Jika aku tidak akan bisa menang dalam hal nilai. Aku bukan anak yang sanggup menguasi semua materi pelajaran sekolah." Siana mencetuskan perkataannya. Membuat Astra menutup rapat mulutnya. Karena pemuda itu tidak tahu harus memberi balasan seperti apa.
Tanpa mereka tahu, sepasang milik seseorang dibalik pintu kaca mobil-- terus melihat ke arah Siana dan Astra. Tanpa senyum yang terlukis, tapi sorot mata itu penuh makna yang sangat dalam. Hingga keyakinan terus mengusik jiwa dan pikirannya.
"Aku sangat menginginkannya__ tapi apa dia mampu menjauhkan dirinya dari temannya itu?" Suara berat dari seseorang, membuat executive assistant-nya kini mengikuti arah pandang atasannya itu dengan raut wajah yang sangat datar.
"Tanpa membuatnya menjaga jarak dengan temannya. Anda bisa memberinya tawaran. Karena jika sampai pertemanan mereka hancur itu akan menimbulkan masalah bagi pihak kita, jika bisa membawa orang itu ke perusahaan." Tanpa adanya keraguan-- executive assistant membuka suaranya. Sebentar mengarahkan pandangannya pada spion kecil di dalam mobil untuk melihat wajah atasannya.
"Kau bisa mencari tahu soal gadis itu lebih dulu." Sebuah perintah yang sangat sulit mendapat tolakan dari lawan bicara.
makasih ya kak semangat jugaa untuk kakak yang mungkin udah mulai di kejar deadline 🤣
aku suka banget sama writing style-nya, dan alur ceritanya juga smooth banget padahal ini aku baru baca chapter 1 loh 🤭🤭.